Chapter Fifteen
Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
POV: Angelica
Aku menemukannya karena aku memang begitu.
Itu bukan pembelaan. Itu diagnosis.
Delapan tahun bekerja dengan angka mengajarkan satu hal yang tidak bisa dimatikan setelah dinyalakan: kalau sesuatu terlalu rapi, sesuatu itu disusun. Dan kalau sesuatu terlalu lambat tanpa alasan yang tercatat, ada alasan yang tidak dicatat.
Aku menemukannya hari Sabtu, jam sebelas siang, sambil menunggu Arsa menerima pelanggan.
Aku menemukannya di papan tulis putih.
Papan itu tergantung di dinding sejak hari pertama aku masuk. Daftar pekerjaan. Kolom kiri: nomor antrean dan nama pemilik. Kolom tengah: jenis pekerjaan. Kolom kanan: tanggal masuk dan target selesai.
Huruf kecil dan tegak. Dihapus dan ditulis ulang setiap minggu.
Aku sudah melihat papan itu mungkin tiga puluh kali.
Hari itu aku benar-benar membacanya.
NO. 4 — Pak Herman — konversi Vespa PX — masuk 12 Sept — target 6 minggu
NO. 7 — Bu Lestari — konversi Astrea — masuk 3 Okt — target 5 minggu
NO. 9 — Rizal — konversi Vixion — masuk 21 Okt — target 4 minggu
Dan di bagian bawah, di baris terakhir, dengan huruf yang sama:
NO. 2 — Angelica P. — konversi C70 — masuk 26 Agt — target —
Kolom target kosong.
Aku berdiri di depan papan itu selama mungkin dua puluh detik.
Vespa PX: enam minggu. Vespa itu masuk empat minggu setelah motorku dan sudah keluar dua minggu lalu — aku ingat karena Fahri memotretnya dan Arsa berkata jangan diposting sebelum pemiliknya lihat.
Astrea: lima minggu. Sudah keluar.
Vixion: empat minggu. Masuk 21 Oktober. Masih di sana, tapi menurut papan itu targetnya minggu depan.
C70: masuk 26 Agustus.
Hari ini 11 November.
Sebelas minggu.
“Mas Arsa.”
Dia baru selesai dengan pelanggan, sedang mengelap tangan.
“Hm.”
“Astrea Bu Lestari. Lima minggu. Itu konversi penuh?”
“Iya.”
“Termasuk dudukan baterai?”
“Iya.”
“Dibuat sendiri?”
“Beli jadi. Astrea rangkanya standar.”
“Vespa Pak Herman?”
“Dudukannya bikin. Rangka Vespa beda semua.” Dia menggantung lap. “Kenapa?”
“Berapa lama bikin dudukannya?”
Dia berhenti bergerak.
Setengah detik. Itu saja. Kalau aku tidak sedang mencari, aku tidak akan melihatnya.
“Lupa,” katanya.
Aku berjalan ke papan tulis. Kuketuk kolom kanan dengan buku jari.
“Enam minggu total, Mas. Termasuk bikin dudukan, termasuk kelistrikan, termasuk uji jalan.” Aku menoleh. “Motor saya sebelas minggu, dan minggu lalu Mas bilang dudukannya baru jadi. Percobaan kesembilan.”
Bengkel itu sepi. Fahri sedang keluar membeli sesuatu, yang belakangan kuketahui adalah hal yang selalu terjadi tepat sebelum sesuatu yang penting.
“C70 rangkanya beda,” kata Arsa.
“Beda dari Vespa?”
“Beda.”
“Lebih sulit?”
Jeda.
“Nggak,” katanya.
Aku berdiri di depan papan tulis itu dan merasakan sesuatu naik di dadaku yang bukan marah, tapi yang bentuknya cukup mirip dengan marah sehingga aku memakainya.
“Berapa lama sebenarnya?”
“Angelica—”
“Berapa lama, kalau dikerjakan seperti motor lain?”
Dia meletakkan lap.
“Enam minggu,” katanya. “Mungkin tujuh.”
“Jadi sudah selesai bulan Oktober.”
“Iya.”
“Awal Oktober.”
“Pertengahan.”
Aku menatapnya.
Dan yang membuatku hampir kehilangan pegangan bukanlah kebohongannya.
Yang membuatku hampir kehilangan pegangan adalah bahwa dia tidak menyangkalnya. Tidak satu detik pun. Tidak ada “sebentar, saya jelaskan”. Tidak ada “kamu salah paham”. Dia berdiri di sana dengan lap tergantung di paku dan menjawab setiap pertanyaanku dengan lengkap dan jujur, seperti orang yang sudah menunggu ditanya.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
“Mas Arsa. Kenapa.”
“Kamu tahu kenapa.”
“Saya mau dengar.”
“Angelica.”
“Saya mau dengar.”
Dan itu keluar lebih keras dari yang kuinginkan, dan bergema sedikit di ruko itu, dan aku menyadari bahwa suaraku bergetar di suku kata terakhir.
Arsa memandangku.
Lalu dia menarik napas dan berkata, dengan sangat pelan:
“Karena kalau motornya selesai, kamu nggak punya alasan datang.”
Kompresor menyala.
Dua puluh detik.
Mati.
“Saya punya kontrak,” kataku.
“Iya.”
“Ada Pasal 2. Ada jadwal. Enam puluh dua baris.”
“Iya.”
“Saya datang ke rumah Ibu. Saya datang ke arisan. Saya—”
“Itu semua di rumah Ibu,” katanya. “Nggak ada satu pun baris di jadwal kamu yang isinya bengkel.”
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada apa-apa yang keluar.
Karena dia benar. Aku menyusun spreadsheet itu sendiri, jam sebelas malam, di kos yang panas, dan aku memasukkan makan malam Sabtu dan arisan dan kondangan November dan bahkan makan siang kantor.
Dan aku tidak pernah memasukkan satu baris pun yang berbunyi bengkel.
Bukan karena aku lupa.
Karena kalau kutulis, aku harus memberinya frekuensi. Dan kalau ada frekuensinya, aku harus menjelaskan kepada diriku sendiri kenapa angkanya sebesar itu.
“Sebelas minggu,” kataku.
“Iya.”
“Mas mengulur pekerjaan selama lima minggu.”
“Iya.”
“Mas menagih ongkos kerja per jam.”
“Nggak.”
Aku mengerjap. “Apa?”
“Nota kamu dari awal harga borongan. Bukan per jam.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Saya nggak nambah sepeser pun. Kalau saya kerja lima minggu lebih lama, itu rugi saya sendiri.”
“Itu tidak membuatnya lebih baik.”
“Saya nggak bilang lebih baik.”
“Mas berbohong.”
“Iya.”
“Selama lima minggu.”
“Iya.”
“Dan Mas tidak minta maaf.”
Dia diam.
Lalu dia berkata, dan ini bagian yang kusimpan sampai sekarang:
“Kalau saya minta maaf, artinya saya nggak akan ngulang.”
Aku pergi.
Bukan dengan dramatis. Aku mengambil tas, aku berkata “saya pulang”, dan aku berjalan keluar melewati rolling door yang setengah terbuka, dan Fahri yang baru kembali membawa dua bungkus gorengan berdiri di trotoar dengan wajah orang yang tahu persis bahwa dia salah waktu.
“Mbak—”
“Nggak apa-apa, Fahri.”
Aku naik angkot di halte yang sama.
Aku duduk di kursi belakang, dan aku membuka ponsel, dan aku membuka folder BUKTI PENDUKUNG, sub-folder Cadangan, dan aku menatap Foto 4.
Aku berjongkok di sebelah C70, tangan di tangki, tidak melihat kamera.
Foto itu diambil minggu ketiga.
Dua minggu sebelum sarung tangan itu dibeli. Tujuh minggu sebelum dia memutuskan bahwa lima minggu tambahan sepadan dengan apa pun yang menurutnya sepadan.
Aku menghitung.
Kalau motor itu selesai pertengahan Oktober, aku sudah tidak datang ke bengkel sejak empat minggu lalu.
Empat minggu.
Yang berarti tidak ada Sabtu dengan laptop di kursi lipat. Tidak ada tidur tiga jam empat puluh menit dengan jaket kanvas di bahu. Tidak ada laci nomor dua yang dibuka. Tidak ada donat dengan lilin yang tidak dinyalakan.
Tidak ada kotak sarung tangan ukuran kecil yang menunggu sembilan minggu.
Aku duduk di angkot yang berhenti di lampu merah, memandang layar ponsel yang menampilkan punggungku sendiri, dan menyadari bahwa perasaan yang sedang kurasakan bukan dikhianati.
Perasaan yang sedang kurasakan adalah lega.
Dan itu jauh lebih buruk.
Aku mengirim pesan jam sepuluh malam.
Angelica Prameswari: Mas Arsa.
Angelica Prameswari: Saya mau motor itu selesai.
Centang biru dalam empat detik.
Arsa Bengkel: Oke.
Angelica Prameswari: Tapi saya tidak mau selesai sebelum Februari.
Aku menatap kalimat itu setelah mengirimnya.
Aku bisa membacanya dua cara. Aku tahu aku bisa membacanya dua cara. Aku menulisnya begitu justru karena bisa dibaca dua cara.
Cara pertama: karena Februari adalah tenggat Bu Rahayu, dan selama kontrak masih berjalan, motor itu harus tetap ada di bengkel sebagai alasan yang sah.
Cara kedua: cara kedua.
Centang biru.
Lama sekali.
Arsa Bengkel: Februari.
Arsa Bengkel: Tapi bukan diulur.
Angelica Prameswari: Terus apa?
Arsa Bengkel: Dikerjakan bener.
Arsa Bengkel: Ada bagian yang saya pengen ulang dari awal. Kelistrikannya. Yang kemarin masih pakai jalur lama.
Arsa Bengkel: Kalau dikerjakan bener butuh tiga bulan.
Arsa Bengkel: Kebetulan itu Februari.
Aku duduk di kasur kos dengan ponsel di tangan.
Angelica Prameswari: Kebetulan.
Arsa Bengkel: Iya.
Arsa Bengkel: Kebetulan.
Arsa Bengkel: Selamat malam, Angelica.
Aku membuka tabel analisis risiko malam itu, terakhir kali.
Baris D. Kolom kemungkinan.
Aku mengetik: tinggi.
Bukan angka. Kata.
Lalu aku menutup file itu dan tidak pernah membukanya lagi.
Jumlah kata: ±1.900
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan reading
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7