Chapter Nineteen

Bab 19 — Dua Jenderal

POV: Angelica


Kami bertemu hari Rabu di sebuah kedai kopi di dekat kantor Prita, yang dia pilih karena, menurut pesannya, “berisik, jadi nggak ada yang bisa nguping”.

Dia sudah di sana ketika aku datang, dengan laptop terbuka dan tiga tab yang cepat-cepat dia tutup.

“Mbak Angel.”

“Angel aja.”

“Oke. Angel.” Dia menutup laptopnya. “Aku duluan ya. Karena kalau nggak duluan aku bakal nggak jadi.”

“Silakan.”

“Aku nggak mau nikah sama anak Pak Haji Warsito.”

Aku duduk.

“Dan aku nggak bisa bilang itu ke Bapak,” lanjutnya, cepat, seperti orang yang sudah menghafal, “karena Bapak baru pasang ring dua tahun lalu, dan setiap kali aku bilang ‘nggak’ soal apa pun, Ibu langsung ngomongin jantung.”

“Ah.”

“Iya.”

“Jadi setiap penolakan berbiaya kesehatan orang tua.”

Prita menunjuk ke arahku dengan sedotan.

“Nah,” katanya. “Itu. Yang barusan itu. Kalimat itu.”

“Kenapa?”

“Nggak ada satu pun orang di hidupku yang bisa bilang gitu.” Dia menyandarkan punggung. “Kalau aku cerita ke temenku, mereka bilang ‘sabar ya’. Kalau aku cerita ke Tante Tini, dia bilang ‘ya kan Bapak kamu sayang’.”

Aku membuka tas. Mengeluarkan buku catatan.

“Oh Tuhan,” kata Prita.

“Apa?”

“Nggak. Lanjut.”


Yang kami lakukan dalam dua jam berikutnya, kalau kau menuliskannya, akan terdengar sangat aneh.

Kami memetakan.

Prita punya empat pihak: Bapak (jantung, tidak bisa dibantah), Ibu (perantara, mengulang kalimat Bapak dengan versi yang lebih menyakitkan), Tante Tini (agen lapangan, punya jaringan), dan anak Pak Haji Warsito sendiri — yang, menurut Prita, “sebenarnya nggak ngapa-ngapain, dia cuma nurut juga”.

Aku punya tiga: Bu Rahayu (Februari), Nenek Sumi (delapan puluh tahun, tensi dua ratus lewat), dan delapan puluh empat orang di grup WhatsApp.

Kami menggambarnya di dua halaman buku catatan.

“Ini kayak perang,” kata Prita, memandang halaman itu.

“Ini persis perang.”

“Terus kita apa? Prajurit?”

“Bukan.” Aku menutup pulpen. “Kita objek.”

Prita diam sebentar.

“Aduh,” katanya. “Iya.”


Strategi Prita — versi yang sudah dia coba:

  1. Sibuk kerja. Gagal. Bapak menawarkan untuk bicara dengan atasannya.
  2. Bilang belum siap. Gagal. “Nggak ada yang pernah siap.”
  3. Bilang tidak cocok. Gagal. “Kamu baru ketemu dua kali.”
  4. Bilang tidak cocok setelah ketemu lima kali. Gagal. “Lah kok baru bilang sekarang.”

“Nomor empat itu yang paling parah,” katanya. “Karena aku nurut dulu buat ngasih bukti, terus buktinya dipakai buat nyalahin aku.”

“Itu namanya beban pembuktian yang bergeser,” kataku.

“Apa?”

“Kalau seseorang memindahkan syarat pembuktian setiap kali kamu memenuhinya, syaratnya bukan syarat. Itu kesimpulan yang sudah diambil duluan.”

Prita menatapku.

“Angel.”

“Ya.”

“Kerja kamu apa sih.”


Strategi yang kususun untuknya:

Aku tidak akan menuliskan semuanya karena sebagian besar tidak berhasil.

Tapi yang berhasil, dan yang membuatku dikirimi pesan terima kasih empat bulan kemudian, adalah ini:

“Jangan menolak,” kataku. “Setuju.”

“APA?”

“Setuju untuk bertunangan. Dengan syarat.”

“Angel—”

“Satu syarat. Tertulis. Ajukan ke Bapak kamu, bukan ke anak Pak Haji.” Aku menggeser buku catatan ke arahnya. “Syaratnya: masa tunangan minimal dua tahun, dan selama dua tahun itu kamu tetap kerja penuh waktu dan tinggal di kos kamu sendiri.”

Prita membaca.

“Bapak nggak akan setuju.”

“Kalau Bapak kamu tidak setuju,” kataku, “maka yang menolak bukan kamu.”

Dia berhenti membaca.

Dia mengangkat kepala perlahan.

“Astaga,” katanya.

“Dan kalau Bapak kamu setuju,” lanjutku, “kamu dapat dua tahun. Dalam dua tahun banyak yang bisa terjadi. Termasuk anak Pak Haji menemukan orang lain, yang menurut deskripsi kamu tadi kemungkinannya cukup besar, karena dia juga sedang menuruti orang.”

Prita meletakkan sedotan.

“Ini jahat.”

“Ini tidak jahat. Ini pemindahan beban.”

“Ini jahat dan aku mau.”


Giliranku datang pada menit keenam puluh delapan, ketika kopinya sudah dingin dan hujan mulai turun di luar.

“Sekarang kamu,” katanya.

“Saya tidak punya masalah yang sama.”

“Angel.”

“Punya saya berbeda strukturnya.”

“Angel.” Prita menyandarkan siku ke meja. “Aku udah cerita soal jantung bapakku. Kamu boleh cerita satu hal.”

Aku memutar gelas.

Hujan menghantam kaca.

“Kalau saya ceritakan,” kataku, “kamu tidak boleh menceritakannya ke siapa pun. Termasuk Tante Tini. Terutama Tante Tini.”

“Ya jelas.”

“Ada dokumennya.”

Prita mengerjap.

“Ada apanya?”


Dia membacanya dari ponselku.

Tujuh halaman. Enam pasal. Lampiran 4c, Revisi 02.

Dia membacanya selama sebelas menit tanpa berkata apa-apa, dan aku duduk di seberangnya dan memandang hujan dan merasakan sesuatu yang sangat mirip dengan yang kurasakan setiap kali menyerahkan draf laporan kepada atasan.

Dia sampai di halaman tujuh.

Dia menggulir ke bawah.

Dia berhenti.

“Pasal 7 kosong,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memandang gelasku.

“Untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan,” kataku.

Prita meletakkan ponselku di meja, layar menghadap ke bawah.

“Angel.”

“Ya.”

“Aku nggak kenal kamu. Kita ketemu dua kali.” Dia menyilangkan tangan. “Tapi aku baca tujuh halaman ini, dan di dalamnya ada tabel yang ngatur berapa detik boleh gandengan tangan, dan ada catatan kaki di halaman enam soal siapa yang bayar bensin kalau ada acara di luar kota.”

“Halaman lima.”

“Terserah.” Dia mencondongkan badan. “Orang yang bikin ini nggak akan ninggalin satu pasal kosong.”

Aku membuka mulut.

“Nggak akan,” ulangnya. “Nggak mungkin. Orang kayak kamu kalau nggak kepikiran apa-apa, ya nggak dibikin nomornya.”

Hujan turun lebih keras.

“Saya sudah dengar itu,” kataku.

“Dari siapa?”

“Dari dia.”

Prita menyandarkan punggung.

Dan tersenyum dengan cara yang membuatku ingin membayar tagihan dan pulang.

“Berapa kali?”

“Dua kali. Hari yang sama.”

“Astaga.”

“Prita.”

“Dua kali di hari yang sama dan kamu tetep nggak isi.”

“Prita.”

“Oke, oke.” Dia mengangkat kedua tangan. “Aku berhenti.”

Dia mengambil kopinya. Menyeruput. Meringis karena dingin.

“Satu pertanyaan aja,” katanya.

“Satu.”

“Kalau bulan Februari nanti dia lamar beneran—” dia meletakkan gelasnya, “—kamu bakal jawab apa?”

Hujan.

Kaca.

Suara mesin espreso di belakang bar.

“Saya belum menghitungnya,” kataku.

Prita memandangku lama sekali.

“Angel,” katanya akhirnya, pelan, tanpa nada bercanda sama sekali. “Kamu ngitung berapa detik boleh gandengan tangan.”

Aku tidak menjawab.

“Kalau kamu belum ngitung yang itu,” katanya, “itu bukan karena kamu belum sempat.”


Kami keluar pukul setengah delapan, di bawah satu payung yang dia bawa dan aku tidak.

“Prit.”

“Hm.”

“Terima kasih.”

“Buat apa? Kamu yang ngasih strategi.”

“Untuk yang barusan.”

Dia mengangkat bahu di bawah payung.

“Kita berdua lagi dijodohin sama orang yang sayang sama kita,” katanya. “Bedanya, punyaku aku nggak mau, punyamu—”

Dia berhenti.

“—ya udah,” katanya. “Sampai ketemu arisan bulan depan.”


Malam itu, jam sepuluh, ponselku menyala.

Prita: angel

Prita: aku baru sadar sesuatu

Angelica Prameswari: Ya?

Prita: tadi kamu bilang kalau seseorang mindahin syarat pembuktian tiap kali kita penuhi, artinya kesimpulannya udah diambil duluan

Angelica Prameswari: Ya.

Prita: terus kamu bikin kontrak yang tiap pasalnya kamu penuhin

Prita: terus tiap kali penuh kamu revisi lampirannya

Prita: revisi 02 itu bulan apa

Aku menatap layar.

Angelica Prameswari: September.

Prita: sekarang Desember

Prita: dan lampirannya masih revisi 02

Prita: padahal ada baris yang kolomnya kamu ubah bulan November

Prita: tapi nomor revisinya nggak kamu naikin

Aku membuka file itu.

Lampiran 4c. Kepala dokumen. REVISI 02.

Baris Gandengan tangan, kolom Durasi Maksimum: . Catatan: tidak diukur.

Kuubah pada 17 November, di kos, jam sebelas malam, setelah makan siang divisi.

Dan aku tidak menaikkan nomor revisinya.

Aku, yang delapan tahun bekerja dengan versi dokumen, yang pernah menolak laporan seorang staf karena dia menulis “final” dua kali, tidak menaikkan nomor revisi.

Prita: angel

Prita: kamu nggak lagi ngerapiin dokumen

Prita: kamu lagi diam-diam ngerusakinnya


Jumlah kata: ±1.720