Chapter Thirteen
Bab 13 — Februari
POV: Angelica
Nenek Sumi jatuh hari Kamis pukul 16.20.
Aku tahu jamnya karena Mbak Anjani menuliskannya di grup, dan aku tahu isi grup itu karena aku membaca semuanya sejak pesan pertama sampai pesan keenam puluh satu, di ruang rapat, dengan ponsel di pangkuan dan wajah yang kuatur supaya tetap datar sementara Wisnu di depan menjelaskan bagan alur baru.
Anjani (Mbak): Nenek jatuh di kamar mandi. 16.20. Ibu lagi di pasar.
Anjani (Mbak): Aku otw dari Depok
Tante Endah: Ya Allah. Sadar?
Anjani (Mbak): Sadar. Cuma nggak bisa berdiri sendiri
Bowo Wijaya: Sudah dibawa ke mana
Anjani (Mbak): Arsa yang bawa. Klinik Sehat Mandiri
Rina (sepupu 2): innalillahi
Yudha (sepupu 1): rin belum meninggal
Rina (sepupu 2): ya aku panik
Aku keluar dari ruang rapat pada pukul 16.51, di tengah kalimat Wisnu, dan tidak menoleh ke belakang.
Kliniknya kecil, dua lantai, dengan ruang tunggu berisi enam kursi besi dan satu televisi yang menayangkan iklan tanpa suara.
Arsa duduk di kursi ketiga.
Masih memakai wearpack. Masih ada oli di punggung tangannya. Dia duduk dengan siku di lutut dan kedua tangan menggantung, dan dia tidak melihat ke arah pintu ketika aku masuk, karena dia sedang melihat lantai.
Aku duduk di kursi keempat.
“Nenek gimana?”
“Di dalam. Sama Ibu.” Suaranya rata. “Nggak patah. Cuma memar sama pusing. Tensinya dua ratus lewat.”
“Dua ratus?”
“Iya.”
“Obatnya diminum nggak?”
“Diminum.” Dia menggosok wajah dengan telapak tangan. “Kata Ibu diminum. Tapi Ibu ke pasar tiap pagi jam enam, dan Nenek minum obatnya jam tujuh, dan Nenek suka bilang sudah minum padahal belum.”
Aku diam.
“Saya di bengkel dua ratus meter dari rumah,” katanya. “Saya lewat depan rumah dua kali sehari. Ibu telepon saya jam empat lewat lima belas dan saya nggak angkat karena lagi pakai gerinda.”
“Mas—”
“Yang angkat Fahri. Dua menit kemudian.”
Aku menoleh padanya.
“Dua menit itu bukan apa-apa,” kataku.
“Iya.”
“Mas Arsa. Dua menit itu bukan apa-apa.”
“Iya,” katanya lagi, dengan cara yang berarti dia mendengar dan tidak percaya.
Televisi menayangkan iklan tanpa suara. Seorang perempuan tertawa memegang botol kecap.
Dan aku melakukan sesuatu yang tidak ada di pasal mana pun, di ruang tunggu klinik yang berisi satu perawat di meja depan dan satu bapak dengan anak batuk di kursi paling ujung, dua orang yang sama sekali tidak kami kenal dan yang keberadaannya sama sekali tidak relevan.
Aku mengambil tangannya.
Dia tidak bergerak selama satu detik.
Lalu jari-jarinya menutup di sekitar jariku, terlalu erat, dengan cara yang membuatku sadar bahwa dia sudah duduk di kursi itu selama empat puluh menit sendirian.
Bu Rahayu keluar pukul 18.10.
Aku bangkit terlalu cepat. Dia melihatku, dan sesuatu di wajahnya melakukan hal aneh — berhenti, lalu melanjutkan.
“Kamu di sini?”
“Dari jam lima, Bu.”
“Kantor?”
“Sudah selesai.”
Itu bohong. Aku pergi di tengah rapat. Bu Vera sudah mengirim tiga pesan.
Bu Rahayu memandangku beberapa saat.
“Nenek nanya kamu,” katanya.
Nenek Sumi terbaring di ranjang klinik dengan infus di punggung tangan kiri dan rambut yang tidak disanggul, yang membuatnya terlihat lebih kecil daripada yang seharusnya.
“Nek.”
“Siapa?”
“Angel, Nek.”
“Oh.” Dia menoleh. “Yang malaikat.”
“Iya, Nek.”
“Kamu dari kantor?”
“Iya.”
“Jauh?”
“Nggak jauh, Nek.”
Dia mengangguk pelan ke arah langit-langit.
“Nenek nggak jatuh,” katanya.
“Kata Mbak Anjani jatuh, Nek.”
“Nenek duduk.” Dia mengangkat satu jari, sedikit. “Pelan-pelan. Nenek pusing, jadi Nenek duduk di lantai. Itu bukan jatuh.”
Di sudut ruangan, Bu Rahayu memejamkan mata sebentar.
“Iya, Nek,” kataku. “Itu bukan jatuh.”
“Nah.” Nenek Sumi menepuk kasur di sebelahnya. “Sini.”
Aku duduk di tepi ranjang.
Dan tangannya — tangan yang kulitnya seperti kertas yang sudah dilipat terlalu sering — mencari tanganku dan menemukannya.
“Angel.”
“Iya, Nek.”
“Nenek nggak akan lama.”
“Nek—”
“Nenek delapan puluh. Nenek nggak takut.” Dia menepuk punggung tanganku dua kali. “Cuma Nenek pengen lihat satu lagi sebelum pergi. Satu aja.”
Ada sesuatu yang menutup di tenggorokanku.
“Arsa itu,” katanya, matanya sudah setengah tertutup, “dari kecil kalau punya barang bagus, disimpen. Nggak dipake. Takut rusak.”
“Nek.”
“Kamu jangan mau disimpen.”
Kami pulang jalan kaki dari klinik, bertiga, empat ratus meter.
Mbak Anjani sudah sampai dan tinggal menjaga di klinik semalam. Kemal di rumah tetangga. Malam Kamis, gang sepi, dan lampu jalan menyala satu-dua dengan jarak yang terlalu jauh.
Bu Rahayu berjalan di depan.
Aku dan Arsa di belakang, dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara sepanjang tiga ratus meter pertama.
Lalu Bu Rahayu berhenti.
“Arsa.”
“Iya, Bu.”
“Ibu mau ngomong.”
Dia tidak berbalik. Dia berdiri di tengah gang, menghadap depan, dengan tas di lengan.
“Februari,” katanya.
Arsa berhenti berjalan.
“Bu.”
“Ibu sudah tanya ke Bu Ida. Bulan bagus. Nggak bentrok sama puasa. Dan Nenek—” dia berhenti sebentar, “—Nenek masih ada.”
“Bu, itu tiga bulan lagi.”
“Ibu tahu berapa bulan lagi.”
“Kita belum—”
“Arsa.” Sekarang dia berbalik. “Ibu nggak minta kamu nikah Februari. Ibu minta kamu lamar Februari. Itu beda.”
Gang itu sangat sunyi.
“Ibu nggak akan maksa lagi setelah ini,” katanya. “Ibu janji. Kamu boleh marah sama Ibu seumur hidup, boleh bilang Ibu ngatur, boleh cerita ke siapa aja bahwa ibunya begini. Ibu terima.”
Dia memperbaiki letak tasnya.
“Tapi Nenek tensinya dua ratus lewat, dan dia duduk di lantai kamar mandi sendirian selama entah berapa lama sebelum ada yang tahu.”
Lalu dia menoleh padaku.
Dan inilah bagian yang kubawa pulang, dan yang kubawa selama berbulan-bulan setelahnya, dan yang baru kupahami sepenuhnya di bulan yang jauh, jauh kemudian.
“Angel.”
“Iya, Bu.”
“Kamu jangan dengerin Ibu.”
Aku mengerjap.
“Ibu ngomong sama Arsa,” katanya. “Bukan sama kamu. Kamu anak orang.”
Dan dia berbalik, dan melanjutkan jalan, dan tidak berkata apa-apa lagi sampai depan rumah.
Arsa mengantarku ke jalan besar.
Kami berjalan seratus meter tanpa bicara. Kami melewati mulut gang belakang bengkel, dan kali ini aku menoleh, dan aku tahu dia melihat aku menoleh.
“Angelica.”
“Ya.”
“Pasal 6.”
Aku berhenti.
“Tujuh hari,” katanya. “Pemberitahuan tertulis. Kalau kamu mau, mulai sekarang hitungannya jalan, dan tanggal delapan November selesai. Sebelum Februari. Sebelum kondangan Rina malah.”
Lampu jalan berdengung di ujung gang.
“Dan Nenek?” kataku.
“Saya yang urus.”
“Mas Arsa, Nenek baru saja memegang tangan saya di klinik.”
“Saya tahu.”
“Nenek bilang dia mau lihat satu lagi sebelum—”
“Angelica, saya tahu.” Suaranya naik. Tidak keras. Tapi naik, dan itu pertama kalinya. “Saya berdiri di pintu. Saya dengar semuanya.”
Aku menutup mulut.
Dia menarik napas. Menggosok belakang lehernya.
“Maaf,” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Bukan itu maksud saya.”
“Saya tahu.”
“Maksud saya—” Dia berhenti. Memandang jalan besar di ujung gang, tempat mobil-mobil lewat dengan lampu yang bergerak. “Ini sudah bukan pura-pura nolak tiga foto lagi. Ini sudah tanggal. Ini sudah nenek saya.”
“Iya.”
“Dan kamu nggak pernah tanda tangan buat ini.”
“Saya tanda tangan,” kataku. “Halaman tujuh. Pakai pulpen Mas yang bocor.”
“Bukan buat ini.”
Aku memandangnya.
Dan aku tahu — dengan kejelasan yang menyakitkan, dengan kejelasan seorang auditor yang sudah menemukan angkanya dan tinggal menuliskannya — bahwa dia sedang memberiku pintu.
Dia sedang berdiri di gang gelap, membuka Pasal 6, dan menahannya terbuka.
Dan yang harus kulakukan hanya berkata: ya, mari kita akhiri.
Tujuh hari. Delapan November. Versi C. Aku yang salah, supaya dia tidak dimarahi.
Semuanya sudah kutulis. Semuanya sudah kusiapkan enam minggu lalu di warung Bu Yanti, dengan sangat rapi, karena aku selalu menyiapkan pintu keluar sebelum masuk ke ruangan mana pun.
“Mas Arsa.”
“Ya.”
“Nenek bilang,” kataku, “Mas kalau punya barang bagus, disimpan. Nggak dipakai. Takut rusak.”
Jeda.
“Iya,” katanya.
“Itu bener?”
Dia tidak menjawab selama waktu yang cukup lama sehingga sebuah angkot lewat, berhenti, membunyikan klakson dua kali, dan pergi lagi tanpa kami.
“Iya,” katanya akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau dipakai,” katanya, “nanti rusak.”
Aku memandang wajahnya di bawah lampu jalan yang berdengung, setengah kuning dan setengah hilang, persis seperti enam minggu lalu.
“Saya nggak akan kirim pemberitahuan tujuh hari,” kataku.
“Angelica—”
“Bukan karena Nenek.” Aku mengangkat tangan sedikit, dan kemudian tidak tahu harus meletakkannya di mana, jadi kuturunkan lagi. “Bukan cuma karena Nenek.”
“Terus?”
Dan di sinilah, di gang itu, dengan angkot berikutnya sudah terdengar dari kejauhan, aku punya kesempatan.
Aku bisa mengatakannya.
Aku sudah menyusunnya. Bukan di dokumen — di kepala, berulang-ulang, selama dua belas hari terakhir, dalam berbagai versi, dan versi terpendeknya hanya empat kata.
“Karena saya belum selesai,” kataku.
“Belum selesai apa?”
“Motornya.”
Aku melambaikan tangan ke angkot.
“Motornya belum selesai, Mas Arsa. Kalau kita akhiri sekarang, saya harus cari bengkel lain, dan tidak ada bengkel lain yang mau.”
Angkot itu berhenti.
Aku naik.
Dan dari balik jendela yang kotor, dalam dua setengah detik terakhir sebelum angkot itu berjalan, aku melihat Arsa berdiri di trotoar dengan tangan di saku dan wajah seseorang yang baru saja mendengar jawaban yang salah dan tahu persis bahwa itu jawaban yang salah.
Aku sampai di kos pukul 21.40.
Aku duduk di kursi. Aku membuka laptop.
Aku membuka Kesepakatan Kerja Sama Hubungan Semu (final, ttd).docx, yang tidak kubuka sejak hari penandatanganan, dan menggulirnya ke bawah.
Halaman tujuh.
Pasal 6 — Pengakhiran. Salah satu pihak dapat membatalkan kesepakatan ini secara sepihak dengan pemberitahuan tertulis paling lambat tujuh hari sebelum tanggal pengakhiran yang dikehendaki.
Dan di bawahnya:
PASAL 7 —
untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan.
Kursor berkedip di sebelah tanda pisah itu.
Aku duduk di kamar kos dengan jaket kanvas yang tergantung di belakang pintu, ponsel yang berisi folder bernama Bukti Pendukung dengan sub-folder Cadangan yang isinya empat foto padahal hanya satu yang pernah dipakai, dan kartu manila nomor empat belas yang sudah tidak pernah kubaca lagi sejak minggu ketiga karena aku sudah tidak perlu.
Aku mengetik satu kata.
Aku menatapnya selama sembilan detik.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik kalimat lain — kalimat yang panjang, dengan tiga anak kalimat dan satu klausul pengecualian, kalimat yang sangat presisi dan sangat aman dan yang tidak berarti apa-apa.
Aku menghapusnya juga.
Lalu aku menutup laptop dan duduk di kegelapan selama beberapa menit, dan menyadari sesuatu yang membuatku merasa sangat, sangat bodoh untuk seseorang yang delapan tahun bekerja dengan dokumen.
Setiap kontrak punya pasal masa berlaku.
Setiap satu.
Aku sudah menulis lima ratus dua belas dokumen dalam karierku dan tidak satu pun yang tidak mencantumkan sampai kapan sesuatu berlaku.
Dan enam minggu lalu, jam tiga pagi, aku menulis tujuh halaman dengan enam pasal dan tidak satu pun dari enam pasal itu adalah masa berlaku.
Aku mengosongkan yang ketujuh.
Dan aku menyebutnya untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan, dan aku percaya pada diriku sendiri, karena aku selalu percaya pada diriku sendiri kalau yang keluar dari mulutku terdengar rapi.
Ponselku menyala di meja.
Arsa Bengkel: Motornya selesai Februari.
Arsa Bengkel: Kalau saya kerjakan pelan-pelan.
Aku menatap dua pesan itu.
Arsa Bengkel: Selamat malam, Angelica.
Jumlah kata: ±2.830
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari reading
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7