Chapter Thirty Two

Bab 32 — Sembilan Jam

POV: Angelica


Aku memberitahu Arsa pada malam yang sama, pukul 20.20, di bengkel, sambil berdiri.

Aku menceritakannya berurutan, seperti aku menyampaikan temuan: tanggal, sumber, dan angka, tanpa penilaian.

Pak Hendra. Tiga bulan tunggakan. Amplop. Empat tahun sewa yang tidak pernah naik.

Arsa berdiri di depan meja kerja dan mendengarkan sampai selesai.

Lalu dia berkata satu kata.

“Berapa?”

Aku menyebut angka.

Dan Arsa Pramudya, yang tidak pernah meninggikan suara kepadaku kecuali satu kali di gang pada bulan November, menarik kursi kerjanya dan duduk.


Dia diam selama empat menit.

Aku tahu karena aku melihat jam dinding di atas papan tulis putih.

Empat menit penuh, tanpa berkata apa-apa, tanpa bergerak, memandang lantai bengkel yang disapu setiap pagi.

“Mas Arsa.”

“Sebentar.”

“Iya.”

“Sebentar, Angelica.”

Aku menunggu.

Pada menit keenam, dia berkata:

“Tahun lalu.”

“Iya.”

“Bulan Juni.”

“Pak Hendra bilang habis lebaran.”

“Bulan Juni.” Dia mengangguk ke lantai. “Saya inget. Saya telat tiga bulan karena ada pelanggan yang batal di tengah, motornya udah dibongkar, komponennya udah saya beli.”

“Siapa?”

“Nggak penting.”

“Mas Arsa.”

“Dia nggak jahat. Dia kena PHK.” Arsa menggosok wajah. “Saya bilang nggak apa-apa. Saya balikin motornya, saya nggak tagih. Komponennya masih di rak sampai sekarang.”

Dia menoleh ke rak.

“Saya bilang ke diri saya sendiri itu keputusan yang bener,” katanya.

“Itu memang keputusan yang benar.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Terus Ibu saya yang bayar.”


Kami tidak tidur malam itu sampai jam satu.

Bukan untuk bekerja. Untuk duduk di lantai bengkel, bersandar ke kaki meja kerja, dengan satu gelas kopi dibagi dua karena aku lupa membeli lagi, dan membicarakan hal yang sama berulang-ulang dari sudut yang berbeda.

“Yang bikin saya nggak bisa napas,” katanya, jam sebelas, “bukan uangnya.”

“Saya tahu.”

“Saya bilang ke orang itu — yang di kantor kamu—”

“Wisnu.”

“Iya. Saya bilang saya nggak ambil pinjaman. Saya bilang kalau harus balik ke satu orang, ya balik ke satu orang.” Dia memandang gelas kopi. “Saya bilang itu di depan kamu.”

“Iya.”

“Dan itu bohong.”

“Mas Arsa, Mas tidak tahu.”

“Itu justru lebih parah.”

Aku menoleh.

“Kalau saya tahu terus bohong, itu bohong,” katanya. “Kalau saya nggak tahu, artinya empat tahun saya ngerasa berdiri sendiri padahal ada orang yang nahan dari bawah.”

Dia meletakkan gelasnya.

“Semua yang saya banggain,” katanya, “ternyata ditanggung sama ibu saya.”


Aku ingin menuliskan bahwa aku mengatakan sesuatu yang bijaksana pada saat itu.

Aku tidak.

Aku mengatakan sesuatu yang jauh lebih bodoh, dan Arsa menyukainya, dan itu adalah bagaimana seluruh hari berikutnya menjadi bencana.

“Mas Arsa,” kataku. “Kita balas.”

Dia menoleh.

“Balas apa?”

“Ibu Mas sudah mengatur segalanya selama sebelas bulan,” kataku. “Semuanya. Termasuk hal-hal yang kita kira kita yang memutuskan.”

“Iya.”

“Dan hari ini dia berkata dia akan berhenti mengatur.”

“Iya.”

Aku memandang gelas kopi kosong.

“Saya tidak percaya.”

Arsa memandangku selama beberapa detik.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak dia membaca surat Pak Hendra, dia tersenyum.


RENCANA, disusun jam 01.20 pagi hari Jumat, di lantai bengkel, di belakang lembar nota bekas.

Tujuan: membuktikan bahwa Bu Rahayu masih mengatur, dengan cara memberinya informasi palsu dan mengamati apa yang dia lakukan.

Metode: Arsa memberitahu ibunya, secara kebetulan, bahwa dia sedang mempertimbangkan satu lokasi ruko baru di daerah Cipendawa — dua puluh dua kilometer, sewa murah, jauh dari mana-mana.

Lokasi itu tidak ada dalam pertimbangan apa pun. Aku sudah memeriksanya. Aku memasukkannya ke skenario 3 pada bulan Mei dan mencoretnya di hari yang sama.

Prediksi: dalam waktu 48 jam, Bu Rahayu akan melakukan sesuatu. Menelepon seseorang. Menanyakan sesuatu. Menyebut nama.

Yang membuktikan: bahwa dia belum berhenti.

“Ini kekanak-kanakan,” kata Arsa.

“Iya.”

“Ini sangat kekanak-kanakan.”

“Iya.”

“Kita umur dua puluh enam sama tiga puluh.”

“Iya.”

Dia mengambil pulpen dari tanganku dan menuliskan sesuatu di bawah daftar itu.

Fahri jangan dikasih tahu.


Jumat, 07.40. Arsa mengantar beras ke rumah ibunya, yang merupakan hal yang memang dia lakukan setiap Jumat, sehingga tidak mencurigakan.

Dia menyebutkan Cipendawa pada menit keempat, sambil memindahkan beras ke dalam wadah, dengan nada yang menurut laporannya kepadaku “biasa aja”.

Jumat, 07.52. Bu Rahayu berkata: “Oh. Jauh ya.”

Dan tidak berkata apa-apa lagi.

Jumat, 08.00. Arsa pulang.

Jumat, 08.15. Dia menelepon aku.

“Dia nggak bereaksi.”

“Berapa lama percakapannya?”

“Delapan menit.”

“Dan dia cuma bilang ‘oh, jauh ya’.”

“Iya.”

Aku menatap layar komputer kantorku.

“Tunggu,” kataku. “Empat puluh delapan jam.”


Jumat, 11.10. Ponselku bergetar.

Prita: angel

Prita: pertanyaan random

Prita: Cipendawa itu jauh nggak sih dari kantor kamu

Aku menegakkan punggung di kursi kantorku.

Angelica Prameswari: Kenapa tanya?

Prita: nggak apa2

Prita: tante tini nanya tadi pagi

Prita: dia lagi cari ruko katanya buat anaknya

Prita: aneh sih soalnya anaknya kerja di bank

Aku memandang layar itu selama sepuluh detik.

Angelica Prameswari: Bu Tini tanya jam berapa?

Prita: sekitar jam 9

Prita: angel kenapa

Prita: ANGEL


Jumat, 11.20. Aku menelepon Arsa.

“Satu jam empat menit.”

“Apa?”

“Dari Mas keluar rumah sampai Bu Tini menelepon Prita.” Aku berdiri dan berjalan ke tangga darurat. “Satu jam empat menit.”

Hening.

“Angelica.”

“Ya.”

“Itu belum tentu Ibu.”

“Mas Arsa.”

“Bisa aja kebetulan.”

“Bu Tini bertanya tentang jarak Cipendawa ke kantor saya,” kataku. “Dia tidak tahu kantor saya di mana. Dia bahkan tidak tahu saya kerja di logistik. Dia tahu saya auditor, itu saja, karena dia menanyakannya di arisan bulan September dan Ibu Mas memotongnya sebelum saya menjawab lebih detail.”

Hening yang lebih panjang.

“Oke,” kata Arsa.


Jumat, 15.40. Fahri masuk ke bengkel dengan wajah orang yang membawa berita.

Aku tidak ada di sana. Arsa menceritakannya kepadaku kemudian.

“Mas! Tadi Ibu Mas ke sini.”

“Kapan?”

“Jam dua. Mas lagi keluar.”

“Ngapain?”

“Nganter kue.” Fahri mengangkat toples. “Terus dia nanya-nanya.”

“Nanya apa?”

“Nanya kalau bengkel pindah, saya gimana.”

Arsa meletakkan obengnya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Saya bilang saya ikut aja, Mas.” Fahri mengangkat bahu. “Terus dia nanya saya tinggal di mana, saya bilang Kampung Melayu, terus dia nanya naik apa ke sini, saya bilang satu angkot.”

“Terus?”

“Terus dia diem terus dia bilang ‘oh, kalau ke Cipendawa berarti dua’.”

Arsa memandangnya.

“Fahri.”

“Iya, Mas?”

“Saya nggak pernah nyebut Cipendawa ke kamu.”

Fahri berkedip.

“...Iya juga ya, Mas.”


Jumat, 16.55. Ponselku bergetar di kantor.

Bu Rahayu: Angel, Sabtu besok ke rumah ya.

Bu Rahayu: Jam 2.

Bu Rahayu: Sama Arsa.

Aku memandang tiga pesan itu.

Angelica Prameswari: Baik, Bu.

Bu Rahayu: Bawa map kamu.

Aku menatap kalimat terakhir itu selama waktu yang tidak akan kuakui kepada siapa pun.

Angelica Prameswari: Map yang mana, Bu?

Bu Rahayu: Yang mana aja.

Bu Rahayu: Kamu selalu bawa.


Sembilan jam.

Dari pukul 07.52, ketika Bu Rahayu berkata “oh, jauh ya” dan tidak berkata apa-apa lagi, sampai pukul 16.55, ketika dia mengirimkan tiga pesan dan satu perintah.

Sembilan jam untuk menghubungi Bu Tini, mendatangi bengkel, menginterogasi Fahri tanpa Fahri menyadari bahwa dia diinterogasi, dan sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Aku menelepon Arsa dari tangga darurat pukul 17.02.

“Dia manggil kita besok.”

“Iya, saya juga dapet.”

“Mas dapat apa?”

Jeda.

“‘Arsa, Sabtu ke rumah. Jam dua. Sama Angel.’”

“Itu saja?”

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

Arsa menghela napas.

“‘Kamu nggak bisa bohong dari umur empat tahun’.”


Sabtu, 14.00.

Bu Rahayu membukakan pintu dengan celemek, menyuruh kami masuk, mendudukkan kami di ruang tengah, dan menaruh dua gelas teh di meja.

Lalu dia duduk di seberang, meratakan roknya di lutut, dan berkata:

“Cipendawa.”

Arsa membuka mulut.

“Arsa.”

“Iya, Bu.”

“Kamu kalau bohong tangannya gerak duluan.” Dia menunjuk dengan dagu. “Kemarin kamu mindahin beras dua kali. Yang kedua nggak perlu.”

Aku menutup mata.

“Angel.”

“Iya, Bu.”

“Ini idenya kamu.”

Aku membuka mata.

“Kenapa Ibu berpikir begitu?”

“Karena kalau idenya Arsa,” kata Bu Rahayu, “dia bakal nyebutnya di hari Senin, bukan hari Jumat pas nganter beras.”

Dia mengambil tehnya.

“Kalian mau nguji Ibu,” katanya. “Ya sudah. Ibu lulus. Sekarang Ibu mau ngomong yang sebenernya.”


Jumlah kata: ±1.830