Chapter Twenty Eight

Bab 28 — Tiga Bulan

POV: Angelica


ARC 3


Surat itu datang hari Rabu, 8 Mei, diantar oleh seorang laki-laki bertopi yang meminta tanda tangan Arsa di sebuah buku kecil dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku ada di sana. Kursi lipat. Laptop. Sore.

Arsa membuka amplopnya sambil berdiri, membacanya sambil berdiri, dan tidak berkata apa-apa selama mungkin empat puluh detik.

Lalu dia melipatnya kembali, memasukkannya ke amplop, dan meletakkannya di meja kerja.

“Fahri.”

“Iya, Mas?”

“Motor Pak Herman yang kedua, jadwalnya minggu depan?”

“Iya, Mas.”

“Geser ke minggu ini.”

“Bisa, Mas?”

“Bisa. Telepon beliau.” Dia mengambil lap. “Bilang saya bisa mulai Jumat.”

Fahri mengambil ponselnya dan pergi ke belakang.

Dan aku duduk di kursi lipat dan tidak membuka mulut selama tiga menit, karena delapan tahun bekerja dengan dokumen mengajarkan satu hal: kalau seseorang membaca sesuatu selama empat puluh detik dan kemudian langsung mempercepat jadwal, isi surat itu bukan kabar baik.


“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Surat apa?”

“Nanti.”

“Mas Arsa.”

Dia menggantung lapnya di paku.

“Angelica, saya lagi mikir.”

“Baik.” Aku menutup laptop. “Saya tunggu.”

Dan aku duduk di kursi lipat itu selama empat puluh menit, dengan laptop tertutup di pangkuan, sementara dia bekerja.

Dia tahu aku menunggu. Aku tahu dia tahu.

Pada menit keempat puluh tiga, dia meletakkan obeng.

“Ruko ini dijual,” katanya.


Isi surat itu, dalam bahasa yang jauh lebih panjang:

Pemilik ruko, Bapak Hendra Sulistyo, berusia enam puluh delapan tahun, telah memutuskan untuk menjual bangunan di Jalan Raya Pemuda Nomor 47 beserta tanahnya.

Penyewa yang ada, sesuai Pasal 9 perjanjian sewa, diberikan hak penawaran pertama selama tiga puluh hari sejak surat ini diterima.

Harga yang ditawarkan tercantum di paragraf keempat.

Apabila penyewa tidak menggunakan hak tersebut, sewa akan berakhir pada tanggal 8 Agustus, atau tiga bulan sejak tanggal surat, mana yang lebih dahulu.


“Berapa harganya?”

Arsa menyebut angka.

Aku duduk di kursi lipat.

Aku bukan orang yang gugup soal angka. Angka adalah tempat yang paling nyaman bagiku di dunia. Aku bisa membaca laporan keuangan setebal seratus halaman dan tidur nyenyak.

Angka itu membuat perutku dingin.

“Itu—”

“Iya.”

“Itu harga pasar.”

“Iya.”

“Itu bukan harga teman.”

“Bukan.”

“Pak Hendra sudah menyewakan ini ke Mas berapa lama?”

“Empat tahun.”

“Dan dia tidak memberi diskon.”

“Angelica.” Arsa mengambil amplop itu, membaliknya di tangan. “Pak Hendra itu baik. Dia nggak pernah naikin sewa empat tahun. Sekali pun.”

“Tapi—”

“Anaknya di Australia. Dia mau pindah ke sana.” Dia meletakkan amplopnya. “Kalau dia kasih saya diskon, dia rugi. Dan dia enam puluh delapan tahun dan mau ketemu cucunya.”

Aku menutup mulut.

“Ini bukan orang jahat,” katanya. “Ini cuma orang yang punya urusan sendiri.”


Aku menghitung.

Tentu saja aku menghitung. Aku menghitungnya malam itu juga, di kos, di spreadsheet baru, dengan empat skenario.

Skenario 1: beli. Uang muka minimal tiga puluh persen. Sisanya kredit dua belas tahun dengan bunga yang, kalau kuhitung, akan membuat Arsa membayar hampir dua kali lipat. Untuk mengajukan kredit, dia butuh laporan keuangan usaha tiga tahun terakhir dan agunan. Agunannya adalah ruko itu sendiri, yang belum dia miliki. Tidak mungkin tanpa uang muka.

Skenario 2: pindah ke ruko lain di area yang sama. Aku mencari selama dua jam. Ada empat. Harga sewa naik antara enam puluh sampai seratus persen dibanding yang dia bayar sekarang, karena Pak Hendra tidak pernah menaikkan sewa selama empat tahun dan pasar sudah bergerak tanpa mereka berdua menyadarinya. Mungkin. Tapi margin bengkel hilang.

Skenario 3: pindah ke area yang lebih jauh. Sewa turun. Pelanggan hilang. Fahri harus naik dua angkot. Mungkin.

Skenario 4: tutup. Aku mengetik nomor empat.

Aku menatapnya selama beberapa detik.

Aku menghapusnya.

Lalu aku mengetiknya lagi, karena tidak menuliskan sesuatu tidak membuatnya berhenti ada, dan karena aku sudah delapan tahun menjadi orang yang menuliskan hal-hal yang tidak ingin dilihat orang lain.


Aku datang ke bengkel hari Sabtu dengan spreadsheet.

Arsa melihat laptopku dan menghela napas sebelum aku membukanya.

“Angelica.”

“Empat skenario.”

“Angelica.”

“Saya sudah cek harga sewa empat ruko dalam radius dua kilometer. Saya sudah hitung margin Mas berdasarkan—”

“Kamu tahu margin saya?”

Aku berhenti.

“Perkiraan,” kataku.

“Dari mana?”

“Dari papan tulis.”

Arsa menoleh ke papan tulis putih di dinding.

“Sembilan antrean,” kataku. “Rata-rata waktu pengerjaan lima sampai enam minggu. Harga borongan Mas saya tahu dari nota saya sendiri. Komponen impor sekitar enam puluh persen dari biaya, itu Mas yang bilang bulan Desember. Gaji Fahri saya perkirakan dari UMR ditambah sedikit karena Mas tipe yang menambah sedikit.”

Bengkel itu hening.

“Sewa Mas,” lanjutku, “saya tahu dari amplop yang Mas taruh di meja hari Rabu, karena angkanya ada di paragraf kedua, dan saya membacanya dari jarak satu setengah meter tanpa Mas izinkan, dan saya minta maaf untuk itu.”

Fahri, dari sudut ruangan, berkata sangat pelan:

“Sumpah, Mas. Mbak Angel serem.”


Arsa duduk di kursi kerja.

Dia memandang laptopku, yang belum kubuka, dan yang layarnya masih tertutup di atas meja.

“Buka,” katanya.

Aku membukanya.

Kami membacanya bersama selama dua puluh menit. Dia mengoreksi tiga angka — biaya listrik lebih besar dari perkiraanku, karena kompresor; biaya komponen lebih kecil, karena dia beli dalam jumlah; dan gaji Fahri lebih besar dari perkiraanku, yang membuatku menoleh dan membuat Arsa berkata “dia anak orang” dan tidak menjelaskan lebih lanjut.

Setelah dikoreksi, kesimpulannya tidak berubah.

“Skenario satu tidak mungkin,” kataku.

“Iya.”

“Kecuali ada uang muka.”

“Iya.”

“Berapa yang Mas punya?”

Dia menyebut angka.

Aku menatap layar.

“Itu dua belas persen.”

“Iya.”

“Mas butuh tiga puluh.”

“Iya.”

Aku memandang kolom di layar itu — kolom yang sudah kuisi semalam, kuhapus, dan kuisi lagi.

“Kalau saya—”

“Nggak.”

Aku belum selesai bicara.

“Mas Arsa, Mas belum dengar—”

“Nggak,” katanya lagi.

“Saya punya tabungan.”

“Saya tahu.”

“Mas tahu?”

“Kamu delapan tahun kerja, kos, nggak punya kendaraan, dan kamu orang yang nyimpen STNK motor mati sebelas tahun sambil bayar pajaknya.” Dia mengangkat bahu. “Kamu punya tabungan.”

“Jadi—”

“Nggak, Angelica.”

“Kenapa?”

Dan dia menoleh, dan ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat.

“Karena kalau kamu masuk ke sini pakai uang,” katanya, “kamu nggak bisa keluar lagi.”


Kami tidak membicarakannya lagi selama sisa hari itu.

Kami membicarakan hal lain. Kami membicarakan Fahri, yang harus diberi tahu, dan kapan. Kami membicarakan sembilan pelanggan di papan tulis, yang harus diselesaikan sebelum 8 Agustus. Kami membicarakan Pak Herman, yang motor keduanya digeser ke minggu ini.

Dan kami membicarakan C70.

“Motornya sudah selesai,” katanya.

Aku menoleh.

“Apa?”

“Sudah selesai.” Dia mengangkat dagu ke arahnya. “Uji jalan tiga kali. Surat-suratnya sudah saya urus bulan Februari. Tinggal kamu bawa pulang.”

Aku memandang motor itu.

Biru yang sudah jadi abu-abu. Jok yang ditambal lakban hitam. Lampu bulat yang kacanya menguning.

“Sejak kapan?”

“Februari.”

“Februari.”

“Iya.”

“Tiga bulan.”

“Iya.”

Aku menoleh padanya.

Dan aku sudah menyiapkan sesuatu yang tajam, dan sesuatu yang tajam itu mati di tenggorokanku ketika aku melihat wajahnya.

Karena dia tidak sedang mengulur.

Dia sedang menunggu aku menanyakannya.

Dan aku tidak pernah menanyakannya, selama tiga bulan, karena aku juga tidak mau tahu.


“Mas Arsa.”

“Ya.”

“Kalau bengkel ini tutup,” kataku, “motor saya di mana?”

Dia tidak menjawab.

“Kalau bengkel ini tutup,” ulangku, “dan Mas pindah dua puluh kilometer, dan saya kerja jam delapan sampai enam—”

“Angelica.”

“Saya cuma bertanya.”

“Kamu nggak lagi nanya soal motor.”

Aku menutup mulut.

Kompresor menyala.

Dua puluh detik.

Mati.

“Delapan Agustus,” kataku.

“Iya.”

“Itu persis satu tahun kurang delapan belas hari dari tanggal 26 Agustus.”

Arsa menoleh.

“Kamu ngitung itu kapan?”

“Barusan.”

“Angelica.”

“Barusan, Mas Arsa. Sungguh.”

Dan itu benar.

Aku menghitungnya barusan, dalam waktu kurang dari dua detik, tanpa kalkulator, karena ada bagian dari otakku yang tidak pernah berhenti dan yang sekarang sedang melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya ketika sesuatu yang penting sedang bergerak menuju tanggal.

Ia menghitung mundur.


Jumlah kata: ±1.910