Chapter Eighteen

Bab 18 — Folder Baru

POV: Angelica


Foto kondangan itu masuk ke grup pada hari Senin pukul 20.11, dua puluh tiga lembar sekaligus, diunggah Om Bowo tanpa disortir.

Aku menyimpan empat.

Bukan yang resmi. Yang resmi ada di grup dan bisa diambil kapan saja.

Yang kusimpan:

Satu. Foto keluarga besar. Tujuh belas orang tertawa, Kemal dengan dua tangan terangkat, dan di barisan kedua dua orang dengan wajah yang salah.

Dua. Foto yang diambil Kemal di mobil, di jok baris ketiga, dari sela sandaran kepala. Buram. Miring. Setengah gelap. Seorang laki-laki tidur dengan kepala di bahu seorang perempuan yang memandang lurus ke depan.

Tiga. Foto pintu darurat, diambil Mbak Anjani, yang menurut pengakuannya sendiri “kebetulan lewat”. Dua orang berdiri di depan hidran, satu piring di atasnya, tangan yang bergandengan tidak masuk ke dalam bingkai tapi posisi bahu mereka membuatnya jelas bagi siapa pun yang mau melihat.

Empat. Aku sendirian, dipeluk seorang ibu yang tidak kukenal, dengan ekspresi wajah yang bisa digambarkan sebagai teror murni. Ini yang paling sering kubuka, karena setiap kali kubuka aku tertawa.

Aku membuka folder BUKTI PENDUKUNG.

Sub-folder: Grup Keluarga, Kantor, Cadangan.

Aku menatap ketiganya.

Lalu aku menekan Buat folder baru.

Kursor berkedip di kolom nama.


Aku duduk di kasur kos selama waktu yang tidak akan kuakui kepada siapa pun, memikirkan apa yang harus kutulis di kolom itu.

Kalau kutulis Pribadi, artinya ada yang bukan pribadi, dan artinya aku sedang membuat pembedaan, dan pembedaan itu punya makna.

Kalau kutulis Kondangan, itu jujur dan aman dan tidak berarti apa-apa. Itu pilihan yang benar.

Kalau kutulis nama bulan, aku akan membuatnya lagi bulan depan.

Aku mengetik satu huruf.

Menghapusnya.

Akhirnya, pukul 22.47, aku mengetik:

Nov

Tiga huruf. Tanpa titik. Tanpa tahun.

Aku memindahkan keempat foto itu ke sana.

Lalu — dan ini bagian yang membuatku duduk memandang dinding selama beberapa menit setelahnya — aku membuka Cadangan, dan memindahkan Foto 4 dari bulan Agustus. Yang aku berjongkok di sebelah C70 dengan tangan di tangki.

Yang tidak ada hubungannya dengan November sama sekali.

Aku menutup ponsel.

Aku membukanya lagi.

Aku mengubah nama folder BUKTI PENDUKUNG menjadi Foto.


Arisan Desember jatuh pada Sabtu kedua.

Aku datang pukul 14.00 karena sekarang itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu diminta. Bu Rahayu sudah menyiapkan pisau dan timun di talenan sebelum aku melepas sepatu.

“Angel.”

“Iya, Bu.”

“Nanti ada tamu baru.”

“Baru?”

“Bu Tini bawa keponakannya.” Dia menuang adonan ke wajan. “Yang bulan lalu izin karena kerja.”

Aku mengiris.

“Namanya siapa, Bu?”

“Prita.”

Pisau itu berhenti sekitar seperempat detik di tengah timun.

Aku melanjutkan mengiris.

“Oh,” kataku.

“Kamu tahu?”

“Foto ketiga,” kataku.

Bu Rahayu tidak menoleh dari wajannya.

“Ibu simpan yang paling bagus di belakang,” katanya, mengulang kalimatnya sendiri dari bulan Agustus dengan nada yang sama sekali datar. “Kamu ingat.”

“Saya ingat semuanya, Bu.”

“Iya.” Dia membalik dadar. “Itu yang bikin Ibu agak repot.”


Prita datang pukul 16.04 bersama Bu Tini.

Aku sudah menyusun tiga skenario di kepala sejak pukul 14.02, yang semuanya melibatkan berbagai tingkat ketidaknyamanan, dan tidak satu pun dari ketiganya benar.

Karena Prita, saat masuk ke ruang tengah dan melihatku duduk di sebelah Bu Rahayu, melakukan sesuatu yang tidak masuk ke dalam skenario mana pun.

Dia menghela napas lega.

Sangat jelas. Sangat kelihatan. Bahunya turun tiga sentimeter dan dia menutupnya dengan senyum setengah detik terlambat.

“Prita,” kata Bu Tini, mendorongnya ke depan seperti orang menyerahkan berkas. “Ini yang saya ceritain. Kerja di bank. Sudah S2.”

“Halo, Bu.”

“Duduk sini, Prit.” Bu Tini menepuk karpet di sebelah Bu Rahayu — di sisi yang berlawanan denganku, sehingga secara geometris aku dan Prita berada di dua ujung yang saling berhadapan, dengan Bu Rahayu persis di tengah.

Aku sudah cukup lama duduk di ruang rapat untuk mengenali tata letak yang disengaja.

“Prit, ini Angel,” kata Bu Rahayu.

“Halo, Mbak.”

“Angelnya Arsa,” kata Bu Tini.

Ada jeda yang sangat pendek.

“Iya,” kata Bu Rahayu. “Angelnya Arsa.”


Interogasinya berlangsung selama satu jam empat puluh menit, dan kali ini bukan aku sasarannya.

Bu Tini: Prita sudah dua puluh tujuh. Bu Ningsih: Wah, sudah mateng. Bu Tini: Kerja di bank, bagian analis. Bu Wati: Pinter dong. Bu Tini: Pinter. Cuma ya begitu, kerjanya sampai malam terus. Bu Erni: Belum ada? Bu Tini: Ada sih. Ada. Cuma belum diapa-apain. Prita: Bu. Bu Tini: Anak Pak Haji Warsito. Yang punya tiga ruko itu. Bu Sri: Oalah, yang itu. Bu Tini: Sudah dua kali ketemu. Prita: Satu kali, Bu. Bu Tini: Dua. Yang di rumah itu dihitung. Prita: Yang di rumah itu saya lagi ambil galon.

Delapan ibu tertawa.

Prita tersenyum ke arah karpet.

Dan aku, dari ujung seberang, melihat sesuatu yang sangat kukenali: rahang yang mengunci setengah milimeter, dan tangan yang meremas ujung roknya sendiri di bawah meja.

Aku pernah melakukan hal yang sama, selama satu jam empat puluh menit, tepat di posisi yang sekarang dia duduki, delapan minggu lalu.

Dan tidak ada yang menyelamatkanku waktu itu sampai Bu Rahayu menumpahkan teh ke roknya sendiri.

17.42. Bu Ningsih membuka mulut.

“Prita, kamu nggak kepikiran—”

“Bu Tini,” kataku.

Sembilan kepala berputar.

“Iya, Angel?”

“Risolesnya,” kataku. “Yang bulan lalu itu. Saya sudah coba bikin di kos dan gagal total. Kulitnya sobek semua.”

Bu Tini menegakkan punggung.

“Sobek gimana?”

“Sobek waktu digulung.”

“Adonannya terlalu kental.”

“Saya pakai takaran dari internet.”

“Internet.” Bu Tini mengibaskan tangan, dan aku bisa merasakan seluruh ruangan berbelok. “Jangan internet, Angel. Ibu ajarin.”

Enam menit.

Aku menghabiskan enam menit belajar melipat kulit risoles dari Bu Tini, dengan sangat serius, dengan pertanyaan lanjutan yang tepat pada waktu yang tepat.

Di ujung seberang karpet, Prita menoleh padaku.

Aku tidak menoleh balik.


Tamu pulang pukul 18.40.

Aku sedang memakai sepatu di teras ketika Prita keluar, membawa tas, berhenti di dua anak tangga di atasku.

“Mbak Angel.”

“Iya.”

Dia menunggu sampai Bu Tini cukup jauh di gang.

“Makasih ya,” katanya.

“Untuk apa?”

“Risoles.”

Aku selesai mengikat tali sepatu. Berdiri.

Kami berdiri di teras itu, di antara empat pot lidah mertua di kiri dan empat di kanan, dua perempuan yang secara resmi hari ini dipertemukan sebagai dua kemungkinan untuk satu orang yang sama.

“Mbak.”

“Iya.”

“Boleh saya jujur?”

“Silakan.”

Prita memandang gang.

“Saya nggak mau ke sini,” katanya. “Tante Tini yang maksa. Dia bilang ada arisan, saya bilang saya ada kerjaan, dia bilang kerjaan bisa besok.”

“Saya paham.”

“Dan waktu saya masuk tadi—” dia berhenti, dan tertawa satu kali lewat hidung, dan aku mengenali bunyi itu karena aku juga melakukannya, “—waktu saya lihat Mbak sudah duduk di sebelah Bu Rahayu, saya lega banget.”

“Kenapa?”

“Karena artinya sudah ada.” Dia mengangkat bahu. “Artinya saya cuma pelengkap. Artinya saya bisa duduk dua jam terus pulang.”

Aku memandangnya.

“Prita.”

“Iya, Mbak.”

“Anak Pak Haji Warsito itu bagaimana?”

Dan wajahnya melakukan sesuatu yang membuatku, untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan, benar-benar tertarik.

“Dia baik,” katanya.

“Tapi.”

“Tapi saya ketemu dia satu kali, di rumah, waktu saya lagi ambil galon, dan dua minggu kemudian Bapak saya sudah ngomong soal bulan.”

Lampu teras menyala otomatis di atas kami.

“Bulan apa?”

“Maret,” katanya.

Aku merasakan sesuatu di dadaku bergeser.

“Februari,” kataku.

Prita mengerjap. “Apa?”

“Bukan apa-apa.”

Dia memandangku beberapa saat lebih lama dari yang sopan.

“Mbak Angel,” katanya pelan.

“Ya.”

“Mbak juga?”


Jumlah kata: ±1.790