Chapter Fourteen
Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
POV: Angelica
ARC 2
Aku membuat tabelnya hari Minggu pagi.
Ini adalah hal yang kulakukan. Aku sadar. Nadia sudah menjelaskannya kepadaku dua kali dengan sabar dan satu kali dengan tidak sabar, dan kesimpulannya selalu sama: bahwa aku membuat tabel bukan untuk mengambil keputusan, melainkan untuk menunda mengambil keputusan sambil terlihat seperti sedang mengambil keputusan.
Aku tetap membuatnya.
ANALISIS RISIKO — PENGUNGKAPAN PERUBAHAN SIFAT HUBUNGAN
Pihak Pertama kepada Pihak Kedua
Skenario | Uraian | Kemungkinan | Dampak
A | Saya mengungkapkan. Pihak Kedua merasakan hal yang sama. | 25% | Kontrak batal. Hubungan berlanjut tanpa kerangka. Tidak ada dokumen yang mengatur.
B | Saya mengungkapkan. Pihak Kedua tidak merasakan hal yang sama, tetapi melanjutkan kesepakatan demi Nenek. | 45% | Saya tetap hadir dua sampai tiga kali seminggu selama tiga bulan, mengetahui hal tersebut.
C | Saya mengungkapkan. Pihak Kedua mengakhiri kesepakatan (Pasal 6). | 30% | Nenek. Februari. Delapan puluh empat orang.
Aku menatap kolom Dampak pada baris A selama dua menit.
Tidak ada dokumen yang mengatur.
Aku menuliskannya dengan tanganku sendiri, sebagai risiko, di kolom Dampak, di baris yang secara teknis adalah hasil terbaik.
Aku menutup file itu.
Yang tidak masuk ke dalam tabel:
Skenario D. Aku tidak mengungkapkan apa-apa. Dia yang mengungkapkan.
Aku tidak memasukkannya karena kemungkinannya, menurut perhitunganku, terlalu rendah untuk dihitung.
Aku tetap memikirkannya empat kali sehari.
Senin.
Arsa Bengkel: Dudukan baterainya jadi.
Angelica Prameswari: Yang keempat?
Arsa Bengkel: Yang kesembilan
Arsa Bengkel: Yang keempat itu tiga minggu lalu
Aku menghitung mundur di kepala.
Angelica Prameswari: Tiga minggu untuk lima percobaan?
Centang biru.
Arsa Bengkel: Ada kerjaan lain juga
Angelica Prameswari: Tentu.
Arsa Bengkel: “Tentu”
Angelica Prameswari: Ya.
Arsa Bengkel: Kamu kalau ngomong satu kata artinya panjang
Aku menatap layar itu di meja kantorku selama waktu yang tidak proporsional.
Dia mempelajariku.
Itu fakta yang bisa diverifikasi. Dia sudah tahu kalimat panjangku berarti bohong. Sekarang dia tahu kalimat pendekku juga berarti sesuatu.
Yang berarti ruang gerakku tinggal register netral, dan register netral tidak ada.
Selasa.
Nadia menemuiku saat makan siang dengan wajah orang yang membawa berkas.
“Aku mau ngomong.”
“Jangan.”
“Angel.”
“Nad, kalau kamu mau bilang bahwa aku harus jujur, aku sudah tahu, dan aku sudah membuat tabelnya, dan skenario yang paling mungkin adalah skenario B dengan kemungkinan empat puluh lima persen—”
“Aku mau ngomong soal bulan November.”
Aku berhenti.
“Kenapa November?”
“Tanggal tiga November.” Nadia menusuk sedotan ke gelasnya. “Ulang tahun dia.”
Aku meletakkan sendok.
“Tiga hari lagi,” katanya.
Yang perlu kau pahami tentang kado adalah bahwa kado adalah pernyataan.
Kado yang terlalu kecil menyatakan sesuatu. Kado yang terlalu besar menyatakan sesuatu yang lain, dan yang lain itu jauh lebih buruk. Kado yang tepat waktu menyatakan bahwa kau ingat. Kado yang terlambat menyatakan bahwa kau ingat setelah diingatkan.
Dan kado yang dibeli oleh seorang perempuan yang secara kontraktual berkewajiban hadir di acara keluarga sebanyak dua sampai tiga kali seminggu adalah, secara teknis, bagian dari pelaksanaan Pasal 2.
Aku memberi diriku dua jam.
Aku menghabiskan sembilan.
Yang kupertimbangkan, dengan alasan penolakan masing-masing:
Jam tangan. Terlalu mahal. Menyatakan sesuatu.
Dompet. Terlalu klise. Menyatakan bahwa aku tidak berpikir.
Kemeja. Aku tahu ukurannya — L, dari kerah kemeja abu-abu yang dia pakai ke kantorku, yang aku lihat labelnya saat dia menunduk mengambil piring. Terlalu pribadi. Menyatakan bahwa aku memperhatikan.
Sepatu kerja. Menyatakan bahwa aku memperhatikan sepatunya yang solnya sudah tipis di tumit kiri. Terlalu memperhatikan.
Kopi. Terlalu kecil.
Perkakas. Aku menghabiskan tiga jam di forum daring membaca soal merek kunci sok, dan berhenti ketika menyadari bahwa aku sudah membandingkan spesifikasi torsi dan tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini adalah keputusan yang wajar.
Pukul 23.40 hari Rabu, aku membeli sesuatu.
3 November. Jumat.
Aku datang ke bengkel jam enam sore dengan kotak di dalam tas kertas.
Fahri melihatku dan langsung menghilang ke belakang, yang seharusnya sudah menjadi peringatan.
“Mbak Angel!” Dia muncul lagi dua detik kemudian, membawa sesuatu yang ditutup lap. “Mbak bawa kado?”
“Fahri.”
“Saya juga bawa.” Dia mengangkat lapnya. Di bawahnya ada gelas plastik berisi es teh dan satu donat dengan lilin yang belum dinyalakan. “Cuma satu ini. Uang saya habis.”
“Itu bagus.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Mas Arsa nggak suka dirayain.” Fahri menaruh donat itu di meja kerja. “Tahun lalu saya kasih kue, dia bilang ‘kenapa’. Cuma itu. ‘Kenapa.’”
Arsa keluar dari belakang pukul 18.20 dengan tangan yang baru dicuci.
Dia melihat donat.
Dia melihat Fahri.
Dia melihat aku.
Dia melihat tas kertas di tanganku.
“Kenapa,” katanya.
“NAH!” kata Fahri. “Persis, Mbak! Persis kayak tahun lalu!”
Aku menunggu sampai Fahri pulang jam tujuh, yang dia lakukan dengan sangat lambat dan dengan tiga kali kembali karena “ada yang ketinggalan”.
Lalu aku meletakkan kotak itu di meja kerja.
Arsa membukanya.
Di dalamnya: sepasang sarung tangan kerja. Kulit. Ukuran L. Merek yang kubaca di forum daring selama tiga jam dan yang menurut empat dari lima orang di sana adalah merek yang tidak sok mahal tapi tidak akan sobek di bulan kedua.
Dia memandanginya cukup lama.
“Angelica.”
“Kalau tidak cocok bisa ditukar. Nota ada di dalam.”
“Ini—” Dia mengangkatnya. Membalikkannya. Menekan bagian telapaknya dengan ibu jari. “Ini bagus.”
“Ya.”
“Ini bagus sekali.”
“Ukurannya L. Saya lihat dari label kemeja Mas waktu di kantor saya.”
Aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku dan tidak sempat menghentikannya.
Arsa mengangkat kepala.
“Kemeja abu-abu.”
“Iya.”
“Yang saya pakai satu kali. Sebulan lalu.”
“Iya.”
Dan aku berdiri di sana, di bengkel, jam tujuh lewat, dengan lampu kerja yang menyala dan kompresor yang mati dan tidak ada satu pun orang ketiga di ruangan itu.
Tidak ada Bu Marni. Tidak ada Wisnu. Tidak ada Fahri.
Pasal 4 tidak aktif. Pasal 2 tidak aktif. Tidak ada satu pun pasal di dokumen tujuh halaman itu yang menjelaskan kenapa aku ada di sini.
“Tunggu,” kata Arsa.
Dia berjalan ke meja kerja. Ke laci nomor dua.
Dan membukanya.
Aku sudah tahu apa yang ada di dalamnya sejak lima minggu lalu, karena Fahri memberitahuku sambil menyortir baut dan bersiul sumbang.
Aku tetap tidak siap.
Dia mengeluarkan sepasang sarung tangan kerja. Masih dalam plastik. Belum dibuka.
Ukuran kecil.
“Ini,” katanya, meletakkannya di meja di antara kami, “buat kamu.”
Aku tidak bergerak.
“Kapan Mas beli?”
“Minggu keempat.”
“Minggu keempat.”
“Waktu kamu pegang senter.” Dia menggosok belakang lehernya. “Tangan kamu kena rangka. Ada garis hitam. Kamu lap pakai tisu tiga kali dan nggak hilang.”
Aku ingat itu.
Aku ingat aku menggosoknya di angkot dalam perjalanan pulang, dan ingat aku berpikir bahwa besok pagi ada rapat dan bahwa aku harus mencucinya dengan sabun cuci piring.
Aku tidak ingat ada orang yang melihat.
“Kenapa nggak dikasih?”
“Nggak ada alasannya.”
“Mas Arsa, alasannya jelas. Saya sering ke sini. Saya pegang senter. Tangan saya kotor.”
“Iya.” Dia memandang plastik itu di meja. “Tapi kalau saya kasih sarung tangan sendiri buat kamu, artinya kamu bakal ke sini terus.”
Kompresor menyala. Dua puluh detik.
Mati.
“Dan itu bukan bagian kontrak,” kataku.
“Iya.”
“Jadi Mas simpan di laci.”
“Iya.”
“Selama sembilan minggu.”
“Iya.”
Aku mengambil plastik itu. Kubuka. Kukeluarkan sepasang sarung tangan kerja ukuran kecil yang sudah menunggu di laci nomor dua selama sembilan minggu.
Pas.
Tentu saja pas.
Aku menatap tanganku sendiri di dalam sarung tangan itu, di bengkel, jam tujuh lewat, dengan seluruh tabel analisis risiko yang kususun hari Minggu berdiri di kepalaku dengan tiga baris dan tiga persentase dan nol kegunaan.
“Mas Arsa.”
“Ya.”
Skenario A. Dua puluh lima persen. Tidak ada dokumen yang mengatur.
“Selamat ulang tahun,” kataku.
Dia mengangguk pelan.
“Terima kasih, Angelica.”
Aku pulang jam sembilan.
Di angkot, aku membuka tabel itu dan menambahkan satu baris.
D | Pihak Kedua mengungkapkan lebih dulu. | ...% | ...
Aku menatap kolom kemungkinan yang kosong.
Aku tidak mengisinya.
Bukan karena aku tidak tahu angkanya.
Karena aku tahu bahwa kalau aku menuliskan angka di sana, aku akan mulai menunggu.
Jumlah kata: ±1.840
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan reading
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7