Chapter Twelve

Bab 12 — Suara Bor

POV: Angelica


Sabtu berikutnya aku datang jam sepuluh pagi dan tidak pergi sampai gelap.

Tidak ada acara. Tidak ada Bu Marni. Tidak ada satu pun baris di JADWAL yang mensyaratkan kehadiranku di bengkel itu pada hari itu, dan aku tahu karena aku memeriksanya dua kali sebelum berangkat, seperti orang yang memeriksa apakah kompor sudah mati padahal dia tahu sudah mati.

Aku membawa laptop, dua map, dan alasan.

Alasannya: kos-ku panas dan tetangga kamar sebelah sedang menjemur sepatu.

Alasan itu benar. Alasan itu juga tidak ada hubungannya dengan apa pun.


Bengkel pada hari Sabtu terdengar seperti ini:

Suara kompresor, yang menyala setiap tujuh menit selama dua puluh detik. Suara gerinda, yang tidak sering, tapi kalau ada, semua orang berhenti bicara. Radio kecil Fahri yang menyetel stasiun dangdut dengan volume yang setiap dua jam sekali dinaikkannya satu tingkat dan setiap dua jam sekali diturunkan lagi oleh Arsa tanpa berkata apa-apa.

Dan bor.

Bor itu punya suara yang aneh. Naik, lalu turun, lalu ada jeda satu setengah detik, lalu naik lagi. Berulang.

Aku bekerja dari kursi lipat itu — kursi yang katanya sudah ada dari dulu di gudang — dengan laptop di pangkuan dan kaki disilangkan.

Pukul 11.30, aku menyelesaikan dua bagian laporan.

Pukul 13.00, Fahri membawa nasi bungkus untuk tiga orang tanpa ditanya siapa pun.

Pukul 14.20, aku menyelesaikan bagian ketiga.

Pukul 15.10, aku berhenti bekerja dan tidak menyadarinya.


Yang terjadi adalah ini.

Arsa sedang mengerjakan dudukan baterai. Yang dibuat ulang dari nol, yang tidak boleh dibeli jadi, karena — dan aku sudah mendengar penjelasan ini tiga kali — rangka C70 punya jarak antar-pipa yang tidak standar dan dudukan pabrikan akan memaksa lubang baru dibuat di rangka asli.

“Kalau saya bor rangkanya, rangkanya nggak bisa balik lagi,” katanya, minggu lalu.

“Mas juga mau melepas mesinnya.”

“Iya. Tapi mesin bisa dipasang lagi.” Dia mengetuk pipa rangka dengan buku jari. “Lubang nggak bisa ditutup lagi.”

Jadi dia membuat dudukan yang menjepit, bukan yang dibaut. Butuh empat kali percobaan. Ini yang keempat.

Dan aku duduk di kursi lipat sambil menonton.

Bukan menonton dengan sengaja. Aku membuka laptop. Kursor berkedip di paragraf yang belum selesai. Aku mengangkat kepala satu kali untuk melihat sesuatu, lalu satu kali lagi, lalu berhenti menurunkannya.

Dia bekerja dengan cara yang sangat tidak terburu-buru.

Mengukur. Menandai dengan spidol. Mengukur lagi. Melepas penanda, memindahkannya dua milimeter, mengukur untuk ketiga kalinya. Menjepit. Mencoba. Melepas. Mengikir sudutnya sedikit — tiga puluh detik, mungkin — lalu meniupnya, lalu menjepit lagi.

Gagal.

Dia tidak mengeluh. Dia tidak menghela napas. Dia melepasnya, meletakkannya di meja, dan mulai dari mengukur lagi.

Aku menonton itu selama entah berapa lama, dengan laptop terbuka di pangkuan dan kursor berkedip di paragraf yang tidak bertambah satu kata pun.

Dan aku memikirkan sesuatu yang sangat spesifik, yang membuatku tidak nyaman, dan yang sudah kutunda selama beberapa minggu.

Aku memikirkan bagaimana Wisnu mengerjakan sesuatu.

Wisnu bekerja cepat. Wisnu bekerja dengan energi. Wisnu, kalau sesuatu gagal, akan berkata ya sudah, jangan diambil hati dan berpindah — dan selama dua tahun aku mengira itu adalah kedewasaan.

Butuh waktu lama sekali sebelum aku sadar bahwa dia tidak pernah mengulang apa pun. Bukan cuma pekerjaan.

Percobaan keempat gagal.

Arsa mengambil kikir lagi.


Aku bangun karena bahuku dingin.

Bukan begitu. Aku bangun karena bahuku tidak dingin, dan itu tidak masuk akal, karena kos-ku panas dan aku tidak pernah pakai selimut.

Aku membuka mata.

Bengkel itu gelap kecuali satu lampu kerja di sudut, dijepit di rak, diarahkan ke bawah. Rolling door sudah turun tiga perempat. Radio Fahri mati. Motor-motor pelanggan sudah tidak ada.

Aku masih di kursi lipat, kepala miring ke bahu kanan dengan sudut yang akan kubayar mahal besok pagi.

Laptopku sudah tertutup, di meja, jauh dari tepi.

Dan di bahuku ada jaket.

Jaket kerja. Kanvas. Berat. Berbau oli dan sabun cuci dan sesuatu yang lain yang tidak bisa kuurai.

Aku duduk diam selama beberapa detik tanpa bergerak sama sekali.

Lalu aku melihat jam.

19.42.

Aku tertidur selama tiga jam empat puluh menit di kursi lipat di bengkel orang.


Arsa duduk di lantai di samping C70, punggung bersandar ke kaki meja, memegang dudukan baterai yang sudah jadi.

Sudah jadi. Percobaan keempat, atau kelima, atau kedelapan.

Dia tidak sedang mengerjakannya lagi. Dia cuma memegangnya, memutarnya pelan di tangan, memeriksa sudut-sudutnya di bawah lampu.

“Bangun,” katanya, tanpa menoleh.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Jam berapa saya—”

“Empat lewat sepuluh.”

Aku menutup mata sebentar.

“Kenapa nggak dibangunin?”

“Kenapa harus?”

“Karena ini bengkel. Karena Mas kerja. Karena saya di tengah jalan.”

“Kamu nggak di tengah jalan.” Dia meletakkan dudukan itu. “Kamu di kursi.”

“Mas Arsa.”

“Kamu ngorok dikit.”

Aku membuka mulut.

“Nggak parah,” katanya. “Cuma pas napas masuk.”

“Saya tidak—”

“Fahri sempat ngerekam.”

“MAS ARSA.”

“Sudah saya suruh hapus.”

“Sudah dihapus?”

Arsa berpikir.

“Dia bilang sudah,” katanya.


Aku berdiri. Melepas jaket itu dari bahuku dan melipatnya — dua kali, rapi, sudut ketemu sudut — dan menyerahkannya kembali.

Dia tidak mengambilnya.

“Bawa aja.”

“Ini jaket kerja Mas.”

“Saya punya dua.”

“Saya naik angkot lima belas menit.”

“Iya. Malam.”

Aku berdiri di sana memegang jaket kanvas terlipat itu dengan kedua tangan seperti orang yang menerima berkas dari klien.

“Ini di luar Pasal 2,” kataku.

“Iya.”

“Dan di luar Pasal 4.”

“Iya.”

“Jadi—”

“Angelica.” Dia berdiri, menepuk celananya. “Nggak semua yang saya lakukan ada pasalnya.”

Kompresor menyala. Dua puluh detik. Mati.

“Itu justru masalahnya,” kataku.

Aku tidak berencana mengatakan itu.

Kalimat itu keluar pendek, tanpa satu pun anak kalimat, dan begitu keluar aku langsung tahu — dari cara Arsa berhenti bergerak — bahwa dia sudah belajar cukup banyak untuk mengenali apa artinya kalimat pendek dariku.

Kami berdiri di bengkel itu selama waktu yang terasa jauh lebih lama dari yang sebenarnya.

“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Kalau begitu masukin ke pasal.”

“Apa?”

“Jaketnya. Masukin ke pasal.”

“Mas Arsa—”

“Bikin Pasal 4 huruf d. ‘Peminjaman barang.’” Dia mengambil kunci pintu samping dari paku di dinding. “Nanti kalau sudah ada pasalnya, kamu bisa bawa pulang tanpa mikir.”

Dia berjalan ke pintu.

“Ayo. Saya anter sampai jalan besar.”


Aku tidak membuat Pasal 4 huruf d.

Aku duduk di kamar kos jam sepuluh malam dengan laptop terbuka, dokumen kontrak di layar, kursor di akhir Lampiran 4c, dan tidak mengetik apa pun selama dua belas menit.

Karena kalau aku membuat pasalnya, artinya jaket itu masuk sistem.

Dan kalau jaket itu masuk sistem, artinya jaket itu punya tanggal kembali.

Dan kalau ada tanggal kembali, artinya ada hari di mana aku akan melipatnya dua kali, sudut ketemu sudut, dan menyerahkannya, dan tidak ada satu pun pasal di dokumen tujuh halaman ini yang akan menjelaskan kenapa itu terasa seperti sesuatu.

Aku menutup laptop.

Jaket itu tergantung di belakang pintu kamar kos.

Aku tidak menggantungnya di lemari, bersama pakaian, karena itu akan berarti sesuatu.

Aku menggantungnya di belakang pintu, yang menurut logika yang kususun sendiri pada pukul 22.14 malam itu, adalah tempat sementara.


Aku bangun jam dua pagi karena ponselku menyala.

Fahri: mbak

Fahri: videonya udah saya hapus

Fahri: sumpah

Fahri: tapi mbak

Fahri: mas arsa nyuruh saya hapus jam 4 lewat

Fahri: mbak baru bangun jam 7

Fahri: berarti 3 jam mas arsa kerja pelan2 sendirian

Fahri: biasanya jam segitu dia pake gerinda

Fahri: saya cuma nyampein fakta mbak

Fahri: selamat malam

Aku menatap layar itu di kegelapan kamar kos.

Suara bor. Naik, turun, jeda satu setengah detik, naik lagi.

Bukan gerinda.

Aku meletakkan ponsel di dada dan memandang langit-langit selama waktu yang tidak kuhitung, untuk kedua kalinya dalam hidupku.


Jumlah kata: ±1.740