Chapter Ten
Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
POV: Angelica
Aku sampai di rumah Bu Rahayu pukul 13.58.
Rumah itu sudah berubah bentuk. Kursi ruang tamu didorong ke dinding, karpet digelar, dan di teras sudah berdiri meja panjang dengan taplak batik dan dua termos besar. Di dapur ada empat toples kue yang belum dibuka dan satu panci yang mengeluarkan uap.
Bu Rahayu membukakan pintu dengan celemek dan tangan berlepotan tepung.
“Angel! Bagus, tepat waktu.” Dia menoleh ke belakang. “Nek, Angel datang!”
“Siapa?”
“ANGEL, Nek.”
“Yang malaikat?”
“IYA, NEK.”
“Suruh masuk.”
Yang ingin dibicarakan Bu Rahayu, ternyata, adalah kue.
Delapan menit pertama sepenuhnya tentang kue. Yang mana yang dibeli, yang mana yang dibuat sendiri, kenapa Bu Tini selalu membawa risoles padahal sudah disepakati Bu Tini yang bawa minuman, dan bagaimana perasaan Bu Rahayu tentang hal itu (kompleks).
Aku mengiris timun karena diberi pisau tanpa ditanya.
“Angel.”
“Iya, Bu.”
“Nanti ibu-ibunya nanya-nanya.”
“Saya siap, Bu.”
“Nggak usah dijawab semua.”
Aku berhenti mengiris.
“Maksud Ibu?”
“Ya nggak usah dijawab semua.” Dia menuang adonan ke wajan. “Kamu itu tipe yang kalau ditanya, dijawab. Bagus. Tapi ibu-ibu itu nggak nanya buat tahu. Mereka nanya buat lihat kamu jawabnya gimana.”
Aku meletakkan pisau.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu kenapa membantu saya?”
Bu Rahayu tidak menoleh. Dia membalik dadar di wajan dengan gerakan satu tangan yang sudah otomatis sejak sebelum aku lahir.
“Membantu siapa?” katanya.
“Saya.”
“Ibu bantu Arsa.” Dia mengangkat dadar itu ke piring. “Kamu kebetulan ada di sebelahnya.”
Lalu dia menoleh, tersenyum, dan menyerahkan piring itu kepadaku.
“Bawa ke meja, ya. Awas panas.”
Makan siang keluarga berlangsung pukul 14.30, sebelum tamu datang, di meja yang sama dengan tiga minggu lalu.
Enam orang: Nenek Sumi, Bu Rahayu, Mbak Anjani yang datang dari Depok dengan mata orang yang menyetir dua jam, Kemal, Arsa, dan aku.
Arsa datang jam 14.20 dengan rambut masih basah dan wangi sabun yang tidak cocok dengan seluruh sisa kepribadiannya.
“Bengkel tutup?” tanyaku.
“Fahri yang jaga.”
“Fahri sendirian?”
“Saya kunci laci obeng.”
Dia duduk di sebelahku. Sisi kanan tubuhku, seperti biasa, melaporkan kejadian itu ke seluruh sistem saraf dengan tingkat urgensi yang tidak proporsional.
Dan makan siang itu berjalan normal selama sebelas menit.
Aku mencatat waktunya karena aku selalu mencatat waktunya.
14.41. Nenek Sumi meletakkan sendoknya.
“Angel.”
“Iya, Nek.”
“Umur kamu berapa?”
“Dua puluh enam, Nek.”
Dia mengangguk. Mengambil sendoknya lagi. Mengaduk sup.
Dan aku, yang sudah mengiris timun selama empat puluh menit dan sudah menerima peringatan dari Bu Rahayu dan yang seharusnya sudah tahu — aku, dengan sangat bodoh, mengambil minum.
“Kapan mau punya anak?”
Air itu masuk ke tempat yang salah.
Apa yang terjadi berikutnya berlangsung sekitar dua belas detik dan tidak ada satu pun bagiannya yang bermartabat. Aku terbatuk. Aku terbatuk lagi. Aku membungkuk. Mbak Anjani berdiri. Kemal berteriak “TANTE ANGEL MATI”. Bu Rahayu berkata “Kemal!” Arsa menepuk punggungku dua kali, lalu berhenti, lalu — karena jelas tidak tahu harus berbuat apa — meletakkan tangannya di antara tulang belikatku dan membiarkannya di sana.
Yang, entah kenapa, berhasil.
Aku menarik napas. Meraih tisu. Menyeka mata.
“Maaf,” kataku, serak.
“Nek, ya ampun,” kata Mbak Anjani.
“Kenapa? Ibu cuma nanya.”
“Nanyanya nanti-nanti aja.”
“Nanti kapan? Nenek delapan puluh.” Nenek Sumi mengangkat sendoknya. “Nenek nggak punya nanti.”
Meja itu hening dengan cara yang sangat berbeda dari hening sebelumnya.
Dan Nenek Sumi, yang sudah kembali ke supnya, menambahkan tanpa mengangkat kepala:
“Kakek kamu meninggal sebelum Anjani lahir. Nggak sempat lihat. Ibu nggak mau begitu.”
Bu Rahayu meletakkan gelasnya sangat pelan.
Aku menoleh ke Arsa.
Tangannya masih di punggungku.
14.44. Dan di sinilah dia melakukan hal terburuk yang mungkin dilakukan seorang manusia.
“Nek,” katanya. “Nanti kalau ada, Nenek yang pertama tahu.”
Aku berbalik menatapnya begitu cepat sampai leherku bunyi.
“Aduuuuh,” kata Mbak Anjani, dua oktaf lebih tinggi.
“Nah!” Nenek Sumi menepuk meja satu kali. “Nah, gitu dong.”
“Arsa,” kata Bu Rahayu.
“Kenapa, Bu?”
“Ibu belum denger apa-apa soal lamaran.”
“Belum ada, Bu.”
“Terus kok udah ngomongin—”
“Nenek yang nanya duluan.”
“Ya kamu jangan dijawab.”
“Ibu tadi yang bilang ke Angel, kalau ditanya nggak usah dijawab semua.” Arsa mengambil kerupuk. “Saya juga nggak jawab semua.”
Bu Rahayu menutup mulut.
Mbak Anjani menutup mulut dengan tangan, dan bahunya bergetar.
Dan Kemal, dari ujung meja, berkata dengan sangat keras:
“AKU MAU ADEK.”
Kami dikeluarkan dari rumah pukul 15.05 dengan alasan “beli es batu”, yang menurut Bu Rahayu mendesak dan menurut termos di teras jelas tidak.
Kami berjalan di gang tanpa bicara selama lima puluh meter.
“Mas Arsa.”
“Iya.”
“‘Nenek yang pertama tahu.’”
“Iya.”
“Mas paham apa yang barusan Mas lakukan?”
“Paham.”
“Mas menaikkan ekspektasi delapan puluh empat orang.”
“Enam orang. Yang di meja.”
“Mbak Anjani ada di meja itu.”
Arsa berhenti berjalan.
“Oh,” katanya.
“Iya. Oh.” Aku terus berjalan. “Mbak Anjani akan mengirim pesan ke grup sebelum kita sampai warung.”
Ponselku bergetar.
Aku mengangkatnya tanpa berhenti melangkah.
Anjani (Mbak): [foto meja makan]
Anjani (Mbak): Nenek udah mulai nanya cucu 🤭
Anjani (Mbak): Arsa jawabnya “nanti Nenek yang pertama tahu”
Anjani (Mbak): AKU SAKSI HIDUP
Tante Endah: ALHAMDULILLAH
Rina (sepupu 2): NANGISSS
Om Dedi: Sudah ada tanggal?
Yudha (sepupu 1): om baca dulu
Bowo Wijaya: Mohon doanya semua 🙏🙏🙏
Aku membalik layar ke arahnya sambil terus berjalan.
Arsa membacanya. Dari samping. Sambil jalan.
“Empat menit,” katanya.
“Tiga.”
“Angelica—”
“Tiga menit, Mas Arsa. Tiga.”
Warungnya tutup.
Tentu saja warungnya tutup. Sabtu sore, Bu Yanti pulang kampung, ada kertas di rolling door dengan tulisan spidol yang tintanya habis di huruf terakhir.
Kami berdiri di depannya.
“Es batunya nggak ada,” kata Arsa.
“Ibu Mas tidak butuh es batu.”
“Iya.”
“Ibu Mas mengeluarkan kita dari rumah supaya bisa bicara dengan Nenek.”
“Iya.”
Aku memandang rolling door itu.
Dan tiba-tiba, tanpa peringatan, aku ketawa.
Bukan ketawa satu kali lewat hidung seperti di warung tiga minggu lalu. Ketawa betulan, yang keluar dari perut, yang membuatku harus menunduk dan memegang lutut, di trotoar, di depan warung tutup, jam tiga sore.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Angelica.”
“Saya—” Aku mengibaskan tangan. “Saya punya spreadsheet.”
“Iya.”
“Enam puluh dua baris.”
“Iya.”
“Dan di baris ketiga puluh delapan tertulis ‘kondangan Rina, November, netral’.” Aku menyeka mata. “Netral, Mas. Saya menulis netral. Padahal sekarang Nenek delapan puluh tahun sudah menghitung mundur cucu buyut.”
Arsa memandangku selama beberapa saat.
Lalu dia duduk di trotoar.
Begitu saja. Di depan warung tutup, dengan celana yang jelas baru dicuci, dia duduk di trotoar dan menyandarkan lengan ke lututnya.
Aku berdiri di sana selama tiga detik.
Lalu duduk di sebelahnya.
“Angelica.”
“Ya.”
“Kalau nanti selesai.”
Sesuatu di perutku berubah posisi.
“Ya.”
“Nenek gimana?”
Aku tidak menjawab.
Sebuah motor lewat. Lalu satu lagi. Di seberang jalan, rolling door bengkel setengah terbuka dan aku bisa melihat kaki Fahri di bawahnya, berjongkok di dekat sesuatu.
“Versi C,” kataku akhirnya.
“Apa?”
“Cerita perpisahan versi C. Saya yang salah.” Aku memandang jalan. “Kalau saya yang salah, Nenek akan marah ke saya. Bukan ke Mas. Dan Nenek nggak akan pernah ketemu saya lagi, jadi dia nggak akan tahu apa-apa lagi tentang saya, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan.”
Arsa tidak bilang apa-apa selama sepuluh detik.
“Kamu bikin itu,” katanya, “sebelum ketemu Nenek.”
“Iya.”
“Waktu itu Nenek belum ada namanya buat kamu. Cuma ‘riwayat penyakit: hipertensi, katarak sebelah kiri’.”
Aku memandang lututku.
“Iya,” kataku.
“Sekarang gimana?”
Ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku, dan aku menelannya kembali dengan cara yang sudah kupelajari sejak sebelas tahun lalu.
“Sekarang saya masih pakai versi C,” kataku.
“Hm.”
“Itu yang paling efisien.”
“Hm.”
“Mas Arsa, jangan bilang ‘hm’.”
“Saya nggak bilang apa-apa.”
“Mas bilang ‘hm’ dan artinya panjang.”
Dia berdiri. Menepuk celananya. Mengulurkan tangan padaku — bukan tangan yang mengajak, tangan yang menawarkan, telapak menghadap ke atas, tanpa berkata apa-apa.
Tidak ada saksi. Tidak ada Bu Marni. Tidak ada Wisnu. Tidak ada satu pun pihak ketiga di jalan itu kecuali Fahri yang berjongkok di seberang dan jelas-jelas tidak menghadap ke arah kami.
Pasal 4 tidak aktif.
Aku mengambil tangannya.
Kami kembali ke rumah pukul 15.40 tanpa es batu, dan Bu Rahayu tidak menanyakannya sama sekali.
Tamu pertama datang pukul 16.00.
Tamu kedelapan datang pukul 16.12.
Dan pintu ditutup.
Jumlah kata: ±1.820
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi reading
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7