Chapter Thirty Three
Bab 33 — Yang Sebenarnya
POV: Angelica
“Kalian mau nguji Ibu,” kata Bu Rahayu. “Ya sudah. Ibu lulus. Sekarang Ibu mau ngomong yang sebenernya.”
Dia meletakkan gelas tehnya.
“Di keluarga ini,” katanya, “nggak ada yang minta tolong.”
“Bapak kamu,” katanya, ke arah Arsa, “sakit delapan bulan sebelum meninggal. Ibu tahu tiga bulan terakhir.”
Arsa mengangkat kepala.
“Bu—”
“Dia nggak mau Ibu tahu karena Ibu lagi ngurus Anjani masuk kuliah.” Bu Rahayu meratakan roknya. “Dia bilang ke Ibu itu maag.”
Ruang tengah itu sunyi.
“Terus kamu kerja di bengkel Pak Sutris tiga bulan tanpa bilang,” katanya. “Terus Anjani ngambil pinjaman koperasi buat semesteran dan Ibu baru tahu setelah lunas.”
Dia mengangkat satu jari.
“Terus Ibu bayar sewa ruko kamu tanpa bilang,” katanya. “Empat tahun Ibu ngomongin bengkel kamu kayak itu kerjaan sementara, padahal Ibu yang jaga supaya nggak tutup.”
Dia menurunkan jarinya.
“Kita semua ngelakuin hal yang sama,” katanya. “Kita nyelametin satu sama lain diam-diam terus kita nyebut itu sayang.”
Aku duduk di sofa ruang tengah itu dengan map di pangkuanku — map yang dibawa karena disuruh, yang isinya empat skenario dan satu spreadsheet yang tidak akan pernah kubuka hari itu.
“Bu,” kataku.
“Hm.”
“Kenapa Ibu menceritakan ini sekarang?”
Bu Rahayu memandangku.
Dan kalimat berikutnya adalah kalimat yang kubawa selama tiga minggu berikutnya, ke mana pun aku pergi, dan yang membuatku tidak bisa tidur pada malam tanggal 20 Juli.
“Karena kalian berdua lagi ngelakuin itu sekarang,” katanya, “dan kalian belum sadar.”
Aku merasakan sesuatu di belakang tulang rusukku mengencang.
“Bu—”
“Ibu nggak tahu apa,” katanya cepat, mengangkat tangan. “Ibu nggak lagi nuduh. Ibu nggak tahu apa-apa.”
Dia mengambil gelasnya kembali.
“Ibu cuma tahu,” katanya, “bahwa anak-anak di keluarga ini kalau lagi nyimpen sesuatu, mereka jadi lebih rapi dari biasanya.”
Yang terjadi di pameran, tanggal 20 sampai 23 Juni, kuringkas di sini karena aku tidak sanggup menceritakannya panjang-panjang setelah semua yang terjadi sesudahnya.
Stan nomor B-14. Tiga kali tiga meter. Triplek yang kami cat abu-abu metalik selama dua Sabtu, banner yang dipesan Fahri dengan tipografi yang membuatku ingin menangis, dan satu Honda C70 tahun 1979 di tengah.
Verifikasi teknis lolos tanggal 19 pagi.
Empat hari.
Hasilnya:
Tujuh belas orang meninggalkan kontak.
Tiga di antaranya menindaklanjuti dalam dua minggu.
Satu memesan.
Satu pesanan konversi, uang muka lima puluh persen, dikerjakan Agustus.
Dan satu hal lagi yang tidak masuk hitungan: seorang laki-laki berusia enam puluhan berdiri di depan C70 itu selama delapan menit pada hari kedua, tidak bertanya apa-apa, lalu memanggil istrinya dan berkata “Bu, motor bapak dulu ini.”
Arsa berdiri di sebelahku dan tidak berkata apa pun.
Malamnya, di angkot pulang, dia berkata: “Delapan menit.”
“Iya.”
“Nggak ada yang berdiri delapan menit di depan motor listrik.”
“Dia berdiri delapan menit di depan motor bapaknya,” kataku.
Arsa memandang jendela.
“Iya,” katanya. “Itu maksud saya.”
Satu pesanan tidak mengubah apa pun.
Aku menghitungnya pada malam tanggal 24 Juni. Uang muka lima puluh persen dari satu pekerjaan konversi adalah angka yang, dibandingkan dengan selisih empat belas persen harga ruko, terlihat seperti lelucon.
Kami tidak membicarakannya.
Kami membicarakan hal lain selama dua minggu: sembilan pelanggan di papan tulis, tiga di antaranya harus diberi tahu bahwa alamatnya akan berubah; Fahri, yang harus diberi tahu, dan yang ketika akhirnya diberi tahu berkata “ya udah Mas, saya ikut” dengan cara yang membuat Arsa harus keluar ke gang selama empat menit.
Dan ruko baru.
Ada tiga kandidat pada bulan Juli. Semuanya lebih kecil. Dua di antaranya di lantai dua, yang berarti tidak bisa dipakai bengkel. Yang ketiga di daerah Jatiwarna — sembilan kilometer, sewa naik empat puluh persen, lantai atas bocor.
“Kita lihat yang Jatiwarna hari Minggu,” kata Arsa, tanggal 18 Juli.
“Iya.”
Aku sudah memindahkan uang itu pada tanggal 16.
Aku menuliskan ini dengan urutan yang benar supaya tidak ada yang mengira aku dijebak keadaan.
Tanggal 16 Juli, pukul 09.40. Aku membuka rekening deposito yang kubuka pada tahun kedua bekerja dan tidak kusentuh selama enam tahun.
Pukul 09.52. Aku mengajukan pencairan sebelum jatuh tempo, dengan konsekuensi kehilangan bunga berjalan dan denda administrasi sebesar sekian persen, yang sudah kuhitung pada bulan Juni dan yang tidak mengubah keputusan.
Pukul 14.20. Dana masuk ke rekening tabungan.
Tanggal 17 Juli, pukul 11.00. Aku menemui Pak Hendra Sulistyo untuk kedua kalinya.
Bukan untuk membeli. Ruko itu sudah terjual; notaris tanggal 15 Agustus.
Aku menemuinya untuk meminta nomor telepon pembelinya.
Tanggal 18 Juli, pukul 16.30. Aku menelepon pembeli itu. Namanya Bu Christine Halim, empat puluh delapan tahun, dan dia membeli ruko itu sebagai investasi dan tidak berencana memakainya sendiri.
Aku bertanya apakah dia akan menyewakannya.
Dia bilang ya.
Aku bertanya berapa.
Dia menyebut angka, dan angka itu adalah dua koma satu kali sewa yang dibayar Arsa selama empat tahun, dan aku sudah memperkirakan itu karena aku sudah melihat pasar.
Aku bertanya apakah dia bersedia menerima pembayaran di muka untuk tiga tahun, dengan diskon.
Dia diam selama enam detik.
Lalu dia bertanya siapa aku.
Aku ingin sangat jelas tentang apa yang kulakukan, karena ini penting untuk semua yang terjadi setelahnya.
Aku tidak membeli ruko itu.
Aku membayar sewa tiga tahun di muka, dengan diskon delapan belas persen, kepada pemilik baru, atas nama Arsa Pramudya, dengan uang dari rekening yang kubuka pada usia dua puluh dua tahun.
Jumlahnya delapan puluh satu persen dari isi rekening itu.
Perjanjiannya ditandatangani tanggal 20 Juli, hari Sabtu, pukul 10.00, di rumah Bu Christine, oleh Bu Christine dan olehku sebagai pihak yang membayar.
Kolom penyewa: Arsa Pramudya.
Kolom tanda tangan penyewa: kosong.
“Nanti dia yang tanda tangan,” kataku.
Bu Christine memandangku dari balik kacamatanya.
“Nak,” katanya. “Dia tahu?”
Dan aku, yang selama sebelas bulan berbohong kepada delapan puluh empat orang tanpa tersendat, dan yang tidak bisa berbohong kepada satu anak berusia enam tahun, berkata:
“Belum, Bu. Nanti saya kasih tahu.”
Dia mengetahuinya pada hari Senin, 22 Juli, pukul 18.40, di lobi kantorku.
Bukan dari aku.
Dia datang menjemput. Itu sudah jadi kebiasaan sejak bulan Maret — dua kali seminggu, tanpa dijadwalkan, tanpa dikabari.
Aku turun jam 18.35.
Aku melihatnya dari lift, duduk di kursi tunggu dekat resepsionis, dan aku melihat sesuatu yang tidak biasa: dia sedang bicara dengan seseorang.
Bu Vera.
Bu Vera dari Divisi Umum, yang selama tiga tahun makan siang denganku setiap hari Kamis sampai bulan Januari, dan yang sejak bulan April mulai makan siang denganku lagi seolah tidak pernah ada apa-apa.
Aku menyeberangi lobi.
“—ya makanya saya kaget,” kata Bu Vera. “Saya pikir dia bakal ambil.”
“Bu Vera.”
Dia menoleh. “Eh, Angel!”
“Mas Arsa sudah lama?”
“Baru.” Bu Vera menepuk lengan Arsa. “Saya lagi cerita, Mas ini sabar banget nungguin. Saya bilang aja kalau Angel di Surabaya nanti nggak ada yang jemput.”
Aku berhenti berjalan.
“Bu Vera,” kataku.
“Kenapa?”
Aku melihat Arsa.
Dia berdiri.
Dan wajahnya sepenuhnya kosong, dengan cara yang jauh lebih buruk daripada kalau dia terlihat marah.
“Surabaya apa, Bu?” tanyanya.
“Lho, Mas nggak tahu?”
“Bu Vera,” kataku.
“Angel ditawarin jadi kepala di Surabaya. Bulan Mei.” Bu Vera menoleh padaku, tanpa satu gram pun niat buruk, dengan senyum yang sepenuhnya tulus. “Se-kantor tahu, Mas. Pak Bagas sampai cerita di rapat pimpinan.”
“Bu Vera.”
“Dia nolak,” kata Bu Vera. “Dua hari doang mikirnya. Padahal itu naik dua golongan, lho.”
Dia menoleh ke arahku, dan aku tahu — dari cara alisnya bergerak — bahwa detik itu juga dia menyadari sesuatu.
“...Angel?”
Aku tidak menjawab.
“Aduh.” Bu Vera menutup mulutnya. “Aduh, saya—”
“Nggak apa-apa, Bu,” kataku.
“Angel, saya kira—”
“Nggak apa-apa.”
Kami keluar dari gedung itu dalam diam.
Kami menyeberang jalan dalam diam.
Kami berdiri di depan warung tenda yang bangku plastiknya goyang di satu kaki, dan Arsa tidak duduk.
“Mas Arsa.”
“Bulan Mei.”
“Iya.”
“Tanggal berapa?”
“Ditawarkan tanggal 21. Saya menolak tanggal 23.”
“Dua hari.”
“Iya.”
Dia memandang warung itu. Lalu jalan. Lalu ke arah mana pun kecuali aku.
“Dua bulan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu diem dua bulan.”
“Iya.”
“Angelica.” Dia menoleh. “Hari Sabtu kemarin kamu di rumah Ibu saya, duduk di sofa, dan Ibu bilang di keluarga ini nggak ada yang minta tolong dan semua orang nyimpen sesuatu.”
“Iya.”
“Dan kamu bilang apa waktu itu?”
Aku memandang trotoar.
“Saya bertanya kenapa Ibu menceritakannya sekarang,” kataku.
“Iya,” kata Arsa. “Kamu nanya.”
Aku bisa berhenti di situ.
Aku bisa mengatakan maaf. Aku bisa mengatakan bahwa aku salah, karena aku memang salah, dan seluruh percakapan itu bisa selesai di trotoar depan warung tenda pada pukul tujuh malam.
Tapi ada satu hal lagi.
Ada satu hal yang jauh lebih besar dari Surabaya, yang ditandatangani dua hari lalu di rumah seorang perempuan berusia empat puluh delapan tahun di Perumahan Bukit Cinere, dengan kolom tanda tangan penyewa yang masih kosong.
Dan kalau aku tidak mengatakannya sekarang, aku akan mengatakannya nanti.
Dan nanti akan jauh lebih buruk.
“Mas Arsa,” kataku.
“Hm.”
“Ada satu lagi.”
Jumlah kata: ±2.010
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya reading
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7