Chapter Twenty Six

Bab 26 — Menginap

POV: Angelica


Permintaannya masuk hari Jumat.

Anjani (Mbak): Angel

Anjani (Mbak): tolong

Angelica Prameswari: Ya, Mbak?

Anjani (Mbak): Sabtu aku harus ke Balikpapan. Mendadak. Mas-nya masuk rumah sakit, cuma tipes, tapi ya gitu

Anjani (Mbak): Ibu ada nikahan di Cirebon, udah bayar bus

Anjani (Mbak): Nenek nggak bisa jagain Kemal sendirian

Angelica Prameswari: Saya bisa, Mbak.

Anjani (Mbak): ya ampun makasih

Anjani (Mbak): tapi angel

Anjani (Mbak): sama Arsa ya. jangan sendirian

Angelica Prameswari: Kenapa harus berdua?

Anjani (Mbak): nanti kamu ngerti


Aku mengerti pada pukul 14.20 hari Sabtu.

“Om Arsa nggak mau tidur di rumah Nenek,” kata Kemal, dari kursi lipat, sambil mengayunkan kaki. “Aku juga nggak mau.”

“Kenapa?”

“Bau obat.”

“Kemal.”

“Bau obat beneran, Tante.”

Aku menoleh ke Arsa, yang sedang menutup rolling door setengah.

“Nenek pakai balsem,” katanya. “Banyak.”

“Terus rencananya apa?”

Arsa memandang bengkel.

Aku memandang bengkel.

Kemal, yang sudah lebih dulu memahami situasi, mulai melompat-lompat.

“KITA TIDUR DI SINI?”

“Nggak.”

“OM ARSA—”

“Nggak, Kemal.”

“KITA TIDUR DI SINI YA?”

“Kemal—”

“BOLEH YA?”

Dan aku ingin mencatat, untuk keperluan dokumentasi, bahwa Arsa Pramudya bertahan selama total sebelas detik.


Yang ada di lantai atas bengkel:

Satu ruangan kosong berukuran empat kali lima meter, yang katanya kantor tapi tidak pernah dipakai sebagai kantor.

Satu meja lipat.

Satu sofa dua dudukan, warna cokelat, yang menurut Arsa “sudah ada waktu saya sewa” dan yang menurut penampilannya sudah ada waktu ruko itu dibangun.

Satu kipas angin berdiri.

Tiga kardus berisi entah apa.

Dan satu jendela yang menghadap ke jalan besar, yang kalau dibuka, seluruh ruangan mendadak jadi berisik dan sekaligus jauh lebih baik.

“Kita butuh kasur,” kataku.

“Ada matras.”

“Matras yoga?”

“Matras camping.”

“Mas Arsa punya matras camping?”

“Fahri punya.”

“Fahri camping?”

“Fahri beli waktu ada diskon. Belum pernah dipakai.” Arsa membuka salah satu kardus. “Dia simpan di sini karena kosnya sempit.”

Dia mengeluarkan matras camping yang masih ada label harganya.

Satu.

“Satu?”

“Satu.”

Kemal, dari ambang pintu: “AKU YANG PAKE.”


Daftar belanja, disusun pukul 15.00, dilaksanakan pukul 15.30.

Aku menyusunnya di ponsel. Sebelas item, dikelompokkan per kategori, dengan perkiraan harga.

Kemal menghapus setengahnya di minimarket dengan metode berdiri di depan rak dan tidak bergerak.

Yang akhirnya dibeli:

  • Nasi kotak tiga (disetujui)
  • Susu kotak (disetujui)
  • Sabun cuci muka (kebutuhanku, tidak relevan)
  • Sikat gigi anak (disetujui)
  • Mi instan cup empat (tidak ada di daftar)
  • Wafer cokelat besar (tidak ada di daftar)
  • Bola plastik (tidak ada di daftar)
  • Kaus kaki, karena Kemal menginjak genangan (tidak diperkirakan)

“Bola,” kataku, di kasir.

“Om Arsa yang ambil,” kata Kemal.

Aku menoleh.

“Dia yang minta,” kata Arsa.

“Dia enam tahun.”

“Iya.”

“Mas dua puluh sembilan.”

“Tiga puluh.”

“Sejak November.”

“Iya.”

Kasirnya memindai bola itu.


16.40. Bola itu masuk ke selokan.

16.44. Bola itu diambil dari selokan oleh Fahri, yang muncul tanpa diundang karena “kepo aja, Mas”, dan yang kemudian dicuci tangannya oleh Kemal dengan sabun cuci mukaku.

17.10. Fahri pulang setelah diberi satu mi instan cup.

17.30. Kemal ingin melihat motor.

17.32. Kemal ingin menaiki motor.


“Nggak.”

“OM.”

“Nggak, Kemal.”

“Aku nggak akan pencet apa-apa.”

“Kemal, terakhir kali kamu pencet tombol, Om harus ulang dua puluh menit.”

Kemal berdiri di depan C70 dengan kedua tangan di belakang punggung, yang jelas merupakan hasil pelatihan dari seseorang.

“Kalau nggak dinyalain?”

Arsa menoleh padaku.

Aku mengangkat bahu.

Dan begitulah, selama empat puluh menit, seorang anak berusia enam tahun duduk di atas Honda C70 tahun 1979 milik ayahku, dalam keadaan mati total, di tengah bengkel, sambil membuat suara mesin dengan mulutnya.

“BRUUUM.”

“Kemal, motor ini nggak brum.”

“Motor harus brum.”

“Motor ini nggak.”

“Motor apa yang nggak brum.”

Arsa membuka mulut untuk menjelaskan.

Aku meletakkan tangan di lengannya.

“Biarkan,” kataku.

“Tapi—”

“Mas Arsa.” Aku memandang anak itu di atas motor ayahku, membuat suara yang sudah sebelas tahun tidak ada di dunia. “Biarkan.”

Arsa memandangku.

Lalu memandang Kemal.

“BRUUUUM.”

“Iya,” kata Arsa pelan. “Ya udah.”


19.00. Makan malam nasi kotak di lantai atas, duduk melingkar di lantai, dengan kipas angin diarahkan ke Kemal karena dia yang paling banyak mengeluh.

19.40. Kemal menumpahkan susu kotak ke matras camping yang belum pernah dipakai.

19.42. Matras camping dilap. Kemal berkata “kan belum pernah dipakai jadi nggak apa-apa”, yang secara logika salah tapi disampaikan dengan sangat percaya diri.

20.15. Sikat gigi di wastafel bawah, yang airnya berbau besi.

20.30. Kemal tidak mau tidur.

20.45. Kemal tidak mau tidur.

21.00. Kemal masih tidak mau tidur.


“Ceritain.”

“Om nggak bisa cerita.”

“Ceritain.”

“Om nggak punya cerita.”

“Tante Angel.”

Aku menoleh dari sofa, tempatku duduk dengan laptop yang sudah lama tidak kubuka.

“Iya?”

“Tante ceritain.”

“Tante juga nggak punya cerita, Kemal.”

“Tante punya. Tante kan pinter.”

Aku menutup laptop.

“Baik,” kataku.

Arsa, dari lantai, menoleh dengan ekspresi yang jelas ingin tahu bagaimana ini akan berakhir.

“Dahulu kala,” kataku, “ada sebuah perusahaan.”

“Perusahaan itu apa?”

“Tempat orang kerja.”

“Kayak bengkel?”

“Lebih besar.”

“Ada motornya?”

“Nggak ada motornya.”

Kemal terlihat sangat kecewa.

“Tapi,” kataku, “di perusahaan itu ada masalah. Setiap hari, katering mengirim makan siang untuk tiga ratus dua puluh orang. Padahal yang datang cuma seratus dua puluh.”

“Kok gitu?”

“Nah.” Aku memiringkan badan. “Itu pertanyaannya.”

Kemal duduk.

Dia betul-betul duduk, di atas matras camping yang bau susu, dengan mata yang sepenuhnya terbuka.

“Terus?”

“Terus ada satu orang yang harus membuka dua ratus enam puluh kertas satu per satu untuk mencari tahu.”

“Dua ratus enam puluh?”

“Iya.”

“Banyak banget.”

“Iya.”

“Sendirian?”

Aku berhenti.

“Iya,” kataku. “Sendirian.”

Dan dari lantai, tanpa mengangkat kepala dari ponselnya, Arsa berkata:

“Nggak.”

Kemal menoleh. “Nggak apa, Om?”

“Nggak sendirian,” kata Arsa. Dia masih tidak mengangkat kepala. “Ada satu orang lagi yang tiap malem nungguin dia selesai.”

Kemal berpikir sangat keras.

“Siapa?”

“Nggak tahu,” kata Arsa. “Tukang bengkel kali.”


Kemal tidur pukul 21.50, di tengah kalimat, dengan mulut terbuka dan satu kaki di luar matras.

Kami membereskan bungkus nasi kotak dalam diam. Aku memindahkan susu kotak yang tinggal setengah ke tempat yang tidak bisa dijangkau kaki. Arsa mematikan kipas angin dan membuka jendela, dan ruangan itu langsung dipenuhi suara jalan besar dan udara yang jauh lebih baik.

Aku duduk di sofa.

Dia duduk di sofa.

Sofa itu dua dudukan, dan kami duduk di dua dudukan itu, dan tidak ada satu sentimeter pun jarak yang tersisa karena sofanya memang terlalu kecil.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Tadi Mas bilang ada satu orang yang menunggu saya selesai tiap malam.”

“Iya.”

“Itu tidak benar.”

“Iya.”

“Kita bahkan belum kenal waktu itu.”

“Iya.”

Suara motor lewat di bawah.

“Terus kenapa Mas bilang begitu?”

Arsa menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan memandang langit-langit yang catnya mengelupas di satu sudut.

“Karena kalau nanti dia inget cerita ini pas gede,” katanya, “saya nggak mau bagian yang dia inget adalah ‘ada orang yang buka dua ratus enam puluh kertas sendirian’.”

Aku memandang samping wajahnya.

“Itu yang terjadi,” kataku.

“Iya,” katanya. “Tapi sekarang enggak.”


Aku bangun pukul 04.10 karena leherku salah.

Kipas angin mati. Jendela terbuka. Jalan besar sudah sepi kecuali satu truk yang lewat setiap beberapa menit.

Kemal masih tidur, sekarang dengan kedua kaki di luar matras dan kepala di ujung yang berlawanan dari tempat dia mulai.

Dan aku menyadari bahwa aku tidak duduk lagi.

Aku berbaring di sofa dua dudukan, dengan kepala di bahu seseorang yang juga berbaring, dengan cara yang secara geometris seharusnya tidak mungkin di sofa berukuran itu.

Aku tidak bergerak.

Aku berbaring di sana selama mungkin dua puluh menit, memandang langit-langit yang catnya mengelupas di satu sudut, dan menghitung — karena aku menghitung — bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sebelas tahun aku bangun di ruangan yang isinya lebih dari satu orang.

Pukul 04.35, sesuatu bergerak.

“Angelica.”

“Hm.”

“Kamu bangun?”

“Nggak.”

“Oke.”

Hening.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Kalau Mbak Anjani nanya besok, kita jawab apa?”

Jeda panjang.

“‘Kemal tidur jam sepuluh’,” kata Arsa.

“Itu saja?”

“Itu yang dia tanya.”

Aku menutup mata lagi.

Dan aku tidak bergerak, dan dia tidak bergerak, dan truk berikutnya lewat di jalan besar di bawah jendela yang terbuka.


Jumlah kata: ±1.720