Chapter Thirty Six

Bab 36 — Ibu Saya

POV: Angelica


Ibuku bernama Sri Wahyuni, berusia lima puluh delapan tahun, tinggal sendiri di rumah di Bandung yang dibangun ayahku tahun 1993, dan sampai tanggal 15 Agustus tahun itu, dia tidak tahu apa-apa.

Bukan karena aku menyembunyikannya.

Karena kami tidak begitu.

Kami menelepon dua minggu sekali, hari Minggu, sekitar dua puluh menit. Aku bertanya soal tetangga. Dia bertanya soal pekerjaan. Aku bilang baik. Dia bilang baik. Kami menutup telepon dan tidak berbohong sedikit pun kepada satu sama lain dan juga tidak mengatakan apa-apa.

Aku mengunjunginya empat kali setahun: Lebaran, dua kali libur panjang, dan bulan Maret.

Bulan Maret karena itu bulan ayahku meninggal.


Aku memberitahunya pada hari Minggu, 4 Agustus, pukul 19.20, di telepon, setelah delapan belas menit membicarakan tetangga.

“Bu.”

“Hm.”

“Angel punya pacar.”

Hening.

Hening yang cukup panjang sehingga aku sempat memeriksa apakah sambungannya terputus.

“Bu?”

“Iya, iya.” Suaranya berubah. “Sejak kapan?”

“Setahun.”

“SETAHUN?”

“Kurang lebih.”

“Angel.”

“Iya, Bu.”

“Setahun.”

“Iya, Bu.”

Aku mendengar bunyi kursi. Ibuku duduk. Ibuku selalu berdiri kalau menelepon, dan aku bisa mendengar dia duduk.

“Namanya siapa?”

“Arsa.”

“Kerjanya apa?”

“Bengkel.”

“Bengkel apa?”

“Motor listrik. Konversi.”

“Konversi apa?”

Dan aku menghela napas, dan aku menyandarkan punggung ke dinding kamar kos, dan aku memulai penjelasan yang akan berlangsung selama tiga puluh empat menit dan yang, pada menit kedua belas, membuat ibuku berkata:

“Angel.”

“Iya, Bu.”

“Motor Bapak?”

“Iya, Bu.”

Hening lagi.

“Yang di garasi?”

“Sudah nggak di garasi, Bu.”

“Sejak kapan?”

“Agustus tahun lalu.”

Dan ibuku, yang selama sebelas tahun tidak pernah sekali pun menyinggung terpal di garasi itu, dan yang aku kira tidak pernah melihatnya, berkata dengan suara yang tidak stabil:

“Ibu tahu.”

“Bu?”

“Ibu tahu terpalnya kosong, Angel.” Dia berdehem. “Ibu tiap pagi lewat situ.”

“Kenapa Ibu nggak tanya?”

“Kenapa kamu nggak cerita?”

Dan tidak ada satu pun dari kami yang bisa menjawab, karena jawabannya sama, dan karena kami baru menyadarinya pada detik itu juga.


Dia datang tanggal 15 Agustus.

Kereta pagi. Aku menjemput di stasiun. Dan hal pertama yang dia katakan setelah memelukku, sebelum kami keluar peron, adalah:

“Motornya mana?”

“Bu.”

“Ibu naik kereta tiga jam.”

“Iya, Bu.”

“Ibu mau lihat motornya.”

“Nanti sore, Bu. Ibu istirahat dulu.”

“Angel.”

Aku memandang wajahnya.

Lima puluh delapan tahun. Kerudung cokelat. Tas selempang. Dan ekspresi seorang perempuan yang selama sebelas tahun berjalan melewati terpal kosong setiap pagi tanpa mengatakan apa-apa kepada siapa pun.

“Ya sudah,” kataku. “Sekarang.”


Arsa menunggu di halaman ruko baru itu sejak pukul sembilan.

Aku tahu karena Fahri memberitahuku lewat pesan pada pukul 09.14: “mbak, mas arsa udah nyapu halaman 3 kali.”

Dan pada pukul 09.40: “4 kali.”

Dan pada pukul 10.05: “mbak dia ganti baju. yang biru. yang buat kondangan.”

Dan pada pukul 10.11: “mbak dia ganti lagi. balik ke wearpack.”

Aku membalas: Kenapa balik?

Fahri: dia bilang “biar keliatan kerja”

Fahri: terus dia diem 5 menit terus dia bilang “atau malah jelek ya”

Fahri: mbak saya nggak pernah liat mas arsa gini


Kami sampai pukul 10.40.

Dia berdiri di depan plang yang bertuliskan PRAMUDYA ELECTRIC, dengan wearpack, dengan tangan yang jelas baru dicuci tiga kali, dan dengan rambut yang diikat dengan cara yang menunjukkan bahwa dia sudah mengulangnya.

Ibuku turun dari taksi.

Dia berjalan lurus ke arah Arsa, dan Arsa membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu yang jelas sudah dia latih, dan ibuku memotongnya.

“Kamu yang benerin motornya suami saya?”

Arsa menutup mulut.

“Iya, Bu.”

“Mana.”


Motor itu ada di dalam, di sisi kiri, di atas karpet, dengan roda depan diganjal balok kayu.

Ibuku berhenti tiga meter dari sana.

Dan tidak bergerak selama mungkin dua puluh detik.

Biru yang sudah jadi abu-abu di bagian tangki. Jok robek di satu sisi, ditambal lakban hitam. Lampu bulat yang kacanya menguning.

“Joknya,” katanya.

“Iya, Bu.”

“Kok nggak diganti?”

“Angel nggak mau, Bu,” kata Arsa.

Ibuku menoleh padaku.

“Kenapa?”

Aku memandang lakban hitam itu.

“Karena Bapak yang nempel,” kataku.

Ibuku memandang motor itu lagi.

“Bapak kamu nempel lakban itu tahun 2009,” katanya. “Ibu suruh jahit. Dia bilang besok. Dia bilang besok dua tahun.”

Dia berjalan mendekat.

Dia meletakkan tangan di jok itu, di sebelah lakbannya, dan tidak berkata apa-apa.


Kami menyalakannya pukul 11.10.

Arsa yang memutar kunci, karena ibuku tidak mau, dan karena aku tidak bisa.

Panel menyala. 97%.

Lampu bulat itu menyala.

Dan dengung halus, rendah, rata itu memenuhi ruko yang lantainya baru disapu empat kali.

Ibuku berdiri di sana dengan tangan menutup mulut.

“Nggak ada bunyinya,” katanya.

“Nggak ada, Bu.”

“Dulu tiga kali baru mau hidup.”

“Iya, Bu.”

“Terus ada dug waktu masuk gigi satu.”

Aku menoleh ke Arsa.

Dia sedang memandang ibuku, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang mendengar konfirmasi dari sumber kedua atas sesuatu yang selama ini hanya dia dengar dari satu orang.

“Iya, Bu,” kataku. “Saya juga inget.”

Ibuku menyeka mata dengan ujung kerudungnya, cepat, dengan gerakan orang yang sudah melakukannya seribu kali dan tidak ingin ada yang melihat.

“Ya sudah,” katanya. “Bagus.”

Dan itu saja.

Itu semua yang dia katakan tentang motor itu selama tiga hari berikutnya.


Yang terjadi berikutnya adalah bencana yang sepenuhnya bisa diprediksi dan sama sekali tidak kuprediksi.

Bu Rahayu datang pukul dua siang.

Aku tidak mengundangnya. Arsa tidak mengundangnya. Fahri bersumpah demi seluruh keluarganya.

Belakangan terungkap bahwa Kemal, yang mendengar dari Mbak Anjani, yang mendengar dari Om Bowo, yang mendengar dari Fahri, telah menyampaikan informasi tersebut kepada neneknya dalam bentuk kalimat: “Nek, ibunya Tante Angel dateng.”

Bu Rahayu datang membawa rantang bersusun tiga.

Kedua ibu itu bertemu di halaman ruko, di bawah pohon jambu yang lebih tua dari bangunannya, pada pukul 14.10.

Aku berdiri di antara mereka dengan seluruh sistem sarafku menyala.

“Bu Sri,” kata Bu Rahayu.

“Bu Rahayu,” kata ibuku.

Dan mereka bersalaman, dan mereka duduk, dan aku menyiapkan tiga topik pengalihan.


Aku tidak memakai satu pun.

Karena dalam waktu sembilan menit, kedua perempuan itu menemukan bahwa mereka berdua punya suami yang meninggal mendadak, sama-sama membesarkan anak sendirian, sama-sama pernah bekerja sebagai bendahara sesuatu, dan sama-sama punya pendapat yang sangat kuat mengenai harga cabai.

Pada menit ketiga puluh, mereka membicarakan aku dan Arsa seolah kami tidak ada di halaman itu.

Pada menit keempat puluh lima, Bu Rahayu berkata:

“Bu Sri, saya minta maaf.”

Ibuku menoleh. “Maaf kenapa?”

“Setahun ini Angel tiap Sabtu di rumah saya.”

“Oh, ya ampun—”

“Dan saya nggak pernah telepon Ibu.”

Ibuku diam.

“Anak Ibu tiap minggu makan di meja saya,” kata Bu Rahayu. “Dan Ibu nggak pernah saya kabarin sekali pun.”

Aku berdiri di halaman itu memegang nampan berisi tiga gelas teh, dan aku tidak bisa bergerak.

Ibuku memandang Bu Rahayu selama beberapa saat.

“Bu Rahayu.”

“Iya.”

“Anak saya juga nggak pernah cerita ke saya.”

Dia mengambil gelasnya dari nampan yang kupegang, tanpa menoleh padaku.

“Jadi kita berdua sama-sama nggak tahu,” katanya. “Bedanya Ibu masak buat dia dan saya enggak.”


Aku pergi ke dalam pada pukul tiga sore dengan alasan mengambil air.

Arsa menyusul dua menit kemudian.

Kami berdiri di dalam ruko yang lantainya baru disapu empat kali, mendengarkan dua perempuan tertawa di halaman.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Mereka sudah ketawa tiga kali.”

“Empat.”

“Ini buruk.”

“Iya.”

“Ini sangat buruk.”

“Iya.”

Aku mengintip dari balik pintu.

Bu Rahayu sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ponselnya.

Dan menunjukkan sesuatu di layarnya kepada ibuku.

Ibuku memakai kacamata bacanya.

“Mas Arsa.”

“Saya lihat.”

“Foto apa itu?”

“Saya nggak tahu.”

Dari halaman, terdengar suara ibuku:

“Ya ampun.”

Dan suara Bu Rahayu:

“Nah, itu yang di Sukabumi.”


Ibuku pulang tanggal 18 Agustus, kereta sore.

Dia menginap tiga malam di kosku, di kasur yang sama, dengan cara yang membuat punggungku sakit selama seminggu dan yang tidak akan kutukar dengan apa pun.

Pada malam terakhir, jam sebelas, dalam gelap, dia berkata:

“Angel.”

“Iya, Bu.”

“Kamu inget waktu Bapak meninggal kamu bilang apa sama Ibu?”

“Nggak, Bu.”

“Kamu bilang ‘Bu, aku udah bikin daftar’.” Ibuku menghela napas. “Umur lima belas. Kamu bikin daftar apa aja yang harus diurus. Ada dua belas nomor. Kamu tulis di kertas ulangan.”

Aku memandang langit-langit kamar kos.

“Ibu nggak inget,” kataku.

“Ibu inget.” Dia diam sebentar. “Ibu nangis tiga hari, Angel. Kamu enggak. Kamu bikin daftar.”

Ada suara motor di gang.

“Ibu pikir waktu itu, ya sudah, anak ini kuat.” Suaranya pelan. “Ibu baru sadar sepuluh tahun kemudian bahwa itu bukan kuat.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Terus hari Kamis,” katanya, “Ibu duduk di halaman bengkel itu, dan Ibu liat kamu berdiri megang nampan sambil dengerin dua ibu-ibu ngomongin kamu.”

“Iya, Bu.”

“Dan kamu nggak ngapa-ngapain.”

“Iya.”

“Kamu cuma berdiri di situ sambil megang nampan.”

Aku menoleh ke arahnya dalam gelap.

“Itu bagus?” tanyaku.

Ibuku menepuk tanganku dua kali.

“Itu bagus,” katanya. “Kamu nggak bikin daftar.”


Jumlah kata: ±1.880