Chapter Four

Bab 4 — Latihan

POV: Angelica


Aku menyiapkan empat belas kartu.

Kertas manila, dipotong ukuran kartu nama, ditulis tangan supaya lebih menempel di ingatan. Nama di depan, keterangan di belakang. Om Bowo — adik ipar Bu Rahayu — admin grup keluarga — hobi motret — jangan puji kameranya kecuali siap dengar tiga puluh menit. Itu dari riset Nadia, yang menemukan akun Facebook Om Bowo dalam empat menit dan menghabiskan dua jam berikutnya di sana.

Aku juga menyiapkan bingkisan.

Bukan satu. Tiga, dengan kisaran harga berbeda, karena aku belum tahu tingkat formalitas acaranya dan membawa yang terlalu mahal sama buruknya dengan membawa yang terlalu murah. Ketiganya kutaruh di bagasi taksi. Yang akan kubawa masuk kutentukan setelah melihat rumahnya.

“Kamu tuh,” kata Nadia lewat telepon, sementara aku duduk di taksi dengan tiga bingkisan di sebelahku seperti orang yang tidak bisa memutuskan mau menyuap siapa, “sadar nggak sih ini bukan tender.”

“Ini lebih berisiko dari tender.”

“Angel.”

“Kalau tender gagal, saya kehilangan klien. Kalau ini gagal, ada delapan ibu-ibu se-RT yang akan membicarakan saya sampai tahun depan.”

Nadia diam sebentar.

“Oke,” katanya. “Fair.”


Rumah Bu Rahayu ada di gang, empat ratus meter di belakang bengkel — dekat, tapi cukup jauh untuk membuat Arsa punya alasan tidak pulang cepat.

Rumah lama, satu lantai, dengan teras yang lantainya dipel sampai memantulkan bayangan. Ada empat pot lidah mertua di kiri, empat di kanan, jarak antar-pot sama persis.

Aku memilih bingkisan yang tengah.

Aku mengetuk jam 14.58.

Pintu terbuka sebelum ketukan kedua, dan Bu Rahayu berdiri di sana dengan senyum yang lebarnya sudah kukenali dari bengkel, mengenakan baju yang jelas bukan baju rumah, dengan rambut yang jelas baru disasak.

“Aduh, Angel!” Dia meraih tanganku dengan kedua tangannya. “Cantiknya. Ayo masuk, ayo, kok bawa-bawa segala.”

“Sedikit, Bu.”

“Nggak usah repot-repot lain kali ya.” Dia mengambil bingkisan itu, membaliknya sekali — dan aku melihat matanya turun ke stiker harga yang lupa kucabut di bagian bawah, selama mungkin sepersekian detik, sebelum naik lagi ke wajahku dengan senyum yang tidak berubah sedikit pun.

Aku merasa seperti laporan keuangan yang baru saja dibuka di halaman lampiran.

“Ibu kira hari ini arisan,” kataku.

“Oh, arisan bulan depan.” Dia melenggang ke dalam. “Ibu geser. Masa iya kamu dilempar ke tujuh ibu-ibu sekaligus padahal keluarga sendiri belum kenal. Kasihan.”

Aku mengikutinya masuk.

Di ruang tengah, ada meja makan yang sudah tertata untuk enam orang.

Untuk enam orang.


“Angel, ini Nenek.”

Perempuan tua itu duduk di kursi paling ujung, punggung tegak, memegang remote televisi yang layarnya menampilkan sinetron tanpa suara.

Dia menatapku dari ujung rambut ke ujung sepatu.

“Siapa?”

“Pacarnya Arsa, Nek,” kata Bu Rahayu, keras.

“Yang mana?”

“Yang Arsa. Anaknya Rahayu.”

“Oh.” Nenek Sumi mengangguk. “Yang bengkel.”

“Iya, Nek.”

“Yang nggak nikah-nikah.”

“IYA, Nek.”

Nenek Sumi memandangku lagi, kali ini lebih lama.

“Namanya siapa?”

“Angelica, Nek.”

Alisnya naik. “Malaikat?”

“...Kurang lebih, Nek.”

Dia mengangguk pelan, sangat puas, dan kembali menatap televisi.

“Bagus,” katanya. “Yang begitu biasanya sabar.”

Aku belum sempat memutuskan apakah itu pujian atau ramalan cuaca, ketika sesuatu setinggi pinggangku menabrak sisi kiri tubuhku dan langsung mundur lagi.

Anak laki-laki. Enam tahun, mungkin. Rambut basah, kaus superhero, dan tatapan yang sepenuhnya terfokus.

“Kemal,” kata Bu Rahayu. “Salim.”

Anak itu menyalamiku tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku sedetik pun.

“Tante,” katanya.

“Iya?”

“Tante pacarnya Om Arsa?”

“Iya.”

“Beneran?”

Di dapur, sesuatu jatuh.

Aku tersenyum dengan senyum terbaikku, yang biasanya kupakai saat menyampaikan bahwa laporan seseorang tidak dapat kami terima.

“Kenapa? Kelihatan nggak beneran?”

Kemal berpikir. Sungguh berpikir, dengan seluruh wajahnya.

“Kelihatan rapi,” katanya akhirnya, lalu lari ke belakang.


Arsa datang jam 15.20, dua puluh menit terlambat, masih dengan bau bengkel yang samar di kerah kausnya meskipun sudah ganti baju.

Dia berhenti di ambang pintu. Melihat aku duduk di sofa di antara Nenek Sumi dan Kemal, dengan bingkisan yang sudah dibuka di meja dan tiga kartu manila yang masih kugenggam di pangkuan, disembunyikan di bawah tas.

Sesuatu di bahunya turun sedikit. Lega, mungkin. Atau ngeri.

“Sudah lama?”

“Dua puluh dua menit.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa, Sayang,” kataku.

Kata itu keluar dengan sangat halus, sangat wajar, karena aku sudah melatihnya delapan kali di depan cermin kamar kos.

Arsa berkedip satu kali. Lalu duduk di sebelahku, dan aku merasakan sisi kanan tubuhku menjadi sangat sadar akan keberadaan sisi kiri tubuhnya, dan mencatat bahwa ini adalah reaksi fisiologis yang bisa dijelaskan sepenuhnya oleh kombinasi tekanan sosial dan suhu ruangan.

“Nah,” kata Bu Rahayu dari kepala meja, sambil menuang teh yang tidak diminta siapa pun. “Sekarang cerita. Ketemunya gimana?”


Aku punya jawabannya.

Aku menyusunnya dua hari lalu dan mengirimkannya ke Arsa dalam bentuk poin — enam poin, dengan urutan kronologis dan tiga detail pendukung yang bisa diverifikasi supaya cerita ini punya jangkar di dunia nyata.

Versi resmi: kami bertemu delapan bulan lalu, saat aku mengantar motor teman kantor untuk diservis. Berkomunikasi berkala. Dekat sejak empat bulan lalu. Detail pendukung: nama teman kantor (ada, nyata, dan sudah kubriefing), merek motornya, dan bulan servisnya.

Aku menarik napas.

“Delapan bulan lalu, Bu, waktu itu saya—”

“Motor bapaknya,” kata Arsa.

Aku berhenti.

“Motornya mangkrak sebelas tahun,” lanjutnya, santai, sambil mengambil kerupuk. “Dia bawa ke saya. Saya bilang nggak bisa. Dia marah. Terus dia balik lagi.”

Ada hening yang sangat spesifik di meja itu, dan aku menyadari bahwa itu bukan hening curiga.

Itu hening tiga perempuan yang baru saja mendengar sesuatu yang mereka sukai.

“Aduh,” kata Bu Rahayu, meletakkan teko. “Marahnya gimana?”

“Nggak teriak,” kata Arsa. “Dia nggak pernah teriak. Dia cuma jadi lebih sopan.”

“Ih.” Bu Rahayu menoleh padaku, gembira. “Bener, Angel?”

Aku membuka mulut.

Di bawah meja, jariku masih memegang kartu manila nomor dua, dan di kartu itu tertulis Versi resmi: 8 bulan, motor teman kantor, Bu Vera Divisi Umum.

“Bener, Bu,” kataku.

Karena tidak ada satu pun dari yang barusan Arsa katakan yang bohong.

Dan itu, seharusnya, membuatku lega. Cerita yang benar jauh lebih mudah dipertahankan daripada cerita yang disusun.

Yang justru terjadi: aku duduk di sana, dengan enam poin dan tiga detail pendukung yang sekarang tidak berguna, dan merasa seperti orang yang membawa payung ke tempat yang ternyata tidak hujan — dan malah kecewa.


Sisa makan malam itu berlangsung selama satu jam empat puluh menit, dan aku akan merangkumnya sebagai berikut.

Kejadian 1. Nenek Sumi bertanya berapa penghasilanku. Bu Rahayu berkata “Nek”. Nenek Sumi berkata dia cuma tanya. Aku menjawab dengan angka yang benar. Semua orang diam. Arsa menuang air ke gelasku yang masih penuh.

Kejadian 2. Bu Rahayu menyebut, dengan sangat ringan, bahwa bengkel itu “kerjaan sementara” dan bahwa Arsa “dulu kuliahnya bagus, lho, Angel”. Arsa tidak membantah. Dia cuma menaruh sendok, dan wajahnya tidak berubah sama sekali, dan justru itu yang membuatku ingin mengatakan sesuatu.

Aku mengatakan sesuatu.

“Motor ayah saya sudah ditolak tiga bengkel, Bu. Yang mau cuma dia.”

Bu Rahayu menoleh.

Dan untuk kedua kalinya hari itu, aku merasa sedang dibaca. Bukan wajahku. Sesuatu di belakangnya.

“Iya, ya,” katanya pelan, setelah jeda yang setengah detik terlalu panjang. “Anak Ibu memang begitu. Kalau sudah pegang barang, nggak dilepas.”

Lalu dia tersenyum lagi, dan menawarkan sayur, dan aku menghabiskan tiga menit berikutnya memikirkan kenapa kalimat itu terasa seperti diarahkan padaku.

Kejadian 3. Kemal, dari ujung meja, bertanya kenapa Om Arsa manggilnya “Angelica” padahal semua orang manggil “Tante Angel”.

Bu Rahayu berkata “Kemal, makan”.

Arsa tidak menjawab.

Aku menoleh padanya. Dia sedang mengupas kulit ayam dengan konsentrasi seorang teknisi.

Dan tidak menjawab.


Jam 19.40 aku pamit. Bu Rahayu mengantar sampai teras, memegang tanganku lagi dengan dua tangan, dan berkata bahwa bulan depan arisan, dan bahwa aku harus datang, dan bahwa dia akan bilang ke Bu Tini dan Bu Marni supaya jangan tanya macam-macam — dengan nada yang membuatku sangat yakin dia justru akan bilang sebaliknya.

“Anter, Arsa,” katanya. “Sampai jalan besar. Gelap.”

“Iya, Bu.”

“Terus balik lagi ke sini.”

“Iya, Bu.”

“Ibu belum selesai ngomong sama kamu.”

Arsa memandang ibunya selama satu detik penuh dengan ekspresi seseorang yang sudah tiga puluh tahun kalah dan tahu persis berapa skornya.


Kami berjalan di gang tanpa bicara selama seratus meter pertama.

“Tasmu ketinggalan di bengkel,” katanya akhirnya.

“Nggak.”

“Tas kertas. Yang isinya map.”

Aku berhenti. Meraba bahuku. Meraba lagi.

“...Ya ampun.”

“Bawa yang mana tadi, tiga?”

“Dua saya tinggal di taksi—” Aku berhenti lagi. “Mas Arsa, saya nggak pernah ninggalin dokumen.”

“Pertama kali buat semuanya, ya.”

Bengkel itu gelap, rolling door-nya turun penuh. Arsa membuka gembok pintu samping, yang letaknya di gang sempit di belakang — dua meter lebar, tembok di kiri, tembok di kanan, dan satu lampu jalan di ujung yang menyala kuning dan berdengung.

Dia masuk. Menyalakan lampu kerja. Keluar lagi dengan tas kertasku.

“Aman.”

“Terima kasih.” Aku mengambilnya, memeriksa isinya karena tentu saja aku memeriksa isinya, dan saat itulah aku mendengar suara sandal di ujung gang.

“Lho? Arsa?”

Perempuan setengah baya, daster, membawa kantong plastik berisi entah apa dari warung. Berhenti tepat di mulut gang.

Aku merasakan Arsa membeku di sebelahku.

“Bu Marni,” katanya.

“Aduh, ini toh.” Bu Marni maju dua langkah. Matanya sudah menyala. “Yang di grup itu ya? Yang fotonya dipasang Bowo?”

“Iya, Bu.”

“Kok di sini? Malam-malam?” Senyumnya melebar dengan cara yang sangat spesifik. “Berdua?”

Dan aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat seluruh urutannya seperti bagan alur: Bu Marni pulang, Bu Marni membuka grup WA, Bu Marni mengetik sesuatu yang diawali “eh tadi aku lihat”, dan besok pagi Bu Rahayu menerima tujuh belas balasan.

Berdua. Malam. Di gang belakang bengkel yang tutup.

Cerita itu punya satu tafsir kalau kami pacar sungguhan.

Dan punya tafsir yang jauh lebih buruk kalau ada satu saja retakan di sana.

Aku menoleh ke Arsa.

Dan aku melihat wajah yang persis sama dengan wajahnya di bengkel empat hari lalu, saat ibunya membuka tas dan mengeluarkan tiga foto.

Mesin kehabisan oli.

Jadi kali ini aku yang bergerak duluan.


Aku menarik kerah kausnya.

Aku tidak memikirkannya. Itu bagian yang sampai sekarang masih membuatku kesal, karena aku memikirkan segalanya — aku punya tabel untuk durasi maksimum gandengan tangan — dan pada momen yang secara jelas paling memerlukan pertimbangan, kepalaku memutuskan untuk tidak hadir.

Aku menariknya turun dan menciumnya di gang belakang bengkel, di bawah lampu jalan yang berdengung, dengan tas kertas berisi kontrak tujuh halaman masih tergantung di jariku.

Dia kaku selama mungkin satu detik.

Lalu tidak lagi.

Satu tangannya naik ke belakang leherku — hati-hati, seperti orang memegang sesuatu yang mungkin retak — dan yang lain memegang lenganku di tempat yang sama persis dengan empat hari lalu, saat dia menarikku dan bilang ini pacarku, Bu, dan aku merasakan tas kertas itu terlepas dari jariku dan jatuh ke tanah dan aku tidak melakukan apa-apa soal itu.

Ada bau oli. Ada bau sabun cuci piring dari rumah ibunya. Ada dengung lampu jalan.

Dan tidak ada satu pun angka di kepalaku.


“Aduh, maaf ya, maaf!” Suara Bu Marni, sudah menjauh, sudah setengah tertawa. “Lanjut, lanjut. Ibu nggak lihat apa-apa.”

Sandalnya menjauh di gang.

Kami melepaskan diri.

Aku mundur setengah langkah. Punggungku menyentuh tembok. Arsa berdiri di tempatnya, tangannya masih setengah terangkat di udara seperti orang yang lupa mau meletakkannya ke mana.

Kami tidak saling memandang selama beberapa detik.

Aku jongkok. Memungut tas kertas. Merapikan map di dalamnya, yang tidak perlu dirapikan.

“Itu,” kataku, ke dalam tas kertas, “efektif.”

“Iya.”

“Bu Marni akan cerita ke tujuh orang sebelum jam sepuluh.”

“Sembilan,” kata Arsa. Suaranya serak sedikit. Dia berdehem. “Sembilan orang.”

“Berarti berhasil.”

“Berarti berhasil.”

Aku berdiri. Menepuk debu dari lutut yang tidak ada debunya.

“Lampiran 4c,” kataku. “Barisnya masih kosong.”

“Iya.”

“Saya akan isi malam ini.”

“Oke.”

“Ini di luar prosedur, tapi situasinya darurat, dan saya rasa secara akal sehat—”

“Angelica.”

Aku diam.

Dia menunduk sedikit supaya bisa melihat wajahku, dan lampu jalan yang berdengung itu membuat setengah wajahnya kuning dan setengahnya hilang.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Anggap latihan.”

Sesuatu di dadaku melakukan hal yang, untuk kedua kalinya minggu ini, tidak kuizinkan.

“Latihan,” kataku.

“Iya. Biar nanti nggak kaku.”

“Betul.” Aku mengangguk. Sangat profesional. “Repetisi meningkatkan konsistensi.”

“Hm.”

“Terima kasih atas pengertiannya.”

“Angelica, kamu ngomongnya jadi panjang.”

“Saya pulang.”


Di angkot, jam sembilan malam, aku membuka laptop di pangkuan karena aku tidak bisa menunggu sampai kos.

LAMPIRAN 4c — REVISI 01

Baris keempat. Kolom pertama: Ciuman.

Kolom kedua, Konteks yang Diizinkan, kuisi: Situasi darurat dengan saksi pihak ketiga.

Kolom keempat, Catatan, kuisi: Bersifat insidental.

Kolom ketiga.

Durasi Maksimum (detik).

Aku mengetik 8.

Kuhapus.

Kuketik 6.

Kuhapus.

Aku duduk di angkot yang berhenti di lampu merah, dengan kursor berkedip di sel kosong sebuah tabel yang kubuat sendiri, dan menyadari bahwa aku tidak tahu berapa lama tadi berlangsung.

Aku tidak menghitung.

Untuk pertama kalinya sejak sebelas tahun, empat bulan, sembilan hari, ada sesuatu yang terjadi padaku dan aku tidak menghitungnya.

Aku menutup laptop.

Kolom itu kubiarkan kosong sampai Bab yang jauh, jauh kemudian — dan saat akhirnya kuisi, angkanya bukan angka.


Jumlah kata: ±3.020