Chapter Five

Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit

POV: Angelica


Ponselku bergetar jam 06.02 hari Minggu.

Bukan getar biasa. Getar berturut-turut, yang membuat benda itu berjalan sendiri di atas nakas seperti sedang berusaha kabur.

Anda ditambahkan ke grup “KELUARGA BESAR WIJAYA 🏡❤️”

Aku menatap layar itu dengan satu mata masih tertutup.

Anda ditambahkan oleh: Bowo Wijaya

Ada 84 anggota.


Aku sudah membayangkan banyak cara kesepakatan ini bisa berantakan. Aku menuliskannya, bahkan — halaman enam, bagian Risiko, delapan poin dengan tingkat kemungkinan dan dampak.

Poin 1: Salah satu pihak keceplosan. Poin 2: Ada pihak yang mengenal kedua lingkaran sosial. Poin 3: Media sosial.

Tidak ada poin yang berbunyi Ditambahkan ke grup WhatsApp keluarga besar oleh om yang belum pernah bertemu denganmu.

Karena itu bukan risiko. Itu bencana alam.

Aku membuka grupnya.

Pesan pertama, dikirim empat menit sebelumnya, dari Bowo Wijaya. Sebuah foto.

Foto itu diambil dari kejauhan, agak miring, jelas dari dalam mobil. Di dalamnya: teras rumah Bu Rahayu, jam setengah delapan malam, dan dua orang berdiri di depan pot lidah mertua. Salah satunya aku. Satunya Arsa. Bu Rahayu ada di ambang pintu, memegang tanganku dengan dua tangan.

Captionnya:

Bowo Wijaya: Alhamdulillah 🙏 CALON 🙏 Mohon doanya semua

Dan di bawahnya, sembilan menit terakhir umat manusia.


Rina (sepupu 2): YA ALLAH ARSAAAA

Rina (sepupu 2): AKHIRNYA

Tante Endah: Alhamdulillah. Cantik sekali. Orang mana?

Bowo Wijaya: Belum tanya

Tante Endah: Lho kok belum tanya

Rina (sepupu 2): namanya siapa om

Bowo Wijaya: Angelica

Tante Endah: Nasrani?

Bowo Wijaya: Belum tanya

Tante Endah: Bowo.

Yudha (sepupu 1): anjir arsa duluan

Yudha (sepupu 1): ini serius apa becanda

Rina (sepupu 2): serius bang ada di teras rumah ibu

Yudha (sepupu 1): ANJIR

Om Dedi: Selamat ya Arsa. Bengkelnya sudah stabil berarti.

Tante Endah: Bengkelnya beda soal, Ded.

Om Dedi: Ya kan biasanya nunggu stabil.

Tante Endah: Ya nggak juga.

Om Dedi: Ya biasanya.

Rina (sepupu 2): om jangan mulai

Bowo Wijaya: Saya sudah add orangnya ke grup ini ya

Bowo Wijaya: @Angelica selamat bergabung 🙏🌹🌹🌹

Yudha (sepupu 1): OM

Rina (sepupu 2): OM BOWO

Rina (sepupu 2): ORANGNYA DI SINI???

Tante Endah: Astaghfirullah.

Lalu, selama empat puluh detik, tidak ada apa-apa.

Delapan puluh empat orang, hening secara serentak.

Aku duduk di tepi kasur, jam enam pagi hari Minggu, memandang layar yang berhenti bergerak, dan merasakan tatapan delapan puluh empat orang yang tidak satu pun pernah kutemui.

Tante Endah: Halo Angelica. Salam kenal ya Nak.


Aku menelepon Arsa jam 06.14.

Dia mengangkat di dering kelima dengan suara orang yang sedang berdiri di suatu tempat dan tidak percaya.

“Kamu sudah lihat?”

“Saya di dalamnya, Mas.”

“Iya. Saya juga baru sadar.” Ada suara langkah. Suara kunci. “Saya ke rumah Ibu sekarang.”

“Untuk apa?”

“Ngomong sama Om Bowo.”

“Om Bowo tinggal di mana?”

“Bekasi.”

“Jadi Mas mau ke rumah ibu Mas, untuk menelepon om Mas yang di Bekasi.”

Jeda.

“Iya,” katanya.

“Mas Arsa, keluar dari grup itu bukan solusi juga. Kalau saya keluar sekarang, sistemnya akan mengumumkan. Angelica keluar. Delapan puluh empat orang akan melihat notifikasi itu.”

“Iya.”

“Dan mereka akan bertanya ke Ibu.”

“Iya.”

“Dan Ibu akan bertanya ke Mas.”

“Iya.”

Aku memijat pangkal hidungku.

“Pasal 6,” kataku.

“Kenapa Pasal 6?”

“Pengakhiran. Pemberitahuan tertulis tujuh hari.” Aku menatap dinding kamar kos. “Mas, kalau kita mengakhiri ini bulan depan, apa yang terjadi di grup itu?”

Hening di seberang.

“Delapan puluh empat orang,” kataku, “sudah tahu wajah saya. Sudah tahu nama saya. Sudah mengucapkan selamat. Om Dedi sudah bicara soal kestabilan bengkel Mas. Tante Endah sudah menanyakan saya orang mana. Kalau kita putus, mereka tidak akan bertanya kenapa kita putus. Mereka akan bertanya siapa yang salah.”

“Angelica—”

“Dan jawabannya akan salah satu dari kita.”

Aku mendengar dia menarik napas.

“Ini nggak ada di risiko halaman enam, ya,” katanya.

“Tidak ada.”

“Kamu bikin delapan poin.”

“Saya tahu berapa poin yang saya bikin, Mas Arsa.”


Pukul 08.30, ponselku sudah tidak berhenti sejak dua jam.

Aku sudah dikirimi: tiga stiker bunga, dua pesan suara dari Tante Endah (total sembilan menit, isinya sebagian besar tentang cucunya), satu undangan pernikahan sepupu di Sukabumi bulan November, dan satu pesan pribadi dari Yudha yang berbunyi mbak jujur aja arsa maksa ya.

Nadia datang jam sembilan dengan dua bungkus bubur dan wajah orang yang sudah menunggu ini seumur hidupnya.

“Kasih lihat.”

“Nggak.”

“Angel.”

“Ini grup keluarga orang.”

“Angel, kamu jam dua pagi kemarin bikin tabel durasi ciuman dalam satuan detik dan aku nggak komentar apa-apa.” Dia mengulurkan tangan. “Kasih. Lihat.”

Aku menyerahkan ponselku.

Nadia membaca selama satu menit penuh, dan sepanjang menit itu wajahnya melewati kira-kira lima fase yang berbeda, dan berakhir di fase yang paling tidak kusukai.

“Angel,” katanya pelan. “Kamu nggak bisa keluar dari sini.”

“Saya tahu.”

“Nggak. Aku nggak lagi ngomong soal grup WA-nya.” Dia membalik layar itu ke arahku. “Om Dedi ngomongin bengkel cowoknya. Tante Endah ngomongin agama kamu. Ada undangan kondangan November. Angel, ini bukan grup. Ini kalender.”

Aku mengambil ponselku kembali.

Di bawah, pesan baru masuk.

Bu Rahayu: Angel, jangan dijawab semua ya. Nanti capek. Ibu sudah tegur Bowo.

Bu Rahayu: Ibu bilang jangan buru-buru. Anak orang.

Bu Rahayu: Nanti Sabtu ke rumah lagi ya, Nenek nanyain.

Aku menatap tiga pesan itu.

“Nad.”

“Hm.”

“Menurut kamu, kalimat ‘jangan buru-buru, anak orang’ itu bunyinya seperti orang yang mau memperlambat?”

Nadia mengambil buburnya. Mengaduk. Berpikir.

“Bunyinya,” katanya, “seperti orang yang mau kamu tahu bahwa dia yang pegang remnya.”


Arsa datang ke kos jam empat sore, membawa map plastik dan wajah orang yang tidak tidur siang padahal harusnya bisa.

Kami duduk di teras kos, di kursi plastik, di bawah pohon mangga tetangga yang menjatuhkan sesuatu setiap dua menit.

Dia mengeluarkan kontraknya. Yang dilipat dua kali seperti struk itu.

“Pasal 6,” katanya, membuka halaman.

“Saya sudah bilang, itu—”

“Saya nggak mau menghapusnya.”

Aku menutup mulut.

“Biar ada,” katanya. “Biar tertulis kamu bisa keluar.”

“Mas, secara praktis pasal itu sudah tidak berfungsi.”

“Iya.” Dia melipat kertas itu kembali. “Tapi kamu yang nulis. Dan waktu kamu nulis, kamu ngasih diri kamu pintu.”

Dia memasukkannya ke saku belakang.

“Saya nggak mau jadi orang yang nutup pintu itu,” katanya.

Sebuah mangga jatuh di halaman.

Aku memandang lantai teras yang retak di dua tempat dan berpikir, dengan sangat jernih, bahwa aku harus mengatakan sesuatu yang praktis sekarang juga.

“Sabtu depan,” kataku, “saya harus datang lagi. Nenek menanyakan.”

“Iya.”

“Dan bulan depan arisan.”

“Iya.”

“Dan November ada kondangan di Sukabumi.”

“Sukabumi?”

“Sepupu Mas. Namanya Rina. Yang huruf kapital semua.”

Arsa memejamkan mata sebentar.

“Berarti kita sampai November,” katanya.

“Minimal.”

“Oke.”

“Oke.” Aku membuka aplikasi kalender. Aku merasa jauh lebih baik dengan aplikasi kalender terbuka. “Saya akan buat jadwal. Frekuensi kemunculan, lokasi, dan durasi. Supaya tidak ada acara yang terlewat dan tidak ada acara yang berlebihan.”

“Berlebihan itu gimana?”

“Kalau terlalu sering, ekspektasi naik terlalu cepat.”

“Hm.” Dia menyandarkan punggung ke kursi plastik yang berdecit. “Terus kalau terlalu jarang?”

“Mereka curiga.”

“Jadi ada rentang.”

“Ada rentang.”

“Berapa?”

Aku sudah menghitungnya di angkot semalam.

“Dua sampai tiga kali seminggu,” kataku.

Arsa mengangguk pelan. Dia memandang halaman kos, pohon mangga itu, kucing tetangga yang lewat.

“Dua sampai tiga kali seminggu,” katanya, “selama tujuh bulan.”

“Ya.”

“Angelica.”

“Ya.”

“Itu bukan pacaran palsu. Itu jadwal orang pacaran.”

Aku membuka mulut untuk membantah dengan penjelasan yang, aku yakin, akan sangat panjang dan sangat meyakinkan.

Lalu aku menutupnya lagi.

Karena aku ingat kalimatnya sendiri, dua hari lalu, di warung Bu Yanti: kamu ngomongnya jadi panjang kalau bohong, ya.

“Saya akan kirim jadwalnya nanti malam,” kataku.

“Oke.”

“Format Excel.”

“Ya Tuhan.”


Malam itu, jam sebelas, aku membuka file jadwal dan mengisi tujuh bulan ke depan.

Sabtu makan malam. Arisan bulan depan. Kondangan November. Servis motor tiap dua minggu — itu bukan bagian jadwal, tapi kumasukkan juga karena, secara teknis, itu kunjungan.

Total 61 baris.

Aku menyimpannya. Lalu duduk memandang layar itu.

Enam puluh satu baris. Enam puluh satu kali aku akan berada di ruangan yang sama dengan orang yang membersihkan tangki motor ayahku dengan sikat gigi jam sebelas malam.

Aku menutup laptop.

Aku membukanya lagi.

Aku mengubah kolom judul dari JADWAL PELAKSANAAN KEWAJIBAN menjadi JADWAL, tanpa alasan yang bisa kujelaskan kepada siapa pun, termasuk kepada diriku sendiri.


Jumlah kata: ±1.930