Chapter Three

Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua

POV: Angelica


Warung Bu Yanti terletak persis di seberang bengkel, punya empat meja, satu kipas angin yang berputar ke satu arah saja, dan menu yang ditulis di karton dengan spidol yang tintanya habis di huruf terakhir setiap baris.

Aku datang jam 13.50. Arsa datang jam 14.00 tepat, yang kucatat sebagai poin positif pertama tentang dirinya yang tidak berhubungan dengan motor.

Dia meletakkan eksemplarnya di meja. Kertasnya sudah tidak rapi lagi — ada lipatan di sudut, ada bekas ibu jari yang hitam di halaman dua, dan di beberapa tempat ada tulisan tangan kecil yang tegak, huruf yang sama dengan papan tulis di bengkel.

Dia membaca semuanya.

Aku tidak menyangka dia membaca semuanya.

“Kita mulai dari Pasal 1,” kataku, membuka pulpen.

“Pasal 4 dulu.”

“Urutannya—”

“Angelica.” Dia menyandarkan punggung. “Kalau Pasal 4 nggak beres, sisanya nggak ada gunanya.”


PASAL 4 — BATASAN FISIK.

Lampiran 4c. Satu halaman. Tabel dengan empat kolom: Jenis Kontak · Konteks yang Diizinkan · Durasi Maksimum · Catatan.

Aku menyusunnya jam setengah tiga pagi dan pada saat itu terasa sangat masuk akal.

Di bawah cahaya siang, di warung, di depan orang yang sedang membacanya sambil mengaduk es teh — terasa agak berbeda.

“‘Gandengan tangan,’” bacanya. “‘Konteks: acara keluarga dan acara kantor. Durasi maksimum: seratus dua puluh detik.’”

“Itu perkiraan konservatif.”

“Konservatif dari apa?”

“Dari durasi rata-rata orang berjalan dari pintu masuk ke meja di kondangan.”

Dia mengangkat wajah. “Kamu ukur?”

“Saya perkirakan. Berdasarkan tiga kondangan terakhir yang saya hadiri.”

Dia menatapku beberapa saat. Lalu menunduk lagi, dan aku melihat sudut mulutnya bergerak sedikit sebelum dia menyembunyikannya di balik gelas.

“‘Rangkulan bahu,’” lanjutnya. “‘Hanya jika ada pihak ketiga yang menyaksikan.’ Ini masuk akal.”

“Terima kasih.”

“‘Ciuman.’” Dia berhenti. “Kolomnya kosong.”

“Iya.”

“Kenapa kosong?”

“Karena saya belum menemukan konteks yang memerlukannya.”

“Terus kenapa barisnya dibikin?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Ini pertanyaan yang, secara teknis, sangat wajar. Kalau aku sedang mengaudit dokumen orang lain dan menemukan baris kosong tanpa keterangan, aku akan menanyakan hal yang persis sama, dengan nada yang persis sama.

“Untuk kelengkapan,” kataku.

“Hm.”

“Dokumen yang baik mengantisipasi.”

“Hm.”

“Mas Arsa, kalau Mas mau menghapus barisnya, silakan coret.”

Dia memutar pulpennya sekali di antara jari. Melihat kertas itu. Lalu meletakkannya kembali di meja, tidak dicoret.

“Biar,” katanya. “Kelengkapan.”

Kipas angin di atas kami berputar ke satu arah saja, dan aku memutuskan untuk sangat tertarik pada Pasal 5.


PASAL 5 — KERAHASIAAN.

Tidak ada pihak ketiga mana pun yang boleh mengetahui sifat semu dari hubungan ini.

“Ini yang paling penting,” kataku. “Kalau ini bocor, semuanya bocor.”

“Setuju.”

“Jadi tidak ada pengecualian. Tidak ada ‘kecuali sahabat’, tidak ada ‘kecuali keluarga inti’. Nol.”

“Setuju.”

Ponselku bergetar di meja. Menghadap ke atas. Karena hidupku memang begitu.

Nadia: ANGEL

Nadia: ANGEEEEEL

Nadia: kamu semalem nelpon aku jam 2 pagi terus ngomong 40 menit soal “posisi hukum yang seimbang” terus nutup telepon

Nadia: aku ga tidur mikirin itu

Nadia: siapa cowoknya

Aku membalikkan ponsel itu dengan kecepatan yang tidak wajar.

Terlambat sekitar dua detik.

Arsa tidak berkata apa-apa. Dia cuma memandangku, lalu memandang ponsel yang tengkurap di meja, lalu memandangku lagi.

“Pasal 5,” katanya.

“Itu tidak dihitung.”

“Kenapa nggak dihitung?”

“Karena itu terjadi sebelum penandatanganan. Secara hukum, kewajiban baru mengikat setelah para pihak—”

“Angelica.”

“—membubuhkan tanda tangan, sehingga peristiwa yang terjadi pada masa pra-kontraktual tidak dapat—”

“Kamu ngomongnya jadi panjang kalau bohong, ya.”

Aku berhenti.

Ini, harus kuakui, adalah pengamatan yang cukup akurat untuk orang yang baru mengenalku dua hari.

“Namanya Nadia,” kataku. “Dia satu-satunya. Dan dia tidak akan bicara ke siapa pun karena dia tidak kenal siapa pun di lingkaran keluarga Mas.”

“Oke.”

“Oke?”

“Kalau kamu bilang aman, aman.” Dia mengangkat bahu. “Saya juga nggak bisa nuntut apa-apa. Semalam saya juga cerita ke Fahri.”

“MAS ARSA.”

“Dia tanya terus dari pagi.”

“Dia karyawan Mas!”

“Iya. Karyawan yang tanya terus dari pagi.”

Aku menutup mata sebentar. “Jadi Pasal 5 gugur di hari kedua.”

“Sebelum ditandatangani,” katanya, dengan ekspresi yang benar-benar datar. “Secara hukum, kewajiban baru mengikat setelah para pihak membubuhkan tanda tangan.”

Aku menatapnya.

Dia menyeruput es tehnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Bu Rahayu membuka tasnya di bengkel itu, aku ketawa. Satu kali, pendek, lewat hidung, sangat tidak elegan.

Dia tidak ikut ketawa. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak, seperti orang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang tidak dia minta.


PASAL 6 — PENGAKHIRAN.

“Salah satu pihak dapat membatalkan kesepakatan ini secara sepihak,” bacaku, “dengan pemberitahuan tertulis paling lambat tujuh hari sebelum tanggal pengakhiran yang dikehendaki.”

“Kenapa tujuh hari?”

“Supaya ada waktu menyusun cerita perpisahan yang konsisten. Kalau mendadak, keluarga Mas akan bertanya, dan jawaban yang tidak disiapkan akan menimbulkan pertanyaan lanjutan.”

“Kamu sudah kepikiran cerita perpisahannya?”

“Tiga versi.”

“Tiga.”

“Versi A: beda prinsip. Versi B: jarak, kalau saya dipindahtugaskan. Versi C: saya yang salah, supaya Mas tidak dimarahi Ibu.”

Dia meletakkan gelasnya.

“Kamu bikin tiga versi perpisahan,” katanya, “sebelum bikin satu versi pacaran.”

“Itu manajemen risiko.”

“Itu—” dia berhenti. Menggeleng pelan. “Ya sudah.”


Kami tanda tangan jam 15.24.

Pulpenku — yang tidak bocor, yang kubawa khusus, yang kutaruh di map bersama dua eksemplar — ternyata mati.

Kucoba di ujung kertas. Tiga garis. Kosong.

“Pakai punya saya.” Arsa menyodorkan pulpen dari saku dada wearpack-nya.

Pulpen itu bocor. Tentu saja pulpen itu bocor. Tintanya menggumpal di ujung, dan tanda tanganku di halaman tujuh berubah jadi noda biru sebesar kuku ibu jari, dan aku menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan kepada orang yang tidak pernah menghabiskan delapan tahun hidupnya memastikan dokumen bersih.

“Saya ulang,” kataku. “Saya cetak lagi besok.”

“Nggak usah.”

“Ini nggak rapi.”

“Ini sudah sah.” Dia menandatangani punyanya sendiri, dan noda birunya lebih besar lagi, dan dia jelas-jelas tidak peduli. “Sudah ada tanggal, ada nama, ada tanda tangan dua pihak. Sisanya kosmetik.”

“Sisanya arsip.”

“Angelica.” Dia mendorong satu eksemplar ke arahku. “Ini kontrak buat pura-pura pacaran sama ibu saya. Kamu mau kasih ini ke notaris?”

Aku mengambilnya. Kutiup nodanya sedikit, yang tidak berguna sama sekali.

Dan saat itu aku menyadari sesuatu tentang halaman tujuh.

Di bagian bawah, setelah Pasal 6, ada satu blok kosong dengan judul yang kuketik semalam dan tidak pernah kuisi.

PASAL 7 —

Di bawahnya, catatan kakiku sendiri, huruf sembilan, miring: untuk klausul tambahan yang belum terpikirkan.

Arsa melihatnya juga. Aku tahu karena dia berhenti sebentar, jarinya di tepi halaman.

“Ini kenapa kosong?”

“Belum ada yang perlu ditambahkan.”

“Terus kenapa dibikin nomornya?”

Dua kali. Dua kali dalam satu sore, dia menanyakan hal yang sama, dan dua kali aku tidak punya jawaban yang bisa kupertanggungjawabkan.

“Untuk kelengkapan,” kataku.

Dia mengangguk. Melipat eksemplarnya dua kali — dua kali, dokumen tujuh halaman, dilipat seperti struk — dan memasukkannya ke saku belakang.

“Sabtu arisan,” katanya sambil berdiri. “Ibu saya jam empat sudah nelpon dua kali. Katanya kamu disuruh datang jam tiga, biar sempat kenalan sebelum ibu-ibu yang lain datang.”

“Jam tiga.”

“Iya.”

“Dan Pasal 3 sudah Mas hafal?”

Jeda.

“Pasal 3 itu yang mana?”

“Pasal 3 itu kewajiban saya. Empat belas nama kerabat, tiga tanggal ulang tahun, dan riwayat penyakit Nenek.”

“Oh. Yang itu punya kamu.”

“Iya. Punya Mas Pasal 2.”

“Pasal 2 apa?”

Aku memandangnya lama sekali.

“Mas Arsa, Mas baru saja bilang sudah baca semuanya.”

“Saya baca,” katanya, sudah setengah menyeberang jalan. “Bacanya semalam. Jam satu. Dua kali. Halaman tiga saya cek dua kali karena ada typo.”

“Terus isinya?”

Dia mengangkat tangan tanpa menoleh, semacam lambaian yang berarti sampai Sabtu dan sekaligus berarti tolong jangan tanya lagi.

Aku duduk di warung itu sendirian selama sepuluh menit setelahnya, dengan es teh yang tinggal es, dan satu eksemplar kontrak bernoda biru di tanganku.

Lalu kubuka ponsel.

Angelica Prameswari: Nad.

Angelica Prameswari: Aku butuh bantuan kamu hari Sabtu.

Nadia: SIAPA COWOKNYA

Angelica Prameswari: Bukan itu bantuannya.

Nadia: aku ga bantu apa2 sebelum kamu jawab

Aku menghela napas. Mengetik.

Angelica Prameswari: Namanya Arsa. Dia bengkel. Ini bukan beneran.

Nadia: oh

Nadia: OH

Nadia: angel

Nadia: angel kamu bikin kontrak ya

Aku menatap layar itu.

Nadia: ANGEL KAMU BIKIN KONTRAK YA

Nadia: ada pasalnya?

Nadia: ada lampirannya????

Kumatikan ponsel. Kubayar es teh. Kuseberangi jalan.

Di bengkel, C70 ayahku sudah dinaikkan ke atas dudukan besi, dan seseorang sudah memasang kain di bawahnya supaya baut yang jatuh tidak hilang ke selokan.


Jumlah kata: ±1.820