Chapter Eleven

Bab 11 — Delapan

POV: Angelica


Aku pernah diaudit balik satu kali, tahun ketiga, oleh tim eksternal yang dikirim kantor pusat. Tiga orang. Empat hari. Mereka menanyakan hal yang sama dari tiga arah berbeda untuk melihat apakah jawabanku berubah.

Aku bertahan. Aku bahkan menikmatinya.

Arisan Bu Rahayu berlangsung dua jam empat puluh menit, melibatkan delapan orang, dan pada menit kesembilan aku menyadari bahwa tim eksternal itu amatir.


Mereka duduk melingkar di karpet ruang tengah, dan aku diberi posisi di tengah lingkaran — bukan secara fisik, tapi secara struktural, karena Bu Rahayu mendudukkanku di sebelahnya, yang berarti setiap orang punya garis pandang langsung ke wajahku.

Aku mengenali empat nama dari kartu manila. Empat sisanya baru.

Bu Tini — pembawa risoles, meskipun sudah disepakati minuman. Bicara paling banyak. Bu Marni — yang di gang. Yang melihat. Yang, sejak aku masuk pintu, sudah menatapku dengan senyum yang tidak turun sedetik pun. Bu Ida — mencatat setoran. Diam. Berbahaya. Bu Ningsih, Bu Erni, Bu Wati, Bu Sri, Bu Hartati — belum kupetakan.

Arisan yang sebenarnya — pencatatan, setoran, pengocokan — selesai dalam dua puluh menit.

Sisanya bukan arisan.


16.22. Bu Tini membuka.

“Angel ya? Angelica?”

“Iya, Bu.”

“Kerja di mana?”

“Audit internal, Bu. Di perusahaan logistik.”

“Oh. Kantoran.” Angguk. “Jam berapa pulang?”

“Biasanya jam enam.”

“Sering lembur?”

“Kadang.”

“Kalau nikah nanti masih kerja?”

Dan itu pertanyaan keempat. Dalam dua puluh dua detik.

Aku membuka mulut.

“Bu Tini,” kata Bu Rahayu, sambil menuang teh, “risolesnya enak. Beli di mana?”

“Bikin sendiri.”

“Bikin sendiri? Kok bisa serapi ini?”

Dan Bu Tini menghabiskan enam menit berikutnya menjelaskan cara melipat kulit risoles.

Aku menoleh sedikit ke arah Bu Rahayu.

Dia tidak menoleh balik. Dia sedang menuang teh untuk Bu Ida.


16.41. Bu Marni.

“Angel, kamu sering ke bengkelnya Arsa ya?”

“Motor ayah saya sedang dikerjakan di sana, Bu.”

“Oh, motor.” Senyum. “Malam-malam juga?”

Ruangan mengecil sekitar sepuluh persen.

“Motornya diambil siang, Bu.”

“Iya, tapi kan waktu itu—”

“Marni,” kata Bu Ida, tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya. “Setoran kamu kurang lima ribu.”

“Nggak mungkin.”

“Dua puluh lima. Yang lain tiga puluh.”

“Bulan ini tiga puluh?”

“Naik dari bulan lalu. Sudah diumumin di grup.”

“Aku nggak baca grup.”

“Nah.”

Bu Marni membuka dompet dengan gerakan orang yang dikalahkan, dan sepanjang tiga menit berikutnya arisan itu sepenuhnya tentang lima ribu rupiah.

Aku memandang Bu Ida.

Bu Ida sedang menulis angka di bukunya dan tidak melihat ke arah siapa pun.


17.10. Serangan gabungan.

“Angel, orang tuanya di mana?”

“Ibu saya di Bandung, Bu.”

“Bapaknya?”

“Sudah meninggal.”

“Innalillahi. Kapan?”

“Sebelas tahun lalu.”

“Sakit apa?”

“Jantung.”

“Mendadak?”

“Iya.”

“Ya Allah. Kamu waktu itu umur berapa?”

“Lima belas.”

“Anak berapa?”

“Anak tunggal.”

“Aduh.” Bu Ningsih menekan dada. “Berarti ibunya sendirian sekarang di Bandung?”

“Iya.”

“Nanti kalau kamu nikah, ibunya ikut?”

“Belum kami bicarakan, Bu.”

“Harus dibicarakan, lho.”

“Iya, Bu.”

“Kasihan kalau sendirian.”

“Iya, Bu.”

“Anak tunggal itu tanggung jawabnya di kamu semua.”

“Iya, Bu.”

Aku mendengar suaraku sendiri dari luar tubuhku. Rata. Sopan. Setiap jawaban maksimal empat kata.

Sesuatu di dalam dadaku sedang mengencang perlahan, seperti baut yang diputar setengah putaran setiap sepuluh detik, dan aku tahu persis dari pengalaman bahwa aku punya sekitar empat menit lagi sebelum aku harus keluar ruangan.

Dan di antara Bu Ningsih dan Bu Erni ada jeda satu detik, dan di dalam jeda satu detik itu Bu Wati membuka mulut.

“Angel, kamu—”

“Kopi.”


Arsa berdiri di ambang pintu dapur dengan dua cangkir.

Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana.

Dia berjalan masuk ke ruangan yang berisi delapan ibu-ibu dan ibunya sendiri, menyeberangi karpet, dan meletakkan satu cangkir di lantai di sebelah lututku.

Kopi hitam. Tanpa gula. Cangkir keramik.

Lalu dia duduk di kursi di belakangku — bukan di lingkaran, di luar lingkaran, di kursi kayu yang menempel dinding — dan menyeruput cangkirnya sendiri.

“Ini Arsa,” kata Bu Tini, tidak perlu.

“Sore, Bu.”

“Kopi doang, Nak? Kuenya?”

“Nanti, Bu.”

Dan tidak ada yang terjadi.

Itu bagian yang aneh. Tidak ada satu pun kalimat penyelamat. Dia tidak menjawab satu pun pertanyaan untukku. Dia tidak mengalihkan pembicaraan. Dia cuma duduk di kursi kayu, di luar lingkaran, sambil minum kopi.

Tapi baut di dadaku berhenti diputar.

Dan pertanyaan berikutnya, ketika akhirnya datang, datang lebih pelan.


17.24. Bu Marni, lagi. Karena tentu saja Bu Marni, lagi.

“Arsa.”

“Iya, Bu.”

“Kamu kok tahu Angel minumnya kopi hitam?”

Delapan kepala berputar.

Bu Rahayu meletakkan teko.

Aku memandang cangkir keramik di sebelah lututku dan menyadari, dengan sangat terlambat, bahwa tujuh dari sembilan orang di ruangan itu sedang minum teh manis, dan yang dua lagi minum sirup.

“Ya tahu,” kata Arsa.

“Ya kok tahu?”

“Kalau dia minum yang manis, jam sepuluh malam dia nggak bisa tidur.”

Hening.

“Terus dia besoknya bikin tabel,” lanjut Arsa, ke dalam cangkirnya. “Kalau nggak tidur, tabelnya jadi panjang. Kalau tabelnya panjang, saya yang harus baca.”

Bu Tini yang pertama pecah.

Lalu Bu Ningsih. Lalu Bu Wati, yang menepuk lantai. Lalu semuanya, sembilan perempuan tertawa di karpet ruang tengah rumah yang sudah kupijak lima kali dalam sebulan terakhir.

Bu Marni tertawa paling keras dan paling lama, dengan tangan di lengan Bu Ida, dan aku melihat momen ketika sesuatu di wajahnya berubah dari mencari retakan menjadi sudah puas.

Aku menunduk ke cangkirku.

Dia tidak menjawab pertanyaannya.

Delapan orang di ruangan ini mengira dia menjawabnya. Bahkan aku hampir mengira begitu.

Tapi dia tidak menjawab bagaimana dia tahu.


Tamu terakhir pulang pukul 18.50.

Aku membantu mengangkat gelas ke dapur, dan Bu Rahayu mengambilnya dari tanganku sebelum sampai ke bak.

“Sudah. Kamu duduk.”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Angel.” Dia meletakkan gelas-gelas itu. “Kamu tadi dua jam empat puluh menit nggak salah jawab satu pun.”

“Saya cuma menjawab apa adanya.”

“Iya.” Dia menyalakan keran. “Itu yang Ibu maksud.”

Aku berdiri di dapur itu, memegang lap yang tidak jadi kupakai.

“Bu.”

“Hm.”

“Tadi Ibu tiga kali memotong pertanyaan.”

Air mengalir.

“Empat,” kata Bu Rahayu.

“Empat?”

“Yang keempat kamu nggak sadar. Bu Sri mau nanya soal mantan kamu.” Dia menggosok gelas. “Ibu tumpahin teh ke rok Ibu sendiri.”

Aku memandang punggungnya.

“Bu—”

“Bawa itu ke Arsa.” Dia menunjuk piring kue dengan dagunya, tanpa menoleh. “Dia belum makan dari siang. Anak itu kalau nggak disuruh, nggak makan.”


Arsa sedang duduk di teras, di kursi plastik, memandang gang yang sudah gelap.

Aku meletakkan piring kue di meja kecil di sebelahnya dan duduk di kursi satunya.

“Ibu nyuruh?”

“Iya.”

“Selalu.”

Kami duduk. Empat pot lidah mertua di kiri, empat di kanan, jarak antar-pot sama persis.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Bagaimana Mas tahu saya minum kopi hitam?”

Dia mengambil satu kue. Menggigitnya. Mengunyah.

“Sabtu ketiga,” katanya. “Saya bikin dua gelas. Satu manis satu nggak. Saya taruh dua-duanya. Kamu ambil yang nggak manis.”

“Itu saja?”

“Iya.”

“Terus gelas keramiknya?”

Dia berhenti mengunyah.

“Fahri,” katanya.

“Fahri kenapa?”

“Fahri bilang gelas plastik itu nggak sopan buat tamu.”

“Fahri bilang begitu?”

“Nggak.” Arsa menggigit kuenya lagi. “Saya yang bilang ke Fahri. Terus Fahri bilang ‘iya, Mas’, terus dia ketawa lima menit. Saya nggak tahu kenapa.”

Aku memandang gang gelap itu.

Aku menyadari bahwa aku sedang tersenyum, dan aku menyadarinya karena otot pipiku terasa aneh, dan aku menyadari bahwa itu terasa aneh karena aku tidak melakukannya cukup sering untuk terbiasa.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Kalau minggu depan saya ke bengkel,” kataku, “boleh saya bawa laptop?”

Dia mengunyah.

“Kamu selalu bawa laptop.”

“Maksud saya—” Aku berhenti.

Maksudku: boleh aku duduk di sana selama lima jam sementara kau bekerja, tanpa ada acara keluarga, tanpa ada saksi, tanpa ada satu pun baris di JADWAL yang mensyaratkannya.

“Nggak jadi,” kataku.

Arsa mengambil kue kedua dan meletakkannya di piring yang lebih dekat ke arahku.

“Boleh,” katanya.


Jumlah kata: ±2.020