Chapter Twenty Three
Bab 23 — Test Ride
POV: Angelica
Ada masalah teknis yang tidak kami pikirkan.
Motor itu belum boleh dibawa keluar.
“Uji jalan,” kata Arsa, hari Selasa, lewat telepon. “Harus di jalan yang sepi dulu. Kalau ada yang salah di kecepatan tertentu, saya nggak mau tahunya di jalan besar.”
“Kapan?”
“Malam. Jam sepuluh ke atas. Jalan di belakang pabrik itu, yang lurus dua kilometer.”
“Jam sepuluh malam.”
“Iya.”
“Mas Arsa, saya kerja jam delapan pagi.”
“Iya. Ya sudah, nanti saya sama Fahri aja.”
Aku menutup file yang sedang kukerjakan.
“Jam berapa saya harus di bengkel,” kataku.
Aku sampai jam 21.40 hari Rabu.
Fahri tidak ada.
“Fahri mana?”
“Pulang.”
“Katanya Fahri ikut.”
“Iya.” Arsa sedang memasang sesuatu di panel kecil dekat setang. “Terus dia bilang dia inget dia ada acara.”
“Acara apa?”
“Dia nggak bilang. Dia cuma senyum terus pulang.”
Aku memandang ke arah pintu samping.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Fahri sudah tahu?”
“Belum saya bilangin.”
“Tapi dia sudah tahu.”
Arsa mengencangkan sekrup terakhir. “Fahri itu Sabtu kemarin ngeliat kita berdiri di tengah bengkel dan matanya kamu bengkak. Terus hari Senin dia dateng bawa dua gelas kopi. Satu manis satu nggak.”
“Oh.”
“Dia nggak ngomong apa-apa. Cuma naruh.” Arsa berdiri. “Terus dia bikin daftar di HP-nya, saya lihat pas dia ninggalin di meja.”
“Daftar apa?”
“‘Taruhan tanggal lamaran’.”
Aku menutup mata sebentar.
“Ada berapa nama?”
“Lima.”
“Lima? Bengkel ini isinya tiga orang.”
“Iya,” kata Arsa. “Makanya saya juga nggak ngerti.”
Jalan di belakang pabrik itu lurus, gelap, dan sepenuhnya kosong pada pukul sepuluh malam kecuali satu warung kopi di ujung yang lampunya menyala kuning dari jarak dua kilometer.
Kami sampai ke sana dengan motor Arsa, dengan C70 dituntun — sebenarnya tidak dituntun, karena motor listrik bisa berjalan pelan tanpa dinaiki dan Arsa berjalan di sebelahnya sambil memegang setang seperti orang membawa kuda.
Aku berjalan di belakang, memegang senter, yang sudah menjadi peranku yang tetap.
“Mas Arsa.”
“Hm.”
“Motornya jalan sendiri.”
“Iya.”
“Mas bisa naik.”
“Nanti kalau sudah dicek.”
“Dicek apa?”
Dia berhenti. Berjongkok. Memeriksa sesuatu di dekat roda belakang dengan tangan telanjang.
“Suhu,” katanya.
“Motor ini baru jalan tiga ratus meter.”
“Iya.” Dia berdiri. “Tiga ratus meter di jalan datar sama tiga ratus meter di jalan naik itu beda. Nanti di depan ada tanjakan.”
“Ada tanjakan?”
“Dikit.”
“Berapa dikit?”
“Angelica,” katanya, “kamu bawa senter, saya bawa motor. Kita bagi tugas.”
Uji jalan yang sebenarnya berlangsung empat puluh menit dan aku tidak akan menuliskan semuanya, karena sebagian besar isinya adalah Arsa naik motor pelan-pelan bolak-balik dua kilometer sambil berhenti setiap dua ratus meter untuk memegang sesuatu, dan aku berdiri di pinggir jalan memegang senter dan memikirkan bahwa aku sedang berdiri di pinggir jalan memegang senter pada pukul setengah sebelas malam di hari kerja.
Yang penting adalah ini.
Percobaan keempat, dia sampai di kecepatan empat puluh dan ada bunyi.
Bukan bunyi mesin. Bunyi berdecit, tinggi, dari arah roda belakang, dan dia berhenti dalam dua detik dan mendorong motor itu ke pinggir.
“Kenapa?”
“Bantalan.” Dia sudah jongkok. “Atau kabel yang kesenggol.”
“Parah?”
“Nggak.” Dia meraba sesuatu. “Kabel. Kena swing arm.”
Dia memindahkannya lima sentimeter dan mengikatnya dengan cable tie.
“Sudah?”
“Sudah.”
“Segitu aja?”
“Iya.”
Aku memandangnya.
“Mas Arsa, kalau motor ini keluar dari bengkel lain, kabel itu akan tetap di situ.”
“Iya.”
“Dan tiga bulan lagi kabelnya putus di tengah jalan.”
“Iya.”
“Dan pemiliknya akan bilang motor listrik itu tidak bisa diandalkan.”
Arsa berdiri, mengelap tangan ke celana.
“Iya,” katanya. “Makanya saya uji jalan.”
Percobaan keenam, 22.50.
“Naik.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Naik.” Dia menepuk jok belakang. “Sekarang harus dites bawa beban.”
“Beban.”
“Dua orang.”
“Mas Arsa, saya bukan beban.”
“Kamu beban lima puluh dua kilo.”
Aku berhenti bergerak.
“Bagaimana Mas tahu berat badan saya?”
Arsa membeku sekitar setengah detik.
“Kira-kira,” katanya.
“Mas menyebut angka spesifik.”
“Kira-kira spesifik.”
“Mas Arsa.”
“Naik, Angelica.”
Aku naik.
Dan inilah yang tidak ada yang memberitahuku tentang motor listrik.
Motor listrik itu sunyi.
Bukan lebih pelan. Sunyi. Kau bisa mendengar ban menggilas kerikil. Kau bisa mendengar angin lewat helm. Kau bisa mendengar orang di depanmu bernapas.
Kami berjalan di jalan lurus dua kilometer di belakang pabrik, empat puluh kilometer per jam, dengan lampu bulat menguning yang menerangi enam meter di depan kami dan tidak lebih.
Dan tidak ada suara.
“Angelica.”
Suaranya. Biasa. Tidak diteriakkan.
“Ya.”
“Kamu bisa denger saya?”
“Iya.”
“Nggak usah teriak?”
“Nggak usah.”
Dia diam beberapa detik.
“Ini aneh,” katanya.
“Iya.”
“Saya udah bikin sebelas motor. Tapi saya nggak pernah bonceng orang di motor listrik.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada yang mau dibonceng sama tukang bengkel jam sebelas malem.”
Aku ketawa, dan tawaku terdengar sangat jelas, dan itu membuatku ketawa lagi.
Yang kami bicarakan sepanjang dua kilometer pertama:
Bahwa kabel yang tadi berdecit itu jenis kabel yang sama dengan yang dipakai di mesin cuci, dan bahwa Arsa tahu itu karena dia pernah memperbaiki mesin cuci ibunya dan menyimpan sisa kabelnya selama tiga tahun.
Bahwa aku menyimpan STNK motor mati selama sebelas tahun dan memperpanjangnya setiap tahun dan berbohong kepada petugas Samsat soal denda berbunga.
Bahwa Nenek Sumi tensinya sudah turun ke seratus enam puluh dan bahwa Bu Rahayu sekarang menaruh obatnya di dalam kotak yang harus dibuka dengan cara tertentu.
Bahwa Fahri sebenarnya diterima di politeknik tahun lalu dan tidak masuk karena biaya, dan bahwa Arsa baru tahu itu bulan lalu, dan bahwa dia belum tahu harus berbuat apa dengan informasi itu.
Bahwa aku belum memberitahu ibuku di Bandung tentang apa pun.
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
“Empat setengah bulan?”
“Iya.”
Ban menggilas kerikil.
“Kenapa?”
Aku memandang punggung jaket kanvasnya — jaket yang kembarannya tergantung di belakang pintu kamar kosku sejak Oktober.
“Karena kalau saya cerita ke Ibu,” kataku, “saya harus cerita yang mana.”
Di kilometer ketiga, Arsa berhenti.
Tidak ada apa-apa yang salah. Dia cuma memelankan motor, menepi, dan mematikannya.
Panel gelap. Lampu depan padam.
Jalan itu jadi hitam sepenuhnya kecuali satu titik kuning dua kilometer di ujung sana.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Mas Arsa.”
“Sembilan puluh dua persen,” katanya. “Setelah lima kilometer. Itu lebih bagus dari perhitungan saya.”
“Jadi kenapa berhenti?”
Dia turun dari motor. Melepas helm. Menggantungnya di setang.
Dan berdiri di sana, di tengah jalan kosong, memandangku yang masih duduk di jok belakang.
“Karena nggak ada Bu Marni,” katanya.
Aku melepas helmku.
“Apa?”
“Nggak ada Bu Marni.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Nggak ada Ibu saya. Nggak ada Fahri. Nggak ada delapan puluh empat orang di grup.”
Aku turun dari motor.
“Nggak ada satu orang pun,” katanya, “sampai dua kilometer.”
Aku berdiri di depannya.
“Jadi?”
“Jadi nggak ada gunanya,” katanya.
Dan aku mengenali kalimat itu.
Aku mengenalinya karena aku yang menulisnya, di warung Bu Yanti, bulan Agustus, dengan pulpen yang tidak bocor, di kolom keterangan Lampiran 4c: kalau tidak ada orang, tidak ada gunanya.
“Mas Arsa.”
“Ya.”
“Itu kalimat saya.”
“Iya.”
“Bulan Agustus.”
“Iya.” Dia mengangkat bahu. “Saya inget semua yang kamu tulis, Angelica. Saya baca tujuh halaman itu jam satu pagi dua kali.”
Aku menutup jarak.
Dan aku menciumnya di tengah jalan aspal di belakang pabrik, pukul sebelas lewat, di bawah langit yang tidak ada bintangnya karena ini kota, dengan motor Honda C70 tahun 1979 berdiri diam di sebelah kami dalam keadaan mati total.
Tidak ada saksi.
Tidak ada pihak ketiga.
Tidak ada satu pun pasal yang berlaku.
Dan itulah, untuk pertama kalinya sejak 26 Agustus, seluruh alasannya.
Kami sampai kembali ke bengkel pukul 00.20.
“Saya anter pulang.”
“Naik apa?”
“Motor saya.”
“Motor Mas berisik.”
“Iya.”
“Ibu kos saya jam segini sudah tidur.”
Arsa memandang C70 yang sudah berdiri kembali di atas karpet.
“Sembilan puluh dua persen,” katanya.
Aku pulang naik motor ayahku pada pukul setengah satu pagi, di boncengan belakang, di jalanan kota yang sudah kosong, dengan seorang laki-laki di depan yang tahu berat badanku dalam kilogram dan tidak mau menjelaskan bagaimana.
Kami melewati lampu merah yang menyala kuning berkedip.
Kami melewati warung tenda yang sedang menutup terpalnya.
Kami melewati satu bapak-bapak yang sedang mendorong gerobak dan yang menoleh ke arah kami dengan bingung karena tidak mendengar apa-apa datang.
Dan di depan gang kosku, aku turun, dan aku berdiri di trotoar, dan aku memandang motor itu — biru yang sudah jadi abu-abu, jok yang ditambal lakban hitam, lampu bulat menguning — dan aku memikirkan seorang laki-laki yang berangkat kerja setiap pagi dan menyalakan motornya tiga kali sebelum mau hidup.
“Angelica.”
“Ya.”
“Kamu nangis lagi?”
“Nggak.”
“Hm.”
“Saya nggak nangis, Mas Arsa.”
“Oke.”
Aku menyeka pipi dengan punggung tangan.
“Ini angin,” kataku.
“Iya,” katanya. “Angin.”
Jumlah kata: ±1.920
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride reading
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7