Chapter Twenty

Bab 20 — Empat Kalimat

POV: Angelica


Wisnu datang ke bengkel pada hari Sabtu, 16 Desember, pukul 11.20 pagi.

Aku tidak tahu bagaimana dia tahu alamatnya.

Itu bohong. Aku tahu persis bagaimana dia tahu alamatnya, karena aku menuliskannya sendiri di formulir klaim transportasi bulan September, di kolom “tujuan perjalanan dinas — pribadi”, karena aku terlalu jujur untuk mengosongkannya dan terlalu bodoh untuk memikirkan siapa yang membaca formulir itu.

Dia datang dengan motornya. Motor gede, warna hitam doff, yang kalau dinyalakan bisa didengar dari ujung gang.

Dan dia mematikannya di depan rolling door, melepas helm, dan berdiri di sana selama beberapa detik sambil melihat papan nama bengkel dengan senyum orang yang sedang menikmati sesuatu.

Aku sedang duduk di kursi lipat dengan laptop di pangkuan.

Aku menutupnya.


“Ngel!”

“Pak Wisnu.”

“Aduh, kebetulan banget.” Dia melangkah masuk, melihat sekeliling, mengangguk-angguk. “Ini toh bengkelnya.”

“Bapak ke sini kenapa?”

“Ya ini.” Dia menepuk jok motornya. “Aku lagi kepikiran konversi. Serius. Aku udah baca-baca.”

Fahri, yang sedang mengangkat kaleng cat, meletakkannya sangat pelan.

Arsa keluar dari belakang.

Dia melihat Wisnu. Melihat motornya. Melihatku.

Dan tidak ada apa pun di wajahnya.

“Mas Arsa!” Wisnu mengulurkan tangan. “Masih inget? Kantor Angel. Bulan lalu.”

“Inget.”

“Aku beneran mikir waktu itu.” Dia menyalami, dua tangan, sangat hangat. “Habis ngobrol sama Mas, aku jadi kepikiran. Kayaknya bagus deh support usaha lokal. Daripada duitnya lari ke pabrikan besar terus, ya kan?”

“Iya.”

“Nah!” Wisnu menoleh ke motornya. “Ini kira-kira bisa nggak?”

Arsa berjalan ke motor itu. Berjongkok di sisi kanan. Melihat blok mesin, rangka, dudukan.

“Bisa.”

“Berapa?”

Arsa berdiri. Menyebut angka.

Wisnu bersiul.

“Wah.” Dia tertawa. “Segitu ya.”

“Iya.”

“Nggak nawar nih?”

“Bisa lebih murah kalau pakai baterai yang lebih kecil. Jaraknya turun jadi empat puluhan.”

“Hm.” Wisnu mengangguk-angguk, dan matanya bergerak ke papan tulis putih di dinding. “Antrean berapa nih?”

“Sembilan.”

“Sembilan doang?”

Ada jeda.

“Iya,” kata Arsa. “Sembilan.”


Yang dia lakukan berikutnya berlangsung selama empat menit dan aku bisa merekonstruksinya kalimat per kalimat sampai sekarang.

Dia berjalan berkeliling bengkel.

Dia melihat papan tulis dan bertanya kenapa ada satu baris yang kolom targetnya kosong. Arsa bilang itu pekerjaan pribadi. Wisnu menoleh padaku, mengangkat alis, dan berkata “oh”.

Dia melihat rak dan bertanya apakah komponennya impor semua. Arsa bilang sebagian besar iya.

Dia bertanya soal kurs.

Dia bertanya soal Permenhub. Nomor berapa, tahun berapa, dan apakah sudah ada revisi. Arsa menjawab ketiganya dengan benar, dan Wisnu berkata “wah, hafal ya”, dengan nada seseorang yang memuji anak kecil karena hafal nama-nama planet.

Dia bertanya apakah bengkel ini sudah punya sertifikasi bengkel konversi resmi.

Arsa diam sebentar.

“Lagi proses,” katanya.

“Proses dari kapan?”

“Setahun.”

“Setahun?” Wisnu tertawa, dan tawanya sepenuhnya bersimpati. “Ya ampun. Birokrasi kita ya.”

Lalu dia berbalik ke arahku.

“Ngel, kamu tahu nggak, ini sebenernya masalah struktural. Selama sertifikasinya belum keluar, secara legal hasil konversinya belum bisa diuji tipe. Yang artinya—” dia menoleh ke Arsa, ramah, “—maaf ya, Mas, aku bukan mau ngajarin. Aku cuma khawatir aja. Kalau nanti razia dan pelanggan Mas kena, yang disalahin bengkelnya.”

Fahri berdiri di sudut ruangan memegang kaleng cat dan tidak bergerak sama sekali.

“Iya,” kata Arsa. “Betul.”

“Terus gimana?”

“Saya kasih tahu ke semua pelanggan sebelum kerja. Ada di nota, poin empat. Kalau mereka nggak mau, saya nggak ambil.”

“Oh.” Wisnu mengangguk. “Bagus. Bagus itu.”

Dia menepuk jok motornya lagi.

“Ya udah, aku pikir-pikir dulu ya, Mas. Aku kabarin.”

Dan aku tahu — semua orang di ruangan itu tahu, termasuk Fahri, termasuk Arsa, termasuk Wisnu sendiri — bahwa dia tidak akan pernah mengabari.

Dia tidak datang untuk mengonversi motor.

Dia datang untuk berdiri di ruangan ini selama dua puluh menit dan mengajukan sembilan pertanyaan yang jawabannya sudah dia tahu.


Dan pada pukul 11.44, pintu samping terbuka.

“Arsa, Ibu bawa—”

Bu Rahayu berhenti di ambang pintu dengan rantang bersusun tiga di tangan.

Dia melihat Wisnu.

Dia melihat motor hitam doff itu.

Dia melihat aku, yang berdiri terlalu tegak di sebelah kursi lipat.

Dan sesuatu di wajahnya — dan aku bersumpah aku melihat ini, dan aku menghabiskan berbulan-bulan setelahnya berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak melihatnya — sesuatu di wajahnya menyala.

“Aduh,” katanya, tersenyum lebar. “Ada tamu.”


“Ini Ibu saya,” kata Arsa.

“Wisnu, Bu.” Dia menyalami dengan dua tangan. “Kepala divisinya Angel.”

“Oh! Kantornya Angel.” Bu Rahayu meletakkan rantang di meja kerja. “Kok jauh-jauh ke sini, Nak?”

“Ini, Bu, saya lagi mau konversi motor.” Wisnu menoleh ke motornya. “Sekalian silaturahmi.”

“Bagus, bagus.” Bu Rahayu membuka rantang. “Sudah makan?”

“Sudah, Bu.”

“Belum ini.” Dia mengeluarkan piring. “Duduk dulu. Ada lontong.”

“Aduh, jangan repot-repot.”

“Nggak repot.” Dia menyodorkan piring. “Ibu yang bikin. Angel juga bantu ngiris.”

Wisnu menoleh padaku.

Cuma sepersekian detik. Tapi aku melihatnya.

“Angel masak?” katanya, dan tertawa. “Wah. Berubah ya.”

Dan di situlah dia salah.


Bu Rahayu menuang teh.

“Berubah gimana, Nak?” tanyanya, ringan, sambil menuang.

“Ya, dulu—” Wisnu mengangkat bahu, masih tertawa. “Angel tuh dulu nggak pernah ke dapur, Bu. Dia orangnya kerja terus. Kadang saya sampai bilang, Ngel, hidup itu bukan cuma laporan.”

“Oh.” Bu Rahayu meletakkan teko. “Kalian dulu dekat, ya?”

Hening.

Dan aku melihat Wisnu menyadari, terlambat sekitar setengah detik, bahwa dia baru saja memasang kakinya sendiri ke dalam sesuatu.

“Ya... satu tim, Bu.”

“Satu tim.” Bu Rahayu mengangguk, senyum tidak bergerak sedikit pun. “Bagus. Berarti Nak Wisnu tahu Angel kerjanya bagaimana.”

“Bagus banget, Bu. Teliti.”

“Nah, itu.”

Dia mendorong piring lontong ke arah Wisnu.

Dan berkata — dengan nada yang sama persis dengan nada yang dipakainya untuk membicarakan risoles Bu Tini, tanpa satu gram pun perubahan:

“Kalau begitu bulan lalu waktu Nak Wisnu maju di depan direktur, pasti nama Angel disebut, ya?”

Bengkel itu sunyi.

Kompresor menyala.

Dua puluh detik.

Mati.

“Bu—”

“Ibu tanya karena Ibu bendahara arisan dua belas tahun,” lanjut Bu Rahayu, mengambil sendok, membagi lontong ke piring kedua untuk dirinya sendiri. “Kalau ada uang masuk dari Bu Tini, Ibu tulis Bu Tini. Bukan tulis ‘kas’.”

“Iya, Bu, tentu—”

“Soalnya kalau ditulis ‘kas’ terus,” katanya, mengangkat sendok, “lama-lama Bu Tini nggak mau nyetor lagi.”

Dia memasukkan lontong ke mulutnya.

“Silakan, Nak. Dimakan. Nanti dingin.”


Wisnu makan lontong itu.

Seluruhnya. Karena dia tidak punya pilihan lain.

Butuh waktu sembilan menit, dan selama sembilan menit itu Bu Rahayu bertanya kepadanya, dengan sangat ramah: dari mana asalnya, orang tuanya di mana, sudah berkeluarga atau belum, kenapa belum, apakah motornya itu boros, berapa harganya, dan apakah tidak sayang kalau mesinnya dilepas.

Wisnu menjawab semuanya.

Empat puluh tiga orang di ruang serbaguna lantai dua tidak pernah melihat Wisnu Aditama kehilangan jedanya.

Fahri melihatnya. Sambil memegang kaleng cat. Selama sembilan menit.

Pukul 12.06, Wisnu berdiri.

“Bu, saya duluan ya. Terima kasih lontongnya.”

“Sama-sama, Nak. Hati-hati.”

“Mas Arsa, nanti saya kabarin.”

“Iya.”

“Ngel.”

“Pak.”

Dia memakai helmnya. Menyalakan motornya, yang bunyinya memenuhi seluruh ruko dan gang di depannya.

Dan pergi.


Bu Rahayu menutup rantang.

“Arsa.”

“Iya, Bu.”

“Sisanya dimakan. Jangan ditaruh di kulkas terus lupa.”

“Iya, Bu.”

Dia mengambil tasnya. Merapikan kerudungnya di depan kaca spion motor yang tersandar di dinding.

Aku berdiri di sana, di sebelah kursi lipat, dengan laptop yang masih tertutup di pangkuan kursi.

“Bu.”

“Hm?”

“Ibu tahu dari mana?”

Bu Rahayu berhenti merapikan kerudungnya.

“Tahu apa?”

“Yang bulan lalu. Direktur. Nama saya.”

Dia menoleh.

Dan tersenyum, dan itu senyum yang sudah kulihat lima belas kali dalam empat bulan terakhir, dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tidak pernah sekali pun bisa membacanya.

“Nadia,” katanya.

“Nadia?”

“Temen kamu. Yang rambutnya pendek.” Bu Rahayu menyandang tasnya. “Dia datang ke arisan bulan lalu.”

Aku memandangnya.

“Nadia tidak datang ke arisan bulan lalu, Bu.”

“Datang,” kata Bu Rahayu. “Cuma nggak masuk.”

Dan dia keluar lewat pintu samping.


Aku berdiri di bengkel itu selama beberapa detik.

Lalu aku menoleh ke Arsa.

Dia sedang memandang pintu samping yang baru saja tertutup, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Ibu Mas barusan—”

“Iya.”

“Empat kalimat.”

“Iya.”

“Sambil menawarkan lontong.”

“Iya.”

Fahri meletakkan kaleng catnya.

“Mas,” katanya, dengan suara orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang religius. “Ibu Mas itu—”

“Fahri.”

“Nggak, Mas, saya cuma—”

“Fahri.”

“Iya, Mas.”

Fahri mengambil kaleng catnya lagi dan pergi ke belakang.

Dan aku duduk kembali di kursi lipat, membuka laptop, dan menatap layar selama beberapa menit tanpa membaca satu kata pun.

Karena ada satu hal yang tidak bisa kuletakkan.

Nadia tidak pernah bercerita kepadaku bahwa dia datang ke rumah Bu Rahayu.

Dan Bu Rahayu, yang baru saja menghancurkan seorang laki-laki dalam empat kalimat sambil membagi lontong, menyebutkan itu kepadaku dengan sangat santai — seolah dia ingin aku tahu.


Jumlah kata: ±2.010