Chapter Thirty Five
Bab 35 — Patungan
POV: Angelica
Kami memberitahu Bu Rahayu pada hari Sabtu, 27 Juli, pukul dua siang, di ruang tengah, dengan urutan yang sudah kami sepakati semalam sebelumnya.
Urutannya tidak dipakai.
“Bu—” kata Arsa.
“Sewa tiga tahun,” kata Bu Rahayu.
Kami berdua diam.
“Ibu tahu dari mana?”
“Bu Christine Halim itu adiknya Bu Hartati.” Dia menuang teh. “Bu Hartati arisan sama Ibu sepuluh tahun.”
Arsa menutup mata.
“Bu—”
“Ibu tahu hari Senin,” katanya. “Ibu nunggu kalian yang ngomong.”
Yang tidak kami duga adalah apa yang terjadi setelahnya.
Bu Rahayu tidak marah. Bu Rahayu juga tidak berterima kasih, yang sempat membuatku bingung selama beberapa hari sebelum aku mengerti kenapa.
Yang dia lakukan: dia mengambil buku tulis dari laci — buku tulis bergaris, sampul cokelat, jenis yang dipakai anak SD — dan membukanya di halaman yang sudah ada tulisannya.
“Ini apa, Bu?”
“Catatan arisan.”
“Bu, kami tidak—”
“Ini bukan buat kalian.” Dia membaliknya ke arahku. “Ini buat Ibu.”
Halaman itu berisi daftar. Nama, tanggal, angka. Sebelas baris.
Yang paling atas: Juni tahun lalu — Pak Hendra — [angka].
Dan yang di bawahnya, sepuluh baris lain, dari tahun-tahun sebelumnya, dengan nama-nama yang tidak kukenal dan angka-angka yang lebih kecil.
Anjani — semester 4. Anjani — semester 6. Kemal — masuk TK. Nenek — kacamata. Nenek — operasi katarak.
Aku mengangkat kepala.
“Bu.”
“Ibu catat semua,” katanya. “Dua belas tahun.”
“Kenapa dicatat kalau tidak pernah diberitahukan?”
Bu Rahayu menutup buku itu.
“Karena Ibu juga takut lupa,” katanya, “bahwa Ibu pernah bisa.”
Aku memikirkan kalimat itu selama tiga hari.
Aku memikirkannya di kantor, di angkot, di antrean minimarket. Aku memikirkannya sampai aku akhirnya mengerti bahwa buku tulis bersampul cokelat itu adalah folder Bukti Pendukung milik seorang perempuan lima puluh lima tahun yang tidak pernah bekerja kantoran seumur hidupnya.
Kami sama.
Kami menyimpan salinan.
Dan kami berdua sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah gejala.
Kabarnya menyebar dalam empat hari.
Aku tidak tahu bagaimana. Aku menduga Bu Hartati. Arsa menduga Fahri. Fahri bersumpah demi seluruh keluarganya bahwa dia tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun kecuali “satu orang, Mbak, cuma satu, sumpah”, yang ketika ditanya ternyata adalah Om Bowo.
Grup Keluarga Besar Wijaya, Rabu, 31 Juli, 19.14.
Bowo Wijaya: Assalamualaikum semua
Bowo Wijaya: Mohon izin saya sampaikan
Bowo Wijaya: Bengkel Arsa alhamdulillah tidak jadi tutup
Rina (sepupu 2): ALHAMDULILLAH
Tante Endah: Alhamdulillah. Rezeki dari mana?
Bowo Wijaya: Dari Angelica
Aku menaruh ponselku menghadap ke bawah di meja makan warung tenda.
“Kenapa?” tanya Arsa.
“Om Bowo.”
“Oh.”
“Om Bowo menulis nama saya di grup.”
Arsa mengambil ponselnya sendiri.
Aku memperhatikan wajahnya sementara dia menggulir.
“Empat puluh satu balasan,” katanya.
“Dalam berapa menit?”
“Sembilan.”
Yang terjadi berikutnya berlangsung selama tiga minggu dan sepenuhnya di luar kendali siapa pun.
Om Dedi menelepon Arsa pada hari Kamis dan menawarkan “pinjaman lunak, nggak usah buru-buru”, dengan jumlah yang membuat Arsa harus duduk. Dia menolak. Om Dedi menelepon lagi hari Jumat. Dia menolak lagi. Om Dedi menelepon Bu Rahayu hari Sabtu.
Tante Endah mengirimkan tiga pesan suara berturut-turut kepadaku, total dua belas menit, yang isinya sebagian besar adalah cerita tentang suaminya yang dulu juga punya usaha dan bangkrut tahun 1998, dan yang berakhir dengan kalimat “Nak Angel, Tante bangga sama kamu”, yang membuatku harus meletakkan ponsel dan pergi ke pantry selama empat menit.
Yudha (sepupu 1) mengirimkan pesan pribadi: mbak, saya kerja di percetakan. banner bengkel gratis kalau mau. jangan bilang siapa2
Rina (sepupu 2) mengirimkan tautan ke akun media sosialnya, tempat dia mengunggah foto stan pameran B-14 yang entah dari mana dia dapatkan, dengan tulisan panjang yang aku tidak sanggup baca sampai selesai.
Dan Om Bowo membuat sesuatu.
“Ini apa?”
Arsa membalik layarnya.
Sebuah tangkapan layar. Spreadsheet.
PATUNGAN PINDAHAN & RENOVASI BENGKEL ARSA
Kolom: Nama. Nominal. Status. Keterangan.
Dua puluh tiga baris.
“Om Bowo bikin spreadsheet,” kataku.
“Iya.”
“Om Bowo tahu spreadsheet?”
“Ternyata iya.”
Aku mengambil ponselnya dan menggulir ke bawah.
Dan aku berhenti di baris terakhir.
TOTAL: dan sebuah angka.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Totalnya salah.”
“Salah gimana?”
“Ini menjumlahkan sampai baris dua puluh dua.” Aku menunjuk. “Baris dua puluh tiga tidak masuk.”
Arsa memandang layarnya.
“Siapa yang di baris dua puluh tiga?”
Aku menggulir.
23. Bowo Wijaya — [angka] — SUDAH — “sedikit dari saya”
Kami memutuskan untuk tidak memberitahunya.
Bukan soal rumusnya. Soal seluruhnya.
“Mas Arsa, ini tidak bisa kita terima.”
“Saya tahu.”
“Ada dua puluh tiga orang.”
“Saya tahu.”
“Termasuk Rina yang baru menikah November dan yang menurut Mbak Anjani masih punya cicilan resepsi.”
Arsa duduk di kursi kerjanya dan memandang ponselnya untuk waktu yang lama.
“Angelica.”
“Ya.”
“Kalau saya tolak semua,” katanya, “apa yang terjadi?”
Aku membuka mulut.
Dan aku menutupnya lagi.
Karena aku sudah tahu jawabannya, dan karena jawabannya sudah diucapkan oleh Bu Rahayu di ruang tengahnya sendiri pada hari Sabtu bulan Juli:
Kalau Ibu bilang, dia bakal balikin. Dan setelah itu dia nggak akan pernah minta tolong sama Ibu lagi seumur hidup.
Hanya saja sekarang arahnya terbalik.
“Mereka akan berhenti menawarkan,” kataku.
“Iya.”
“Selamanya.”
“Iya.”
Yang kami lakukan, akhirnya, adalah ini.
Arsa menolak uangnya.
Dan menerima yang lain.
Dia menulis pesan di grup pada hari Minggu malam, dan menulisnya sendiri, dan dia menghabiskan empat puluh menit untuk delapan baris, dan dia meminta aku membacanya dan aku hanya mengubah satu kata.
Arsa: Assalamualaikum. Terima kasih semuanya. Sewanya sudah aman 3 tahun.
Arsa: Uangnya saya tidak bisa terima. Bukan karena tidak butuh. Karena saya tahu sebagian besar dari kita juga lagi mikirin hal yang sama tiap bulan.
Arsa: Tapi tanggal 10 Agustus saya pindahan. Barangnya banyak. Mesin bubut ada satu, beratnya 180 kg.
Arsa: Kalau ada yang bisa datang, itu yang saya butuh.
Arsa: Yudha, saya minta bannernya kalau masih berlaku.
Arsa: Om Bowo, tolong rumus di baris 23 dibetulkan. Yang lain sudah benar.
Empat puluh satu balasan dalam enam menit.
Dan yang pertama, dari Om Bowo, empat puluh detik setelah pesan terakhir:
Bowo Wijaya: rumus apa
Pindahan itu berlangsung tanggal 10 Agustus, hari Sabtu, dari pukul enam pagi sampai pukul empat sore.
Yang datang: Om Bowo, Om Dedi, Yudha, Rina dan suaminya, dua orang sepupu yang belum pernah kutemui dan yang namanya tidak ada di kartu manila mana pun karena mereka dari pihak Semarang, Mbak Anjani, Kemal, Fahri, dan tiga orang teman Fahri dari SMK yang dibayar dengan nasi bungkus dan yang menurut Fahri “ikhlas, Mbak, mereka pengen liat bengkel”.
Yang tidak datang: Nenek Sumi, yang dilarang, dan yang protes selama empat puluh menit di telepon.
Bu Rahayu datang jam sembilan membawa dua rantang bersusun dan tidak mengangkat satu barang pun, dan berdiri di teras ruko baru mengarahkan orang selama tujuh jam, dan itu adalah pekerjaan yang paling berat di antara semuanya.
Mesin bubut 180 kilogram itu diangkat oleh enam orang dengan metode yang disusun Arsa di kertas dan dibatalkan Om Dedi di menit pertama dengan kalimat “udah, angkat aja”, yang mengakibatkan satu jari kaki memar dan satu perdebatan sepuluh menit yang berakhir dengan metode Arsa dipakai.
Ruko baru itu di Jatiwarna.
Sembilan kilometer. Lebih kecil. Lantai atasnya bocor di satu titik dan Arsa sudah membeli semen sebelum pindahan.
Tapi ada satu hal yang tidak ada di ruko lama.
Halaman.
Empat kali enam meter, di depan, dengan pagar rendah dan satu pohon jambu yang kata pemiliknya sudah ada sejak sebelum bangunannya dibuat.
Aku berdiri di halaman itu pada pukul empat sore, ketika semua orang sudah pulang kecuali Fahri yang sedang menyapu di dalam, dan aku memandang plang yang baru dipasang Yudha dua jam lalu.
PRAMUDYA ELECTRIC — KONVERSI & PERAWATAN
Huruf putih di dasar biru tua.
“Bannernya salah,” kata Arsa, dari belakangku.
“Salah apa?”
“Yudha nulis ‘Pramudya Electric’.”
“Itu nama bengkelnya.”
“Nama bengkelnya ‘Bengkel Arsa’.”
Aku menoleh.
“Sejak kapan?”
“Sejak empat tahun.” Dia memandang plang itu. “Cuma nggak pernah saya pasang.”
“Kenapa?”
Arsa mengangkat bahu.
“Mahal,” katanya.
Aku memandang plang itu.
Aku memandang halaman empat kali enam meter dengan pohon jambu yang lebih tua dari bangunannya.
Dan aku memikirkan sesuatu yang tidak kukatakan sampai berbulan-bulan kemudian.
Bahwa selama sebelas bulan, aku mengira aku sedang berbohong kepada delapan puluh empat orang.
Dan bahwa hari itu, dua puluh tiga di antara mereka datang pada pukul enam pagi untuk mengangkat mesin bubut seberat seratus delapan puluh kilogram, dan tidak satu pun dari mereka pernah mendapat penjelasan apa pun, dan tidak satu pun dari mereka menanyakannya.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Kita harus cerita ke mereka.”
Arsa memandang plang itu.
“Iya,” katanya. “Tapi bukan hari ini.”
Jumlah kata: ±1.910
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan reading
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7