Chapter Six
Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
POV: Angelica
LAMPIRAN 4c — REVISI 02
Perubahan dari Revisi 01:
- Baris Gandengan tangan — kolom Konteks diperluas menjadi: acara keluarga, acara kantor, dan perjalanan menuju/dari lokasi acara.
- Baris Rangkulan bahu — catatan “hanya jika ada pihak ketiga” dipertahankan.
- Baris Ciuman — kolom Durasi Maksimum tetap kosong. Ditambahkan catatan: tidak untuk diulang tanpa keperluan mendesak.
Aku mengirimnya jam 07.40 hari Sabtu.
Balasannya masuk jam 07.52.
Arsa Bengkel: Poin 3 itu keperluan mendesak definisinya apa
Angelica Prameswari: Kehadiran pihak ketiga yang berpotensi menyebarkan informasi ke lingkaran keluarga.
Arsa Bengkel: Jadi kalau nggak ada orang, nggak boleh
Angelica Prameswari: Kalau tidak ada orang, tidak ada gunanya.
Centang biru.
Tidak ada balasan selama dua belas menit, dan aku menghabiskan dua belas menit itu dengan sangat produktif: menatap layar, meletakkan ponsel, dan mengambilnya lagi empat kali.
Arsa Bengkel: Oke
Arsa Bengkel: Sabtu ini ada kakak saya
Angelica Prameswari: Mbak Anjani?
Arsa Bengkel: Kamu hafal?
Angelica Prameswari: Kartu nomor 4. Anjani Wijayanti Pramudya, 33 tahun, ibu Kemal, tinggal di Depok, suami kerja di Balikpapan, pulang dua bulan sekali.
Arsa Bengkel: Kartu?
Angelica Prameswari: Pasal 3. Empat belas nama kerabat.
Arsa Bengkel: Oh.
Arsa Bengkel: Iya. Pasal 3.
Arsa Bengkel: Yang itu punya kamu ya
Aku menatap layar itu selama lima detik penuh.
Angelica Prameswari: Mas Arsa.
Angelica Prameswari: Pasal 2 punya Mas. Isinya kewajiban Mas.
Angelica Prameswari: Sudah dibaca?
Arsa Bengkel: Nanti di jalan
Mbak Anjani adalah versi Bu Rahayu yang lebih muda, lebih cepat, dan tidak punya rem sama sekali.
Dia meraih kedua bahuku sebelum aku sempat melepas sepatu.
“Ya ampun. Ya ampun.” Dia memutar tubuhku sedikit ke arah cahaya. “Arsa, ini beneran?”
“Ini beneran, Mbak.”
“Aku nggak tanya kamu.” Dia menoleh padaku. “Ini beneran?”
“Beneran, Mbak.”
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan.”
“DELAPAN BULAN?” Dia berbalik ke Arsa dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. “Delapan bulan kamu diem aja?”
“Belum jelas.”
“Delapan bulan belum jelas?”
“Sekarang jelas.”
“Arsa Pramudya.” Mbak Anjani mengangkat satu jari. “Aku waktu itu nanya kamu ada calon apa nggak. Bulan Februari. Di sini. Di kursi ini. Kamu bilang apa?”
“Bilang nggak ada.”
“NGGAK ADA.”
“Iya.”
“Itu Februari. Delapan bulan yang lalu itu—” dia menghitung dengan jari, dan aku merasakan perutku turun perlahan, “—Maret. Berarti Februari kamu udah kenal dong.”
Aku membuka mulut untuk menyelamatkan situasi.
Arsa lebih dulu.
“Belum ketemu,” katanya. “Baru chat.”
“Chat soal apa?”
“Motor.”
“Motor doang?”
“Iya.”
“Delapan bulan chat soal motor doang?”
Ada jeda pendek, dan aku melihat Arsa melakukan sesuatu yang sangat spesifik: dia mengambil napas melalui hidung, dan bahunya naik setengah senti.
Aku sudah belajar cukup banyak dalam sepuluh hari terakhir untuk mengenali apa artinya itu.
“Motor itu banyak komponennya, Mbak,” katanya.
Oh, tidak.
“Rangka, kelistrikan, kaki-kaki, sistem pengereman. C70 tahun tujuh sembilan itu masih pakai rem tromol depan belakang, jadi kalau mau dikonversi ke listrik, distribusi bobotnya berubah, karena battery pack itu beratnya beda sama mesin bensin dan titik beratnya turun, jadi—”
“Arsa.”
“—jadi kalau titik beratnya turun, perilaku motornya di tikungan berubah, dan itu perlu dibahas, karena keselamatan pengendara itu—”
“ARSA.”
“—dan itu semua nggak bisa dibahas dalam satu kali chat, Mbak.”
Hening.
Mbak Anjani menatap adiknya dengan ekspresi orang yang baru saja disiram informasi yang tidak dia minta dan tidak dia pahami.
Lalu dia menoleh padaku.
“Dia gini terus?”
“Iya, Mbak.”
“Dari dulu?”
“Sepertinya.”
“Dan kamu tahan?”
Aku merasakan Arsa menoleh ke arahku.
“Saya suka,” kataku.
Dan itu keluar terlalu cepat, dan terlalu pendek, dan tanpa satu pun anak kalimat.
Aku menyadarinya sepersekian detik setelah kalimat itu keluar dari mulutku.
Mbak Anjani tidak menyadari apa-apa. Dia sudah tertawa, sudah menepuk lenganku, sudah menyeretku ke dapur sambil berkata bahwa akhirnya ada satu orang waras di rumah ini.
Tapi Arsa masih berdiri di ruang tengah.
Aku tahu karena aku sengaja tidak menoleh ke belakang.
Kejadian di meja makan, Sabtu, tercatat sebagai berikut.
14.20. Mbak Anjani bertanya kapan aku ulang tahun. Aku menjawab. Dia bertanya kapan Arsa ulang tahun.
Aku menjawab: 3 November.
Dia bertanya ke Arsa kapan aku ulang tahun.
Arsa diam selama dua setengah detik.
“Dia baru bilang barusan,” katanya.
“Iya, aku denger. Tapi kamu tahu nggak sebelum dia bilang?”
“Sekarang tahu.”
“Arsa.”
“Mbak, itu kan pertanyaannya jadi nggak adil. Sudah disebut duluan.”
Mbak Anjani memandangnya lama. Lalu memandangku.
“Angel.”
“Iya, Mbak.”
“Kamu tahu apa aja soal dia?”
Aku meletakkan sendok.
“Lahir 3 November, umur dua puluh sembilan. Golongan darah B. Alergi udang, tapi masih makan udang kalau di kondangan karena nggak enak nolak. Kopi tanpa gula, tapi kalau lagi capek pakai gula satu. Bengkelnya buka jam sembilan tapi dia sampai jam tujuh, karena dia lebih suka kerja waktu belum ada orang. Nggak bisa tidur kalau ada pekerjaan yang belum selesai, jadi dia sering nyelesain sendirian malam-malam, dan besoknya nggak cerita ke siapa-siapa.”
Aku berhenti.
Meja makan itu hening.
Dan saat itu aku menyadari tiga hal, secara bersamaan, dengan urutan yang sangat tidak menyenangkan.
Satu: tidak ada satu pun dari itu yang ada di kartu manilaku.
Dua: aku tidak menghafalnya. Aku cuma tahu.
Tiga: Arsa sedang memandangku, dan dia belum berhenti sejak kalimat kedua.
“Nah,” kata Mbak Anjani, ke arah adiknya, dengan nada seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu. “Tuh.”
“Iya, Mbak.”
“Kamu belajar.”
“Iya, Mbak.”
Bu Rahayu tidak berkomentar sepanjang percakapan itu.
Aku baru menyadarinya kemudian, saat mencuci piring di dapur — kewajiban yang tidak tertulis di pasal mana pun tapi yang kulakukan karena Nadia bilang itu poin besar.
Bu Rahayu masuk, membawa dua gelas, dan berdiri di sebelahku.
“Angel.”
“Iya, Bu.”
“Kamu itu detail sekali, ya.”
Air keran mengalir.
“Pekerjaan saya begitu, Bu.”
“Auditor, ya. Arsa bilang.” Dia meletakkan gelasnya di bak. “Enak dong. Kalau ada yang nggak beres, kelihatan.”
“Kurang lebih, Bu.”
“Ibu dulu bendahara arisan dua belas tahun.” Dia mengambil lap. “Sampai sekarang masih. Nggak pernah ada selisih satu rupiah pun.”
Aku menoleh sedikit.
Dia sedang mengelap gelas, memandang ke arah jendela dapur, dan senyumnya masih ada di tempatnya seperti biasa.
“Jadi Ibu tahu,” katanya, “kalau ada angka yang dipaksakan supaya kelihatan pas.”
Piring di tanganku terasa sangat licin tiba-tiba.
“Bu—”
“Nenek suka sama kamu,” katanya, memotong tanpa terdengar memotong. “Itu jarang. Nenek nggak suka sama mantannya Anjani dulu. Sudah ketahuan dari minggu pertama, dan ternyata bener.”
Dia meletakkan gelas yang sudah kering.
“Sabtu depan datang lagi ya.”
Dan keluar dari dapur.
Aku berdiri di depan bak cuci selama mungkin dua puluh detik, dengan keran masih mengalir, sebelum aku ingat bahwa air itu ada biayanya.
Arsa mengantarku sampai jalan besar.
Kami berjalan di gang yang sama dengan minggu lalu, melewati mulut gang belakang bengkel yang lampunya masih berdengung, dan tidak ada satu pun dari kami yang menoleh ke sana.
“Pasal 2,” kataku.
“Nanti saya baca.”
“Mas Arsa, itu isinya cuma dua halaman.”
“Iya.”
“Dan Mas sudah bilang ‘nanti di jalan’ tadi pagi.”
“Tadi di jalan saya nyetir.”
“Mas naik motor.”
“Iya. Nyetir motor.”
Aku berhenti berjalan.
Dia berhenti dua langkah kemudian, dan menoleh.
“Mas Arsa. Saya sudah hafal empat belas nama. Saya hafal Om Dedi tidak suka ditanya soal anaknya yang di Surabaya. Saya hafal Tante Endah harus dijawab dalam waktu dua jam atau dia akan telepon Ibu. Saya hafal riwayat penyakit Nenek — dua, hipertensi dan katarak sebelah kiri, sudah dioperasi tahun lalu.”
“Iya.”
“Dan Mas belum baca dua halaman.”
Dia memasukkan tangan ke saku. Memandangku dengan tenang, dengan cara yang sama sekali tidak merasa perlu membela diri.
“Angelica,” katanya. “Kamu hafal semua itu dalam sepuluh hari?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena itu Pasal 3.”
“Bukan.”
Aku mengerjap.
“Pasal 3 minta empat belas nama sama tiga tanggal ulang tahun,” katanya. “Kamu tahu Tante Endah harus dijawab dalam dua jam. Itu nggak ada di pasal mana pun.”
Lampu jalan di ujung gang berdengung.
“Itu efisiensi,” kataku.
“Hm.”
“Kalau Tante Endah menelepon Ibu, Ibu akan menelepon Mas, dan Mas akan menelepon saya. Tiga telepon. Kalau saya balas dalam dua jam, nol telepon.”
“Hm.”
“Mas Arsa, itu perhitungan yang sangat sederhana.”
“Iya,” katanya. “Kamu ngomongnya panjang lagi.”
Dia berbalik dan melanjutkan jalan.
Aku berdiri di tengah gang selama dua detik, dengan mulut setengah terbuka, sebelum menyusul.
Di angkot, jam delapan malam, ponselku bergetar.
Arsa Bengkel: Pasal 2 sudah saya baca.
Angelica Prameswari: Sekarang?
Arsa Bengkel: Sekarang.
Arsa Bengkel: Poin 2.4 itu apa maksudnya “menyediakan kehadiran fisik pada acara yang membutuhkan pendamping”
Angelica Prameswari: Artinya Mas datang kalau saya minta.
Arsa Bengkel: Ya tulis gitu dong
Angelica Prameswari: Itu tidak presisi.
Arsa Bengkel: Itu lebih pendek
Arsa Bengkel: Kapan acaranya
Aku menatap layar itu, di angkot yang berhenti di lampu merah yang sama dengan sepuluh hari lalu.
Senin lusa, Wisnu Aditama mulai bekerja sebagai kepala divisiku.
Hari Jumat ada makan siang perkenalan divisi. Boleh bawa pasangan. Aku sudah membaca undangannya empat kali dan sudah menulis tiga versi alasan untuk tidak datang.
Angelica Prameswari: Jumat. Makan siang kantor.
Arsa Bengkel: Oke.
Arsa Bengkel: Saya pakai baju apa
Jumlah kata: ±1.750
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa reading
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7