Chapter Sixteen

Bab 16 — Lampiran C

POV: Angelica


Temuannya bernama Lampiran C.

Tiga puluh empat halaman, vendor katering, dan di dalamnya ada satu hal yang tidak akan ditemukan siapa pun kecuali orang yang bersedia membuka dua ratus enam puluh lembar nota pengiriman satu per satu dan mencocokkan tanggalnya dengan daftar hadir karyawan.

Yang kutemukan: empat belas tanggal di mana katering menagih makan siang untuk tiga ratus dua puluh orang, dan pada empat belas tanggal itu jumlah karyawan yang hadir di kantor adalah antara seratus sepuluh dan seratus tiga puluh, karena empat belas tanggal itu adalah hari kejepit, cuti bersama, dan dua hari setelah lebaran.

Selisihnya, kalau dijumlahkan setahun, cukup untuk menggaji empat orang.

Aku menyelesaikannya dua hari sebelum atasan lamaku pensiun. Aku mengirimnya ke kotak masuknya pada hari terakhir dia bekerja.

Dan pada hari Senin berikutnya, Wisnu Aditama mengambil map itu dari mejaku sambil memegang gelas kosong dan berkata kamu masih gitu, ya.

Itu enam minggu lalu.

Aku tidak mendengar apa-apa selama enam minggu.


Rapat Koordinasi Triwulan. Senin, 13 November. Ruang Serbaguna lantai dua. 09.00.

Empat puluh tiga orang. Direktur Operasional hadir. Proyektor menyala di percobaan pertama, yang seharusnya sudah menjadi pertanda.

Wisnu naik ke depan pada menit kedua puluh delapan.

“Sedikit dari divisi kami,” katanya. “Sebenarnya ini bukan agenda hari ini, tapi saya rasa penting.”

Slide berganti.

PENINJAUAN ULANG KONTRAK VENDOR KONSUMSI — POTENSI EFISIENSI

Aku merasakan sesuatu di belakang telingaku menjadi dingin.

“Waktu saya masuk enam minggu lalu,” kata Wisnu, “salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah minta seluruh dokumen vendor. Bukan karena curiga. Karena saya percaya kalau kita mau bikin sesuatu lebih baik, kita harus tahu dulu isinya apa.”

Slide berganti.

Empat belas tanggal. Dalam tabel. Dengan format yang persis sama dengan yang kupakai, karena itu memang tabelku, disalin dan diganti warna kepalanya dari abu-abu ke biru korporat.

“Dan ini yang kami temukan.”

Kami.

Aku duduk di baris keempat dari depan, di kursi yang sama dengan enam minggu lalu, dan aku tidak bergerak sama sekali.


Dia mempresentasikannya selama sebelas menit.

Dia mempresentasikannya dengan baik. Itu bagian yang harus kuakui. Dia tahu di mana harus berhenti, tahu kapan mengangkat suara, dan tahu — dengan naluri yang aku yakin tidak pernah dia pelajari dari buku mana pun — bahwa Direktur Operasional akan bertanya soal implikasi hukumnya, dan dia sudah menyiapkan satu kalimat untuk itu.

Kalimat itu juga dari laporanku. Halaman dua puluh sembilan.

“Ini kerja tim,” katanya, di menit kesepuluh. “Saya nggak mau ambil kredit sendiri. Divisi ini isinya orang-orang teliti.”

Beberapa kepala mengangguk.

“Dan saya mau bilang,” lanjutnya, “prosesnya nggak gampang. Kami harus buka dua ratus enam puluh nota satu-satu. Itu kerja keras. Itu—” dia tersenyum, “—itu kerja yang nggak ada yang mau.”

Bu Vera, dua kursi di sebelahku, membungkuk sedikit.

“Angel,” bisiknya. “Itu punya kamu, kan?”

Empat puluh tiga orang di ruangan.

Direktur Operasional di baris pertama.

Dan aku punya satu setengah detik untuk memutuskan.

Kalau aku bicara sekarang — di tengah rapat, di depan direktur — aku akan menjadi perempuan yang menyela atasannya untuk mengklaim kredit. Itu ceritanya. Bukan yang lain. Aku sudah cukup lama bekerja untuk tahu persis bentuk cerita itu, dan bagaimana ia akan diceritakan ulang di pantry.

Kalau aku diam, Wisnu menang.

“Iya,” bisikku ke Bu Vera.

Dan aku tetap duduk.


Rapat selesai pukul 11.20.

Wisnu menemuiku di lorong pada pukul 11.34, membawa dua gelas kopi, dan menyerahkan satu padaku.

Aku tidak mengambilnya.

“Ngel.”

“Pak.”

“Aduh.” Dia meringis. “Jangan gitu.”

“Lampiran C itu punya saya.”

“Iya.” Dia mengangguk cepat, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat masuk akal. “Iya, dan aku bilang itu kerja tim.”

“Bapak bilang ‘kami’.”

“Karena memang kami. Kamu tim aku.” Dia mengangkat gelas yang tidak kuambil, lalu meletakkannya di ambang jendela. “Ngel, aku sengaja nggak sebut nama kamu.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak suka disorot.”

Aku memandangnya.

“Aku inget,” katanya, dan suaranya melunak dengan cara yang dulu berhasil, “kamu dulu waktu presentasi di depan lima orang aja tangannya dingin. Aku pegang. Ingat?”

“Saya ingat.”

“Nah.” Dia mengangkat bahu. “Aku cuma nggak mau kamu berdiri di depan empat puluh orang terus disuruh jelasin metodologi sama Pak Dirop. Itu bukan kamu.”

Dan inilah yang harus kau pahami tentang Wisnu Aditama.

Setiap kata dari kalimat itu benar.

Tanganku memang dingin. Dia memang memegangnya. Aku memang tidak suka berdiri di depan. Kalau kau menuliskan seluruh percakapan ini dan menyerahkannya ke pihak ketiga, pihak ketiga itu akan berkata: dia melindungi kamu.

“Pak Wisnu.”

“Wisnu.”

“Enam minggu lalu Bapak mengambil map itu dari meja saya, dan sejak itu Bapak tidak pernah sekali pun menanyakan metodologinya kepada saya.”

Jeda.

“Kalau Bapak sungguh-sungguh melindungi saya dari pertanyaan Pak Dirop,” kataku, “Bapak akan bertanya lebih dulu, supaya Bapak bisa menjawabnya.”

“Ngel—”

“Bapak tidak bertanya karena Bapak tidak butuh jawabannya. Bapak butuh slide-nya.”

Lorong itu sepi.

Dan untuk sepersekian detik — betul-betul sepersekian detik — sesuatu di wajah Wisnu jatuh.

Lalu naik lagi.

“Kamu capek ya,” katanya, lembut. “Aku ngerti kok. Kamu tuh selalu kerja terlalu keras terus nggak dapet apa-apa. Itu nggak adil. Aku juga marah.”

Dia mengambil kedua gelas kopi.

“Nanti aku pikirin gimana caranya kamu dapet pengakuan,” katanya. “Serius. Aku pegang omongan.”

Dan dia pergi.


Aku menyelesaikan pekerjaan hari itu sampai jam 19.15.

Bukan karena ada pekerjaan. Karena kalau aku pulang jam enam, aku akan berada di kos jam tujuh, dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di kos jam tujuh.

Aku mengetik. Aku menghapus. Aku mengetik lagi.

Pukul 19.40 aku menyerah, mematikan komputer, dan turun ke lobi.

Aku sudah setengah menyeberangi lobi ketika aku melihatnya.


Arsa duduk di kursi tunggu dekat resepsionis.

Wearpack. Masih ada oli. Ponsel di tangan tapi layarnya mati, yang berarti dia sudah tidak melihatnya sejak entah kapan.

Aku berhenti.

“Mas Arsa?”

Dia berdiri.

“Sudah selesai?”

“Sudah lama di sini?”

“Nggak lama.”

“Mas Arsa.”

“Sejak jam enam.”

Satu jam empat puluh menit.

“Kenapa nggak telepon?”

“Kalau saya telepon, kamu bakal cepet-cepet.” Dia memasukkan ponselnya ke saku. “Terus kamu bakal ngerasa nggak enak. Terus kamu bakal minta maaf. Padahal kerjaan kamu belum selesai.”

Aku berdiri di tengah lobi dengan tas di bahu.

“Siapa yang bilang?”

“Apa?”

“Siapa yang bilang saya harus dijemput hari ini?”

Dia menggosok belakang lehernya.

“Nadia,” katanya.

“Nadia.”

“Dia dapat nomor saya dari kamu. Katanya waktu itu kamu kirim buat verifikasi apa gitu.”

“Verifikasi identitas. Sebelum saya ke rumah Mas pertama kali.”

“Ya, itu.” Arsa mengangkat bahu. “Dia chat jam empat. Bilang hari ini kamu jelek.”

“Jelek.”

“Kata dia gitu. Saya tanya jelek gimana, dia bilang nanti dijelasin sama kamu kalau kamu mau.”

Aku memandang lantai lobi yang mengkilap.

Nadia bekerja di gedung lain, tiga kilometer dari sini, dan aku tidak menceritakan apa pun kepadanya hari ini.

Yang berarti dia mendengarnya dari orang lain.

Yang berarti sudah ada empat puluh tiga orang yang tahu.

“Angelica.”

“Ya.”

“Mau makan?”


Kami makan di warung tenda pinggir jalan, dua ratus meter dari kantorku, di bangku plastik yang goyang di satu kaki.

Aku tidak bercerita selama dua puluh menit pertama.

Arsa tidak bertanya.

Dia makan. Dia memesan es teh untukku tanpa gula dan es teh untuk dirinya dengan gula. Dia memindahkan tempat sambal ke sisi kananku tanpa berkata apa-apa karena dia sudah tahu aku pakai tangan kanan untuk sendok dan kiri untuk mengambil sambal, yang menurutku tidak mungkin dia ketahui sampai aku ingat bahwa dia sudah melihatku makan sebelas kali.

“Ada temuan audit,” kataku, di menit kedua puluh satu. “Lampiran C. Tiga puluh empat halaman. Saya kerjakan sendiri selama lima minggu.”

Dia meletakkan sendok.

“Tadi pagi dipresentasikan oleh kepala divisi saya di depan empat puluh tiga orang.”

“Namanya kamu disebut?”

“Tidak.”

“Sekali pun?”

“Tidak.”

Arsa memandang meja.

Rahangnya bergerak satu kali. Aku sudah melihat itu sebelumnya, di ruang serbaguna lantai dua, saat seseorang berkata lima tahun lagi gimana.

“Terus kamu diam,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kalau saya bicara di tengah rapat, ceritanya berubah. Bukan lagi soal siapa yang kerja. Jadi soal perempuan yang menyela atasannya.” Aku memutar gelas. “Saya sudah delapan tahun. Saya tahu cerita itu bentuknya bagaimana.”

“Hm.”

“Mas Arsa, jangan bilang ‘hm’.”

“Saya nggak bilang apa-apa.”

“Mas berpikir saya seharusnya bicara.”

“Nggak.” Dia mengangkat kepala. “Saya mikir dia tahu kamu bakal diam.”

Aku berhenti memutar gelas.

“Dia kerja sama kamu berapa tahun?”

“Tiga. Dulu.”

“Berarti dia tahu.” Arsa mengambil sendoknya lagi. “Dia nggak lagi nyuri kerjaan orang yang mungkin protes. Dia nyuri kerjaan orang yang dia sudah hitung nggak akan protes.”

Aku duduk di bangku plastik yang goyang di satu kaki, di warung tenda, dengan es teh tanpa gula di depanku.

Dan sesuatu yang sudah kusimpan selama sebelas jam — sesuatu yang kutahan sepanjang rapat, sepanjang lorong, sepanjang delapan jam mengetik dan menghapus — akhirnya bergerak.

Aku menekan pangkal hidung dengan ibu jari dan telunjuk.

“Angelica.”

“Sebentar.”

“Nggak apa-apa.”

“Sebentar, Mas Arsa.”

Dia diam.

Dia tidak menyentuhku. Dia tidak bilang tidak apa-apa lagi. Dia tidak menyodorkan tisu, yang belakangan kusadari adalah hal yang paling tepat yang bisa dia lakukan, karena kalau dia menyodorkan tisu artinya dia sudah memutuskan bahwa aku menangis, dan aku belum memutuskan itu.

Dia cuma memanggil ke arah penjualnya:

“Mas, es tehnya satu lagi. Yang manis.”

Dan meletakkannya di depanku dua menit kemudian.

“Saya nggak minum yang manis,” kataku.

“Iya. Tapi hari ini kamu boleh nggak tidur.”


Jumlah kata: ±1.930