Chapter Thirty

Bab 30 — Jam Empat

POV: Angelica


Battery pack itu harus dibongkar total pada tanggal 17 Juni, tiga hari sebelum pameran.

Bukan karena rusak.

Karena Arsa membuka dokumen persyaratan peserta pada malam tanggal 16 dan menemukan satu baris di halaman sembilan yang tidak dia baca pada bulan Maret.

Unit yang dipamerkan dalam kondisi menyala wajib menggunakan sistem pemutus arus dengan sertifikasi yang dapat ditunjukkan pada saat verifikasi teknis.

“Punya Mas nggak ada?”

“Ada.” Dia sedang menggosok wajah dengan kedua telapak tangan, jam sebelas malam, di bengkel. “Yang saya pakai bagus. Tapi belinya dari toko online, dan sertifikatnya nggak keluar.”

“Nggak bisa minta?”

“Sudah saya chat. Nggak dibales.”

“Berapa lama biasanya?”

Arsa menurunkan tangannya.

“Angelica,” katanya, “toko itu jam segini balesnya besok siang, dan besok siang itu tanggal 17, dan verifikasi teknisnya tanggal 19 pagi.”


Yang harus dikerjakan dalam empat puluh delapan jam:

  1. Membeli pemutus arus bersertifikat. Ada. Di Jakarta. Harganya empat kali lipat, dan Fahri harus berangkat naik kereta pukul enam pagi tanggal 17 dan pulang malamnya.
  2. Membongkar battery pack. Delapan puluh empat sel, disusun dalam enam modul, dengan pelat penghubung yang dilas titik.
  3. Memasang ulang jalur dengan komponen baru yang bentuk dan ukurannya berbeda.
  4. Menguji ulang. Semuanya. Dari nol.

“Berapa jam?”

“Kalau lancar, dua puluh.”

“Kalau nggak lancar?”

Arsa memandang C70 di tengah bengkel.

“Nggak usah dihitung,” katanya.


Aku mengambil cuti pada tanggal 18 Juni.

Aku mengirim permohonannya pukul 23.40 tanggal 16, dari bengkel, dengan alasan “keperluan keluarga”, yang merupakan pertama kalinya dalam delapan tahun aku menulis alasan cuti yang tidak sepenuhnya bisa diverifikasi.

Bagian SDM menyetujuinya dalam sembilan menit karena aku tidak pernah mengambil cuti.


17 Juni, 06.10. Fahri berangkat ke stasiun. Dia mengirim foto tiket kereta dengan caption “BERANGKAT DEMI MASA DEPAN”.

17 Juni, 08.00. Aku masuk kantor. Aku bekerja delapan jam. Aku menyelesaikan segalanya yang bisa diselesaikan dan meninggalkan meja yang lebih rapi daripada yang pernah kutinggalkan seumur hidup.

17 Juni, 18.30. Aku sampai di bengkel.

Arsa sudah membongkar dua modul.

17 Juni, 21.15. Fahri sampai dari Jakarta dengan kardus, keringat, dan cerita tentang seorang bapak di kereta yang mengira dia membawa bom.

17 Juni, 22.00. Fahri dipulangkan.

“Mas, saya bisa—”

“Kamu berangkat jam lima pagi. Pulang.”

“Mas—”

“Fahri.”

“Ya, Mas.”

Dia pulang. Dia kembali empat menit kemudian karena ketinggalan ponselnya. Dia pulang lagi.

Dan bengkel itu jadi sunyi.


Aku ingin mencatat apa yang sebenarnya kulakukan selama sebelas jam berikutnya, karena kalau tidak, ini akan terdengar seperti aku ikut memperbaiki motor.

Aku tidak memperbaiki apa pun.

Yang kulakukan:

Memegang senter. Empat jam total, dengan jeda.

Memegang modul sementara dilepas pelatnya, dua tangan, dengan instruksi “jangan sampai kena besi” yang diulang tiga kali dengan intonasi yang berbeda.

Membaca dokumen persyaratan peserta dari halaman satu sampai halaman dua puluh tiga dan menandai empat baris lain yang juga tidak pernah dibaca siapa pun, dua di antaranya penting.

Menyusun daftar periksa verifikasi teknis, tiga belas butir, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan selotip.

Membuat kopi. Empat kali.

Menghentikan Arsa dari menyolder pada pukul 02.10 karena tangannya bergetar dan menyuruhnya duduk selama sepuluh menit, yang dia lakukan sambil membantah selama tiga menit pertama dan tidur selama tujuh menit terakhir tanpa menyadarinya.

Membangunkannya.

Membuat kopi lagi.


Pukul 01.40, dia berkata sesuatu tanpa diminta.

“Angelica.”

“Hm.”

“Kamu ambil cuti?”

“Iya.”

“Berapa hari?”

“Satu.”

“Kamu nggak pernah cuti.”

“Saya cuti.”

“Delapan tahun.”

“Mas Arsa, pegang senternya sendiri kalau mau ngobrol.”

Dia tidak melanjutkan.

Tapi tiga puluh menit kemudian, saat aku sedang memegang modul kedua dengan dua tangan seperti orang memegang bayi, dia berkata — ke dalam pekerjaannya, tidak mengangkat kepala:

“Kalau nanti pamerannya nggak ngasilin apa-apa.”

“Hm.”

“Kamu udah buang cuti delapan tahun.”

Aku memandang punggung kepalanya.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Saya tidak membuang apa pun.”

“Kamu belum tahu hasilnya.”

“Saya tidak perlu tahu hasilnya.”

Dia berhenti menyolder.

“Itu bukan cara kamu ngomong,” katanya.

Dan dia benar. Itu bukan cara aku bicara. Aku adalah orang yang menghitung hasil sebelum memutuskan, yang membuat empat skenario dengan persentase, yang tidak pernah sekali pun dalam delapan tahun mengeluarkan sumber daya tanpa proyeksi.

“Iya,” kataku. “Saya tahu.”

Dia menoleh.

“Terus?”

“Terus pegang solder Mas. Sudah mau dingin.”


Pukul 03.55, modul keenam terpasang.

Pukul 04.02, panel menyala.

98%.

Kami berdua berdiri di tengah bengkel dan memandang layar kecil sebesar kartu nama itu selama beberapa detik tanpa berkata apa-apa.

“Sudah?” kataku.

“Belum. Harus dites beban dulu.”

“Sekarang?”

“Nggak. Nanti pagi.” Dia mengusap wajah. “Sekarang nggak boleh. Kalau ada yang salah, saya nggak akan lihat.”

“Kenapa?”

“Karena saya bangun jam lima kemarin.”

Aku melihat jam di ponselku.

Dua puluh tiga jam.

“Mas Arsa.”

“Saya nggak apa-apa.”

“Naik.”

“Saya beresin dulu—”

“Naik, Mas Arsa.”


Ruangan di lantai atas masih sama.

Meja lipat. Tiga kardus. Kipas angin berdiri. Sofa dua dudukan warna cokelat.

Matras camping Fahri masih ada di sudut, digulung, dengan noda susu yang tidak pernah benar-benar hilang.

Arsa duduk di sofa dan tidak bergerak lagi.

Aku membuka jendela.

Jalan besar di bawah masih gelap. Ada satu truk. Lalu tidak ada apa-apa selama beberapa menit. Lalu ada satu lagi.

“Angelica.”

“Hm.”

“Kamu pulang gimana?”

“Nggak.”

“Nggak apa?”

“Nggak pulang.” Aku menutup kunci jendela setengah. “Jam empat pagi. Angkot belum ada. Dan Mas nggak boleh nyetir.”

“Saya bisa—”

“Mas Arsa, tadi Mas tidur tujuh menit sambil duduk dan bangun sambil masih megang solder.”

Hening.

“Oke,” katanya.


Aku duduk di sofa.

Sofa itu dua dudukan. Kami sudah pernah tidur di sofa itu, dua bulan lalu, dengan seorang anak enam tahun di lantai dan matras yang bau susu dan jendela yang terbuka.

Waktu itu aku bangun jam empat pagi dan menemukan kepalaku di bahunya dan tidak tahu bagaimana itu terjadi.

Kali ini aku tahu persis bagaimana itu terjadi.

Karena aku yang melakukannya.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya, sadar sepenuhnya, jam 04.11 pagi, di ruangan yang isinya tiga kardus dan satu kipas angin yang mati.

Arsa tidak bergerak selama beberapa detik.

Lalu lengannya naik, pelan, dan turun di belakang bahuku.

Dan dia menghela napas — panjang, seluruh tubuh, jenis napas yang keluar dari orang yang sudah menahan sesuatu selama dua puluh tiga jam dan baru menyadarinya saat berhenti.


“Angelica.”

“Hm.”

“Kalau pamerannya berhasil.”

“Hm.”

“Bukan berarti langsung bisa beli ruko.”

“Saya tahu.”

“Paling banter dapet pesanan. Dua, tiga. Itu pun bayarnya bertahap.” Suaranya sudah pelan, sudah setengah tidur. “Nggak akan cukup buat tiga puluh persen.”

“Saya tahu, Mas Arsa.”

“Terus kenapa kamu cuti?”

Aku memandang langit-langit yang catnya mengelupas di satu sudut.

Dan aku berpikir tentang surel dua kalimat yang kukirim tanggal 23 Mei pukul 09.52.

“Karena kalau tanggal 20 Juni Mas berdiri di stan itu,” kataku, “saya mau ada di sana.”

Dia tidak menjawab.

Aku menoleh sedikit.

Dia sudah tidur.


Aku tidak tidur sampai pukul lima kurang seperempat.

Aku duduk di sofa dua dudukan dengan kepala di bahu seseorang yang sudah tidur, memandang jendela yang setengah terbuka, dan menghitung.

Karena itu yang kulakukan.

Yang kuhitung:

Bahwa harga ruko itu tetap sama.

Bahwa dua belas persen tetap dua belas persen.

Bahwa pameran, dalam skenario terbaik, menghasilkan sekitar tiga sampai empat persen tambahan dalam enam bulan, yang berarti pada tanggal 8 Agustus angkanya masih enam belas.

Bahwa selisih antara enam belas dan tiga puluh adalah empat belas.

Bahwa empat belas persen dari harga ruko di Jalan Raya Pemuda Nomor 47 adalah angka yang, kalau kubandingkan dengan saldo di rekening yang kubuka pada tahun kedua bekerja dan yang tidak pernah kusentuh selama enam tahun, adalah delapan puluh satu persen dari isinya.

Delapan puluh satu.

Bukan seratus.

Aku menghitungnya tiga kali, di kepala, jam setengah lima pagi, dengan kepala di bahu seseorang.

Dan pada hitungan ketiga, aku berhenti berpura-pura bahwa aku sedang menghitung sesuatu yang belum kuputuskan.


Aku bangun pukul 07.20 karena Fahri berteriak dari bawah.

“MAS! MBAK! SAYA BAWA BUBUR!”

Arsa bangun dengan gerakan orang yang lupa di mana dia.

Aku duduk tegak dan langsung menyesalinya karena leherku.

Dan dari tangga, terdengar suara langkah, dan suara Fahri yang berhenti mendadak di anak tangga ketujuh.

Hening.

“...Mbak?”

“Fahri.”

“Mbak Angel di sini?”

“Iya.”

Hening lagi.

“Buburnya saya beli dua,” katanya, dari tangga.

“Beli tiga, Fahri.”

“IYA, MBAK.”

Langkah menuruni tangga. Rolling door. Sunyi.

Aku menoleh ke Arsa, yang masih duduk di sofa dengan rambut yang menghadap ke tiga arah berbeda.

“Fahri akan menceritakan ini,” kataku.

“Ke siapa?”

Aku memandangnya.

“Mas Arsa, Fahri punya daftar taruhan tanggal lamaran yang isinya lima nama di bengkel yang berisi tiga orang.”

Arsa menutup mata sebentar.

“Iya,” katanya.


Jumlah kata: ±2.020