Chapter Thirty One
Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
POV: Angelica
Aku menemui Pak Hendra Sulistyo pada hari Kamis, 4 Juli, pukul 16.00, di rumahnya di Perumahan Griya Asri Blok C.
Aku tidak memberitahu Arsa.
Aku menuliskan itu sekarang, di depan, supaya tidak ada yang mengira aku menyembunyikannya di dalam cerita. Aku menyembunyikannya di dalam hidup, dan itu sudah cukup buruk.
Alasan yang kuberikan pada diriku sendiri: aku hanya akan menanyakan kemungkinan perpanjangan. Tiga bulan. Enam bulan. Apa pun yang memberi waktu.
Alasan yang sebenarnya: aku ingin melihat dokumennya.
Pak Hendra ternyata seorang laki-laki kurus berkacamata yang menyambutku dengan celana pendek dan kaus berkerah, dan yang rumahnya sudah setengah dikosongkan — ada empat kardus di ruang tamu, dan bekas paku di dinding tempat foto-foto pernah tergantung.
“Ibu dari mana tadi?”
“Angelica, Pak. Saya—”
Dan aku berhenti.
Karena aku menyiapkan kalimat saya bekerja di bidang audit dan membantu Mas Arsa meninjau opsi, dan kalimat itu adalah kalimat yang benar dan tepat dan sepenuhnya menyesatkan.
“Saya pacarnya Arsa,” kataku.
“Oh!” Wajahnya terbuka. “Yang bengkel.”
“Iya, Pak.”
“Duduk, duduk. Bu, tolong tehnya!”
Percakapan itu berlangsung lima puluh menit dan sebagian besar isinya adalah tentang cucu Pak Hendra di Melbourne, yang berusia empat tahun, dan yang menurut Pak Hendra “sudah nggak bisa bahasa Indonesia, itu yang bikin saya nekat pindah”.
Aku mendengarkan seluruhnya.
Pada menit ketiga puluh dua, aku mengajukan pertanyaanku.
“Pak, saya mau tanya soal kemungkinan perpanjangan sewa.”
“Aduh.” Dia meletakkan cangkirnya. “Nak Angel, saya sudah tanda tangan sama pembeli tanggal 28 Juni.”
Perutku turun.
“Sudah ada pembeli.”
“Sudah. Notaris tanggal 15 Agustus.” Dia mengangkat bahu, minta maaf dengan seluruh tubuhnya. “Saya sudah kasih Arsa tiga puluh hari. Sesuai perjanjian. Sampai tanggal 7 Juni.”
“Iya, Pak. Saya tahu.”
“Dia telepon saya tanggal 6.”
Aku mengangkat kepala.
“Arsa telepon Bapak?”
“Iya. Malam.” Pak Hendra mengangguk. “Dia bilang dia nggak sanggup. Terus dia minta maaf. Terus dia bilang terima kasih empat tahun.”
Aku duduk di ruang tamu yang setengah dikosongkan itu.
Tanggal 6 Juni.
Dua minggu sebelum pameran. Empat hari sebelum kami mulai membangun stan. Sebelas hari sebelum dia membongkar battery pack selama dua puluh tiga jam.
Dia sudah tahu.
Dia sudah menyerah pada rukonya tanggal 6 Juni, dan selama sebulan setelahnya dia bekerja setiap hari seolah tidak.
“Nak Angel.”
“Iya, Pak.”
“Anak itu nggak pernah nawar.” Pak Hendra menggeleng pelan. “Empat tahun. Sekali pun nggak. Bayarnya juga selalu tanggal satu. Kadang tanggal tiga puluh satu bulan sebelumnya, kalau dia lagi ada.”
“Iya, Pak.”
“Cuma sekali telat.”
Aku meletakkan cangkirku.
“Sekali?”
“Tahun lalu.” Dia mengibaskan tangan. “Ah, itu juga nggak lama. Tiga bulan.”
“Tiga bulan, Pak?”
“Iya, tapi lunas kok. Lunas semua.”
“Kapan lunasnya?”
“Ya sekaligus itu.” Pak Hendra menyeruput tehnya. “Ibunya yang bawa.”
Ada satu setengah detik.
Aku tahu persis panjangnya, karena aku sudah cukup sering berada di ruangan tempat seseorang mengucapkan satu kalimat yang mengubah seluruh isi map.
“Ibunya,” kataku.
“Iya. Bu Rahayu.” Dia meletakkan cangkirnya. “Datang ke sini. Bawa amplop. Sekaligus tiga bulan.”
“Kapan itu, Pak?”
“Bulan apa ya.” Dia memiringkan kepala. “Habis lebaran. Juni? Juli?”
“Tahun lalu.”
“Iya.”
Aku memegang cangkirku dengan dua tangan supaya tidak kelihatan.
“Pak, boleh saya tanya satu hal lagi?”
“Silakan.”
“Kenapa sewa Mas Arsa tidak pernah naik selama empat tahun?”
Pak Hendra tertawa.
“Nah, itu.”
“Itu apa, Pak?”
“Itu juga Bu Rahayu.” Dia menepuk lutut. “Tahun kedua saya mau naikin. Pasaran sudah naik, semua ruko sebelah naik. Terus Bu Rahayu datang ke sini, bawa kue, ngobrol dua jam.”
“Dan?”
“Dan saya nggak jadi naikin.” Dia mengangkat bahu, geli pada dirinya sendiri. “Saya juga sampai sekarang nggak ngerti gimana caranya.”
Aku pulang naik angkot pada pukul 17.30.
Aku tidak membuka ponsel.
Aku duduk di kursi belakang dan aku melakukan hal yang kulakukan sejak umur lima belas tahun setiap kali sesuatu berhenti masuk akal: aku menyusun ulang.
Bukan berdasarkan apa yang kurasakan.
Berdasarkan tanggal.
26 Agustus. Bu Rahayu masuk ke bengkel anaknya membawa tiga foto. Anaknya menarik lengan seorang perempuan asing dan berkata ini pacarku, Bu.
Perempuan asing itu berdiri di sebelah motor tua yang masih ada formulir kerjanya di papan jepit.
Bu Rahayu memandang perempuan itu selama tiga detik penuh.
Lalu tersenyum, dan menyimpan ketiga foto itu kembali ke dalam tas.
Menyimpan. Bukan menyerah.
Awal September. Bu Rahayu memasukkan nomorku ke daftar kontak sekolah Kemal. Tanpa memberitahuku. Setelah bertemu denganku satu kali.
Bulan September, arisan. Bu Rahayu memotong empat pertanyaan. Yang keempat aku tidak sadar. Bu Sri hendak bertanya soal mantanku, dan Bu Rahayu menumpahkan teh ke roknya sendiri.
Dia tahu ada mantan. Aku tidak pernah menyebut Wisnu kepadanya sampai bulan Desember.
Bulan November, gang. Ibu nggak minta kamu nikah Februari. Ibu minta kamu lamar Februari.
Dan kemudian, kepadaku: Kamu jangan dengerin Ibu. Ibu ngomong sama Arsa. Bukan sama kamu.
Bulan Desember, arisan. Prita datang. Dibawa Bu Tini. Didudukkan persis di seberangku dengan Bu Rahayu di tengah.
Prita yang, dalam waktu satu jam, ternyata sedang kabur dari perjodohannya sendiri.
Prita yang menjadi sekutuku.
Bulan Desember, bengkel. Wisnu datang. Bu Rahayu masuk membawa rantang pada hari Sabtu pukul 11.44, ke bengkel yang berjarak dua ratus meter dari rumahnya, membawa lontong yang cukup untuk empat orang.
Dan menyebutkan, tanpa diminta, bahwa Nadia pernah datang ke rumahnya dan tidak masuk.
Bulan Februari. Tidak ada apa-apa.
Bulan April. Kemal menyerahkan tujuh halaman kontrak kepada satu ruangan berisi tiga orang dewasa.
Mbak Anjani membacanya dan menyimpulkan itu dokumen kantor.
Nenek Sumi membacanya dan menyimpulkan itu dokumen kantor.
Bu Rahayu tidak menyentuhnya sama sekali.
Lalu memasukkannya ke map plastik dan menyerahkannya kembali padaku dengan dua tangan.
Nanti sobek.
Angkot itu berhenti di lampu merah.
Aku duduk di kursi belakang dan menyadari sesuatu yang membuat kulit lenganku dingin.
Bukan bahwa dia tahu.
Bahwa dia tahu sejak hari pertama, dan bahwa selama sebelas bulan, tidak satu kali pun dia melakukan sesuatu untuk menghentikannya.
Dia melakukan sebaliknya.
Dia memotong pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Dia memasukkan nomorku ke daftar sekolah. Dia memberi Prita kepadaku dan memberiku kepada Prita. Dia menghancurkan Wisnu dalam empat kalimat sambil menawarkan lontong.
Dia menyimpan kontrak itu di map plastik.
Selama sebelas bulan, Bu Rahayu Wijayanti bukan orang yang harus kami bohongi.
Dia orang yang menjaga kebohongan itu supaya tetap berdiri.
Aku sampai di rumahnya pukul 18.15 tanpa mengabari.
Dia membukakan pintu dengan celemek.
“Angel! Kok nggak bilang.”
“Bu.”
Dan dia melihat wajahku.
Dan senyum itu — yang sudah kulihat mungkin enam puluh kali dalam sebelas bulan, yang tidak pernah sekali pun bisa kubaca — turun.
Bukan hilang. Turun. Seperti orang meletakkan sesuatu yang berat setelah membawanya jauh.
“Oh,” katanya.
Dan membuka pintu lebih lebar.
Kami duduk di ruang tengah. Nenek Sumi di kamar, tidur sore. Rumah itu sepi kecuali kipas angin.
Bu Rahayu tidak menawarkan teh.
Itu hal pertama yang membuatku tahu ini sungguhan.
“Kamu ketemu Pak Hendra,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Jam berapa?”
“Empat.”
Dia mengangguk pelan.
“Ibu kira kamu bakal ke sana bulan lalu,” katanya.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu tahu dari kapan?”
Dan Bu Rahayu Wijayanti, bendahara arisan dua belas tahun, memandang lantai ruang tengahnya sendiri dan berkata:
“Dari menit pertama.”
“Anak Ibu itu,” katanya, “kalau bohong, tangannya gerak duluan.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Dia narik lengan kamu,” katanya. “Padahal kamu berdiri satu meter dari dia. Orang yang punya pacar nggak narik lengan pacarnya buat ngenalin ke ibunya. Orang yang punya pacar berdiri di sebelahnya.”
Dia mengangkat jarinya, satu.
“Terus kamu,” katanya. “Kamu megang papan jepit.”
Aku menutup mata.
“Ada formulir di situ. Ada pulpen. Kamu baru nulis nama kamu.” Dia menurunkan tangannya. “Ibu masuk, ada yang baru nulis nama di formulir bengkel, dan lima detik kemudian dia pacar anak Ibu.”
“Bu—”
“Dan kamu nggak nolak.”
Kipas angin berputar.
“Itu yang bikin Ibu diem,” katanya.
“Kenapa?”
Bu Rahayu menyandarkan punggung.
“Karena Ibu udah tiga tahun nyoba,” katanya.
“Nyoba apa?”
“Nyoba masuk.”
Dia memandang dinding — ke arah foto kondangan Sukabumi, tujuh belas orang tertawa, yang sudah dibingkai dan digantung sejak bulan Januari.
“Arsa itu dari kecil nggak pernah minta apa-apa,” katanya. “Waktu bapaknya meninggal dia kelas dua SMA. Anjani udah kuliah. Dan Arsa, minggu itu juga, mulai kerja di bengkel Pak Sutris tiap pulang sekolah, dan dia nggak bilang ke Ibu tiga bulan.”
“Tiga bulan?”
“Ibu tahu dari tetangga.” Dia mengangkat bahu. “Ibu marah. Dia bilang ‘Ibu kan capek’.”
Aku memandang tangannya di pangkuan.
“Umur tujuh belas,” kata Bu Rahayu.
“Bu, soal ruko—”
“Iya.”
“Tahun lalu.”
“Tiga bulan.” Dia mengangguk. “Dia nggak cerita. Ibu tahu dari Pak Hendra, karena Pak Hendra telepon Ibu buat nanya apa Arsa lagi sakit.”
“Dan Ibu bayar.”
“Ibu bayar.”
“Berapa, Bu?”
Dia menyebut angka.
Aku menghitungnya terhadap sesuatu yang sudah kuketahui, dan aku berharap aku tidak menghitungnya.
“Bu, itu—”
“Iya.”
“Itu hampir seluruh arisan Ibu selama dua tahun.”
“Dua belas tahun Ibu jadi bendahara,” katanya. “Ibu nggak pernah narik nomor. Ibu selalu nunggu paling akhir. Tiap tahun.”
Dia meratakan roknya di lutut.
“Ibu ngerti kenapa Ibu nabung,” katanya. “Ibu baru tahu buat apa waktu Pak Hendra telepon.”
“Arsa tidak tahu.”
“Nggak.”
“Sampai sekarang.”
“Sampai sekarang.”
“Bu, dia—” Aku berhenti. “Bu, dia bilang ke Wisnu bulan Desember bahwa dia nggak pernah ambil pinjaman. Di depan saya. Dia bilang kalau sewa naik atau pesanan turun, dia bisa kecil lagi tanpa ada yang nagih.”
Bu Rahayu mengangguk.
“Iya,” katanya. “Itu bener.”
“Itu tidak benar, Bu.”
“Iya,” katanya lagi, lebih pelan. “Itu nggak bener.”
Kami duduk di ruang tengah itu.
“Kenapa Ibu nggak bilang?”
“Karena kalau Ibu bilang,” katanya, “dia bakal balikin. Dan buat balikin, dia bakal kerja tujuh hari, dan tidur di bengkel, dan tiga bulan kemudian dia balikin sambil bilang makasih, dan setelah itu dia nggak akan pernah minta tolong sama Ibu lagi seumur hidup.”
Dia menoleh padaku.
“Kamu udah kenal dia sebelas bulan,” katanya. “Menurut kamu Ibu salah?”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tidak bisa.
“Februari,” kataku.
“Hm.”
“Bu, Ibu bilang Februari di gang. Bulan November. Setelah Nenek jatuh.”
“Iya.”
“Dan bulan Februari Ibu tidak menyebutnya sama sekali.”
Bu Rahayu memandang kipas angin.
“Ibu nggak pernah minta lamaran,” katanya.
“Bu, Ibu bilang—”
“Ibu bilang lamar Februari, sama anak Ibu, di gang, jam delapan malam, habis pulang dari klinik.” Dia menoleh. “Angel, kamu pikir Ibu beneran nyangka anak Ibu bakal ngelamar dalam tiga bulan?”
Aku membuka mulut.
“Ibu ngasih dia tanggal,” katanya, “supaya dia mikir. Bukan supaya dia ngelamar.”
“Mikir apa?”
“Mikir gimana rasanya kalau bulan Februari kamu nggak ada.”
Kipas angin.
“Terus bulan Februari Ibu diem,” katanya, “dan Ibu liat.”
“Liat apa?”
“Liat kamu dateng tiap Sabtu, sama kayak bulan-bulan sebelumnya, padahal nggak ada yang nyuruh lagi.” Dia mengangkat bahu. “Ya sudah. Ibu nggak perlu ngapa-ngapain lagi.”
Aku menunduk ke tanganku sendiri.
“Bu.”
“Hm.”
“Prita.”
Bu Rahayu menghela napas.
“Nah, itu yang Ibu paling nggak enak.”
“Ibu yang bilang ke Bu Tini supaya membawanya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena Bu Tini udah nanya-nanya dari bulan Oktober,” katanya. “Kalau Ibu terus-terusan nolak, dia bakal curiga. Jadi Ibu bilang bawa aja.”
“Bu, itu—”
“Dan,” katanya, memotong dengan sangat halus, “karena Ibu udah tanya dulu ke Bu Tini soal anaknya Pak Haji Warsito.”
Aku mengangkat kepala.
“Ibu tahu Prita lagi dijodohin?”
“Se-RT tahu, Angel.”
“Jadi Ibu—”
“Ibu mendudukkan dua orang yang lagi kena hal yang sama di satu karpet,” katanya, “terus Ibu duduk di tengahnya biar nggak ada yang nanya macem-macem.”
Dia meratakan roknya lagi.
“Sisanya kalian sendiri,” katanya. “Ibu nggak nyuruh kalian jadi temen.”
Aku duduk di ruang tengah rumah itu selama beberapa detik tanpa berkata apa-apa.
Lalu aku bertanya satu hal yang sudah menunggu sejak bulan Desember.
“Bu. Nadia.”
Bu Rahayu tersenyum sedikit.
“Dia datang bulan November,” katanya. “Berdiri di gang. Nggak masuk.”
“Kenapa?”
“Ibu keluar, Ibu tanya cari siapa. Dia bilang ‘nggak apa-apa, Bu, saya cuma pengen liat rumahnya’.”
“Dia bilang begitu?”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus Ibu tanya, ‘kamu temennya Angel?’.” Bu Rahayu mengangkat bahu. “Dia kaget. Terus dia nangis di gang selama lima menit.”
“Nadia nangis?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Bu Rahayu memandangku.
“Dia bilang,” katanya, “‘Bu, tolong jangan sakitin dia. Dia udah pernah’.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak menangis. Aku ingin sangat jelas soal itu. Aku duduk di ruang tengah rumah calon mertua yang tidak pernah menjadi calon apa pun, dengan wajah tertutup kedua tangan, dan aku tidak menangis.
Aku cuma butuh ruangan itu berhenti selama tiga puluh detik.
Bu Rahayu tidak mengatakan apa pun selama tiga puluh detik itu.
Lalu dia berkata, sangat pelan:
“Angel.”
“Iya, Bu.”
“Ibu minta maaf.”
Aku menurunkan tangan.
“Ibu udah tahu dari menit pertama,” katanya, “dan Ibu biarin kamu masuk ke keluarga Ibu selama sebelas bulan sambil ngerasa kamu lagi bohong.”
Aku memandang wajahnya.
“Ibu tahu itu berat,” katanya. “Ibu liat kamu tiap Sabtu dateng bawa map dan bawa jawaban buat pertanyaan yang belum ditanya. Ibu liat kamu ngapalin empat belas nama.”
“Tiga puluh satu, Bu.”
“Ibu tahu.” Dia mengangguk. “Ibu yang ngasih daftarnya ke Arsa bulan September, buat kamu.”
“Apa?”
“Dia minta.” Bu Rahayu mengangkat bahu. “Dia bilang ‘Bu, siapa aja sih keluarga kita’. Umur dua puluh sembilan.”
“Bu.”
“Hm.”
“Kenapa Ibu cerita sekarang?”
Bu Rahayu berdiri. Berjalan ke lemari kecil di bawah foto kondangan itu. Membuka lacinya.
Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Dan meletakkannya di meja di depanku.
“Karena rukonya udah kejual,” katanya. “Dan Ibu nggak punya cukup buat yang ini.”
Aku memandang amplop itu.
“Ini apa, Bu?”
“Arisan Ibu tahun ini. Ibu tarik bulan Mei.” Dia duduk kembali. “Nggak cukup buat uang muka. Nggak deket.”
“Bu—”
“Ibu tahu nggak cukup,” katanya. “Ibu bawa ini keluar bukan buat itu.”
“Terus buat apa?”
Bu Rahayu memandangku.
“Buat nunjukin ke kamu,” katanya, “bahwa Ibu juga nggak bisa nyelesaiin ini sendirian.”
Kipas angin berputar.
“Sebelas bulan Ibu ngatur semuanya,” katanya. “Ibu potong pertanyaan, Ibu masukin nomor kamu ke sekolah, Ibu suruh Bu Tini bawa Prita, Ibu kasih daftar nama. Ibu ngerasa Ibu lagi ngebenerin sesuatu.”
Dia menunjuk amplop itu dengan dagunya.
“Sekarang Ibu duduk di sini sama uang yang nggak cukup,” katanya, “dan yang bisa Ibu lakuin cuma satu.”
“Apa, Bu?”
“Ngasih tahu kamu semuanya,” katanya. “Terus berhenti ngatur.”
Aku keluar dari rumah itu pukul 19.50.
Aku berdiri di gang selama beberapa saat, di antara lampu jalan yang menyala satu-dua dengan jarak yang terlalu jauh, dan aku memandang ke arah ujung gang tempat bengkel itu berada, dua ratus meter, dengan rolling door yang pasti masih setengah terbuka.
Dan aku memikirkan satu hal.
Bahwa Bu Rahayu Wijayanti, yang mengetahui segalanya sejak menit pertama, tidak sekali pun bertanya kepadaku malam itu apakah sekarang ini sungguhan.
Dia tidak perlu.
Dia sudah menghitungnya sejak bulan Februari.
Jumlah kata: ±3.040
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun reading
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7