Chapter Twenty Seven
Bab 27 — Barang Bukti
POV: Angelica
Ini yang paling aneh dari seluruh bulan Maret dan April.
Semakin sungguhan kami, semakin sering keluarga itu berkata bagus, aktingnya makin bagus.
Bukan dengan kalimat itu persis. Tidak ada yang tahu ada akting. Itulah masalahnya.
Yang terjadi begini.
Kejadian A. Makan malam Sabtu, akhir Maret. Aku mengambilkan tulang ayam dari piring Arsa tanpa berpikir, karena dia selalu makan bagian dada dan menyisakan yang bertulang, dan karena aku sudah cukup lama duduk di sebelahnya untuk tahu bahwa dia akan makan tulangnya kalau tidak diambil, dan bahwa dia akan makan tulangnya bukan karena suka tapi karena tidak enak menyisakan.
Mbak Anjani berkata: “Angel, kamu nggak usah perhatian gitu terus. Nanti dia manja.”
Kejadian B. Arsa membetulkan tali sandalku di teras dengan cara yang membuatku sadar bahwa dia sudah memperhatikan sandal itu selama beberapa minggu.
Nenek Sumi berkata: “Nah, gitu. Anak muda sekarang pacaran cuma pegang HP.”
Kejadian C. Aku tertidur di ruang tengah pada suatu Minggu sore, dua puluh menit, dan bangun dengan bantal yang bukan bantal yang kupakai saat tertidur.
Bu Rahayu tidak berkata apa-apa.
Kejadian D. — dan ini yang membuatku berhenti di tengah gang suatu malam.
Kami berjalan pulang dari rumah, dan aku memegang tangannya, dan aku sudah memegang tangannya sejak pintu, dan Bu Marni lewat di ujung gang dan berkata “aduh, maaf, maaf” seperti biasa.
Dan setelah Bu Marni pergi, aku berkata — karena kebiasaan, karena delapan bulan, karena sistem yang sudah tertanam terlalu dalam:
“Efektif.”
Dan Arsa melepaskan tanganku.
Dia berhenti berjalan.
“Mas Arsa?”
“Nggak apa-apa.”
“Mas melepas tangan saya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia memandang gang di depannya.
“Karena kalau tadi saya jawab ‘iya, efektif’,” katanya, “kita balik ke Agustus.”
Aku berdiri di sana.
“Kita nggak balik ke Agustus,” kataku.
“Iya. Saya tahu.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Tapi kalimatnya masih ada.”
Lampu jalan berdengung.
“Kita masih pakai kalimat yang sama,” katanya. “Tiap kali ada orang lewat, kita masih ngomong kayak orang yang lagi kerja.”
“Itu cuma kebiasaan.”
“Iya.” Dia mengangguk. “Delapan bulan.”
Dan dia benar, dan itu membuatku ingin duduk di trotoar.
Karena kami sudah berhenti berbohong kepada satu sama lain sejak bulan Januari.
Tapi kami belum berhenti berbohong di depan orang.
Dan yang paling buruk: satu-satunya bentuk kemesraan yang boleh dilihat delapan puluh empat orang adalah kemesraan yang, secara historis, dimulai sebagai pertunjukan — sehingga sekarang, setiap kali kami bersungguh-sungguh di depan mereka, kami sedang menyerahkan sesuatu yang asli ke dalam kategori yang salah.
Mereka menyimpannya sebagai pacaran.
Mereka tidak tahu bahwa itu satu-satunya bagian yang tidak pernah palsu.
Kemal menemukan kontraknya pada hari Minggu, 14 April.
Aku tidak akan berpura-pura ini sepenuhnya kesalahannya.
Kontrak itu ada di dalam tas kertasku, di ruang tengah rumah Bu Rahayu, karena aku membawanya dari bengkel setelah kami membacanya ulang bulan Januari dan tidak pernah mengembalikannya ke kos, dan karena selama tiga bulan aku memindahkannya dari tas ke tas tanpa pernah memikirkan kenapa aku tidak menaruhnya saja di laci.
Kemal sedang mencari kertas kosong untuk menggambar.
Dia menemukan tujuh halaman.
“NEK.”
Aku berada di dapur. Aku mendengar suaranya dari dapur dan aku tahu, dengan seluruh tubuhku, sebelum aku sempat berpikir.
“NENEK. NENEK LIHAT.”
Aku sampai di ruang tengah dalam empat langkah.
Terlambat.
Kemal berdiri di tengah karpet, memegang tujuh halaman kertas dengan kedua tangan, membentangkannya ke arah Nenek Sumi seperti orang menyerahkan bukti di pengadilan.
“INI KERTASNYA.”
“Kertas apa?”
“YANG AKU BILANG!” Suaranya melengking. “YANG DI SEKOLAH! YANG OM ARSA BELI TANTE ANGEL PAKE KERTAS!”
Mbak Anjani mengangkat kepala dari ponselnya.
Bu Rahayu keluar dari dapur dengan tangan berlepotan tepung.
Dan aku berdiri di ambang pintu ruang tengah, dengan sendok sayur di tangan, dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Nenek Sumi mengambil kertas itu.
Dia memakai kacamata bacanya, yang tergantung di lehernya, dan yang dia pasang dengan gerakan lambat yang terasa berlangsung selama empat menit.
Dan dia membaca halaman satu.
Aku bisa melihat halaman satu dari tempatku berdiri.
KESEPAKATAN KERJA SAMA HUBUNGAN SEMU
Huruf kapital. Di tengah. Spasi satu setengah.
“Ini apa, Ngel?” tanya Mbak Anjani, sudah berdiri, sudah berjalan.
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada apa pun yang keluar.
Delapan tahun. Lima ratus dua belas dokumen. Tiga versi cerita perpisahan yang kususun di warung Bu Yanti pada bulan Agustus dengan sangat rapi.
Dan aku berdiri di ruang tengah dengan sendok sayur dan tidak punya satu pun kalimat.
Mbak Anjani sampai di sebelah Nenek Sumi.
Dia menunduk.
Dia membaca.
“Ya ampun,” katanya.
Aku menutup mata.
“ANGEL.” Mbak Anjani berbalik. “Ini kerjaan kamu?”
Aku membuka mata.
“Mbak—”
“Ini kontrak apa sih?” Dia mengangkat halaman tiga. “‘Menyediakan kehadiran fisik pada acara yang membutuhkan pendamping’?”
“Mbak, itu—”
“Kamu bawa kerjaan ke rumah Ibu?”
Ruangan itu berhenti.
“Apa?” kataku.
“Ini kerjaan kamu kan?” Mbak Anjani membalik halaman lagi. “Ya ampun, Angel. Hari Minggu. Ibu masak dari jam sepuluh.”
“Mbak Anjani—”
“‘Batasan fisik’.” Dia membaca dengan suara keras. “‘Lampiran 4c’. Ya ampun ini apa, perusahaan kamu ngatur karyawannya sampai segini?”
Nenek Sumi melepas kacamatanya.
“Angel.”
“Iya, Nek.”
“Kantor kamu ngatur pegawainya boleh pegangan tangan berapa detik?”
Ada satu setengah detik ketika aku bisa mengoreksi semuanya.
Satu setengah detik itu lewat.
“...Iya, Nek,” kataku.
“Ya ampun.” Nenek Sumi menggeleng. “Jaman sekarang.”
“Kan,” kata Mbak Anjani, melempar kertas itu ke sofa. “Makanya aku males kerja kantoran.”
Kemal berdiri di tengah karpet.
Dia memandang neneknya. Dia memandang ibunya. Dia memandangku.
“Tapi—” katanya.
“Kemal, ambil mainan kamu.”
“Tapi itu kertasnya—”
“Kemal.”
“ITU KERTAS YANG—”
“Kemal Wijaya Pramudya.” Mbak Anjani menoleh. “Kamu ngobrak-ngabrik tas Tante Angel?”
Dan seluruh perkara itu, dalam waktu kurang dari empat detik, berubah menjadi perkara yang sepenuhnya berbeda.
Aku menemukan Kemal sepuluh menit kemudian, duduk di teras di antara pot lidah mertua, dengan wajah yang basah dan marah dan sepenuhnya tidak adil.
Aku duduk di anak tangga di sebelahnya.
“Kemal.”
Dia tidak menoleh.
“Aku nggak bohong,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku nggak pernah bohong.”
“Aku tahu, Kemal.”
Dia menyeka hidungnya dengan lengan.
“Terus kenapa nggak ada yang percaya?”
Dan aku duduk di teras itu, di rumah yang sudah kudatangi entah berapa puluh kali, di sebelah anak enam tahun yang tiga kali mengatakan kebenaran di depan total dua puluh empat orang dewasa dan tiga kali tidak dipercaya.
“Karena,” kataku pelan, “kebenaran nggak ada gunanya kalau nggak cocok sama yang mereka lihat.”
“Apa?”
“Itu kata Om Arsa.”
Kemal mengerutkan kening.
“Aku nggak ngerti.”
“Iya.” Aku memandang gang. “Aku juga baru ngerti belakangan.”
Dia mengayunkan kaki.
“Tante Angel.”
“Iya.”
“Om Arsa beneran beli Tante pake kertas?”
Aku memandang wajahnya.
Dan aku, yang selama delapan bulan berbohong kepada delapan puluh empat orang tanpa satu kali pun tersendat, tidak bisa melakukannya kepada satu orang berusia enam tahun.
“Iya,” kataku.
Kemal berhenti mengayunkan kaki.
“Tapi kertasnya udah nggak kepake,” kataku.
“Kok masih ada?”
Aku memandang pot lidah mertua di kiri, empat, dan di kanan, empat, dengan jarak antar-pot yang sama persis.
“Karena kalau dibuang,” kataku, “nanti nggak ada yang inget.”
Bu Rahayu memasukkan kertas itu ke dalam map plastik sebelum aku pulang.
Dia menyerahkannya di teras, dengan dua tangan, seperti orang menyerahkan sesuatu yang penting.
“Ini jangan ditaruh di tas kertas, Angel,” katanya. “Nanti sobek.”
“Iya, Bu.”
“Dokumen kantor kan penting.”
Aku memandang wajahnya.
Senyum itu di tempatnya. Sama seperti bulan Agustus. Sama seperti di dapur waktu dia bilang bahwa dia bendahara arisan dua belas tahun dan tahu kalau ada angka yang dipaksakan supaya kelihatan pas.
“Iya, Bu,” kataku.
“Hati-hati di jalan.”
Dan dia menutup pintu.
Aku menceritakan semuanya kepada Arsa malam itu, di bengkel, dan dia mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia diam selama waktu yang cukup lama.
“Mbak Anjani beneran ngira itu kerjaan kamu?”
“Iya.”
“Nenek juga?”
“Iya.”
“Dan Ibu?”
Aku memandang map plastik di pangkuanku.
“Ibu,” kataku, “menyerahkannya kembali ke saya dengan dua tangan dan bilang jangan ditaruh di tas kertas nanti sobek.”
Arsa tidak bergerak.
“Ibu nggak baca?”
“Ibu tidak menyentuhnya sama sekali sampai Mbak Anjani melemparnya ke sofa.”
“Terus siapa yang masukin ke map plastik?”
Aku mengangkat kepala.
Dan kami saling memandang di bengkel itu, jam sembilan malam, dengan motor Honda C70 tahun 1979 berdiri di atas karpet di antara kami.
“Ibu,” kataku.
Jumlah kata: ±1.990
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti reading
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7