Chapter Forty

Bab 40 — Pasal 7

POV: Angelica


Aku menulisnya empat belas kali.

Aku ingin mencatat itu, karena ini adalah bab terakhir dan karena aku sudah cukup lama berbohong di dalam cerita ini untuk merasa perlu jujur di akhirnya.

Empat belas.


Draf 1, Sabtu malam, pukul 22.40.

PASAL 7 — MASA BERLAKU. Perjanjian ini berlaku untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, dan dapat diperpanjang secara otomatis apabila kedua belah pihak tidak menyampaikan keberatan.

Aku menghapusnya karena mengandung kata keberatan.

Draf 3, Minggu pagi.

Perjanjian ini berlaku sampai salah satu pihak meninggal dunia.

Aku menghapusnya karena aku membacanya keras-keras di kamar kos dan bunyinya seperti polis asuransi.

Draf 6, Minggu siang.

Tiga paragraf. Sembilan puluh satu kata. Dengan satu klausul pengecualian dan satu rujukan silang ke Pasal 1.

Aku menghapusnya karena aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Aku sedang membangun ruangan dengan pintu lagi.

Draf 9, Minggu sore.

Satu kalimat. Empat kata.

Aku menghapusnya karena aku belum berani.

Draf 12, Minggu malam, pukul 23.50.

Aku menulis kalimat yang benar untuk pertama kalinya, dan aku menatapnya selama sebelas menit, dan aku menghapusnya, dan aku menutup laptop, dan aku duduk di kegelapan kamar kos.

Draf 13, Senin pagi, pukul 05.20.

Aku menulisnya lagi, kalimat yang sama, dan kali ini aku tidak menghapusnya.

Aku menyalinnya ke kertas dengan tangan.

Dan aku merobek kertas itu jam enam kurang, karena tulisanku jelek karena tanganku bergetar, dan itulah Draf 14, yang kutulis ulang di halte bus pukul 06.40 di atas map, dengan tulisan yang lebih baik, dan yang kulipat dua kali dan kumasukkan ke kantong dalam tas.


Aku bekerja delapan jam pada hari Senin, 2 September, dan aku tidak ingat satu pun hal yang kukerjakan.

Aku sampai di bengkel pukul 17.40.

Rolling door setengah terbuka.

Dan untuk pertama kalinya sejak 26 Agustus tahun lalu, aku tidak berdiri di trotoar seberang menunggu, dan tidak jongkok di gang, dan tidak duduk di warung.

Aku mengeluarkan dua kunci dari kantong dalam tasku.

Aku tidak memakainya, karena rolling door-nya sudah terbuka.

Tapi aku mengeluarkannya dan memegangnya di tangan sepanjang lima langkah terakhir, dan aku tidak akan pernah menjelaskan kepada siapa pun kenapa.


Fahri ada di dalam.

Dia mengangkat kepala, melihatku, dan berdiri terlalu cepat.

“Mbak!”

“Fahri.”

“Saya—” Dia melihat jam dinding. “Saya mau pulang, Mbak.”

“Ini jam enam kurang.”

“Iya, Mbak.”

“Kamu pulang jam tujuh.”

“Iya, Mbak.” Dia sudah mengambil tasnya. “Tapi hari ini saya pulang jam enam kurang.”

Aku memandangnya.

“Fahri.”

“Iya, Mbak.”

“Kamu tahu sesuatu.”

“Nggak, Mbak.”

“Fahri.”

Dia berhenti di ambang pintu.

“Mbak,” katanya. “Mas Arsa hari ini nyapu lantai atas empat kali.”

Dan dia pergi.


Arsa duduk di lantai bengkel, bersandar ke kaki meja kerja, di sebelah C70 yang berdiri di atas karpet.

Bukan di lantai atas.

Di lantai bawah, di tempat dia selalu duduk, dengan satu gelas kopi.

“Kamu bawa map,” katanya.

“Iya.”

“Senin sore.”

“Iya.”

Dia menepuk lantai di sebelahnya.

Aku duduk.


“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Kontraknya.”

Dia mengeluarkannya dari saku belakang.

Tujuh halaman. Dilipat dua kali seperti struk. Kertasnya sudah berubah warna di lipatannya, dan di sudut kanan bawah halaman satu ada bekas jempol hitam yang sudah ada sejak bulan Agustus tahun lalu dan yang tidak pernah hilang.

Dia menyerahkannya kepadaku.

Aku membukanya di lantai. Aku meratakannya dengan telapak tangan, dua kali, dengan cara yang sudah kupelajari darinya.

Halaman tujuh.

Pasal 6, dengan satu kalimat yang kucoret bulan Januari dan kuberi paraf.

Dan di bawahnya, tulisan tangan kecil dan tegak, tertanggal 23 Juli: Pintunya tetap ada. Tapi nggak dijaga lagi. Dua tanda tangan.

Dan di bawahnya lagi:

PASAL 7 —

untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan.


“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Pulpennya.”

Dia mengerutkan kening.

“Kamu selalu bawa pulpen.”

“Saya mau pulpen Mas.”

“Punya saya bocor.”

“Saya tahu,” kataku. “Itu sebabnya.”

Dia memandangku selama beberapa detik.

Lalu dia mengeluarkannya dari saku dada wearpack — pulpen yang sama, atau pulpen yang lain, aku tidak pernah bertanya dan tidak akan pernah bertanya — dan menyerahkannya kepadaku.


Aku menulis di lantai bengkel, di halaman tujuh, di bawah blok kosong yang sudah menunggu selama satu tahun tujuh hari.

PASAL 7 — MASA BERLAKU

7.1 Perjanjian ini berlaku sejak tanggal 26 Agustus dan tidak mempunyai tanggal berakhir.

7.2 Ketentuan pada angka 7.1 tidak tunduk pada Pasal 6.

7.3 Alasan:

Dan di situ aku berhenti.

Karena kalimat berikutnya, di draf keempat belas yang kutulis di halte bus jam 06.40 di atas map dengan tulisan yang lebih baik, dimulai dengan dua kata yang sudah kupakai lima ratus dua belas kali dalam karierku.

Pihak Pertama.

Aku menulisnya.

Lalu aku mencoretnya.

Satu garis, seperti bulan Januari, dan aku hampir memberi paraf di sebelahnya, dan aku berhenti dengan ujung pulpen di udara.

Aku tidak memberi paraf.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku meninggalkan coretan tanpa paraf, dan aku membiarkannya terlihat, karena aku ingin siapa pun yang membaca kertas ini nanti tahu bahwa aku sempat menulis Pihak Pertama dan bahwa aku berhenti.

Lalu aku menulis kalimatnya.

Pihak Pertama Karena saya mencintai dia.

Empat kata.

Tinta pulpen itu menggumpal di ujung, seperti bulan Agustus tahun lalu, dan meninggalkan noda biru sebesar kuku ibu jari di sebelah huruf terakhir.

Aku tidak memperbaikinya.

Aku menyerahkan kertas itu.


Arsa membacanya.

Aku memandang lantai bengkel yang disapu setiap pagi. Aku memandang roda depan C70 yang diganjal balok kayu. Aku memandang tangan kiriku sendiri.

Aku tidak memandang wajahnya.

Kompresor menyala.

Dua puluh detik.

Mati.

“Angelica,” katanya.

“Ya.”

“Ini empat kata.”

“Iya.”

“Kamu nulis tujuh halaman buat pura-pura pacaran,” katanya, “dan buat yang ini kamu nulis empat kata.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memandang tanganku.

“Karena yang panjang itu bohong,” kataku.


Dia tidak berkata apa-apa selama waktu yang cukup lama sehingga aku akhirnya mengangkat kepala.

Dan Arsa Pramudya sedang memandang tujuh halaman kertas di tangannya, dengan wajah yang sepenuhnya terbuka, dan dengan mata yang tidak dia sembunyikan sama sekali.

“Ada noda,” katanya, serak.

“Iya.”

“Kenapa nggak diulang?”

“Karena ini sudah sah,” kataku.

Dia mengangkat kepala.

“Sudah ada tanggal, ada nama, ada tulisan tangan,” kataku. “Sisanya kosmetik.”

Dan dia mengeluarkan bunyi yang setengah tawa dan setengah bukan, dan dia menunduk, dan dia meletakkan kertas itu di lantai, dan dia menutup wajahnya dengan satu tangan selama sekitar enam detik.


“Mas Arsa.”

“Sebentar.”

“Iya.”

“Sebentar, Angelica.”

Aku menunggu.

Aku menunggu, dan aku tidak menambahkan apa pun untuk mengisi jeda itu, karena dia sudah mengajariku itu selama satu tahun tanpa satu kali pun menjelaskannya.

Dia menurunkan tangannya.

“Kamu nggak tanda tangan,” katanya.

Aku memandang halaman itu.

Dia benar. Aku tidak menandatanganinya.

“Belum,” kataku. “Ada satu hal dulu.”

“Apa?”

Aku menoleh padanya.

“Kenapa Mas panggil saya Angelica?”


Dia diam.

“Setahun,” kataku. “Sejak hari pertama. Saya bilang ‘Angel aja nggak apa-apa’, dan Mas bilang ‘hm’, dan setelah itu Mas nggak pernah sekali pun.”

“Iya.”

“Semua orang panggil saya Angel. Ibu saya. Nadia. Prita. Ibu Mas. Nenek. Kemal. Orang kantor. Bu Marni. Delapan puluh empat orang di grup.”

“Iya.”

“Cuma Mas.”

Arsa memandang C70 yang berdiri di atas karpet.

“Kemal nanya itu bulan September,” katanya. “Di meja makan.”

“Saya ingat.”

“Saya nggak jawab.”

“Saya ingat.”

“Kamu nggak nanya lagi setelah itu.”

“Saya menunggu,” kataku.

“Setahun?”

“Iya.”

Dan dia menoleh padaku, dan dia berkata — pendek, tanpa satu pun anak kalimat, dengan cara yang membuatku tahu bahwa dia sedang jujur karena aku sudah mempelajari itu selama satu tahun juga:

“Saya nggak suka ganti yang asli.”


Aku tidak bergerak.

“Bulan Agustus tahun lalu,” katanya, “saya nolak konversi motor kamu. Kamu inget alasannya?”

“Nomor mesin,” kataku. “Kalau dicabut, hilang.”

“Iya.”

“Rangkanya juga. Mas nggak mau bor. Karena lubang nggak bisa ditutup lagi.”

“Iya.”

Dia mengangkat bahu, satu kali, kaku.

“Nama juga gitu,” katanya. “Orang motong nama biar gampang dipanggil. Nggak apa-apa. Semua orang gitu.”

Dia memandang tangannya.

“Saya cuma nggak mau ikut,” katanya.


Kompresor menyala.

Dua puluh detik.

Mati.

“Itu saja?” kataku.

“Iya.”

“Itu saja alasannya?”

“Iya.”

“Setahun.”

“Iya.”

Dan aku duduk di lantai bengkel di Jatiwarna pada hari Senin, 2 September, pukul enam lewat, dan aku menangis untuk keempat kalinya di dalam ruangan yang sama dengan orang ini.

“Angelica.”

“Sebentar.”

“Iya.”

“Sebentar, Mas Arsa.”

Dan dia tidak menyodorkan tisu.

Dan dia tidak berkata tidak apa-apa.

Dia mengambil tujuh halaman kertas itu dari lantai, meratakannya dua kali dengan telapak tangan, dan meletakkannya kembali di antara kami, dengan halaman tujuh menghadap ke atas.

Dan pulpen yang bocor itu di atasnya.


Aku menandatanganinya pukul 18.24.

Dia menandatanganinya di sebelahku, dan nodanya lebih besar dari nodaku, seperti bulan Agustus tahun lalu, dan dia jelas-jelas tidak peduli.

Lalu dia melipatnya.

Dua kali. Seperti struk.

Dan memasukkannya ke saku belakang.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Itu harus diarsipkan.”

“Nggak.”

“Mas, itu dokumen. Kertas itu sudah setahun di saku Mas dan sudah berubah warna di lipatannya dan kalau kena air—”

“Angelica.”

“Saya punya map plastik di tas.”

“Angelica.”

Aku berhenti.

Arsa berdiri. Menepuk celananya.

“Nggak diarsipin,” katanya.

“Kenapa?”

Dia mengulurkan tangan padaku, telapak menghadap ke atas.

“Karena arsip itu buat yang udah selesai,” katanya.


Kami keluar pukul setengah tujuh.

Dia menutup rolling door dan menguncinya, dan aku berdiri di halaman di bawah pohon jambu yang lebih tua dari bangunannya, dan aku memandang plang bertuliskan PRAMUDYA ELECTRIC yang huruf-hurufnya putih di atas dasar biru tua.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Kita mau ke mana?”

“Nggak ke mana-mana.”

“Terus?”

Dia mendorong C70 keluar dari dalam.


Aku naik ke depan.

Bukan ke boncengan.

Ke depan, di jok yang robek di satu sisi dan ditambal lakban hitam oleh seorang laki-laki pada tahun 2009 yang berkata besok selama dua tahun sampai dia tidak punya besok lagi.

Aku memutar kunci ke kanan.

Panel menyala. 94%.

Aku menekan tombol bulat itu selama dua detik.

Dan motor Honda C70 tahun 1979 hidup, tanpa suara, dengan lampu bulat menguning yang menerangi enam meter di depan kami dan tidak lebih.

Arsa naik di belakang.

“Kamu bisa?”

“Saya sudah latihan.”

“Kapan?”

“Bulan Juli. Di jalan belakang pabrik. Sama Fahri.”

Ada jeda.

“Fahri tahu?”

“Fahri yang ngajarin.”

“Fahri nggak bilang apa-apa ke saya.”

“Iya,” kataku. “Fahri bisa menyimpan rahasia kalau taruhannya cukup besar.”


Kami berjalan keluar dari halaman itu pada pukul 18.41, ke jalan yang mulai gelap, dengan lampu-lampu toko yang menyala satu per satu di kiri dan kanan.

Empat puluh kilometer per jam.

Motor listrik itu sunyi.

Kau bisa mendengar ban menggilas kerikil. Kau bisa mendengar angin. Kau bisa mendengar orang di belakangmu bernapas.

“Angelica.”

Suaranya. Biasa. Tidak diteriakkan.

“Ya.”

“Kamu tahu ini mau ke mana?”

“Nggak.”

“Bagus.”

Aku tertawa, dan tawaku terdengar sangat jelas, dan aku merasakan tangannya mengencang sedikit di sisi jaketku.


Dan aku memikirkan, di sepanjang jalan itu, sesuatu yang tidak kukatakan kepadanya sampai bertahun-tahun kemudian.

Bahwa pada tanggal 26 Agustus, satu tahun tujuh hari yang lalu, aku menulis tujuh halaman dengan enam pasal karena aku adalah orang yang tidak bisa masuk ke ruangan mana pun tanpa tahu di mana pintunya.

Bahwa aku mengosongkan pasal ketujuh dan menyebutnya untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan, dan aku percaya pada diriku sendiri, karena aku selalu percaya pada diriku sendiri kalau yang keluar dari mulutku terdengar rapi.

Bahwa setiap kontrak punya pasal masa berlaku. Setiap satu. Lima ratus dua belas dokumen.

Dan bahwa yang kutulis di lantai bengkel pada pukul 18.20 hari Senin, 2 September, di bawah dua kata yang kucoret tanpa paraf, dengan pulpen yang bocor, adalah empat kata yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun seumur hidupku — tidak kepada ibuku, tidak kepada Nadia, tidak kepada laki-laki yang pernah memakai kata terlalu kaku dan pergi.

Bukan karena aku tidak pernah merasakannya.

Karena aku tidak pernah punya tempat untuk meletakkannya.


Angin.

Ban menggilas kerikil.

Lampu bulat menguning yang menerangi enam meter di depan kami dan tidak lebih.

Dan di belakangku, seorang laki-laki yang membersihkan tangki motor ayahku dengan sikat gigi bekas pada pukul sebelas malam tiga hari sebelum menandatangani apa pun, dan yang tidak pernah memotong namaku, dan yang menyimpan tujuh halaman kertas di saku belakangnya selama satu tahun karena arsip itu untuk yang sudah selesai.

Aku memutar gas sedikit.

Motor itu melaju.

Tanpa suara.


SELESAI


Jumlah kata: ±2.980