Chapter Thirty Four
Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
POV: Angelica
Aku menceritakannya di trotoar depan warung tenda, berdiri, dalam waktu satu menit empat puluh detik.
Tanggal 16 Juli, deposito dicairkan. Tanggal 17, menemui Pak Hendra untuk meminta nomor pembeli. Tanggal 18, menelepon Bu Christine Halim. Tanggal 20, perjanjian ditandatangani.
Sewa tiga tahun, dibayar di muka, diskon delapan belas persen.
Atas nama Arsa Pramudya.
Kolom tanda tangan penyewa: kosong.
Aku menyampaikannya seperti aku menyampaikan temuan. Tanggal, sumber, angka. Tanpa penilaian.
Itu kesalahan terbesar keempat yang kulakukan malam itu.
Arsa tidak berkata apa-apa selama enam detik.
Lalu dia berkata:
“Berapa?”
“Mas Arsa—”
“Berapa, Angelica.”
Aku menyebut angka.
Dan dia menoleh ke arah jalan, dan mengusap mulutnya dengan telapak tangan satu kali, dan berkata — pelan, ke arah lalu lintas:
“Itu delapan puluh persen tabungan kamu.”
“Delapan puluh satu.”
“Delapan puluh satu.”
“Iya.”
“Delapan tahun.”
“Iya.”
Dan kemudian dia berbalik, dan aku melihat wajahnya, dan seluruh perhitunganku tentang bagaimana percakapan ini akan berjalan runtuh dalam waktu setengah detik.
Karena dalam sebelas bulan, aku belum pernah melihat Arsa Pramudya marah.
Aku pernah melihatnya lelah. Aku pernah melihatnya panik, gugup, malu, kehabisan oli. Aku pernah melihatnya memejamkan mata sebentar di ruang tunggu klinik.
Aku belum pernah melihatnya marah.
“Kamu nggak nanya,” katanya.
“Saya sudah tahu jawabannya,” kataku.
“Iya,” katanya. “Makanya kamu nggak nanya.”
“Mas Arsa, kalau saya bertanya, Mas akan bilang tidak.”
“IYA.”
Satu kata. Keras. Di trotoar, jam tujuh malam, dan seorang bapak yang sedang membeli rokok di warung menoleh.
Arsa menutup mulut. Menarik napas lewat hidung.
“Iya,” katanya lagi, jauh lebih pelan. “Saya bakal bilang nggak. Itu hak saya.”
“Dan bengkelnya tutup.”
“Mungkin.”
“Mungkin?” Aku merasakan sesuatu naik di dadaku. “Mas Arsa, saya sudah menghitungnya. Empat skenario. Skenario tiga adalah pindah sembilan kilometer dengan sewa naik empat puluh persen dan lantai atas bocor, dan margin Mas dalam skenario itu adalah minus.”
“Saya tahu.”
“Mas tahu?”
“Saya udah hitung bulan Juni.” Dia mengangkat bahu, kaku. “Saya nggak bikin spreadsheet. Tapi saya tahu.”
“Jadi Mas tahu bengkelnya tutup dalam setahun.”
“Iya.”
“Dan Mas tetap mau?”
“Iya.”
“KENAPA?”
Dan itu keluar keras, dari mulutku, di trotoar, dan bapak yang membeli rokok itu memutuskan untuk pergi.
“Karena itu punya saya,” kata Arsa.
“Itu—”
“Bengkel itu satu-satunya hal yang saya punya, Angelica.” Suaranya tidak naik lagi, dan justru itu yang membuatnya lebih buruk. “Saya mulai dari satu orang. Saya nggak minta duit ke siapa-siapa. Saya nggak ambil pinjaman. Empat tahun.”
“Mas Arsa.”
“Terus dua minggu lalu saya duduk di lantai bengkel itu dan tahu bahwa empat tahun itu bohong. Bahwa ibu saya yang nahan dari bawah.”
Dia menoleh padaku.
“Terus hari ini,” katanya, “saya tahu bahwa pacar saya juga.”
Aku berdiri di trotoar itu.
“Itu tidak sama.”
“Kenapa nggak sama?”
“Karena Ibu Mas tidak memberitahu Mas selama empat tahun, dan saya memberitahu Mas dua hari setelahnya.”
“Dua hari.”
“Iya.”
“Dan Surabaya, dua bulan.”
Aku menutup mulut.
“Angelica,” katanya, “ibu saya nggak bilang empat tahun. Kamu nggak bilang dua bulan. Bedanya cuma waktu.”
“Itu tidak adil.”
“Itu bener.”
“Itu bisa benar dan tidak adil sekaligus.”
Dan dia berhenti.
Karena kalimat itu adalah kalimat yang bagus, dan karena aku mengucapkannya dengan suara yang bergetar, dan karena kami berdua tahu bahwa aku memakainya untuk keluar.
Kami tidak makan malam itu.
Kami berjalan tiga ratus meter ke halte tanpa berkata apa-apa, dan di halte dia berkata “saya anter”, dan aku berkata “nggak usah”, dan dia berkata “saya anter”, dan aku naik angkot.
Aku menoleh ke belakang dari jendela.
Dia berdiri di halte dengan kedua tangan di saku.
Aku sampai di kos pukul 20.15.
Aku duduk di kasur.
Aku memandang dua benda yang tergantung di belakang pintu — jaket kanvas sejak Oktober, wearpack sejak Mei — dan aku menyusun ulang seluruh percakapan itu di kepalaku empat kali.
Pada susunan keempat, aku menemukannya.
Bukan Surabaya. Bukan uangnya.
Kalimat yang dia ucapkan pada bulan Mei, di bengkel, ketika aku menawarkan tabunganku untuk pertama kalinya dan dia menolak sebelum aku selesai bicara:
Karena kalau kamu masuk ke sini pakai uang, kamu nggak bisa keluar lagi.
Aku mengambil ponselku.
Aku mengetik empat kalimat. Aku menghapusnya.
Aku mengetik satu.
Angelica Prameswari: Mas di bengkel?
Centang biru dalam sebelas detik.
Arsa Bengkel: Iya.
Bengkel itu terang.
Bukan lampu kerja. Lampu besar, semuanya, jam sepuluh malam, dan rolling door setengah terbuka.
Arsa duduk di lantai di depan meja rendah dengan sebuah kotak logam hitam di depannya dan obeng di tangan.
“Itu kontroler,” kataku.
“Iya.”
“Punya siapa?”
“Punya pesanan dari pameran.” Dia tidak mengangkat kepala. “Pak Yusuf. Yang di Bekasi.”
“Kenapa dibongkar?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Mas Arsa, itu barang baru.”
“Iya.”
“Barang baru dan bersegel dan garansinya hangus kalau dibuka.”
“Iya.”
Dia melepas sekrup keempat dan meletakkannya di tutup toples plastik di sebelahnya, tempat sudah ada tiga sekrup lain, disusun sejajar.
“Terus kenapa dibongkar?”
Dia berhenti.
“Karena saya nggak bisa tidur,” katanya, “dan ini satu-satunya yang bisa saya pegang.”
Aku duduk di lantai di seberangnya.
Bukan di sebelah. Di seberang, dengan kotak logam hitam itu di antara kami.
“Berapa sekrupnya?”
“Dua puluh delapan.”
“Dua puluh delapan?”
“Yang luar dua belas. Yang dalam enam belas.”
Aku mengulurkan tangan.
“Kasih satu.”
Dia mengangkat kepala.
“Angelica—”
“Kasih obeng satu, Mas Arsa.”
Dia memandangku selama beberapa detik.
Lalu berdiri, berjalan ke rak, dan kembali dengan obeng kedua.
Kami membongkar kotak itu bersama selama empat puluh menit tanpa berbicara.
Dua puluh delapan sekrup. Aku mengambil sisi kanan, dia sisi kiri. Setiap sekrup diletakkan di tutup toples, disusun sejajar, karena dia menyusunnya begitu dan aku mengikutinya tanpa diminta.
Pada sekrup keenam belas, aku berkata:
“Saya minta maaf soal Surabaya.”
Obengnya berhenti.
“Bukan karena menolaknya,” kataku. “Saya tidak minta maaf untuk itu. Saya minta maaf karena tidak memberitahu Mas.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena saya tahu apa yang akan Mas lakukan.”
“Apa?”
Aku memutar sekrup ketujuh belas.
“Mas akan menyimpannya,” kataku. “Mas akan bawa itu ke mana-mana. Setiap kali saya capek, Mas akan mikir ‘dia nolak Surabaya’. Setiap kali saya nggak enak badan, ‘dia nolak Surabaya’. Lima tahun lagi kalau kita berantem soal cucian, Mas akan mikir itu.”
Aku meletakkan sekrup ketujuh belas di tutup toples.
“Dan Mas nggak akan pernah bilang,” kataku. “Itu bagian terburuknya. Mas akan nyimpen itu di laci dan nggak pernah bilang, sama kayak sarung tangan yang Mas simpan sembilan minggu.”
Arsa tidak bergerak.
“Jadi saya nggak kasih tahu,” kataku. “Dan saya bilang ke diri saya sendiri bahwa itu melindungi Mas.”
“Terus?”
“Terus Ibu Mas duduk di ruang tengah hari Sabtu dan bilang bahwa di keluarga ini semua orang nyelametin satu sama lain diam-diam terus nyebutnya sayang.”
Aku mengangkat kepala.
“Dan saya duduk di sofa itu sambil mikir ‘iya, ya’, seolah-olah itu tentang orang lain,” kataku.
Arsa meletakkan obengnya.
“Angelica.”
“Ya.”
“Sewa tiga tahun itu.”
“Iya.”
“Kamu nggak nanya saya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku memandang kotak logam hitam yang setengah terbuka di antara kami, dengan dua puluh sekrup di tutup toples dan delapan lagi tersisa.
“Karena kalau saya bertanya,” kataku, “Mas akan bilang tidak, dan alasannya akan bagus, dan saya akan setuju.”
“Terus?”
“Terus bulan Agustus tahun depan bengkelnya tutup,” kataku, “dan Mas akan bilang tidak apa-apa, dan Mas akan cari kerja di bengkel orang, dan Mas akan tetap baik sama saya, dan Mas nggak akan pernah menyalahkan saya sekali pun.”
Aku menoleh padanya.
“Dan itu yang tidak bisa saya tanggung,” kataku.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Bulan Mei, waktu saya menawarkan tabungan saya, Mas bilang tidak.”
“Iya.”
“Alasan Mas: kalau saya masuk pakai uang, saya nggak bisa keluar lagi.”
Dia tidak menjawab.
“Itu alasannya, kan?” kataku. “Bukan gengsi. Bukan karena Mas nggak mau ngutang.”
Dia mengambil obengnya lagi dan tidak memakainya.
“Iya,” katanya.
“Kenapa Mas peduli apakah saya bisa keluar?”
Dan Arsa Pramudya, yang tidak pernah menyela siapa pun, yang selalu menunggu, yang tidak pernah mengisi jeda dengan apa pun —
berkata:
“Karena Pasal 6.”
Aku merasakan sesuatu di dadaku jatuh.
“Pasal 6,” kataku.
“Iya.”
“Pengakhiran.”
“Iya.”
“Mas Arsa, kontrak itu—”
“Kontrak itu masih ada di saku belakang saya,” katanya.
Dia menepuk sakunya.
“Sebelas bulan,” katanya. “Tiap hari.”
Bengkel itu sunyi kecuali kompresor yang menyala dan mati.
“Kamu nulis pasal itu jam tiga pagi,” katanya. “Sebelum kamu kenal saya. Sebelum kamu tahu apa-apa. Kamu bikin tujuh halaman dan kamu ngasih diri kamu satu pintu.”
Dia meletakkan obengnya di lantai.
“Dan saya baca itu jam satu pagi,” katanya, “dan saya mikir: orang ini takut.”
“Mas—”
“Terus sebelas bulan saya jagain pintu itu,” katanya. “Saya nggak minta apa-apa. Saya nggak nanya jaket saya. Saya nggak nanya kenapa kamu nggak balikin wearpack. Saya nggak nanya soal Februari. Saya kerjain motor pelan-pelan dan saya nunggu.”
Dia menoleh padaku.
“Karena selama pintunya ada,” katanya, “kamu di sini bukan karena nggak bisa pergi.”
Aku menutup mata.
“Dan sekarang,” katanya, “kamu bayar sewa tiga tahun pakai delapan puluh satu persen tabungan kamu, tanpa nanya, dan pintunya hilang.”
“Mas Arsa—”
“Kalau nanti kamu capek,” katanya, “kalau tiga tahun lagi kamu bangun terus sadar kamu nggak mau ini — kamu nggak bisa pergi. Karena bengkel saya berdiri di atas duit kamu.”
“Itu—”
“Itu yang bikin saya nggak bisa napas, Angelica. Bukan gengsi.”
Dia mengambil sekrup dari tutup toples dan memutarnya di antara jari.
“Saya sebelas bulan jagain satu pintu,” katanya, “terus kamu tutup sendiri, terus kamu nggak bilang.”
Aku duduk di lantai bengkel itu selama waktu yang cukup lama.
Kompresor menyala. Dua puluh detik. Mati.
Aku mengambil obengku.
Aku melepas sekrup kedua puluh satu.
Aku meletakkannya di tutup toples, sejajar dengan yang lain.
Dan aku berkata, ke arah kotak logam hitam itu:
“Saya tahu.”
“Kamu tahu?”
“Saya tahu persis apa yang saya lakukan tanggal 20 Juli pukul sepuluh pagi di rumah Bu Christine Halim,” kataku.
Aku mengangkat kepala.
“Itu bukan efek samping, Mas Arsa,” kataku. “Itu alasannya.”
Dia berhenti bergerak.
“Saya nggak salah paham soal Pasal 6,” kataku. “Saya nulis pasal itu. Saya tahu persis kenapa saya nulisnya.”
Suaraku bergetar dan aku tidak berusaha menghentikannya.
“Saya nulisnya karena bulan Agustus tahun lalu, saya adalah orang yang nggak bisa masuk ke ruangan mana pun tanpa tahu di mana pintunya,” kataku. “Saya nulis tiga versi cerita perpisahan sebelum saya nulis satu versi pacaran. Saya bikin analisis risiko dengan tiga skenario dan persentase. Saya bikin tabel durasi ciuman dalam satuan detik.”
Aku meletakkan obeng.
“Dan sekarang saya dua puluh tujuh tahun,” kataku, “dan saya bosan punya pintu.”
Bengkel itu sunyi.
“Saya nggak mau bisa pergi,” kataku. “Saya nggak mau punya opsi. Saya nggak mau tiga tahun lagi bangun pagi dan tahu bahwa saya masih di sini karena tiap pagi saya milih, karena itu artinya tiap pagi ada pagi di mana saya bisa nggak milih.”
Aku menoleh padanya.
“Saya mau bangun pagi,” kataku, “dan tahu bahwa saya udah nggak punya jalan keluar.”
Arsa memandangku.
“Angelica.”
“Ya.”
“Itu bukan sesuatu yang orang bilang.”
“Saya tahu.”
“Orang bilang ‘aku pengen sama kamu’.”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘saya mau nggak punya jalan keluar’.”
“Iya.”
Dia menggosok wajah dengan kedua telapak tangan, dan ketika dia menurunkannya, ada sesuatu di sekitar matanya yang basah dan yang dia sama sekali tidak berusaha sembunyikan.
“Kamu ngeri,” katanya.
“Iya.”
“Kamu ngeri banget.”
“Saya tahu, Mas Arsa.”
Dan dia mengeluarkan bunyi yang setengah tawa dan setengah bukan.
Kami melepas tujuh sekrup terakhir dalam diam.
Sekrup kedua puluh delapan dilepas pada pukul 01.52 oleh Arsa, dan dia meletakkannya di tutup toples, dan dia mengangkat tutup kotak logam itu.
Di dalamnya: papan sirkuit hijau, kapasitor, dua deret komponen kecil, dan lapisan pasta putih di bagian bawah.
Sama sekali tidak ada yang salah.
Sepenuhnya baik-baik saja.
Kami memandanginya bersama selama beberapa detik.
“Nggak ada apa-apa,” kataku.
“Nggak ada.”
“Barang baru.”
“Iya.”
“Dan sekarang garansinya hangus.”
“Iya.”
Arsa memandang kotak terbuka itu.
“Saya bakal beli baru,” katanya. “Pak Yusuf nggak boleh dapet yang segelnya rusak.”
“Berapa?”
Dia menyebut angka.
Aku menutup mata.
“Mas Arsa.”
“Saya tahu.”
“Satu koma delapan.”
“Saya tahu, Angelica.”
Aku mulai tertawa pada pukul 01.58.
Bukan tawa yang bagus. Tawa yang keluar dari orang yang sudah bangun sejak jam lima pagi dan menangis dua kali dan bertengkar untuk pertama kalinya dalam sebelas bulan dan sekarang duduk di lantai bengkel jam dua pagi memandang kotak seharga satu koma delapan juta yang dibongkar tanpa alasan.
Dan Arsa ikut tertawa.
Dan kami duduk di lantai bengkel itu, di kedua sisi kotak logam hitam yang terbuka, dengan dua puluh delapan sekrup tersusun sejajar di tutup toples, tertawa pada pukul dua pagi sampai aku harus memegang perut.
“Ini,” kataku, “adalah pengeluaran paling bodoh yang pernah dilakukan siapa pun.”
“Kamu bayar sewa tiga tahun tanpa nanya orangnya.”
“Itu keputusan yang matang.”
“Itu delapan puluh satu persen tabungan kamu.”
“Iya, tapi ada diskonnya delapan belas persen.”
Dan dia tertawa lagi, dan dia bersandar ke kaki meja, dan dia menutup mata sambil tertawa, dan aku memandang wajahnya di bawah lampu besar bengkel jam dua pagi.
“Angelica.”
“Hm.”
“Kontraknya.”
“Ya.”
“Saya mau ubah Pasal 6.”
Aku duduk tegak.
“Ubah bagaimana?”
Dia mengeluarkan tujuh halaman itu dari saku belakang. Yang dilipat dua kali seperti struk. Yang kertasnya sudah berubah warna di lipatan.
Dia membukanya di lantai, di sebelah kotak logam yang terbuka, dan meratakannya dengan telapak tangan.
Halaman tujuh.
“Bukan dihapus,” katanya.
“Terus?”
“Ditambahin.” Dia menunjuk ruang kosong di bawah Pasal 6, di sebelah kalimat yang kucoret bulan Januari dan kuberi paraf. “Satu kalimat.”
“Kalimat apa?”
Arsa memandang kertas itu.
“‘Pintunya tetap ada’,” katanya. “‘Tapi nggak dijaga lagi.’”
Aku memandangnya.
“Mas Arsa, itu tidak masuk akal secara hukum.”
“Saya tahu.”
“Itu tidak punya konsekuensi apa pun. Itu tidak bisa dilaksanakan. Itu—”
“Angelica.”
Aku berhenti.
“Kamu punya pulpen?” katanya.
Aku punya pulpen.
Tentu saja aku punya pulpen. Aku selalu punya pulpen.
Aku mengeluarkannya dari tas dan menyerahkannya kepadanya, dan dia menulis satu kalimat di bawah Pasal 6 dengan huruf yang kecil dan tegak, huruf yang sama dengan papan tulis putih di dinding, dan dia menandatanganinya, dan tanggalnya 23 Juli.
Lalu dia menyerahkan pulpen itu kembali padaku.
Aku menandatanganinya di sebelahnya.
Dan kami duduk di lantai bengkel pada pukul 02.20 pagi, di kedua sisi kontroler seharga satu koma delapan juta yang tidak rusak sama sekali, dengan tujuh halaman kertas yang tidak punya kekuatan hukum apa pun di antara kami.
“Pasal 7 masih kosong,” kata Arsa.
“Iya.”
“Sekarang?”
Aku memandang blok kosong di bawah tanda tangan kami yang baru.
“Belum,” kataku.
“Kenapa?”
Aku melipat kertas itu — dua kali, seperti struk, karena itu yang dia lakukan — dan menyerahkannya kembali.
“Karena saya masih mau menyimpannya sebentar lagi,” kataku.
Jumlah kata: ±3.510
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup reading
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7