Chapter Twenty Five
Bab 25 — Februari Lewat
POV: Angelica
Februari lewat.
Tidak ada yang terjadi.
Itu bukan cara bercerita yang bagus, aku tahu. Kalau ada tenggat, seharusnya ada sesuatu di tenggat itu. Kalau seorang ibu berdiri di tengah gang pada bulan November dan berkata Februari, maka pada bulan Februari seharusnya ada telepon, atau pertanyaan di meja makan, atau setidaknya satu pesan di grup keluarga yang diawali dengan emoji tangan berdoa.
Tidak ada.
Tanggal 1 Februari: tidak ada.
Tanggal 14 Februari: Bu Rahayu mengirim foto bunga sedap malam di halaman rumahnya ke grup, dengan caption “mekar”, dan tujuh orang membalas.
Tanggal 28 Februari: tidak ada.
Aku memeriksa ponselku tiga kali hari itu.
Aku bahkan datang makan malam hari Sabtu terakhir bulan Februari dengan seluruh sistem pertahanan menyala — dengan tiga jawaban siap dan satu strategi pengalihan dan satu kalimat cadangan kalau Nenek Sumi bertanya lagi.
Nenek Sumi bertanya soal harga cabai.
Bu Rahayu bertanya apakah kosku bocor kalau hujan.
Dan itu saja.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
Kami di bengkel, malam Minggu, awal Maret. Aku duduk di kursi lipat. Dia sedang membersihkan meja kerja, yang dia lakukan setiap Sabtu malam dengan urutan yang selalu sama.
“Ibu Mas nggak menyinggung Februari sama sekali.”
“Iya.”
“Sama sekali.”
“Iya.”
“Mas nggak curiga?”
Arsa berhenti mengelap.
“Curiga,” katanya.
“Terus?”
“Terus saya tanya.”
Aku menoleh. “Mas tanya?”
“Iya. Hari Kamis. Waktu nganter beras.”
“Dan?”
Dia melipat lapnya dan menggantungnya di paku.
“Ibu bilang,” katanya, “‘kamu inget ya, Ibu bilang Ibu nggak akan maksa lagi setelah itu’.”
“Itu saja?”
“Itu saja.”
Aku memandang lantai bengkel.
Dan sesuatu di bagian belakang kepalaku — bagian yang delapan tahun terakhir dilatih untuk merasa tidak nyaman ketika dua angka yang seharusnya sama ternyata sama persis — mulai berdengung pelan.
Karena orang yang menekan selama empat bulan tidak berhenti menekan begitu saja.
Orang yang menekan selama empat bulan berhenti menekan kalau dia sudah mendapatkan apa yang dia mau.
Bulan Maret di kantor berlangsung seperti ini.
Wisnu pergi tanggal 8.
Tanggal 11, aku duduk di ruang rapat yang sama untuk rapat mingguan, dan kursi kepala divisi kosong karena penggantinya belum ditunjuk, dan sembilan orang duduk melingkar dan tidak ada yang membuka rapat selama dua menit penuh.
Bu Vera akhirnya berkata, “Ya udah, kita mulai aja ya.”
Dan kemudian rapat itu berjalan, dan pada menit kesepuluh, seseorang dari tim renegosiasi — namanya Adit, dua puluh empat tahun, sudah dua tahun di sini — menyampaikan progres.
Aku bertanya satu pertanyaan.
Pertanyaan yang wajar. Pertanyaan yang akan kutanyakan kepada siapa pun. Soal sumber angka.
Dan Adit menjawabnya dengan cepat, terlalu cepat, dan dengan tambahan di akhir yang tidak diminta siapa pun:
“Sumbernya dari HR, Mbak. Yang sudah disesuaikan. Yang C-3.”
Ruangan tertawa.
Kecil. Sopan. Selesai dalam dua detik.
Dan aku ikut tersenyum, karena itu yang harus dilakukan, dan karena secara teknis itu memang lucu.
Yang tidak lucu adalah tiga minggu berikutnya.
Tidak ada yang jahat kepadaku. Aku ingin sangat jelas soal ini, karena bagian tersulit dari menceritakannya adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian yang bisa kutunjuk.
Yang ada:
Orang mengoreksi diri sendiri saat aku lewat.
Adit mengirimkan draf kepadaku dengan surel yang diawali “Mbak Angel, mohon dikoreksi kalau ada yang kurang tepat” — kalimat yang sepenuhnya sopan, sepenuhnya benar, dan yang tidak pernah dia pakai sebelum bulan Januari.
Bu Vera, yang selama tiga tahun makan siang denganku setiap hari Kamis, mulai punya urusan pada hari Kamis.
Dan pada rapat tanggal 22 Maret, seseorang dari Bagian Pengadaan — yang tidak pernah bekerja denganku, yang mungkin bahkan tidak tahu namaku sampai bulan Januari — berkata, sambil bercanda, kepada orang di sebelahnya, dengan volume yang cukup:
“Hati-hati, ada auditor.”
Dan semua orang tertawa.
Dan aku tertawa.
Aku pulang jam tujuh malam tanggal 22 Maret.
Aku tidak menelepon siapa pun. Aku tidak mengirim pesan kepada siapa pun. Aku tidak menulis apa pun di grup mana pun.
Aku turun lift, aku menyeberangi lobi, dan aku memikirkan bahwa aku harus mampir minimarket karena sabun cuci mukaku habis.
Dan Arsa duduk di kursi tunggu dekat resepsionis.
Aku berhenti di tengah lobi.
Dia berdiri.
“Mas Arsa.”
“Sudah selesai?”
“Kenapa Mas di sini?”
“Nggak apa-apa.”
“Nadia yang bilang?”
“Nggak.”
“Mas Arsa—”
“Nadia lagi di Semarang. Sejak Senin.” Dia memasukkan ponselnya ke saku. “Dinas.”
Aku berdiri di lobi itu dengan tas di bahu.
“Terus siapa yang bilang?”
“Nggak ada.”
“Nggak ada?”
“Nggak ada.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Saya cuma dateng.”
“Sejak jam berapa?”
“Enam.”
“Satu jam.”
“Iya.”
“Mas Arsa, kalau nggak ada yang bilang, kenapa Mas dateng?”
Dia menggosok belakang lehernya.
“Kamu Sabtu kemarin,” katanya, “duduk di kursi lipat empat jam.”
“Saya sering duduk empat jam.”
“Iya. Tapi biasanya kamu ngetik.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Sabtu kemarin kamu buka laptop jam satu, terus jam lima laptopnya masih di halaman yang sama.” Dia memandangku. “Saya lihat pas lewat.”
“Mas menghitung?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu kalau ada apa-apa, kamu nggak cerita.” Dia mengangkat bahu lagi. “Kamu ngerapiin. Terus kamu diem. Terus tiga minggu kemudian kamu cerita satu kalimat pas lagi ngomongin hal lain.”
Aku memandang lantai lobi yang mengkilap.
“Jadi saya nggak nunggu diceritain,” katanya. “Saya dateng aja.”
Kami makan di warung tenda yang sama.
Bangku plastik yang goyang di satu kaki. Es teh tanpa gula. Tempat sambal dipindahkan ke sisi kananku tanpa diminta.
Aku tidak bercerita selama dua puluh menit.
Arsa tidak bertanya.
Pada menit kedua puluh tiga, aku berkata:
“Nggak ada yang jahat sama saya.”
“Oke.”
“Sungguh. Tidak ada satu pun kejadian yang bisa saya sebutkan. Semua orang sopan. Semua orang normal.”
“Oke.”
“Cuma—”
Aku memutar gelas.
“Cuma sekarang saya bukan Angel dari Audit Internal,” kataku. “Sekarang saya orang yang bikin kepala divisinya pindah.”
Arsa meletakkan sendoknya.
“Dan itu benar,” lanjutku. “Itu memang saya. Saya tidak bisa bilang itu tidak adil, karena itu memang terjadi, dan saya memang yang melakukannya, dan saya melakukannya dengan sengaja.”
“Iya.”
“Jadi saya tidak punya alasan untuk merasa—”
Aku berhenti.
“Merasa apa?” tanyanya.
“Sendirian,” kataku.
Warung tenda itu berisik. Ada kipas angin. Ada penggorengan. Ada televisi kecil di sudut yang menayangkan berita tanpa ada yang menonton.
“Angelica.”
“Hm.”
“Kamu tahu kenapa saya nggak pernah nagih ongkos per jam?”
Aku menoleh. “Apa hubungannya?”
“Jawab dulu.”
“Karena Mas pakai harga borongan.”
“Bukan itu.” Dia menyandarkan siku ke meja. “Karena kalau saya nagih per jam, orang bakal ngitung. Terus mereka bakal minta saya kerja lebih cepet. Terus saya bakal kerja lebih cepet. Terus tiga bulan lagi kabelnya putus di tengah jalan.”
“Mas Arsa—”
“Kamu bener,” katanya. “Kamu emang yang bikin dia pindah. Itu bener.”
“Iya.”
“Tapi kamu nggak bikin dia ngambil kerjaan kamu.”
Aku memandangnya.
“Dia yang ngelakuin itu,” katanya. “Kamu cuma nulis catatan kaki di halaman dua puluh dua enam bulan sebelumnya, waktu kamu bahkan belum kenal dia sebagai atasan.”
Dia mengambil sendoknya lagi.
“Orang-orang di kantor kamu ngeliat empat belas menit,” katanya. “Mereka nggak liat lima minggu kamu buka dua ratus enam puluh nota.”
Aku menangis di warung tenda pinggir jalan pada pukul delapan malam hari Rabu, di bangku plastik yang goyang di satu kaki, sambil memegang sendok.
Tidak keras. Tidak lama. Empat puluh detik, mungkin.
Arsa tidak menyodorkan tisu.
Dia memanggil ke arah penjualnya.
“Mas, es tehnya satu lagi. Yang manis.”
Dan meletakkannya di depanku.
“Saya nggak minum yang manis,” kataku, serak.
“Iya,” katanya. “Tapi hari ini kamu boleh nggak tidur.”
Aku menyeka wajah dengan punggung tangan.
“Mas sudah pernah bilang itu.”
“Iya.”
“Bulan November.”
“Iya.”
“Persis kalimat yang sama.”
Arsa mengangkat bahu.
“Kalimatnya masih benar,” katanya.
Malam itu, di kos, aku membuka JADWAL.
Enam puluh dua baris, yang terakhir diperbarui bulan Desember.
Aku menggulirnya sampai ke bawah, ke baris kosong pertama, dan aku mengetik satu hal yang seharusnya sudah kutulis sejak bulan September:
Bengkel — 2 sampai 3 kali seminggu — tanpa acara — tanpa alasan.
Lalu aku menghapus tiga kolom terakhir dari seluruh tabel: Tujuan, Durasi, dan Keterangan Pelaksanaan.
Yang tersisa cuma dua kolom.
Tanggal.
Dan tempat.
Jumlah kata: ±1.740
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat reading
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7