Chapter One
Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
POV: Angelica
Motor itu sudah sebelas tahun tidak menyala, dan aku tahu angkanya persis: sebelas tahun, empat bulan, sembilan hari. Bukan karena aku sentimental. Karena aku mencatat.
Semua orang punya cara masing-masing untuk mengurus kehilangan. Ada yang menyimpan baju. Ada yang tidak mau mengganti nomor telepon. Aku membuat berkas. Sertifikat rumah, polis asuransi yang sudah kedaluwarsa, buku tabungan dengan saldo tujuh ratus dua puluh ribu, dan satu STNK atas nama Bambang Prameswari yang setiap tahun kuperpanjang meskipun kendaraannya tidak pernah keluar dari garasi.
Petugas Samsat pernah bertanya kenapa aku repot-repot. Aku bilang, karena kalau tidak diperpanjang, dendanya berbunga.
Itu bohong. Tapi itu jenis bohong yang orang terima tanpa bertanya lagi, dan aku sudah lama tahu jenis bohong mana yang paling efisien.
Pagi ini, motor itu ada di bak pikap sewaan, diikat tali tambang oleh sopir yang tiga kali bertanya apakah aku yakin bendanya masih layak diangkut. Honda C70 tahun 1979. Cat biru yang sudah jadi abu-abu di bagian tangki. Jok robek di satu sisi, ditambal lakban hitam oleh seseorang yang sekarang sudah tidak bisa kutanyai kenapa memilih lakban dan bukan menjahitnya.
“Bu, di sini bengkel motor listrik,” kata sopir itu lagi, sambil melirik plang di depan kami. “Yang begini biasanya di bengkel klasik.”
“Saya tahu.”
“Nanti mesinnya diapain?”
“Dibuang.”
Dia diam setelah itu. Aku juga.
Bengkelnya lebih rapi dari yang kubayangkan, dan justru itu yang membuatku ragu.
Aku sudah menyiapkan gambaran tertentu di kepala: tumpukan ban, kalender lama, radio yang menyala terlalu keras. Yang kudapat malah ruko dua lantai dengan lantai yang disapu, lima motor berjajar dengan nomor antrean ditempel di spakbor, dan sebuah meja panjang di sudut yang di atasnya ada laptop, dua layar kecil dengan garis-garis hijau bergerak, dan segulung kabel yang diikat rapi warna per warna.
Bau olinya tetap ada. Tapi bercampur sesuatu yang lain — logam panas, mungkin. Sesuatu yang tajam dan bersih.
Di dinding ada papan tulis putih dengan daftar pekerjaan, ditulis tangan, hurufnya kecil dan tegak. Di bawahnya, seseorang menempel kertas A4 bertuliskan: REGULASI BERUBAH LAGI. JANGAN TANYA SAYA.
“Mbak, mau servis atau mau konversi?” Anak muda bertubuh kurus muncul dari balik motor, memegang obeng, memakai kaus yang jelas bukan ukurannya. Rambutnya berdiri seperti baru kaget.
“Konversi.”
Dia melihat ke arah pikap. Melihat C70 itu. Lalu melihat kembali padaku, dengan ekspresi yang butuh waktu tiga detik untuk berubah dari ramah menjadi sangat, sangat tertarik.
“Sebentar, Mbak.” Dia menoleh ke belakang. “Mas! Masss! Ada C70!”
“Ya.”
“C70, Mas. Tahun tujuh puluhan.”
“Ya, Fahri.”
“Mau dikonversi.”
Ada jeda. Cukup panjang untuk membuatku ingin memeriksa apakah aku salah alamat.
Lalu seseorang keluar dari balik sekat, mengelap tangannya dengan lap yang sudah tidak bisa lagi disebut bersih, dan berhenti di ambang pintu.
Tinggi. Rambut agak panjang, diikat asal. Wearpack biru tua yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya bukan jenis wajah yang langsung membuat orang menoleh dua kali — tapi dia punya cara berdiri yang aneh: sangat diam. Seperti orang yang tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan apa pun.
Dia tidak melihat padaku dulu. Dia melihat motornya.
Lama.
“Turunkan pelan-pelan,” katanya akhirnya ke Fahri. “Jangan lewat sisi kiri. Standarnya sudah goyang.”
Dia tahu standarnya goyang dari jarak enam meter, di atas bak pikap, masih terikat tali.
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku merasa datang ke tempat yang benar.
Formulirnya ada di papan jepit. Dia menyerahkannya padaku bersama pulpen yang ujungnya sudah agak bocor, lalu berjongkok di samping C70 dan mulai memeriksa sesuatu di dekat mesin tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Aku mengisi kolom-kolomnya. Merek. Tahun. Nomor rangka. Nomor mesin — kuisi dari ingatan, dan aku menyadari bahwa aku hafal nomor mesin motor yang belum pernah kunaiki seumur hidupku.
Kolom terakhir: Nama Pemilik.
Aku berhenti sebentar. Lalu menulis namaku sendiri, bukan nama ayahku, karena secara hukum sejak dua tahun lalu memang begitu.
“Namanya?” tanyanya, masih berjongkok, tidak melihat.
“Angel.”
Dia mengangkat kepala. Melirik formulir di tanganku — bagian yang sudah kutulis, huruf demi huruf, karena aku tidak pernah menyingkat apa pun di dokumen resmi.
Angelica Prameswari.
“Angelica,” katanya. Pelan, tanpa penekanan berlebihan, seperti sedang membaca ukuran baut.
“Angel aja nggak apa-apa.”
“Hm.”
Dia kembali ke mesin.
Dan setelah itu, sepanjang pagi, dia memanggilku Angelica. Bukan sekali. Setiap kali. Seolah aku tidak pernah menawarkan versi yang lebih pendek.
Aku tidak mempermasalahkannya waktu itu. Orang punya kebiasaan aneh masing-masing. Aku sendiri menyimpan STNK motor mati selama sebelas tahun.
Baru jauh, jauh kemudian aku tahu alasannya. Dan alasannya membuatku menangis di tempat yang sangat tidak pantas untuk menangis.
“Arsa,” katanya akhirnya, berdiri, mengulurkan tangan. “Arsa Pramudya.”
“Angelica.” Aku menyalaminya. Tangannya kasar dan hangat dan aku menariknya kembali sedikit terlalu cepat.
“Motor ini punya siapa?”
“Punya saya. Tertulis di formulir.”
“Sebelumnya.”
Aku diam. Dia menunggu. Dia tidak menambahkan apa pun untuk mengisi jeda itu — tidak ada “maaf kalau nggak enak ditanya”, tidak ada senyum menenangkan. Cuma menunggu, seolah waktu bukan sesuatu yang bisa habis.
“Ayah saya,” kataku.
“Beliau di mana sekarang?”
“Sebelas tahun lalu.”
Dia mengangguk sekali. Tidak bilang turut berduka. Aku bersyukur, karena aku sudah mendengar kalimat itu dua ratus kali dan tidak satu pun yang pernah berguna.
“Terakhir hidup kapan? Motornya, maksud saya.”
“Sebelas tahun lalu juga.”
Dia berjongkok lagi. Membuka penutup sesuatu di sisi kiri, mengintip, menutupnya kembali. Menyentuh rantai. Memutar setang perlahan sampai berdecit.
“Blok mesinnya sudah tidak bisa diselamatkan,” kataku, karena aku sudah membawanya ke tiga bengkel klasik dan mendapat jawaban yang sama tiga kali. “Sudah saya cek. Karat sampai dalam. Kalau dipaksa restorasi, biayanya tiga kali lipat dan hasilnya belum tentu jalan.”
“Iya.”
“Makanya saya mau dikonversi. Motor listrik. Saya sudah baca soal biayanya, sudah tahu kisarannya, sudah siapkan dana—”
“Bu.”
“—dan saya nggak butuh yang cepat atau yang kencang, saya cuma butuh motor ini bisa—”
“Angelica.”
Aku berhenti.
Dia menegakkan badan. Menepuk tangki C70 itu satu kali, pelan, seperti orang menepuk punggung kuda tua.
“Saya pikir dulu,” katanya.
“Pikir apa? Pekerjaannya bisa atau nggak?”
“Bisa.”
“Terus?”
Dia melihat motor itu lagi. Bukan melihat cara orang melihat pekerjaan. Melihat cara orang melihat sesuatu yang akan dia lakukan sesuatu terhadapnya, dan belum yakin dia berhak.
“Besok saya kabari,” katanya.
Aku membuka mulut untuk menuntut jawaban yang lebih baik. Aku punya tiga argumen siap pakai dan satu tabel perbandingan biaya di ponselku.
Dan saat itulah pintu bengkel terbuka.
“ARSA PRAMUDYA.”
Suara itu tidak keras. Justru itu yang mengerikan. Suara itu punya kualitas tertentu yang membuat tiga orang di dalam ruangan langsung berdiri lebih tegak, termasuk aku, yang bahkan tidak tahu sedang berdiri tidak tegak.
Perempuan itu berusia sekitar lima puluhan. Berkerudung rapi, tas selempang kecil, dan sepatu yang bersih dengan cara yang tidak mungkin dicapai kalau berjalan lewat halaman bengkel ini.
“Bu Rahayu,” gumam Fahri, dan langsung menghilang ke balik motor.
Perempuan itu berjalan lurus melewatiku seolah aku bagian dari perabot, berhenti di depan Arsa, dan membuka tasnya.
“Kamu nggak angkat telepon Ibu tujuh kali.”
“Lagi kerja, Bu.”
“Ibu telepon jam sembilan. Jam sembilan itu belum kerja.”
“Jam sembilan itu—”
“Ini.” Dia mengeluarkan tiga lembar kertas. Foto, dicetak, ukuran kartu pos, di kertas glossy. “Yang ini anak Bu Tini, kerja di bank, sudah punya rumah sendiri. Yang ini keponakan Bu Marni, guru, sabar orangnya. Yang ini—” dia mengangkat foto ketiga lebih tinggi, “—Prita. Ibu simpan yang paling bagus di belakang.”
Aku seharusnya pura-pura tidak mendengar. Aku malah, entah kenapa, sedikit memiringkan kepala untuk melihat foto ketiga.
“Bu, di sini ada pelanggan.”
“Pelanggan bisa nunggu. Kamu tiga puluh tahun bulan depan.”
“Dua puluh sembilan.”
“Bulan depan tiga puluh, Arsa. Ibu yang lahirin, Ibu yang hitung.” Dia menyodorkan ketiganya seperti orang membagi kartu. “Pilih satu. Nggak usah pilih sekarang. Sabtu Ibu ada arisan, salah satu ibunya datang. Kamu tinggal duduk, senyum, jawab kalau ditanya—”
“Bu—”
“—dan jangan bilang kamu sibuk, karena Ibu tahu Sabtu bengkel tutup jam dua.”
Aku melihat sesuatu yang menarik terjadi di wajah Arsa Pramudya.
Sepanjang dua puluh menit terakhir, laki-laki ini memeriksa motor berusia empat puluh tujuh tahun tanpa berkedip, mendengar kabar kematian tanpa gelagapan, dan menolak permintaanku dengan tenang seperti orang menutup laci.
Sekarang dia terlihat seperti orang yang mesinnya kehabisan oli.
Matanya bergerak. Ke ibunya. Ke foto-foto itu. Ke pintu. Ke Fahri, yang sudah berjongkok begitu rendah sehingga praktis menjadi ban serep.
Lalu ke arahku.
Dan aku, yang seumur hidup punya insting sangat baik dalam membaca dokumen dan sangat buruk dalam membaca situasi, tetap sempat berpikir: jangan.
“Bu,” kata Arsa.
Tangannya bergerak. Menangkap lenganku — tidak kasar, tapi cepat, seperti orang meraih pegangan di angkot yang mengerem mendadak — dan menarikku setengah langkah ke sampingnya.
“Ini pacarku, Bu.”
Ada tiga hal yang terjadi berurutan dalam waktu kira-kira empat detik.
Pertama: Fahri menjatuhkan obeng.
Kedua: Bu Rahayu menoleh padaku. Lambat. Dan aku melihat matanya bergerak dari wajahku ke sepatuku ke tas kerjaku ke tangan Arsa yang masih memegang lenganku, dan aku tahu — aku tahu, dengan keyakinan seorang auditor yang sudah delapan tahun membaca laporan yang disusun rapi untuk menyembunyikan sesuatu — bahwa perempuan ini sedang menghitung sesuatu.
Ketiga: aku tidak menepis tangan itu.
Ini yang aneh. Bukan karena aku baik hati. Bukan karena aku kasihan.
Karena di kepalaku, tanpa diminta, sebuah kolom terbuka.
Hari Senin, Wisnu Aditama mulai bekerja sebagai kepala divisiku. Wisnu Aditama, yang dua tahun lalu membatalkan pertunangan kami lewat kalimat aku cuma butuh ruang, muncul enam minggu kemudian dengan orang lain, dan pernah berkata — dengan nada yang sampai sekarang masih bisa kuputar ulang persis — bahwa aku terlalu kaku untuk disayang orang.
Hari Senin dia akan bertanya kabarku. Dia akan bertanya dengan sangat ramah, di depan orang, sambil memiringkan kepala.
Dan selama ini jawabanku selalu sama: baik.
Aku menatap tiga foto glossy di tangan Bu Rahayu. Aku menatap tangan Arsa Pramudya di lenganku. Aku menghitung.
Dia butuh alasan untuk menolak tiga perempuan sekaligus.
Aku butuh satu orang untuk berdiri di sebelahku hari Senin.
Ada satu C70 di lantai bengkel ini yang belum ada yang mau memperbaiki.
“Iya, Bu,” kataku.
Suaraku keluar rata. Sopan. Persis suara yang kupakai saat mempresentasikan temuan audit yang akan membuat seseorang kehilangan pekerjaan.
“Maaf ya, Bu, saya baru sempat ketemu Ibu sekarang.”
Tangan di lenganku mengencang satu kali. Kaget, mungkin. Atau syukur.
Bu Rahayu memandangku selama tiga detik penuh.
Lalu tersenyum. Sangat lebar. Sangat hangat.
Dan memasukkan ketiga foto itu kembali ke dalam tasnya — dengan gerakan santai orang yang tidak sedang menyerah, melainkan sedang menyimpan.
“Aduh,” katanya. “Kok nggak bilang-bilang.”
Malam itu, jam satu pagi, aku duduk di depan laptop di kamar kos dengan mata kering dan satu gelas teh yang sudah dingin, dan mulai mengetik.
KESEPAKATAN KERJA SAMA HUBUNGAN SEMU
Antara Pihak Pertama, Angelica Prameswari, dan Pihak Kedua, Arsa Pramudya.
Tujuh halaman. Enam pasal.
Pasal ketujuh kukosongkan.
Jumlah kata: ±2.050
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan reading
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7