Chapter Twenty One

Bab 21 — Dengung

POV: Angelica


Pesannya masuk hari Jumat malam, 5 Januari.

Arsa Bengkel: Besok jalurnya sudah selesai.

Angelica Prameswari: Selesai artinya?

Arsa Bengkel: Artinya besok bisa dinyalain.

Aku membaca kalimat itu tujuh kali.

Angelica Prameswari: Jam berapa.

Arsa Bengkel: Kapan aja

Angelica Prameswari: Jam berapa Mas mulai kerja.

Arsa Bengkel: Tujuh

Angelica Prameswari: Saya sampai jam tujuh.

Arsa Bengkel: Angelica hari Sabtu

Arsa Bengkel: Kamu boleh tidur

Angelica Prameswari: Tujuh.


Aku tiba jam 06.42.

Rolling door masih turun. Aku menunggu di trotoar seberang, di depan warung Bu Yanti yang belum buka, dengan dua gelas kopi dari minimarket dan tangan yang dingin bukan karena udara.

Arsa datang jam 06.55 dengan sepeda motornya.

Dia melihatku. Berhenti. Melepas helm.

“Angelica.”

“Selamat pagi.”

“Kamu di sini dari kapan?”

“Baru.”

“Kamu bohong.”

“Ini kopi Mas.” Aku menyodorkan satu gelas. “Yang pakai gula.”

Dia mengambilnya. Memandangku beberapa saat.

“Nggak tidur ya.”

“Tidur.”

“Berapa jam?”

Aku menyeberang jalan lebih dulu supaya tidak perlu menjawab.


Fahri datang jam 07.20.

Kemal datang jam 08.05, diantar Bu Rahayu, yang menyerahkannya di ambang pintu seperti orang menyerahkan paket dan langsung pergi ke pasar tanpa penjelasan apa pun.

“Kenapa Kemal di sini?” tanyaku.

“Libur sekolah,” kata Arsa. “Mbak Anjani di Depok, kerja.”

“Dan Ibu?”

“Pasar.”

“Selama berapa jam?”

Arsa memandang ke arah pintu.

“Ibu saya nggak pernah ke pasar hari Sabtu,” katanya pelan.


C70 itu berdiri di tengah bengkel, di atas karpet, dengan roda depan diganjal balok kayu.

Aku sudah melihatnya setiap minggu selama empat setengah bulan. Aku sudah melihatnya tanpa mesin, tanpa jok, tanpa spakbor. Aku sudah melihatnya sebagai rangka telanjang dengan kabel-kabel menjuntai seperti sesuatu yang sedang dibedah.

Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak Agustus, motor itu terlihat seperti motor lagi.

Cat biru yang sudah jadi abu-abu di bagian tangki — masih. Arsa tidak mengecatnya ulang, dan aku tidak memintanya.

Jok robek di satu sisi, ditambal lakban hitam — masih. Dia bertanya dua bulan lalu apakah joknya mau diganti.

Aku bilang tidak.

Dia tidak bertanya kenapa.

Di bawah jok, di ruang tempat mesin dulu berada, ada kotak logam abu-abu dengan kabel yang keluar dari sisi kiri dan masuk ke sesuatu berbentuk silinder di dekat roda belakang.

“Dudukan yang kesembilan,” kataku.

“Iya.”

“Yang bikin tiga minggu.”

“Lima,” katanya. “Tiga minggu itu bohong juga.”


Percobaan pertama, 08.40.

“Fahri, pegang.”

“Yang mana, Mas?”

“Yang merah.”

“Yang ini?”

“Yang merah, Fahri.”

“Ini merah.”

“Itu oranye.”

“Mas, ini merah.”

Arsa berdiri. Melihat kabel di tangan Fahri.

“Itu oranye,” katanya.

“Ya kan mirip.”

“Fahri.”

“Iya, Mas.”

Arsa mengambil kabel itu dari tangannya, melepasnya dari terminal, dan memasangnya ke terminal di sebelahnya.

“Kalau ini kesambung salah,” katanya, “kontrolernya mati.”

“Berapa, Mas?”

“Satu koma delapan.”

“Juta?”

“Iya.”

Fahri mundur dua langkah dan tidak menyentuh apa pun selama sembilan menit berikutnya.


Percobaan kedua, 09.15.

Sekring meledak.

Bukan meledak dalam arti dramatis. Ada bunyi tak yang sangat kecil, seperti orang mematahkan biskuit, dan lampu indikator di panel kecil yang dipasang Arsa di dekat setang mati.

Dan bau. Bau yang sangat spesifik, tajam dan manis, yang membuat Arsa langsung mencabut sesuatu dan Fahri langsung membuka rolling door lebih tinggi.

“Aman?”

“Aman.” Arsa jongkok, membuka penutup kecil, mengeluarkan sesuatu seukuran korek api. “Sekring.”

“Kenapa putus?”

“Karena tugasnya putus.”

“Mas Arsa.”

“Kalau ada yang salah, dia yang putus duluan biar yang lain nggak.” Dia mengangkatnya ke cahaya. Di dalamnya, kawat tipis sudah terputus di tengah. “Ini bagus. Ini artinya sistemnya jalan.”

“Jadi rusaknya justru tandanya benar.”

“Iya.”

Aku memandang benda kecil itu.

“Ada berapa banyak di motor ini?”

“Empat.”

“Kalau empat-empatnya putus?”

Arsa berdiri, mengambil sekring baru dari kotak plastik di rak.

“Berarti saya yang salah,” katanya.


Percobaan ketiga, 10.02.

Berhasil setengah.

Panel menyala. Lampu indikator hijau. Angka kecil muncul di layar sebesar kartu nama: 98%.

Arsa memutar sesuatu.

Dan ada bunyi.

Bukan bunyi mesin. Bunyi yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih halus, seperti kulkas yang baru dinyalakan, seperti sesuatu yang sedang bersiap.

Roda belakang berputar.

Aku berdiri dan aku tidak sadar aku berdiri.

Roda itu berputar selama mungkin empat detik. Lalu berhenti.

“Kenapa?”

“Proteksi.” Arsa sudah jongkok lagi, sudah membaca sesuatu di layar kecil itu. “Arusnya lompat. Ada yang longgar.”

“Yang mana?”

“Nyari.”

“Berapa lama?”

Dia mendongak.

Dan tersenyum — betul-betul tersenyum, yang pertama sejak pagi, yang membuat sudut matanya berkerut.

“Angelica,” katanya. “Rodanya muter.”


11.30. Bu Rahayu belum pulang dari pasar.

12.10. Fahri membeli nasi bungkus untuk empat orang. Kemal makan kerupuk saja dan disuruh makan nasi dan tidak mau dan akhirnya makan nasi setelah Arsa berkata bahwa orang yang tidak makan nasi tidak boleh memegang obeng.

13.20. Kemal memegang obeng.

13.22. Obeng diambil kembali.

14.05. Arsa menemukan yang longgar. Terminal di dekat kontroler, yang dia kencangkan bulan lalu, dan yang menurut pengakuannya sendiri “kayaknya kurang seperempat putaran”.

14.30. Semuanya dipasang kembali.

14.44.


“Sudah?”

“Sudah.”

“Mau langsung?”

“Iya.”

Arsa berdiri di sisi kiri motor, tangan di setang.

Fahri berdiri di dekat panel listrik dinding dengan tangan di sakelar, karena disuruh, “kalau ada apa-apa turunin”.

Kemal duduk di kursi lipat — kursiku — dengan kaki yang tidak sampai lantai, dan sudah diberi tahu empat kali untuk tidak turun.

Dan aku berdiri di depan motor itu, dua meter dari roda depan, dengan tangan di depan perut.

“Angelica.”

“Ya.”

“Kamu yang nyalain.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Motor kamu.” Dia menggeser satu langkah ke samping, memberi ruang. “Kunci di sini. Putar ke kanan. Terus tombol yang bulat itu, tekan dua detik.”

“Mas Arsa—”

“Sudah, cepet.” Fahri, dari dinding. “Tangan saya pegel, Mbak.”

Aku berjalan ke motor itu.

Empat setengah bulan. Sebelas tahun, empat bulan, sembilan hari sebelum itu.

Aku meletakkan tangan di kunci.

Dan Kemal, dari kursi lipat, berdiri, melompat turun, dan berlari ke arah kami.

“AKU JUGA—”

“KEMAL—”

Dia menabrak sisi kanan motor. Tangannya menyambar panel. Dan jari telunjuknya yang berlumur minyak kerupuk menekan tombol merah kecil di sebelah kanan — yang bukan tombol yang dimaksud Arsa — dan menahannya.

Seluruh panel mati.

Layar hilang. Lampu hijau hilang. Dengung halus yang sejak tadi ada di latar belakang, yang tidak kusadari ada sampai ia hilang, hilang.

Hening total.

“Kemal,” kata Arsa.

Kemal memandang jarinya sendiri.

“Aku nggak sengaja.”

“Kemal.”

“AKU NGGAK SENGAJA.”

Fahri, dari dinding: “Mas, itu apa?”

“Itu tombol matiin darurat.”

“Rusak?”

“Nggak rusak.” Arsa memejamkan mata sebentar. “Cuma harus reset semuanya. Dari awal.”

“Berapa lama?”

Arsa membuka mata.

“Dua puluh menit.”

Dan Kemal, anak enam tahun, yang sudah menghancurkan rahasia kami dua kali di depan total delapan belas orang dewasa, menangis untuk pertama kalinya sepanjang aku mengenalnya.


Dua puluh menit itu berlalu begini.

Kemal menangis empat menit. Aku duduk di lantai di sebelahnya karena kursi lipat itu terlalu tinggi untuk duduk berdua. Fahri memberinya kerupuk, yang membuatnya menangis lebih keras karena minyak kerupuk itu yang menyebabkan semuanya. Aku bilang tidak ada yang rusak. Dia bilang Om Arsa marah. Aku bilang Om Arsa tidak marah. Dia bilang Om Arsa memejamkan mata dan itu artinya marah.

Aku menoleh ke Arsa, yang sedang berjongkok memasang ulang sesuatu.

“Kemal,” katanya, tanpa mengangkat kepala.

“Iya.”

“Kalau Om marah, Om nggak diem.”

“Terus Om ngapain?”

“Om ngomongin mesin.”

Kemal berhenti menangis di detik itu juga, karena ini adalah fakta yang sudah dia ketahui seumur hidupnya dan tidak pernah ada yang mengonfirmasi.

“Iya,” katanya. “Om ngomongin mesin lama banget.”

“Nah.”

Kemal menyeka hidungnya dengan lengan bajunya sendiri.

“Om Arsa.”

“Hm.”

“Aku boleh pegang lagi?”

“Nggak.”

“Yaaah.”

“Kamu boleh pegang senter.”

Dan Kemal memegang senter selama delapan belas menit dengan kesungguhan seorang petugas mercusuar.


15.11.

“Sudah.”

Aku berdiri.

Aku berjalan ke motor itu untuk kedua kalinya.

Tanganku di kunci. Kemal di sebelah kanan, dipegangi bahunya oleh Fahri, dengan senter yang sudah dimatikan tapi masih dicengkeram. Arsa di sisi kiri, tangan di setang.

“Putar ke kanan.”

Aku memutar.

Panel menyala. Layar kecil itu hidup: 98%.

“Tombol bulat. Dua detik.”

Aku menekannya.

Satu.

Dua.

Dan motor Honda C70 tahun 1979 milik Bambang Prameswari, yang mangkrak sebelas tahun empat bulan sembilan hari di bawah terpal di garasi rumah ibuku di Bandung, hidup.


Tidak ada apa-apa.

Itu hal pertama yang kurasakan.

Tidak ada batuk. Tidak ada sentakan. Tidak ada bunyi tek-tek-tek yang harus diulang tiga kali di pagi yang dingin. Tidak ada getaran yang naik lewat rangka dan sampai ke tangan.

Yang ada cuma dengung.

Halus. Rendah. Rata. Seperti kulkas. Seperti kipas komputer. Seperti sesuatu yang sopan.

Lampu depan menyala — lampu bulat kecil yang kacanya sudah menguning, satu-satunya bagian yang tidak diganti karena aku minta jangan.

Dan motor itu berdiri di tengah bengkel, menyala, tanpa suara.

“Angelica.”

Aku tidak menjawab.

“Angelica, gimana?”

Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang wajar.

Dan yang keluar dari tenggorokanku adalah bunyi yang tidak pernah kubuat di depan orang lain sejak umur lima belas tahun.


Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

Aku berdiri di tengah bengkel, jam tiga sore, di hari Sabtu, dan aku menangis dengan cara yang tidak bisa dihentikan dan tidak bisa dijelaskan dan tidak bisa dirapikan.

“Mbak—”

“Fahri,” kata Arsa. “Bawa Kemal ke warung.”

“Mas—”

“Sekarang.”

Aku mendengar langkah. Aku mendengar suara Kemal bertanya kenapa Tante Angel menangis, dan Fahri menjawab “karena senang” dengan nada seseorang yang tidak yakin. Aku mendengar rolling door.

Lalu bengkel itu sunyi kecuali dengung.


“Angelica.”

“Sebentar.”

“Iya.”

“Sebentar, Mas Arsa.”

“Iya.”

Dia tidak menyentuhku. Dia tidak berkata tidak apa-apa. Dia tidak menyodorkan apa pun.

Aku menurunkan tangan. Wajahku basah dan aku tidak punya tisu dan aku tidak peduli.

“Bunyinya nggak ada,” kataku.

“Iya.”

“Dulu bunyinya—” Aku menarik napas. Suaraku pecah di tengah. “Dulu kalau Bapak berangkat pagi, saya masih di kamar, dan saya tahu dia sudah berangkat karena bunyinya. Tiga kali. Selalu tiga kali baru mau hidup. Terus ada suara dug waktu masuk gigi satu.”

Dengung itu terus berjalan, halus, rata, sopan.

“Saya nggak dengar itu sebelas tahun,” kataku. “Dan saya pikir kalau motornya jalan lagi—”

Aku berhenti.

“Saya pikir saya akan dengar lagi.”

Arsa berdiri di sisi kiri motor dengan tangan di setang.

“Saya nggak bisa kasih balik suaranya,” katanya.

“Saya tahu.”

“Saya sudah coba mikir.” Dia memandang tangki itu. “Ada orang yang pasang speaker. Rekaman suara mesin. Dipasang di bawah jok, bunyi kalau digas.”

“Kenapa nggak Mas pasang?”

“Karena itu bohong.”

Aku menoleh padanya.

“Bunyinya bakal ada,” katanya. “Tapi itu bukan motornya yang bunyi.”

Dan aku, yang empat setengah bulan lalu berdiri di ruangan ini dan bilang saya nggak butuh motor itu jadi asli, saya butuh motor itu jalan

Aku berdiri di sana dan menyadari bahwa aku sudah salah sejak hari pertama, dan bahwa dia sudah tahu itu, dan bahwa dia tetap mengerjakannya.

“Mas Arsa.”

“Ya.”

“Kenapa Mas tetap kerjakan?”

Dengung.

“Karena kamu minta,” katanya.

“Itu bukan alasan yang cukup.”

“Iya,” katanya. “Nggak cukup.”

Dia melepas tangannya dari setang.

Dan berjalan ke meja kerja, ke laci nomor dua, yang sekarang isinya sudah kosong sejak 3 November.

Dia mengeluarkan sesuatu dari kolong meja. Kotak. Kayu, bukan karton. Ukurannya sekitar empat puluh sentimeter, dengan tutup yang dipasang engsel.

Dia meletakkannya di lantai di depanku dan membukanya.

Di dalamnya, dibungkus kain, di atas lapisan busa yang dipotong menyesuaikan bentuk: mesin C70 itu.

Bersih. Sepenuhnya bersih. Setiap sambungan, setiap sudut, setiap tempat karat menumpuk.

“Mas—”

“Ini syarat saya,” katanya. “Bulan Agustus. Nggak dibuang. Disimpan. Dikembalikan ke kamu.”

“Mas bersihin ini?”

“Iya.”

“Kapan?”

Dia tidak menjawab.

“Mas Arsa, kapan.”

“Malam-malam,” katanya.

Aku menatap kotak itu di lantai bengkel.

Aku pernah jongkok di gang, jam sebelas malam, memakai blazer kantor, dan mengintip lewat celah bawah rolling door.

Aku melihat seorang laki-laki duduk di lantai dengan sikat gigi bekas dan tiga mangkuk kecil, membersihkan bagian yang tidak akan terlihat oleh siapa pun.

Itu hari kedua.

Hari kedua.

Sebelum kontrak ditandatangani.


“Nomor mesinnya masih ada,” katanya. “Di sini. Kalau suatu hari kamu mau balikin ke bensin, semuanya masih bisa. Rangkanya nggak saya bor. Nggak ada satu lubang baru pun.”

Aku berjongkok di depan kotak itu.

Dan aku berkata, ke dalam kotak, tanpa mengangkat kepala:

“Saya nggak akan balikin ke bensin.”

“Iya.”

“Saya nggak akan pernah balikin.”

“Iya.”

“Jadi Mas kerjakan ini semua untuk sesuatu yang nggak akan pernah dipakai.”

Hening.

“Iya,” katanya.

Aku berdiri.

Aku menghadapnya.

Dan aku berkata — dan aku ingin mencatat bahwa aku tidak menyusunnya, dan bahwa kalimatnya keluar pendek dan berantakan dan tanpa satu pun anak kalimat, yang menurut sistem klasifikasi yang sudah dia bangun sendiri selama empat setengah bulan berarti persis satu hal:

“Saya nggak mau berhenti datang ke sini.”

Arsa tidak bergerak.

“Saya nggak peduli motornya selesai atau nggak,” kataku. “Saya nggak peduli Februari. Saya nggak peduli Pasal 6.”

“Angelica—”

“Saya bikin jadwal enam puluh dua baris dan nggak ada satu pun yang isinya bengkel, dan Mas bilang itu bukan karena saya lupa, dan Mas benar.”

Suaraku bergetar dan aku membiarkannya.

“Saya nggak nulis karena kalau saya nulis, saya harus kasih angka. Dan angkanya terlalu besar. Dan kalau saya lihat angkanya, saya harus tahu kenapa.”

Aku menarik napas.

“Sekarang saya tahu kenapa,” kataku.


Dengung.

Halus. Rendah. Rata.

Arsa memandangku selama waktu yang terasa seperti sangat lama, dan yang kalau diukur mungkin empat detik.

“Sarung tangannya saya beli tanggal 19 September,” katanya.

Aku mengerjap.

“Kamu bilang minggu keempat.”

“Iya. Minggu keempat. Tanggal 19 September.” Dia menggosok belakang lehernya. “Saya inget tanggalnya karena hari itu saya juga beli sekring, dan notanya masih ada, dan saya lihat notanya kadang-kadang.”

“Kadang-kadang.”

“Iya.”

“Berapa sering?”

“Angelica.”

“Berapa sering, Mas Arsa.”

Dia menurunkan tangannya.

“Saya ngulur pekerjaan lima minggu supaya kamu tetep dateng,” katanya. “Itu udah saya akuin. Yang belum saya bilang—”

Dia berhenti.

“Yang belum saya bilang, waktu kamu tanya kenapa saya tetep kerjain padahal kamu nggak akan pernah balikin ke bensin,” katanya. “Jawabannya bukan karena kamu minta.”

“Terus apa.”

“Karena tiap kali saya kerjain motor itu, saya lagi mikirin kamu,” katanya. “Dan itu satu-satunya waktu yang boleh.”

Bengkel itu sunyi.

“Yang boleh?”

“Yang saya izinin buat diri saya sendiri.” Dia mengangkat bahu satu kali, kaku. “Kamu bikin kontrak. Ada pasalnya. Ada lampirannya. Ada durasi maksimum dalam detik. Saya baca semuanya jam satu pagi dan saya ngerti persis apa yang kamu maksud.”

“Apa yang saya maksud?”

“Bahwa kamu takut,” katanya.

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Jadi saya nggak mau jadi orang yang bikin kamu harus revisi lampiran lagi,” katanya. “Saya cuma kerjain motornya. Pelan-pelan. Dan itu cukup.”

“Itu nggak cukup.”

“Nggak,” katanya. “Nggak cukup.”

Dan dia melangkah maju satu langkah, dan berhenti, dan tidak melakukan apa-apa lagi.

Karena dia menunggu.

Karena dia selalu menunggu, sejak hari pertama, tanpa pernah sekali pun menambahkan apa pun untuk mengisi jeda.


Aku yang menutup jaraknya.

Aku memegang kerah kaus kerjanya dengan kedua tangan — dua tangan, kali ini, dan tidak ada Bu Marni di ujung gang, dan tidak ada satu pun pihak ketiga dalam radius tiga puluh meter kecuali seorang anak enam tahun di warung yang sedang diberi es teh oleh seseorang yang jelas-jelas sedang mengulur waktu.

Aku menciumnya di tengah bengkel, di depan motor ayahku yang menyala tanpa suara, dengan kotak kayu berisi mesin bersih terbuka di lantai di sebelah kami.

Kali ini dia tidak kaku sedetik pun.

Kedua tangannya di wajahku, dan kemudian satu di punggungku, dan aku menarik napas di suatu titik dan mendengar diriku sendiri mengeluarkan bunyi yang akan membuatku malu selama tiga hari ke depan dan yang saat itu sama sekali tidak kupikirkan.

Ada bau oli. Ada bau kopi minimarket yang sudah dingin.

Dan ada dengung.


Ketika kami berhenti, aku tidak melepaskan kerahnya.

“Delapan,” katanya, serak.

“Apa?”

“Lampiran 4c. Baris keempat. Durasi maksimum.”

Aku menatapnya.

“Kolomnya kosong,” kataku.

“Iya,” katanya. “Barusan berapa lama?”

Aku membuka mulut.

Dan aku tidak tahu.

Aku tidak menghitung. Aku tidak melihat jam. Aku tidak punya satu pun angka.

Untuk kedua kalinya dalam hidupku.

“Saya nggak tahu,” kataku.

Dan Arsa Pramudya — yang panik dengan manusia, yang bicara teknis kalau salah tingkah, yang tidak pernah menyela siapa pun sejak hari pertama — menunduk sedikit sehingga dahinya menyentuh dahiku.

“Bagus,” katanya.


Rolling door terbuka pukul 15.50.

“Mbak! Mas! Kemalnya udah minta pulang tiga kali dan saya udah kehabisan alasan dan—”

Fahri berhenti di ambang pintu.

Kemal, di sebelahnya, memegang es teh.

Dua orang berdiri di tengah bengkel, terlalu dekat, dengan mata yang salah satunya jelas habis menangis dan yang satunya jelas tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.

Dan di antara mereka, motor Honda C70 tahun 1979 menyala tanpa suara, dengan lampu depan bulat menguning yang menerangi karpet.

Fahri membuka mulut.

“Fahri,” kata Arsa.

“Iya, Mas.”

“Motornya hidup.”

Fahri memandang motor itu.

Lalu memandang kami.

Lalu memandang motor itu lagi.

“IYA, MAS,” teriaknya, dan aku bersumpah suaranya pecah, “MOTORNYA HIDUP!”

Dan Kemal, yang tidak mengerti apa-apa, ikut berteriak sambil mengangkat es tehnya, dan es teh itu tumpah ke lantai bengkel yang baru disapu pagi tadi.


Jumlah kata: ±3.520