Chapter Two
Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
POV: Angelica
Dokumen itu selesai jam 03.14. Kukirim jam 03.16, ke nomor WhatsApp yang tertera di plang bengkel, dengan pesan pengantar sepanjang empat kalimat yang sudah kurevisi sebelas kali.
Angelica Prameswari: Selamat malam, Mas Arsa. Menindaklanjuti kejadian tadi pagi, saya lampirkan draf kesepakatan agar posisi kita berdua jelas dan tidak ada pihak yang dirugikan. Mohon dibaca. Terima kasih.
Centangnya abu-abu sampai jam tujuh pagi.
Lalu biru.
Lalu tidak ada apa-apa selama dua jam empat puluh menit, yang kuhabiskan dengan sangat produktif: memeriksa ponsel enam belas kali dan menyelesaikan nol pekerjaan.
Jam 09.51 masuk balasan.
Arsa Bengkel: Halaman 3 ada typo. “Diperjanjikan” ditulis “diperjajikan”.
Aku menatap layar itu cukup lama.
Angelica Prameswari: Selain itu?
Arsa Bengkel: Belum sampai situ.
Arsa Bengkel: Baru halaman 3.
Arsa Bengkel: Ini panjang sekali, Angelica.
Aku datang ke bengkel jam dua siang, membawa dua eksemplar tercetak dalam map plastik bening dan satu pulpen yang tidak bocor.
Fahri menyambutku dengan wajah orang yang sudah menunggu sejak subuh.
“Mbak!” Suaranya pecah di suku kata kedua. “Mbak yang kemarin!”
“Mas Arsanya ada?”
“Ada, ada.” Dia tidak beranjak. Matanya menyipit. “Mbak, boleh nanya nggak?”
“Nggak.”
“Serius pacaran?”
“Nggak boleh nanya, tadi sudah saya bilang.”
“Berarti serius,” katanya, mengangguk-angguk penuh keyakinan pada dirinya sendiri, lalu berteriak ke belakang, “MAS! Mbak Pacar datang!”
Aku memutuskan bahwa Fahri adalah risiko yang harus dimasukkan ke dalam analisis, dan bahwa aku belum punya kolom untuknya.
Arsa sedang duduk di meja panjang dekat laptop, memegang sesuatu yang seperti pistol tapi ujungnya kabel. Di depannya, C70 itu sudah tidak di tempat semula. Sudah dipindah ke sisi kiri bengkel, di atas alas karpet, dengan roda depan diganjal balok kayu supaya tidak menggelinding.
Seseorang sudah memindahkannya dengan hati-hati. Itu detail yang kucatat, dan langsung kusimpan tanpa kutafsirkan.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk. Kuletakkan map di meja. “Ini versi cetak. Saya bawa dua supaya masing-masing pegang satu. Halaman tiga sudah saya perbaiki.”
“Bagus.”
“Saya juga menambahkan lampiran di Pasal 4, karena semalam saya sadar pasal itu terlalu umum dan berpotensi menimbulkan tafsir berbeda di lapangan.”
Dia meletakkan alat itu. “Lampiran soal apa?”
“Sentuhan fisik.”
Hening.
Fahri, dari balik motor di seberang ruangan, mengeluarkan suara yang mungkin dimaksudkan sebagai batuk.
“Fahri, beli lem.” Arsa tidak menoleh.
“Lem apa, Mas?”
“Yang jauh.”
Fahri pergi. Pintu tertutup. Aku membuka map, mengeluarkan dua eksemplar, menyusunnya rapi, dan mendorong satu ke arahnya.
Dia tidak menyentuhnya.
“Angelica,” katanya. “Sebelum itu.”
“Ya.”
“Soal motornya.”
Sesuatu di perutku turun sedikit. Aku sudah cukup sering menyampaikan kabar buruk untuk mengenali orang yang sedang bersiap menyampaikannya.
“Saya nggak bisa,” katanya.
“Kenapa.”
“Bukan karena teknis. Teknisnya bisa. Rangka C70 itu justru gampang, dudukan mesinnya lapang, battery pack muat di bawah jok sama di rangka tengah kalau dibagi dua. Motor segini enteng, jadi motornya nggak perlu besar. Saya bisa kasih tembus lima puluh, cukup buat dalam kota, pengisian empat jam—”
“Mas Arsa.”
Dia berhenti. Menarik napas.
“Saya nggak mau,” katanya, jauh lebih pelan.
Aku menutup map. Pelan. Karena kalau tidak pelan, aku akan menutupnya dengan cara yang lain.
“Boleh saya tahu alasannya?”
Dia berdiri. Berjalan ke motor itu, jongkok di sisi kanan, dan menunjuk sesuatu di blok mesin — bagian yang bahkan tidak kelihatan dari tempatku duduk.
“Di sini ada nomor,” katanya. “Nomor mesin. Dicetak dari pabrik tahun tujuh puluh sembilan. Kalau mesinnya saya cabut, nomor ini ikut hilang. Yang tinggal cuma rangka sama nomor rangka. Secara surat masih motor yang sama. Secara barang, bukan.”
“Secara barang, motor itu sudah nggak jalan sebelas tahun.”
“Iya.”
“Jadi lebih baik nggak jalan selamanya, asal aslinya utuh?”
“Saya nggak bilang lebih baik.”
“Terus Mas bilang apa?”
Dia diam. Masih jongkok, masih memandang blok mesin itu, dan aku menyadari — dengan kesal — bahwa dia benar-benar sedang memikirkan jawabannya, bukan sedang menyusun pembelaan.
“Saya bilang saya nggak mau yang mencabutnya itu saya,” katanya akhirnya.
Aku berdiri.
Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak. Delapan tahun jadi auditor mengajarkan bahwa nada tinggi adalah tanda kau tidak punya dokumen, dan aku selalu punya dokumen.
“Mas Arsa. Motor itu sebelas tahun ada di garasi rumah ibu saya, di bawah terpal, dan setiap kali saya pulang saya melihat terpalnya dan saya tahu persis apa yang ada di bawahnya. Saya sudah ke tiga bengkel klasik. Tiga-tiganya bilang blok mesinnya mati. Saya sudah coba jalur restorasi, saya sudah coba jalur cari mesin donor, saya sudah hitung semuanya—” suaraku tersendat sedikit di kata semuanya, dan aku benci itu, “—dan yang tersisa cuma dua pilihan. Motor itu jalan dengan mesin baru, atau motor itu jadi patung sampai saya mati juga.”
Dia berdiri perlahan.
“Saya nggak butuh motor itu jadi asli,” kataku. “Saya butuh motor itu jalan.”
Kami berdiri berhadapan di bengkel yang bau oli dan logam panas, dan tidak satu pun dari kami mengatakan apa-apa selama mungkin sepuluh detik.
“Besok,” katanya.
“Kemarin juga Mas bilang besok.”
“Iya.” Dia mengangguk, jujur sekali, tanpa membela diri sama sekali. “Besok lagi.”
Aku mengambil map-ku. Kuletakkan satu eksemplar di meja, agak keras.
“Itu punya Mas. Halaman tiga sudah dibetulkan. Kalau Mas nggak jadi butuh pacar palsu, buang saja.”
Aku keluar sebelum dia sempat menjawab, dan aku cukup marah sehingga baru sadar tiga puluh menit kemudian, di dalam angkot, bahwa aku meninggalkan pulpenku di sana.
Aku kembali jam sebelas malam.
Bukan karena pulpennya. Pulpennya harga dua belas ribu. Aku kembali karena aku tidak bisa tidur, dan karena di dalam kepalaku ada satu kalimat yang terus berputar — saya nggak mau yang mencabutnya itu saya — dan aku belum selesai membantahnya.
Aku sudah menyiapkan empat poin. Aku menyusunnya di angkot.
Bengkel itu tutup. Rolling door-nya turun tiga perempat. Tapi lampunya menyala, dan dari celah bawah, jatuh garis kuning ke trotoar.
Aku jongkok. Aku mengintip.
Sungguh, sampai sekarang aku masih menganggap itu tindakan paling tidak bermartabat yang pernah kulakukan sambil memakai blazer kantor.
Di dalam, lampu besar sudah dimatikan. Yang menyala cuma satu lampu kerja, dijepit di rak, diarahkan ke bawah.
Arsa duduk di lantai di samping C70 itu. Kaus oblong, bukan wearpack. Rambutnya tidak diikat. Di sekelilingnya ada tiga mangkuk kecil berisi cairan, sikat gigi bekas, dan gulungan kain lap yang sudah menghitam separuh.
Dia sedang membersihkan tangki.
Bukan mengelap. Membersihkan. Sedikit demi sedikit, dengan sikat gigi, di bagian sambungan tempat karat menumpuk — bagian yang tidak akan terlihat oleh siapa pun setelah motor itu berdiri tegak.
Aku melihat jam. 23.14.
Dia mengangkat kain, memeriksa hasilnya di bawah lampu, tidak puas, dan mulai lagi di titik yang sama.
Dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak kuizinkan.
Aku pulang tanpa mengetuk.
Di angkot terakhir malam itu, aku membuka file kontrak di ponselku dan menatap Pasal 1, bagian Ruang Lingkup, tempat aku menuliskan dengan sangat jelas bahwa kesepakatan ini bersifat administratif, terbatas, dan tidak melibatkan aspek personal apa pun di luar yang tercantum.
Aku tidak mengubah apa pun.
Aku cuma membacanya tiga kali.
Jam 07.02 pagi, ponselku bergetar.
Arsa Bengkel: Motornya saya kerjakan.
Arsa Bengkel: Tapi mesinnya nggak saya buang. Saya simpan. Nanti dikembalikan ke kamu, dalam kotak.
Arsa Bengkel: Itu syarat saya. Nggak bisa ditawar.
Aku membaca ketiganya dua kali. Lalu mengetik.
Angelica Prameswari: Diterima. Akan saya masukkan sebagai ketentuan tambahan di Pasal 1.
Arsa Bengkel: Jangan.
Angelica Prameswari: Kenapa?
Arsa Bengkel: Yang itu bukan bagian kontrak.
Aku menatap layar itu di halte, jam tujuh pagi, dengan bus yang datang dan berangkat lagi tanpa aku naiki.
Angelica Prameswari: Baik.
Angelica Prameswari: Kalau begitu Pasal 4 kita bahas hari ini. Ada lampirannya.
Arsa Bengkel: Saya sudah baca lampirannya.
Arsa Bengkel: Angelica, kamu bikin tabel.
Angelica Prameswari: Iya.
Arsa Bengkel: Ada kolom “durasi maksimum”.
Angelica Prameswari: Iya.
Arsa Bengkel: Dalam detik.
Angelica Prameswari: Kalau tidak diukur, nanti ada perbedaan tafsir di lapangan.
Butuh waktu satu menit penuh sebelum balasannya masuk, dan waktu satu menit itu terasa jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Arsa Bengkel: Jam dua. Warung depan bengkel. Bawa pulpen kamu, ketinggalan di sini.
Jumlah kata: ±1.830
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti reading
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7