Chapter Thirty Eight
Bab 38 — Dua Jam
POV: Angelica
Motor itu mogok pada hari Minggu, 25 Agustus, pukul 21.14, di jalan antara Jatiwarna dan kosku, di ruas yang di kiri-kanannya kebun kosong dan tiang listrik dengan jarak yang terlalu jauh.
Aku tahu jamnya karena aku melihat jam.
Aku selalu melihat jam.
“Kenapa?”
“Nggak tahu.”
“Mas Arsa.”
“Sebentar.”
Arsa turun. Menuntun motor itu ke bahu jalan. Menyalakan senter ponselnya dan berjongkok di sisi kanan.
Panel mati total. Layar kecil sebesar kartu nama itu gelap.
“Baterainya habis?”
“Tadi delapan puluh satu.”
“Berarti bukan baterai.”
“Iya.”
Dia membuka penutup kecil di dekat kaki. Mengeluarkan sesuatu seukuran korek api. Mengangkatnya ke cahaya.
“Sekring,” katanya.
“Putus?”
“Putus.”
“Bagus atau buruk?”
“Bagus.” Dia memutarnya di antara jari. “Artinya ada yang salah, dan dia putus duluan biar yang lain nggak.”
“Dan buruknya?”
Arsa memandang sekring itu.
“Saya nggak bawa cadangan,” katanya.
Aku duduk di bahu jalan pada pukul 21.22.
Bukan di motor. Di aspal, di bahu jalan, di atas jaket kanvas yang dilipat dua kali dan diletakkan Arsa di sana tanpa berkata apa-apa.
Jaket kanvas itu, tentu saja, adalah jaketnya sendiri, yang sudah tergantung di belakang pintu kamar kosku sejak bulan Oktober, dan yang malam itu kupakai karena kata ramalan cuaca akan hujan.
“Bengkel terdekat?”
“Empat kilometer. Tutup.”
“Yang buka?”
“Di jalan besar. Tujuh kilometer.” Dia melihat jam. “Tutup jam sembilan.”
“Ojek?”
“Bisa. Tapi motornya nggak bisa ditinggal.”
“Fahri?”
“Fahri kosnya sebelas kilometer dari sini dan motornya lagi dipinjem temennya.”
Aku mengeluarkan ponselku.
“Angelica.”
“Saya cek—”
“Angelica.”
Aku mengangkat kepala.
Arsa berdiri di bahu jalan dengan senter ponsel yang sudah dimatikan, memandangku.
“Jam sepuluh nanti ada bus,” katanya. “Yang jurusan terminal. Lewat sini. Dia bisa bawa motor di bagasi bawah kalau saya minta.”
“Jam sepuluh?”
“Kadang sepuluh lewat.”
Aku melihat jam.
21.26.
“Jadi kita menunggu.”
“Iya.”
Dia duduk di aspal, dua meter dariku, dan menyandarkan lengan ke lutut.
“Dua jam,” katanya.
“Mas bilang jam sepuluh.”
“Iya. Terus bus itu ke terminal dulu. Terus dari terminal ke kos kamu satu jam.”
Aku memandang jalan yang kosong.
“Oh,” kataku.
Yang perlu kau tahu tentang menunggu dua jam di bahu jalan adalah bahwa dua jam itu tidak terasa seperti dua jam.
Dua puluh menit pertama terasa seperti dua jam.
Sisanya tidak terasa sama sekali.
21.40. Sebuah truk lewat. Angin dari truk itu membuat rambutku masuk ke mulut.
21.44. Aku bertanya kenapa sekringnya putus. Arsa menjelaskan selama sembilan menit. Aku memahami sekitar empat puluh persennya. Aku tidak menghentikannya.
21.53. Arsa bertanya apakah aku lapar. Aku bilang tidak. Dia mengeluarkan sebungkus wafer cokelat dari kantong wearpack-nya.
“Dari mana itu?”
“Kemal.”
“Kemal kasih Mas wafer?”
“Nggak.” Dia membukanya. “Kemal ninggalin di bengkel bulan Maret.”
“MAS ARSA.”
“Ada tanggal kedaluwarsanya. Masih setahun lagi.”
“Mas menyimpan wafer anak enam tahun selama lima bulan?”
“Tujuh tahun.”
“Mas menyimpan wafer anak tujuh tahun selama lima bulan?”
Arsa mematahkannya jadi dua dan menyodorkan satu bagian kepadaku.
Aku memakannya.
22.10. Bus tidak datang.
22.25. Bus tidak datang.
22.31. Arsa menelepon seseorang. Percakapan berlangsung empat puluh detik.
“Siapa?”
“Pak Warno. Sopirnya.”
“Mas kenal sopirnya?”
“Motornya saya servis.”
“Dan?”
Arsa memasukkan ponselnya ke saku.
“Busnya mogok,” katanya.
Aku memandangnya.
Dan aku mulai tertawa, di bahu jalan, pukul setengah sebelas malam, dengan wafer di tangan.
“Ini tidak lucu.”
“Iya.”
“Mas Arsa, ini sama sekali tidak lucu.”
“Iya.”
“Bus yang seharusnya mengangkut motor kita yang mogok—”
“Iya.”
“—mogok.”
“Radiatornya,” kata Arsa. “Dari dulu.”
22.50.
Kami duduk berdampingan sekarang. Aku tidak tahu kapan itu terjadi.
“Angelica.”
“Hm.”
“Besok Senin.”
“Iya.”
“Kamu kerja jam delapan.”
“Iya.”
“Maaf.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
“Ini motor kamu,” katanya. “Saya yang kerjain. Setahun. Terus sekringnya putus di jalan.”
“Mas Arsa.”
“Ini persis yang saya bilang nggak boleh kejadian.” Dia memandang aspal. “Bulan Januari. Waktu uji jalan. Saya bilang kalau kabelnya kesenggol terus tiga bulan lagi putus di tengah jalan, pemiliknya bakal bilang motor listrik nggak bisa diandalkan.”
“Iya.”
“Terus ini kejadian.”
“Iya.”
Aku memandang motor itu, yang berdiri di bahu jalan dengan standar samping, biru yang sudah jadi abu-abu, jok yang ditambal lakban hitam.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Motor ini mogok satu kali dalam delapan bulan.”
Dia tidak menjawab.
“Motor Bapak saya,” kataku, “kalau pagi harus dinyalakan tiga kali. Setiap pagi. Selama Bapak masih hidup.”
Aku menoleh padanya.
“Dan tidak ada satu kali pun,” kataku, “dalam sebelas tahun, saya mendengar Ibu saya menyebut itu sebagai kerusakan.”
23.15. Hujan mulai.
Bukan hujan besar. Gerimis, jenis yang membuat aspal berbau dan tidak membuat basah kalau kau tidak berdiri terlalu lama.
Kami berdiri terlalu lama.
Kami pindah ke bawah pohon di sisi kebun, dan Arsa mendorong motor itu ke sana, dan kami berdiri di bawah pohon yang aku tidak tahu jenisnya sampai sekarang.
“Angelica.”
“Hm.”
“Kamu inget bulan Agustus tahun lalu?”
“Bagian yang mana?”
“Waktu kamu ngeliat saya dari celah rolling door.”
Aku membeku.
“Mas Arsa.”
“Jam sebelas lewat.”
“Mas tahu?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak waktu itu.”
Aku menoleh padanya dalam gelap.
“Mas melihat saya?”
“Nggak.” Dia mengangkat bahu. “Saya lihat bayangannya. Di lantai. Dari cahaya lampu jalan.”
“Dan Mas tidak berkata apa-apa?”
“Nggak.”
“Selama setahun?”
“Iya.”
Gerimis di daun.
“Kenapa?”
Arsa memandang jalan kosong.
“Karena kalau saya bilang,” katanya, “kamu bakal malu. Terus kamu bakal jelasin. Terus penjelasannya bakal panjang.”
Aku menutup mata.
“Dan?”
“Dan saya nggak mau kamu ngasih penjelasan,” katanya. “Saya cuma mau kamu balik lagi besoknya.”
23.40. Sebuah pikap berhenti.
Bapak-bapak, sekitar lima puluhan, dengan bak kosong dan radio yang menyala terlalu keras.
“Mogok, Mas?”
“Iya, Pak.”
“Mau dibantu?”
Arsa melihat ke arahku.
Dan kemudian — dan aku ingin mencatat ini dengan sangat jelas — Arsa Pramudya melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama satu tahun aku mengenalnya.
“Boleh, Pak,” katanya. “Makasih banyak.”
Kami sampai di kosku pukul 00.35, diantar seorang bapak bernama Pak Karto yang tidak mau dibayar, yang menerima uang bensin setelah ditolak dua kali, dan yang selama tiga puluh menit di perjalanan menceritakan tentang anaknya yang kuliah di Semarang.
C70 itu diturunkan dari bak pikap di depan gang kosku.
Pak Karto pergi.
Dan kami berdiri di trotoar, jam setengah satu pagi, dengan motor yang tidak bisa menyala dan dua orang yang basah di bagian bahu.
“Motornya saya tinggal di sini?”
“Iya. Ibu kos saya ada tempat.”
“Besok pagi saya ambil.”
“Jam berapa?”
“Enam.”
“Mas Arsa, itu sembilan kilometer.”
“Iya.”
Aku memandangnya.
“Mas.”
“Hm.”
“Tadi Mas bilang ‘boleh, Pak, makasih banyak’.”
Arsa memasukkan tangan ke saku.
“Iya,” katanya.
“Ke orang yang sama sekali nggak Mas kenal.”
“Iya.”
“Dan Mas tidak menolak dulu.”
Dia memandang trotoar.
“Nggak,” katanya.
Dan aku berdiri di trotoar depan gang kosku pada pukul setengah satu pagi hari Senin, dengan rambut yang basah dan sepatu yang basah dan besok pagi rapat jam sembilan, dan aku merasa jauh lebih baik daripada yang bisa dijelaskan oleh satu pun fakta di atas.
Aku masuk ke kamar pukul 00.50.
Aku menggantung jaket kanvas itu di belakang pintu.
Aku duduk di kasur dan aku menghitung — karena aku menghitung — bahwa besok, tanggal 26 Agustus, adalah tepat satu tahun sejak seorang perempuan mengisi kolom Nama Pemilik di sebuah formulir kerja bengkel dengan huruf lengkap, tanpa disingkat, karena dia tidak pernah menyingkat apa pun di dokumen resmi.
Ponselku menyala.
Arsa Bengkel: Sudah sampai kamar?
Angelica Prameswari: Sudah.
Arsa Bengkel: Besok saya ambil motornya jam 6.
Angelica Prameswari: Saya sudah bilang jangan.
Arsa Bengkel: Saya sudah bilang jam 6.
Aku memandang layar itu.
Arsa Bengkel: Angelica.
Angelica Prameswari: Ya.
Arsa Bengkel: Besok tanggal 26.
Aku duduk di kasur kos dengan ponsel di tangan dan rambut yang masih basah.
Angelica Prameswari: Saya tahu.
Arsa Bengkel: Sabtu ini ada waktu?
Angelica Prameswari: Ada.
Arsa Bengkel: Jam 4. Di bengkel.
Arsa Bengkel: Ada yang mau saya kasih.
Jumlah kata: ±1.750
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam reading
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7