Chapter Eight

Bab 8 — Bukti Pendukung

POV: Angelica


Fahri tahu bahwa ini palsu.

Arsa memberitahunya di hari kedua, sebelum kontrak ditandatangani, dalam sebuah percakapan yang menurut Arsa berlangsung “sebentar” dan menurut Fahri berlangsung “empat puluh menit dan Mas Arsa nggak bisa jawab tiga pertanyaan saya”.

Jadi Fahri tahu.

Fahri, sepenuhnya, seratus persen, tahu.

Itulah yang membuat perilakunya menjadi masalah teknis yang menarik.


“Mbak Angel,” katanya, hari Sabtu, saat aku datang ke bengkel untuk melihat perkembangan C70. “Mbak nggak minum dulu?”

“Nggak usah, Fahri.”

“Ada teh.”

“Terima kasih.”

“Mas Arsa yang beli.” Dia meletakkan gelas di meja kerja, tepat di sebelah tanganku. “Kemarin. Dua kotak. Padahal di sini nggak ada yang minum teh.”

Aku memandang gelas itu.

“Fahri.”

“Ya, Mbak.”

“Kamu tahu ini bukan pacaran beneran.”

“Tahu, Mbak.”

“Kamu diberi tahu langsung oleh Mas Arsa.”

“Iya, Mbak.”

“Jadi kenapa—”

“Mbak,” katanya, dan dia menaruh kunci pas, dan menghadapku dengan keseriusan yang biasanya dipakai orang untuk membicarakan kematian, “saya cuma nyampein fakta.”

“Fakta apa?”

“Dua kotak teh.”

Dia mengambil kunci pasnya lagi dan kembali bekerja.


Aku mendokumentasikan tiga kejadian berikutnya karena, seperti yang selalu kukatakan pada tim, pola baru terlihat kalau kau mencatat.

Kejadian A. Aku menyebut, satu kali, dalam percakapan yang sepenuhnya tidak penting, bahwa kursi tunggu di bengkel itu terlalu rendah untuk orang yang memakai rok kerja.

Sabtu berikutnya ada kursi baru. Kursi lipat. Tingginya normal.

Fahri, saat aku menanyakannya: “Oh itu ada dari dulu, Mbak. Di gudang.”

Arsa, saat aku menanyakannya: “Iya, di gudang.”

Fahri, empat puluh menit kemudian, saat Arsa keluar membeli sesuatu: “Mbak, kursi itu dibeli hari Rabu. Saya yang boncengin ke tokonya.”

Kejadian B. Ada laci di meja kerja yang tidak pernah dibuka Arsa saat aku ada.

Aku tahu karena aku memperhatikan, dan aku memperhatikan karena ada satu sore ketika dia membukanya, langsung menutupnya lagi, dan mengambil obeng dari tempat lain yang jelas-jelas lebih jauh.

Kejadian C. Kopi.

Aku minum kopi hitam tanpa gula, yang bukan pilihan gaya hidup melainkan konsekuensi dari empat tahun lembur. Hari Sabtu ketiga, gelas yang diletakkan di sebelahku adalah kopi hitam tanpa gula, dalam gelas keramik, bukan gelas plastik seperti yang dipakai Fahri dan Arsa.

Aku tidak pernah memberitahu siapa pun di bengkel itu bagaimana aku minum kopi.


“Angelica.”

Aku mengangkat kepala dari laptop. Aku sedang duduk di kursi lipat itu, mengerjakan laporan, karena hari Sabtu kantor tutup dan kos-ku panas dan — ini bagian yang tidak kuakui bahkan pada diriku sendiri — karena JADWAL mensyaratkan dua sampai tiga kali seminggu dan minggu ini baru satu.

Arsa berdiri di depanku dengan ponsel di tangan.

“Boleh saya foto?”

“Foto apa?”

“Kamu.”

Aku menutup laptop sepuluh derajat.

“Untuk apa?”

“Grup keluarga.” Dia mengangkat ponselnya sedikit. “Tante Endah kirim pesan ke saya tiga kali minggu ini. Nanya kabar. Terus dua hari lalu dia posting foto anaknya sama pacarnya di grup. Om Bowo komen ‘kapan Arsa’.”

“Ah.”

“Kalau nggak ada apa-apa dari kita selama dua minggu, nanti Ibu yang ditanya.”

Itu masuk akal. Itu sangat masuk akal. Itu, sejujurnya, persis jenis pertimbangan yang seharusnya kupikirkan sendiri dan luput karena aku sibuk menghitung hal lain.

“Bukti pendukung,” kataku.

“Apa?”

“Itu istilahnya. Kalau ada klaim, harus ada bukti pendukung. Kalau klaimnya ‘kami pacaran’, bukti pendukungnya foto.”

“Oke.” Dia mengangkat ponselnya. “Bukti pendukung.”

“Tunggu.”

Aku merapikan rambut. Menutup laptop sepenuhnya. Menegakkan punggung. Mengatur posisi tangan di pangkuan, lalu memindahkannya ke sandaran kursi, lalu mengembalikannya ke pangkuan.

“Sudah?”

“Sudah.”

Dia memotret.

Lalu menurunkan ponselnya dan memandang hasilnya cukup lama.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas Arsa.”

Dia membalik layarnya ke arahku.

Di foto itu, aku duduk tegak di kursi lipat dengan kedua tangan di pangkuan, punggung lurus, dagu sedikit terangkat, dan ekspresi wajah seseorang yang sedang menunggu giliran wawancara kerja.

“Ini kelihatan kayak foto KTP,” katanya.

“Ini rapi.”

“Ini kelihatan kayak kamu lagi ditahan.”

“Mas Arsa.”

“Kalau saya posting ini di grup, Tante Endah bakal nelpon Ibu nanyain kamu kenapa.”

Aku merebut ponselnya. Melihat foto itu lagi.

Dia benar. Itu masalahnya. Dia benar.

“Ya sudah, ulang,” kataku, menyerahkannya kembali. “Saya akan tersenyum.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu diminta senyum, nanti hasilnya lebih parah.”


Yang dia lakukan berikutnya membuatku kesal selama tiga hari.

Dia menaruh ponselnya di meja, kembali ke motor, dan bekerja.

Selama dua jam.

Sesekali dia bertanya sesuatu. Sesekali aku menjawab dari kursi lipat tanpa mengangkat kepala. Pada satu titik dia memanggilku untuk memegang senter karena tangannya berdua-duanya sudah penuh, dan aku berdiri di sana selama sepuluh menit mengarahkan cahaya ke lubang yang tidak kupahami sama sekali sementara dia menjelaskan — dengan sangat detail dan tanpa diminta — mengapa dudukan baterai harus dibuat ulang dari nol dan tidak boleh dibeli jadi.

Dan entah kapan, dia mengambil ponselnya.

Dia mengirimkan hasilnya malam itu.

Bukan satu. Empat.

Foto 1. Aku memegang senter, mulut setengah terbuka, jelas sedang menyela penjelasannya.

Foto 2. Aku di kursi lipat, laptop di pangkuan, kaki disilangkan, sepatu sudah dilepas sebelah dan aku bahkan tidak ingat melepasnya.

Foto 3. Aku sedang tertawa. Aku tidak tahu kapan aku tertawa. Kepalaku menunduk sedikit, tangan di depan mulut, dan latar belakangnya Fahri yang sedang mengangkat dua jempol ke arah kamera dengan wajah orang gila.

Foto 4. Aku sedang berjongkok di sebelah C70, tangan menyentuh tangki, tidak melihat ke kamera.

Aku menatap keempatnya selama waktu yang jauh lebih lama dari yang bisa kupertanggungjawabkan.

Angelica Prameswari: Yang keempat jangan dipakai.

Arsa Bengkel: Kenapa

Angelica Prameswari: Terlalu pribadi.

Arsa Bengkel: Itu motor kamu sendiri

Angelica Prameswari: Iya.

Centang biru.

Arsa Bengkel: Oke. Saya posting yang ketiga.

Arsa Bengkel: Yang lain saya kirim ke kamu aja.


Grup Keluarga Besar Wijaya menerima Foto 3 pada pukul 20.14 dan menghasilkan 31 balasan dalam enam menit, yang menurut perhitunganku menunjukkan penurunan intensitas 34% dibanding kejadian pertama, dan yang menurut Nadia menunjukkan “keluarga itu masih normal, Angel, kamu aja yang aneh”.

Aku membuat folder baru di ponselku malam itu.

Aku memberinya nama BUKTI PENDUKUNG.

Aku memasukkan keempat foto itu ke dalamnya.

Kemudian, karena aku orang yang rapi, kubuat sub-folder: Grup Keluarga, Kantor, Cadangan.

Foto 3 masuk ke Grup Keluarga.

Foto 1 dan 2 masuk ke Cadangan.

Foto 4 — yang tidak akan pernah dipakai untuk apa pun, yang secara definisi tidak mendukung klaim apa pun, dan yang karena itu tidak punya alasan berada di folder bernama Bukti Pendukung —

Foto 4 juga masuk ke Cadangan.

Aku menutup ponsel.

Aku membukanya lagi empat menit kemudian, membuka Cadangan, dan melihat Foto 4.

Di foto itu, aku sedang berjongkok menyentuh tangki motor ayahku — bagian sambungan tempat karat menumpuk, bagian yang tidak akan terlihat oleh siapa pun setelah motor itu berdiri tegak — dan sekarang bersih.

Aku tidak ingat menyentuhnya.

Aku juga tidak ingat ada orang yang cukup memperhatikan untuk melihat bahwa aku menyentuhnya.


Hari Rabu, di bengkel, aku menunggu Arsa selesai menerima pelanggan dan Fahri berdiri di sebelahku sambil pura-pura menyortir baut.

“Mbak.”

“Fahri.”

“Laci nomor dua.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Meja kerja. Laci nomor dua.” Dia tidak mengangkat kepala dari kotak baut. “Mbak penasaran dari kapan hari, kan.”

“Saya tidak—”

“Mbak ngeliatin tiga kali Sabtu kemarin.”

Aku menutup mulut.

“Nggak ada apa-apa kok isinya,” kata Fahri, santai. “Cuma sarung tangan.”

“Sarung tangan.”

“Sarung tangan kerja. Baru. Masih ada plastiknya.”

“Ya, itu bengkel, Fahri. Wajar ada sarung tangan.”

“Iya.” Dia menuang segenggam baut ke wadah lain. “Cuma ukurannya kecil.”

Aku menatap laci itu, dua meter dari tempatku berdiri, tertutup.

“Punya Mas Arsa ukuran L,” kata Fahri. “Punya saya M. Bang Tio yang part-time itu XL.”

“Fahri.”

“Saya cuma nyampein fakta, Mbak.”

Dia mengangkat kotak bautnya dan pergi ke sisi lain bengkel, bersiul sangat pelan dan sangat sumbang.

Aku berdiri di sana, memandang laci nomor dua, dan sadar bahwa tanganku sedang membuat gerakan yang tidak kuperintahkan: jari-jariku mengetuk paha sekali, dua kali, tiga kali.

Itu yang kulakukan waktu menemukan angka yang tidak cocok.


Jumlah kata: ±1.760