Chapter Twenty Four

Bab 24 — Empat Belas Menit

POV: Angelica


Wisnu Aditama jatuh pada hari Selasa, 23 Januari, antara pukul 10.06 dan 10.20.

Empat belas menit.

Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang menggebrak meja. Tidak ada satu pun kalimat yang layak dikutip.

Aku bahkan tidak berdiri.


Ini yang perlu kau tahu tentang cara kerja sebuah temuan audit.

Temuan bukan tuduhan. Temuan adalah selisih.

Kau punya dua angka yang seharusnya sama, dan mereka tidak sama, dan tugasmu adalah menjelaskan kenapa. Sisanya bukan urusanmu. Kau tidak menghakimi. Kau menyerahkan selisihnya kepada orang yang berwenang, dan mereka yang memutuskan.

Itu sebabnya pekerjaanku aman selama delapan tahun.

Itu juga sebabnya orang seperti Wisnu meremehkannya.


Yang terjadi bulan Desember.

Setelah presentasi itu, Lampiran C dijadikan dasar tindak lanjut. Direktur Operasional memerintahkan renegosiasi kontrak vendor katering, dan pelaksanaannya diserahkan kepada Wisnu, sebagai kepala divisi yang “menemukan” temuannya.

Wisnu menyusun tim.

Aku tidak masuk ke dalamnya.

Alasannya, yang dia sampaikan padaku secara pribadi di lorong dengan gelas kopi di tangan: “Ngel, aku sengaja nggak masukin kamu. Kamu udah kerja keras banget di depan. Sekarang giliran orang lain.”

Aku bilang baik.

Aku juga, pada hari yang sama, mengirim satu surel.

Surel itu ditujukan kepada bagian Sekretariat, dengan tembusan kepada diriku sendiri, dan isinya adalah permohonan agar salinan dokumen kerja Lampiran C — seluruh dua ratus enam puluh nota, dalam bentuk pindaian — diarsipkan ke server audit sesuai prosedur retensi lima tahun.

Prosedur itu ada. Nomornya SOP-AI-07. Aku yang mengusulkannya tahun lalu.

Sekretariat mengarsipkannya dalam tiga hari.

Aku tidak memikirkannya lagi selama enam minggu.


Yang terjadi bulan Januari.

Renegosiasi selesai tanggal 18. Hasilnya: kontrak baru dengan vendor yang sama, dengan penurunan nilai sebesar sekian persen, dan satu adendum soal mekanisme verifikasi jumlah porsi.

Wisnu mengirimkan laporan hasilnya ke Direktur Operasional pada tanggal 19, dengan tembusan ke seluruh kepala divisi, karena dia selalu menembuskan ke seluruh kepala divisi.

Aku membacanya di kereta pulang.

Dan di halaman lima, di bagian Dasar Perhitungan, ada tabel.

Tabel itu menyebutkan bahwa jumlah kelebihan tagihan yang menjadi dasar renegosiasi adalah empat belas tanggal, dengan total selisih porsi sebesar angka tertentu.

Angkanya salah.


Bukan salah banyak. Salah sedikit.

Selisihnya sekitar sembilan persen, dan sembilan persen itu muncul karena pada tiga dari empat belas tanggal itu, jumlah karyawan hadir yang dipakai adalah angka dari daftar hadir finger print, bukan dari daftar hadir yang sudah disesuaikan dengan karyawan yang sedang dinas luar.

Aku tahu, karena akulah yang melakukan penyesuaian itu.

Aku tahu, karena penyesuaian itu ada di catatan kaki halaman dua puluh dua laporan asliku, dengan huruf sembilan, miring, yang berbunyi: angka hadir telah disesuaikan dengan 41 karyawan berstatus dinas luar; rincian pada Lampiran C-3.

Lampiran C-3.

Yang tidak ada di laporan Wisnu.

Karena Wisnu tidak pernah membacanya sampai halaman dua puluh dua.


Aku duduk di kereta selama dua puluh menit dengan ponsel di tangan.

Aku bisa diam. Sembilan persen itu tidak akan ketahuan siapa pun. Vendor tidak akan protes karena hasilnya tetap menguntungkan mereka dibanding tuntutan awal. Direktur tidak akan memeriksa. Tidak ada satu orang pun di gedung itu yang akan membuka halaman dua puluh dua.

Aku juga bisa mengirim surel ke Wisnu, dan dia akan memperbaikinya, dan dia akan berterima kasih di depan orang, dengan cara yang membuatku terdengar seperti mesin fotokopi.

Aku memilih yang ketiga.


Selasa, 23 Januari. Ruang rapat kecil lantai empat. 10.00.

Rapat evaluasi tindak lanjut temuan. Bukan rapat besar. Sembilan orang: Wisnu, aku, tiga staf dari timnya, dua dari Bagian Pengadaan, satu dari Legal, dan Bu Vera yang hadir sebagai perwakilan Divisi Umum dan yang, seperti biasa, tidak diminta bicara.

Wisnu memaparkan selama lima menit.

Pada menit keenam, dia bertanya apakah ada tanggapan.

Aku mengangkat tangan.

“Ngel.” Dia tersenyum. “Silakan.”

“Terima kasih, Pak.” Aku membuka map. “Saya hanya mau memastikan satu hal soal Dasar Perhitungan di halaman lima.”

“Silakan.”

“Angka hadir yang dipakai untuk tanggal 27 April, 2 Mei, dan 15 Agustus. Itu dari sumber mana?”

Wisnu membuka laporannya. “Daftar hadir.”

“Daftar hadir yang mana, Pak? Ada dua.”

Jeda.

“Yang dari HR.”

“HR mengeluarkan dua,” kataku. “Yang mentah dari mesin, dan yang sudah disesuaikan.”

“Ya yang resmi.”

“Dua-duanya resmi.”

Ruangan itu tidak terasa berubah sama sekali. Orang dari Legal masih menulis. Bu Vera masih memandang layar.

“Ngel,” kata Wisnu, tersenyum, “kalau ada yang mau kamu sampaikan, sampaikan aja langsung. Nggak usah muter.”

“Baik.”

Aku membalik halaman.

“Pada tiga tanggal itu, ada empat puluh satu karyawan berstatus dinas luar yang tercatat hadir di mesin tapi tidak berada di kantor. Kalau angka mentah yang dipakai, selisih porsinya mengecil sekitar sembilan persen.”

“Dan kamu tahu dari mana?”

“Dari catatan kaki halaman dua puluh dua.”

“Halaman dua puluh dua yang mana?”

Dan di sinilah, tepatnya di sini, pukul 10.12, Wisnu Aditama membuat satu-satunya kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Dia bertanya halaman dua puluh dua yang mana.

Di depan delapan orang.


“Laporan asli,” kataku.

“Laporan asli apa?”

“Laporan temuan Lampiran C, Pak. Tiga puluh empat halaman.”

“Yang kita pakai itu ringkasannya.”

“Ringkasan itu Bapak yang susun dari laporan tiga puluh empat halaman.”

“Iya.”

“Berarti Bapak punya laporan tiga puluh empat halamannya.”

“Ya jelas.”

“Baik.” Aku menutup map. “Kalau begitu tidak masalah. Kita bisa cek halaman dua puluh dua sekarang dan koreksi angkanya, dan saya kirim adendum ke Pak Dirop siang ini.”

Wisnu tidak bergerak.

Dan sembilan orang di ruangan itu — yang sepanjang enam menit terakhir tidak merasa ada apa-apa yang terjadi — mulai menoleh.

Bukan karena aku menuduhnya.

Karena kepala divisi mereka baru saja diminta membuka file yang ada di komputernya sendiri, dan dia tidak membukanya.


“Ngel.”

“Ya, Pak.”

“Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin?”

“Laporannya beredar tanggal 19, Pak. Ini tanggal 23.”

“Empat hari.”

“Iya.”

“Kamu diem empat hari.”

“Saya juga tidak masuk tim renegosiasi,” kataku. “Jadi saya baru membacanya sebagai penerima tembusan.”

Orang dari Legal berhenti menulis.

Bu Vera mengangkat kepala dari layar.

“Ngel, ini rapat internal,” kata Wisnu, dan senyumnya masih ada, tapi otot di sekitarnya sudah tidak ikut. “Nggak usah bawa-bawa siapa yang di tim.”

“Baik.”

“Kamu kelihatan masih kesel soal Desember.”

“Saya menyampaikan selisih angka, Pak.”

“Iya, dan aku hargain.” Dia mengangkat tangan, ke arah ruangan, dengan gestur seorang pemimpin yang berdamai. “Serius. Ini bagus. Ini yang aku maksud waktu bilang divisi ini isinya orang teliti.”

Dia menoleh ke stafnya.

“Nanti tolong dicek ya, angka di halaman lima.”

“Baik, Pak.”

“Selesai.” Dia menutup laptopnya. “Ada lagi?”

Dan seharusnya selesai di situ.

Kalau dia berhenti di situ, dia menang. Sembilan orang akan keluar dari ruangan itu dengan kesan bahwa ada kesalahan teknis kecil yang sudah ditangani.

Tapi dia tidak berhenti di situ.

Karena dia harus punya kalimat terakhir. Dia selalu harus punya kalimat terakhir. Aku tahu itu sejak apartemen dengan cermin lemari, dan dia tidak pernah berubah, dan tidak ada satu orang pun yang pernah memberitahunya.

“Ngel,” katanya, sambil merapikan kertas. “Lain kali kalau ada yang ganjil, langsung ke aku aja ya. Nggak usah nunggu forum.”

Dan itu.

Itu kalimatnya.


“Baik, Pak,” kataku. “Untuk catatan, saya sudah mengirim surel kepada Bapak tanggal 19 Desember.”

Wisnu berhenti merapikan kertas.

“Surel apa?”

“Perihal pengarsipan dokumen kerja Lampiran C ke server audit, sesuai SOP-AI-07.” Aku membuka ponsel. “Tembusan ke Sekretariat. Isinya juga menyebutkan bahwa dokumen kerja mencakup Lampiran C-1 sampai C-5, termasuk C-3 mengenai penyesuaian karyawan dinas luar.”

Ruangan itu diam.

“Bapak membalasnya tanggal 20 Desember,” kataku. “Balasannya: ‘Oke, thanks Ngel. Good job.’”

Aku meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke atas.

“Jadi Bapak sudah tahu Lampiran C-3 ada,” kataku, “sejak lima minggu sebelum laporan hasil renegosiasi disusun.”


Pukul 10.20.

Tidak ada yang berkata apa-apa selama mungkin enam detik.

Orang dari Legal menutup bukunya, sangat pelan, dengan cara yang jauh lebih keras daripada kalau dia membantingnya.

Dan aku duduk di kursiku, dengan map tertutup di depanku, dan aku tidak merasakan apa-apa yang menyerupai kemenangan.

Aku merasakan sesuatu yang lebih kecil dan lebih rata.

Aku merasakan: selesai.


Ceritanya, setelah itu, tidak dramatis.

Tidak ada pemecatan. Tidak ada skandal. Perusahaan tidak bekerja begitu.

Yang terjadi: adendum dikirim ke Pak Dirop pada hari yang sama, dengan namaku sebagai penyusun. Bagian Legal meminta salinan laporan asli tiga puluh empat halaman untuk arsip mereka sendiri, yang secara prosedural adalah permintaan yang sangat wajar dan yang secara praktis berarti tiga orang di gedung itu sekarang tahu bahwa laporan itu ada namanya.

Pada bulan Maret, Wisnu dipindahkan ke Divisi Pengembangan Bisnis di kantor cabang.

Itu bukan penurunan jabatan. Secara struktur, itu setara.

Semua orang tahu itu bukan setara.

Dia mengucapkan selamat tinggal di ruang serbaguna lantai dua dengan pidato tujuh menit yang menyebut nama sebelas orang. Namaku disebut kesembilan.

“Angel,” katanya, dari depan, dengan senyum yang sudah kupelajari selama tiga tahun dan dua tahun setelahnya. “Yang paling teliti. Semoga ketemu orang yang bisa ngimbangin ya.”

Empat puluh tiga orang bertepuk tangan.

Aku bertepuk tangan juga.


Malam itu aku menceritakannya kepada Arsa, di lantai bengkel, bersandar ke kaki meja kerja, dengan satu gelas kopi dibagi dua karena aku lupa membeli lagi.

Dia mendengarkan sampai selesai tanpa menyela.

“Angelica.”

“Hm.”

“Surel bulan Desember itu.”

“Ya.”

“Kamu kirim tanggal berapa?”

“Sembilan belas.”

“Itu berapa hari setelah dia presentasi di depan direktur?”

Aku memandang gelas kopi itu.

“Enam hari,” kataku.

Arsa mengangguk pelan.

“Jadi enam hari setelah dia ngambil kerjaan kamu,” katanya, “kamu udah naruh satu kertas di tempat yang bikin dia nggak bisa lari.”

“Itu prosedur arsip. Semua dokumen kerja harus—”

“Angelica.”

Aku diam.

“Enam hari,” katanya lagi.

Aku memutar gelas itu di lantai.

“Saya tidak merencanakannya,” kataku.

“Hm.”

“Saya sungguh-sungguh tidak merencanakannya. Saya cuma—” Aku berhenti.

Aku cuma mengarsipkan.

Karena itu yang kulakukan. Karena kalau sesuatu terjadi padaku dan aku tidak bisa mengendalikannya, aku menyimpan salinannya.

Aku menyimpan STNK motor mati selama sebelas tahun.

Aku menolak membatalkan kontrak yang seluruh pasalnya sudah tidak berlaku.

“Mas Arsa.”

“Ya.”

“Menurut Mas saya orang yang menyimpan bukti.”

“Iya.”

“Itu buruk?”

Arsa memandang C70 di tengah ruangan.

“Nggak,” katanya. “Cuma capek.”


Jumlah kata: ±2.790