Chapter Twenty Two
Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
POV: Angelica
Aku bangun jam 05.40 hari Minggu dan hal pertama yang kulakukan adalah membuka dokumen itu.
Bukan untuk membatalkannya.
Untuk memeriksa apakah ada yang harus dibatalkan.
Delapan tahun bekerja dengan dokumen mengajarkan satu hal yang tidak bisa dimatikan: kalau keadaan berubah, yang pertama diperiksa adalah apakah dokumennya masih berlaku.
KESEPAKATAN KERJA SAMA HUBUNGAN SEMU.
Judulnya masih di halaman satu, huruf kapital, di tengah, dengan spasi yang kuatur satu setengah karena aku selalu mengatur spasi satu setengah.
Aku menggulirnya perlahan.
Dan pada halaman tiga, aku mulai tertawa.
Aku sampai di bengkel jam sembilan dengan dua eksemplar tercetak, karena tentu saja aku mencetaknya.
Bengkel tutup hari Minggu. Rolling door turun. Tapi pintu samping di gang tidak digembok, dan aku sudah cukup sering ke sini untuk tahu apa artinya.
Arsa duduk di lantai di samping C70, memegang gelas kopi, tidak sedang mengerjakan apa pun.
Dia mengangkat kepala.
Dan sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam empat setengah bulan — dia tersenyum lebih dulu, sebelum berkata apa-apa, sebelum tahu aku datang untuk apa.
“Angelica.”
“Selamat pagi.”
“Kamu bawa map.”
“Iya.”
“Jam sembilan pagi hari Minggu.”
“Iya.”
Dia meletakkan gelasnya.
“Duduk,” katanya.
Kami duduk di lantai bengkel, bersandar ke kaki meja kerja, dengan dua eksemplar kontrak di antara kami dan satu gelas kopi yang kami bagi karena aku lupa membeli.
“Halaman satu,” kataku.
“Angelica.”
“Pasal 1. Ruang Lingkup.” Aku membacanya keras-keras. “‘Para pihak sepakat untuk menjalin hubungan yang tampak dari luar sebagai hubungan romantis, tanpa keterlibatan perasaan pribadi dari kedua belah pihak.’”
Hening.
“Tanpa keterlibatan perasaan pribadi,” ulangku.
“Iya.”
“Dari kedua belah pihak.”
“Iya.”
Aku menoleh padanya.
“Mas Arsa, Mas tanda tangan ini tanggal 26 Agustus.”
“Iya.”
“Sarung tangannya Mas beli tanggal 19 September.”
“Iya.”
“Tiga minggu.”
Dia menyeruput kopi. “Iya.”
“Tiga minggu, dan pasal pertama sudah batal.”
“Bukan tiga minggu,” katanya.
Aku berhenti.
“Apa?”
Dia meletakkan gelas itu di lantai.
“Sarung tangan itu tanggal 19,” katanya. “Tapi tangki motornya saya bersihin tanggal 23 Agustus.”
“Itu sebelum tanda tangan.”
“Iya.”
“Berarti waktu Mas tanda tangan Pasal 1—”
“Iya.”
Aku menatap kertas di pangkuanku.
“Mas Arsa, itu artinya Mas menandatangani dokumen yang isinya sudah tidak benar pada saat ditandatangani.”
“Iya.”
“Itu—” Aku mencari kata yang tepat. “Itu cacat sejak awal.”
“Hm.”
“Itu istilah teknis.”
“Saya tahu.” Dia mengambil eksemplarnya sendiri — yang dilipat dua kali seperti struk, yang sudut-sudutnya sudah hitam. “Halaman berapa lagi?”
Kami menghabiskan satu jam empat puluh menit membongkar kontrak itu pasal per pasal, di lantai bengkel, hari Minggu pagi.
Pasal 2 — Kewajiban Pihak Kedua. “‘Menyediakan kehadiran fisik pada acara yang membutuhkan pendamping,’” bacaku.
“Ya tulis aja ‘dateng kalau diminta’.”
“Mas Arsa, ini sudah tiga bulan dan Mas masih—”
“Angelica, itu delapan kata buat ngomong tiga kata.”
Pasal 3 — Kewajiban Pihak Pertama. “Empat belas nama kerabat.”
“Kamu hafal berapa sekarang?”
“Tiga puluh satu.”
Dia menoleh.
“Tiga puluh satu?”
“Termasuk pihak Semarang.”
“Saya nggak hafal pihak Semarang.”
“Saya tahu.” Aku membalik halaman. “Mas memanggil Om Toha ‘Om’ dan Om Sabar ‘Om’ dan Bulek Ida ‘Bu’ dan itu strategi yang buruk.”
“Itu berhasil dua puluh sembilan tahun.”
Pasal 4 — Batasan Fisik.
Aku sampai di sana dan berhenti.
“Lampiran 4c,” kataku.
“Iya.”
“Revisi 02.”
“Iya.”
“Yang seharusnya Revisi 03 sejak 17 November.”
Arsa menoleh.
“Kenapa 17 November?”
Aku memandang kertas itu.
“Karena tanggal 17 November,” kataku, “saya menghapus angka seratus dua puluh dari kolom durasi maksimum gandengan tangan, dan saya menggantinya dengan tanda pisah, dan saya menulis ‘tidak diukur’ di kolom catatan.”
“Terus?”
“Terus saya tidak menaikkan nomor revisinya.”
“Kenapa?”
Aku melipat halaman itu di sudut.
“Karena kalau saya naikkan,” kataku, “saya harus menulis di catatan perubahan apa yang berubah. Dan saya harus menulisnya dengan kalimat lengkap.”
Arsa tidak berkata apa-apa.
“Delapan tahun,” kataku. “Lima ratus dua belas dokumen. Saya pernah menolak laporan orang karena dia menulis ‘final’ dua kali.”
“Angelica.”
“Hm.”
“Kamu tanggal 17 November itu ngapain?”
Aku memandang lantai bengkel.
“Makan siang divisi,” kataku. “Mas datang. Mas duduk di lobi jam enam dan nggak telepon.”
“Itu bulan November tanggal 13.”
“Yang lobi tanggal 13. Yang makan siang tanggal 17.”
“Oh. Yang saya pegang tangan kamu.”
“Iya.”
“Yang kamu bilang ‘sesuai Pasal 4’.”
“Iya.”
“Dan saya bilang ‘iya, sesuai Pasal 4’.”
“Iya.”
Kami duduk di lantai bengkel dan tidak ada satu pun dari kami yang berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Kita dua-duanya bohong hari itu,” kataku.
“Iya.”
“Dan dua-duanya tahu yang lain bohong.”
“Iya.”
“Kenapa nggak ada yang ngomong?”
Arsa mengambil gelas kopi yang sudah dingin.
“Karena kalau salah satu ngomong,” katanya, “yang satunya harus jawab.”
Kami sampai di halaman tujuh pukul 10.50.
Pasal 6 — Pengakhiran.
Aku membacanya keras-keras, dan suaraku sedikit berubah di tengah, dan aku tahu dia mendengarnya.
“‘Salah satu pihak dapat membatalkan kesepakatan ini secara sepihak dengan pemberitahuan tertulis paling lambat tujuh hari sebelum tanggal pengakhiran yang dikehendaki.’”
Aku meletakkan kertas itu.
“Nah,” kataku.
“Nah.”
“Secara logika, ini seharusnya sekarang.”
“Iya.”
“Kontraknya sudah tidak punya dasar. Pasal 1 batal. Pasal 4 tidak lagi relevan. Pasal 5 sudah gugur sejak hari kedua. Yang tersisa cuma Pasal 2 dan 3, dan itu—” aku mengangkat bahu, “—itu cuma daftar acara keluarga.”
“Iya.”
“Jadi kita batalkan.”
“Oke.”
Aku mengambil pulpen dari tas.
Aku membuka halaman tujuh, di bagian bawah, di tempat kosong di bawah tanda tangan bernoda biru yang sudah memudar.
Dan aku menulis:
PEMBERITAHUAN PENGAKHIRAN
Sesuai Pasal 6, Pihak Pertama menyampaikan pemberitahuan pengakhiran kesepakatan ini, terhitung tujuh hari sejak tanggal—
Pulpenku berhenti.
“Kenapa?”
“Sebentar.”
“Angelica.”
“Sebentar, Mas Arsa.”
Aku menatap kalimat yang belum selesai itu.
Tujuh hari.
Yang berarti kontrak ini berakhir tanggal 14 Januari.
Yang berarti pada tanggal 14 Januari, dokumen tujuh halaman ini secara resmi tidak berlaku lagi, dan aku akan menyimpannya di folder bernama arsip, dan itu selesai.
Dan tanggal 15 Januari, aku akan datang ke bengkel ini.
Tanpa pasal. Tanpa lampiran. Tanpa jadwal enam puluh dua baris. Tanpa satu pun dokumen yang menjelaskan kenapa aku ada di sini atau berapa lama aku boleh tinggal atau apa yang terjadi kalau salah satu dari kami berubah pikiran.
Tidak ada dokumen yang mengatur.
Aku menulisnya sendiri, bulan November, di kolom Dampak, di baris yang secara teknis adalah hasil terbaik.
Aku meletakkan pulpen.
“Mas Arsa.”
“Ya.”
“Saya nggak mau.”
Hening.
“Oke,” katanya.
“Saya tahu ini tidak masuk akal.”
“Oke.”
“Kontraknya sudah tidak punya fungsi apa pun. Semua pasalnya sudah batal atau tidak relevan. Secara hukum ini sudah—”
“Angelica.”
Aku berhenti.
Arsa memungut eksemplarnya sendiri dari lantai. Yang dilipat dua kali seperti struk. Yang sudah dibawa di saku belakang selama empat setengah bulan sampai kertasnya berubah warna di lipatannya.
Dia memasukkannya kembali ke saku.
“Saya juga nggak mau,” katanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kamu duluan.”
“Saya tanya duluan.”
“Iya. Tapi kamu yang nulis.”
Aku memandang halaman tujuh, dan kalimat yang tidak selesai, dan blok kosong di bawahnya.
“Karena ini satu-satunya benda,” kataku, “yang buktinya ada.”
Arsa menoleh.
“Semua yang lain nggak ada buktinya,” kataku. “Mas nggak pernah bilang apa-apa selama empat bulan. Saya juga nggak. Yang kita punya cuma sarung tangan di laci sama jaket di belakang pintu sama tabel yang saya rusakin diam-diam.”
Aku mengangkat kertas itu.
“Ini ada tanggalnya. Ada tanda tangannya. Ini satu-satunya yang bisa dibuktikan.”
Aku meletakkannya kembali di pangkuanku.
“Kalau saya batalkan,” kataku, “yang tersisa cuma ingatan. Dan ingatan itu bisa berubah. Saya tahu karena pekerjaan saya membuktikan bahwa ingatan orang selalu berubah dan dokumen tidak.”
Bengkel itu sunyi.
“Sekarang Mas,” kataku.
Arsa menggosok belakang lehernya.
“Punya saya lebih bodoh.”
“Silakan.”
“Kalau dibatalin,” katanya, “berarti selama empat bulan kemarin itu palsu.”
Aku menoleh.
“Kalau dibatalin, artinya kita bilang: yang kemarin itu kontrak, yang sekarang beneran.” Dia mengangkat bahu. “Saya nggak mau gitu. Yang kemarin bukan palsu.”
“Mas Arsa—”
“Waktu kamu ketiduran di kursi lipat itu, itu bukan pasal.” Dia memandang C70 di tengah ruangan. “Waktu kamu bilang ke Ibu saya bahwa tiga bengkel nolak dan cuma saya yang mau — itu bukan pasal. Waktu kamu hafal Tante Endah harus dibales dua jam, itu bukan pasal.”
Dia menoleh padaku.
“Kalau saya batalin kontraknya, saya kayak lagi bilang semua itu nggak masuk hitungan.”
Aku memandang wajahnya.
“Itu tidak bodoh,” kataku.
“Hm.”
“Itu sama sekali tidak bodoh.”
Jadi kontrak itu tidak dibatalkan.
Aku mencoret kalimat yang belum selesai di halaman tujuh, dan aku mencoretnya dengan satu garis, dan aku memberi paraf di sebelahnya karena aku tidak bisa menahan diri, dan Arsa melihat aku memberi paraf dan menghela napas dengan cara yang tidak berusaha disembunyikan.
Lalu aku membalik halaman terakhir.
PASAL 7 —
untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan.
Arsa melihat aku melihatnya.
“Sekarang?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Aku menutup map itu.
“Karena saya belum tahu kalimatnya,” kataku.
Dan itu benar.
Yang tidak kukatakan: aku sudah tahu katanya.
Aku sudah tahu satu kata itu sejak bulan November, mungkin sejak Oktober, dan aku belum pernah mengucapkannya kepada siapa pun seumur hidupku, dan aku bahkan tidak mengucapkannya di dalam kepalaku sendiri karena kalau aku mengucapkannya di dalam kepalaku sendiri, aku akan mulai menunggu tempat untuk meletakkannya.
“Oke,” kata Arsa.
Dia berdiri. Menepuk celananya. Mengulurkan tangan padaku, telapak menghadap ke atas.
Aku mengambilnya.
“Sekarang apa?” tanyaku.
“Sekarang,” katanya, “kita harus mikirin satu hal yang lebih susah.”
“Apa?”
Dia memandang pintu samping.
“Ibu saya,” katanya, “masih nggak tahu.”
Jumlah kata: ±1.850
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan reading
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7