Chapter Seven
Bab 7 — Baik
POV: Angelica
Wisnu Aditama masuk ke ruang rapat lantai empat pada hari Senin pukul 09.03, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung dua lipatan, dan berhenti di ambang pintu selama satu setengah detik supaya semua orang sempat menoleh.
Aku tahu dia melakukannya dengan sengaja, karena aku pernah melihatnya berlatih.
Dulu. Di apartemennya. Di depan cermin lemari, sambil bertanya padaku apakah lebih baik masuk sambil bicara atau masuk dulu baru bicara.
Aku bilang masuk dulu baru bicara.
Dia memakai saranku selama dua tahun setelah aku tidak ada lagi, dan entah kenapa itu bagian yang paling membuatku muak.
“Selamat pagi, semuanya.” Senyum. Lebar, tulus-tulusan. “Saya tahu kalian sudah dengar dari HR, tapi saya mau bilang sendiri: saya di sini bukan buat ngubah-ngubah. Divisi ini sudah bagus. Saya cuma mau bantu.”
Ada gumaman setuju. Bu Vera dari Divisi Umum bertepuk tangan sendirian selama dua detik sebelum berhenti.
“Dan,” kata Wisnu, “sebelum kita mulai—”
Matanya menemukan tempatku duduk.
Dia sudah tahu aku di mana. Dia sudah tahu sejak sebelum masuk ruangan.
“—saya senang banget, ada wajah lama di sini. Angel.”
Empat belas kepala menoleh.
“Selamat pagi, Pak.”
“Aduh, jangan Pak.” Dia tertawa, ke arah ruangan, bukan ke arahku. “Kita satu angkatan. Dulu satu tim. Angel ini—” dia menoleh ke Bu Vera, “—Ibu tahu nggak, dulu kalau ada berkas yang orang lain lewatkan, Angel yang nemu. Selalu. Dia teliti banget.”
“Wah,” kata Bu Vera.
“Teliti banget.” Dia mengangguk-angguk. Lalu tersenyum ke arahku, memiringkan kepala sedikit. “Apa kabar, Ngel?”
Ruangan menunggu.
Ini bagian yang sudah kulatih. Bukan delapan kali di depan cermin — dua tahun, di kepala, setiap kali ada orang di lift yang punya potongan rambut yang mirip.
“Baik,” kataku.
Yang perlu kau tahu tentang Wisnu Aditama adalah bahwa dia tidak pernah, satu kali pun, mengatakan sesuatu yang bisa kau kutip.
Kalau kau menuliskan semua yang dia ucapkan pagi itu dan menyerahkannya ke pihak ketiga, pihak ketiga itu akan berkata: dia memuji kamu.
Itu benar. Dia memuji aku.
Dia memuji aku dengan kata teliti, di depan empat belas orang, pada hari pertama dia jadi atasanku, dengan nada yang persis sama dengan nada yang dipakai orang untuk memuji mesin fotokopi yang jarang macet.
Dan di antara kalimat “dia teliti banget” dan kalimat “apa kabar”, ada jeda satu setengah detik yang tidak akan tertangkap di notulen mana pun, tapi yang membuat lima orang di ruangan itu menoleh ke arahku dengan wajah yang berubah dari netral menjadi ingin tahu.
Kita satu angkatan. Dulu satu tim.
Dua kalimat. Nol kebohongan.
Dia meninggalkan lubang di kalimatnya, dan membiarkan orang lain mengisinya sendiri.
Dulu aku pikir itu kebetulan.
11.20. Dia berhenti di mejaku dalam perjalanan ke pantry, memegang gelas kosong.
“Ngel, sori ya tadi.”
“Sori kenapa, Pak?”
“Nggak usah ‘Pak’.” Dia tersenyum. “Sori tadi aku nyebut nama kamu di depan. Aku nggak mikir. Takutnya kamu jadi nggak nyaman.”
“Nggak apa-apa.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Soalnya aku tahu kamu orangnya nggak suka jadi pusat perhatian.” Dia menyandarkan pinggul ke sisi mejaku. “Aku cuma pengen orang tahu kamu bagus. Kamu tuh selalu kurang ngomongin diri sendiri.”
Ada map di mejaku. Temuan audit vendor katering, tiga puluh empat halaman, yang kuselesaikan Jumat lalu dan kukirim ke atasan lama pada hari terakhirnya.
Tangan Wisnu bergerak ke sana. Membalik sampulnya. Membaca dua baris.
“Ini punya kamu?”
“Iya.”
“Boleh aku baca?”
“Itu memang untuk dibaca kepala divisi, Pak.”
“Wisnu.”
“Itu memang untuk dibaca kepala divisi.”
Dia mengambil map itu. Menepuknya sekali ke telapak tangannya, senyum masih di tempat.
“Kamu masih gitu, ya,” katanya.
“Gimana?”
“Ngomong kayak lagi bacain pasal.”
Dia pergi ke pantry dengan mapku di bawah lengan.
Dan aku duduk di kursiku selama mungkin satu menit penuh, dengan tangan di atas keyboard, tidak mengetik apa-apa.
Jumat, 12.15. Ruang serbaguna lantai dua.
Makan siang perkenalan divisi. Prasmanan. Empat puluh orang. Spanduk yang dicetak buru-buru dengan foto Wisnu yang terlalu besar.
Aku sudah di sana empat puluh menit ketika ponselku bergetar.
Arsa Bengkel: Di lobi.
Arsa Bengkel: Satpamnya nanya saya mau ketemu siapa. Saya bilang Angelica. Dia nanya divisi apa. Saya nggak tahu.
Angelica Prameswari: Audit Internal. Saya turun.
Arsa Bengkel: Jangan. Nanti kelihatan kayak saya nggak tahu.
Arsa Bengkel: Saya sudah bilang ke satpamnya saya pacarnya. Dia langsung ngasih tahu lantainya.
Arsa Bengkel: Ternyata itu lebih cepat.
Dia muncul di pintu ruang serbaguna dua menit kemudian.
Kemeja. Kemeja betulan, warna abu-abu tua, disetrika dengan lipatan yang salah di lengan tapi disetrika. Rambutnya diikat rapi. Sepatunya sepatu kulit yang jelas dikeluarkan dari kotak untuk hari ini.
Dan dia berhenti di ambang pintu — bukan satu setengah detik supaya orang menoleh, tapi tiga detik penuh karena dia sedang mencari aku dan tidak peduli sama sekali apakah ada yang melihat.
Aku mengangkat tangan.
Dia berjalan lurus.
“Kamu makan?” tanyanya, sudah di sebelahku.
“Belum sempat.”
“Kenapa?”
“Ada yang harus saya sapa dulu.”
“Berapa orang?”
“Sebelas.”
“Sudah?”
“Sembilan.”
“Ya sudah, dua lagi.” Dia mengambil piring. “Saya ambilin. Kamu nggak suka yang bersantan, kan.”
Aku menoleh.
“Kok tahu?”
“Sabtu kemarin kamu ambil dua kali dari mangkuk yang sama dan nggak nyentuh yang santan.” Dia sudah mengambil sendok. “Terus di warung Bu Yanti kamu pesen yang bening.”
Aku berdiri di tengah ruang serbaguna lantai dua, di antara empat puluh rekan kerja, dan tidak punya satu pun kalimat yang siap.
Itu bukan hal yang tertulis di pasal mana pun.
Itu bukan hal yang perlu dia lakukan untuk membuat siapa pun percaya, karena tidak ada yang cukup dekat untuk mendengar.
“Angel.”
Wisnu.
Dia datang dari sisi kiri, memegang gelas jus, senyumnya sudah dipasang dari jarak lima meter.
“Ini nih.” Dia berhenti. Melihat Arsa. Lalu melihat aku. “Wah. Ada tamu.”
“Ini Arsa,” kataku.
“Arsa.” Wisnu mengulurkan tangan. “Wisnu. Kepala divisinya Angel.”
Mereka bersalaman.
Aku memperhatikan tangan Wisnu — dan melihat, dengan sangat jelas, momen dia menyadari bahwa telapak tangan yang dia salami itu kasar.
“Kerja di mana, Mas?”
“Bengkel.”
“Bengkel.” Alis Wisnu naik, dan senyumnya melebar dengan cara yang membuat perutku mengeras. “Bengkel apa nih?”
“Konversi motor listrik.”
“Oh! Yang lagi rame itu.” Dia mengangguk-angguk, penuh minat. “Bagus, bagus. Sekarang lagi bagus banget ya iklimnya. Subsidi juga jalan.”
“Iya.”
“Tapi jujur ya, Mas—” Wisnu menyeruput jusnya, “—saya kadang mikir. Ini kan tren. Lima tahun lagi gimana? Kalau regulasinya berubah, atau pabrikan besar masuk semua. Bengkel-bengkel kecil kayak gitu biasanya yang pertama kena.”
Dia mengatakannya dengan hangat.
Itu bagian yang harus kau pahami. Dia mengatakannya dengan sangat hangat, seperti orang yang sungguh-sungguh khawatir, dan tiga orang di dekat kami menoleh dan mengangguk karena kalimat itu, secara isi, tidak salah.
Aku membuka mulut.
“Iya,” kata Arsa.
Wisnu mengerjap. “Iya?”
“Bener. Bisa kena.” Arsa menaruh piring yang sedang dia isi. “Makanya saya nggak ambil pinjaman. Kalau sewa naik atau pesanan turun, saya bisa kecil lagi tanpa ada yang nagih.”
“Oh.”
“Sekarang tiga orang. Dulu satu. Kalau harus balik ke satu, ya balik ke satu.”
Dia mengambil piring itu lagi dan melanjutkan mengambil sayur.
Wisnu berdiri di sana selama satu setengah detik — dan untuk pertama kalinya sejak Senin, jeda itu bukan miliknya. Jeda itu terjadi padanya.
“Wah,” katanya akhirnya, tertawa. “Realistis ya. Bagus itu.”
“Terima kasih.”
“Ngel.” Dia menoleh padaku, dan senyumnya kembali ke tempatnya. “Aku senang ya lihat kamu. Kamu kelihatan lebih... apa ya. Lebih santai.”
“Terima kasih.”
“Dulu kamu tegang banget.” Dia mengangkat gelasnya sedikit, ke arah kami berdua. “Bagus deh. Duluan ya.”
Dan pergi.
Aku baru menyadarinya setelah dia lima langkah menjauh.
Tanganku sedang digenggam.
Aku tidak tahu kapan itu terjadi. Aku tidak merasakan Arsa meraihnya. Tidak ada momen di mana aku berpikir ada saksi, Pasal 4 aktif — dan itu, harus kutekankan, adalah bagaimana seluruh sistem ini seharusnya bekerja. Ada pemicu. Ada penilaian. Ada tindakan. Ada durasi maksimum seratus dua puluh detik.
Yang terjadi: entah pada detik mana, jari-jariku sudah ada di antara jari-jarinya, dan aku tidak melakukan apa pun untuk membuat itu terjadi.
Aku menoleh.
Arsa sedang memandang ke arah perginya Wisnu, dan rahangnya bergerak sekali.
“Mas.”
“Hm.”
“Tangan.”
Dia menunduk. Melihat.
Dan aku melihat momen dia menyadarinya juga — dan menyadari, sama seperti aku, bahwa dia tidak tahu kapan itu terjadi.
Dia melepaskannya. Terlalu cepat. Terlalu terlambat.
“Maaf,” katanya. “Refleks.”
“Refleks.”
“Iya.”
“Itu bukan refleks. Itu—” Aku berhenti.
Karena refleks memang persis kata yang benar, dan itulah masalahnya.
“Ada Pak Wisnu,” kataku akhirnya. “Ada saksi. Sesuai Pasal 4.”
“Iya,” katanya. “Sesuai Pasal 4.”
Kami berdiri berdampingan di depan meja prasmanan, dua orang dewasa yang baru saja sepakat mengenai sesuatu yang jelas-jelas tidak benar, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengoreksinya.
“Angelica.”
“Ya.”
“Dia manggil kamu Angel.”
“Semua orang manggil saya Angel.”
“Hm.” Arsa mengambil satu sendok sayur lagi dan meletakkannya di piringku. “Makan. Kamu belum makan dari pagi.”
Malamnya, jam sebelas, aku membuka JADWAL.
Enam puluh satu baris. Aku menambahkan satu.
Jumat, makan siang divisi — SELESAI.
Lalu aku membuka Lampiran 4c, ke baris Gandengan tangan, kolom Durasi Maksimum (detik): 120.
Aku menghitung ulang di kepala. Dari saat Wisnu berkata duluan ya sampai saat aku menoleh.
Kira-kira empat puluh detik. Aman.
Tapi aku tidak tahu kapan itu dimulai.
Aku menatap angka 120 itu cukup lama.
Lalu kuhapus.
Kuketik: —
Kolom Catatan: tidak diukur.
Jumlah kata: ±1.900
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik reading
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7