Chapter Thirty Seven

Bab 37 — Kemal Benar

POV: Angelica


Syukuran bengkel baru diadakan hari Sabtu, 24 Agustus, pukul empat sore, di halaman empat kali enam meter di bawah pohon jambu yang lebih tua dari bangunannya.

Yang datang tiga puluh satu orang.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung, dan karena aku ingin punya angka yang pasti untuk apa yang akan kulakukan.

Rencananya disusun tiga hari sebelumnya, di lantai atas ruko baru, dengan Arsa duduk di lantai dan aku di satu-satunya kursi.

“Setelah doa,” kataku. “Sebelum makan.”

“Kenapa sebelum makan?”

“Karena kalau setelah makan, sebagian sudah pulang.”

“Angelica.”

“Dan karena kalau mereka marah, mereka tidak perlu duduk satu jam lagi bersama kita.”

Arsa memandangku.

“Kamu udah mikirin itu.”

“Saya sudah memikirkan sembilan kemungkinan reaksi,” kataku. “Tiga di antaranya melibatkan seseorang menangis dan dua di antaranya melibatkan seseorang pergi.”

“Siapa yang pergi?”

“Tante Endah dan Om Dedi.”

“Kenapa Om Dedi?”

“Karena dia menawarkan pinjaman tiga kali.”

Arsa mengangguk pelan.

“Angelica.”

“Hm.”

“Kamu nggak masukin Kemal ke sembilan itu.”

Aku berhenti.

Dan aku menyadari bahwa dia benar.


Doanya dipimpin Om Bowo, berlangsung sebelas menit, dan mencakup permohonan untuk kelancaran rezeki, kesehatan Nenek Sumi, keselamatan suami Mbak Anjani di Balikpapan, dan — pada menit kesembilan, tanpa peringatan apa pun —

“—dan ya Allah, lancarkanlah niat baik Arsa dan Angelica, mudahkanlah langkah mereka menuju—”

Aku membuka mata.

Arsa membuka mata.

Bu Rahayu, di baris depan, tidak membuka mata sama sekali, tapi aku bisa melihat bahunya bergerak sekali.

“—aamiin.”

“AAMIIN,” kata tiga puluh satu orang.


Aku berdiri pada pukul 16.40.

“Om, Tante, semuanya.” Suaraku keluar rata, karena delapan tahun. “Boleh minta waktu sebentar sebelum makan?”

Kepala-kepala berputar.

Arsa berdiri di sebelahku.

“Ada yang mau kami sampaikan,” kataku.

Dan aku melihat, di baris kedua, Rina menyikut suaminya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Oh.

Oh, tidak.

“Ini bukan itu,” kataku cepat.

Rina menurunkan tangannya.

“Ya ampun, Mbak,” katanya. “Jangan gitu dong.”


Aku menceritakannya dalam empat menit dua puluh detik.

Aku sudah menyusunnya. Tentu saja aku sudah menyusunnya. Kronologis, tanpa penilaian, dimulai dari tanggal 26 Agustus tahun lalu pukul sekitar sepuluh pagi, di sebuah bengkel di Jalan Raya Pemuda Nomor 47, ketika seorang perempuan yang baru mengisi formulir kerja ditarik lengannya oleh seorang laki-laki yang panik.

Tiga foto. Tas yang dibuka.

Tujuh halaman, enam pasal, ditandatangani dengan pulpen yang bocor.

Grup WhatsApp yang dimasuki pada pukul 06.02 hari Minggu.

Aku menyampaikannya sampai selesai.

Halaman itu sunyi.

Tiga puluh satu orang.

Dan tidak ada satu pun yang berkata apa-apa selama mungkin empat detik.


“Jadi,” kata Om Dedi akhirnya, “waktu di Sukabumi itu—”

“Bohong, Om,” kataku.

“Yang di pintu darurat?”

Aku berkedip.

“Om lihat?”

“Ya lihat.” Om Dedi mengangkat bahu. “Semua orang lihat. Kalian berdiri di depan hidran satu jam.”

“Empat puluh menit,” kata seseorang dari pihak Semarang.

“Ya, empat puluh menit.”

“Om—”

“Itu bohong juga?”

Aku membuka mulut.

Dan aku menyadari, terlambat sekitar setengah detik, bahwa aku tidak bisa menjawabnya.


“Sebentar.” Tante Endah mengangkat tangan. “Sebentar, sebentar.”

Seluruh halaman menoleh.

“Nak Angel,” katanya. “Yang kamu bilang bohong itu yang mana?”

“Semuanya, Tante.”

“Bukan.” Dia menggeleng. “Coba jelaskan. Yang bohong itu apa?”

Aku memandangnya.

“Kami bukan pacaran, Tante. Pada saat itu.”

“Iya. Terus?”

“Terus—”

“Terus kamu tetap datang tiap Sabtu?”

“Iya.”

“Terus kamu hafal nama saya, dan nama suami saya, dan tahu kalau saya harus dibalas dalam dua jam?”

Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku.

“Iya, Tante.”

“Terus kamu ke Sukabumi naik mobil tujuh orang tiga setengah jam duduk di jok belakang?”

“Iya.”

“Terus kamu bayar sewa ruko anak orang tiga tahun pakai tabungan kamu delapan tahun?”

Halaman itu sunyi.

“Iya,” kataku.

Tante Endah menurunkan tangannya.

“Ya sudah,” katanya. “Terus yang bohong yang mana?”


“Kertasnya, Tante,” kataku.

“Kertas apa?”

“Kontraknya.”

“Ya kertas kan bisa dibuang.”

“Tante—”

“Nak Angel.” Tante Endah mencondongkan badan. “Tante lima puluh tiga tahun. Tante udah lihat orang nikah dua puluh tahun terus cerai. Tante udah lihat orang yang surat nikahnya lengkap, saksinya dua, walinya bapak kandung, terus tiga tahun kemudian yang satu kabur ke Kalimantan.”

Dia menyandarkan punggung.

“Kertas itu paling gampang,” katanya. “Yang susah yang lain.”


Aku berdiri di halaman itu dengan tiga puluh satu orang duduk di kursi plastik di depanku, dan seluruh sembilan kemungkinan reaksi yang kususun tiga hari lalu runtuh secara berurutan.

Tidak ada yang menangis.

Tidak ada yang pergi.

Om Dedi bertanya berapa lama pengerjaan konversi rata-rata dan apakah masih ada waktu untuk motornya. Yudha bertanya apakah bannernya sudah dipasang dengan benar. Rina kecewa selama sekitar empat menit, dan kekecewaannya sepenuhnya berkaitan dengan fakta bahwa dia sudah menyiapkan sesuatu di ponselnya dan tidak jadi memakainya.

Dan Mbak Anjani berkata, dari kursi keempat dari kiri:

“Angel.”

“Iya, Mbak.”

“Kertas yang di rumah Ibu bulan April itu.”

Aku menutup mata.

“Iya, Mbak.”

“Yang aku kira kerjaan kantor kamu.”

“Iya.”

“Yang aku lempar ke sofa.”

“Iya.”

Mbak Anjani menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya ampuuun,” katanya, ke dalam telapak tangannya. “Aku baca itu keras-keras.”


Dan kemudian ada suara kursi plastik didorong.

Kemal berdiri.

Enam tahun — tujuh, sejak bulan Juni. Kaus superhero yang berbeda dari yang dulu. Berdiri di antara kursi plastik dengan wajah yang sepenuhnya terfokus.

Halaman itu diam.

“Nek,” katanya.

Nenek Sumi menoleh.

“Iya, Kemal.”

Kemal menunjuk ke arahku dengan seluruh tangannya.

“Aku bilang,” katanya.

Dan suaranya pecah di kata terakhir, dengan cara yang membuat seluruh halaman itu berhenti bergerak.

“Aku bilang tiga kali,” katanya. “Di sekolah. Di Sukabumi. Di rumah Nenek.”

Dia menurunkan tangannya.

“Nggak ada yang percaya.”


Aku berjalan ke arahnya.

Aku berjongkok di depan kursi plastik itu, di halaman, di depan tiga puluh satu orang.

“Kemal.”

“Kata Ibu aku ngarang.”

“Iya.”

“Kata Bu Sari aku imajinatif.”

“Iya.”

“Kata semua orang aku dari TV.” Dia menyeka hidungnya dengan lengan. “Aku nggak nonton TV, Tante. TV di rumah Nenek isinya sinetron.”

Dan di halaman itu, seseorang mengeluarkan bunyi yang bukan tawa.

“Kemal,” kataku.

“Apa.”

“Kamu benar.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu benar tiga kali,” kataku. “Dan tiga kali orang dewasa salah. Bukan kamu.”

Aku menoleh ke belakang, ke tiga puluh satu orang di kursi plastik.

“Om Bowo.”

“Iya, Nak?”

“Om ingat bulan November di Sukabumi, waktu foto keluarga besar?”

Om Bowo mengangguk pelan. Wajahnya sudah berubah.

“Om bilang apa waktu itu?”

Om Bowo memandang Kemal.

Dan dia berdiri dari kursi plastiknya, dan dia berjalan ke tengah halaman, dan seorang laki-laki berusia empat puluh delapan tahun yang mengelola grup WhatsApp berisi delapan puluh empat orang berjongkok di depan keponakannya yang berusia tujuh tahun.

“Om bilang ‘anak kecil, ada-ada aja’,” katanya.

“Iya,” kata Kemal.

“Om minta maaf, Kemal.”

Kemal memandangnya.

“Om ketawa paling keras,” katanya.

“Iya,” kata Om Bowo. “Om ketawa paling keras.”


Yang terjadi dalam sepuluh menit berikutnya adalah hal paling aneh yang pernah kulihat di sebuah acara keluarga.

Satu per satu.

Mbak Anjani. Tante Endah. Rina. Om Dedi, yang berkata “Om nggak pernah denger, tapi kalau Om denger, Om juga nggak percaya, jadi ya sama aja”. Bu Sari — yang ternyata diundang, karena Bu Rahayu mengundangnya, karena tentu saja Bu Rahayu mengundangnya — yang menghampiri Kemal dan berkata bahwa dia minta maaf sudah menelepon orang tua tanpa bertanya lebih dulu kepada muridnya.

Dan Nenek Sumi, yang tidak berdiri, yang memanggil Kemal ke kursinya, dan yang berkata:

“Kemal.”

“Iya, Nek.”

“Nenek nggak minta maaf.”

Kemal mengerutkan kening.

“Nenek delapan puluh satu,” kata Nenek Sumi. “Nenek udah nggak percaya sama siapa-siapa sejak tahun tujuh puluhan.”

“Nek—”

“Tapi lain kali kamu ngomong,” katanya, sambil menepuk lutut anak itu satu kali, “Nenek denger.”


Bu Rahayu tidak mengatakan apa pun sepanjang seluruh kejadian itu.

Dia berdiri di dekat meja, di sebelah rantang bersusun tiga, dan mengawasi tiga puluh satu orang di halamannya sendiri — halaman yang bukan miliknya, di bengkel yang bukan miliknya, yang sewanya dibayar oleh perempuan yang setahun lalu berdiri di ruangan lain memegang papan jepit.

Aku menghampirinya pukul lima lewat.

“Bu.”

“Hm.”

“Ibu tidak bilang apa-apa.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Bu Rahayu mengambil sendok dan mulai membuka rantang.

“Karena kalau Ibu ngomong,” katanya, “nanti jadi Ibu lagi yang ngatur.”

Dia meletakkan tutup rantang itu.

“Ibu udah janji,” katanya. “Bulan Juli. Di ruang tengah.”

Aku memandang wajahnya.

“Bu.”

“Hm.”

“Terima kasih.”

Bu Rahayu tidak menoleh.

“Angel,” katanya.

“Iya.”

“Kamu tahu Ibu paling capek kapan setahun ini?”

“Kapan, Bu?”

Dia mulai menyendok nasi ke piring pertama.

“Waktu kamu dateng tiap Sabtu bawa map,” katanya, “dan Ibu tahu isinya jawaban buat pertanyaan yang belum Ibu tanya.”

Dia menyerahkan piring itu padaku.

“Ibu pengen banget bilang ‘nggak usah, Nak’,” katanya. “Sebelas bulan.”


Aku duduk di kursi plastik pada pukul setengah enam dengan piring di pangkuan, di halaman yang penuh orang, di bawah pohon jambu yang lebih tua dari bangunannya.

Arsa duduk di kursi sebelahku dengan piring yang isinya tidak ada tulangnya karena aku sudah mengambilnya sebelum dia sempat.

“Angelica.”

“Hm.”

“Sembilan kemungkinan reaksi.”

“Iya.”

“Yang kejadian nomor berapa?”

Aku memandang halaman itu.

Om Bowo sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada Kemal, yang duduk di pangkuannya, dan yang wajahnya sudah kering.

“Nggak ada,” kataku.

“Nggak ada?”

“Tidak satu pun, Mas Arsa.”

Arsa mengangguk pelan, dan mengambil sesendok nasi, dan berkata — ke piringnya, dengan nada orang yang menyampaikan informasi teknis:

“Bagus.”


Jumlah kata: ±2.010