Chapter Twenty Nine

Bab 29 — Wearpack

POV: Angelica


Tawaran itu datang hari Selasa, 21 Mei, pukul 10.15, di ruang kerja Direktur Operasional, dengan pintu tertutup.

“Angel, duduk.”

Aku duduk.

Pak Dirop — namanya Pak Bagas Wirawan, lima puluh empat tahun, orang yang tidak pernah kutakuti karena dia satu-satunya di gedung itu yang benar-benar membaca lampiran — menutup map di depannya.

“Kamu tahu Surabaya lagi bangun tim audit sendiri?”

“Tahu, Pak.”

“Kepalanya kosong.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Saya usulkan kamu.”


Isi tawaran itu, dalam bahasa yang jauh lebih panjang:

Kepala Audit Internal, Kantor Wilayah Timur, berkedudukan di Surabaya. Penugasan dua tahun, dengan opsi perpanjangan atau kembali ke pusat.

Kenaikan golongan dua tingkat.

Tunjangan penempatan. Tunjangan perumahan. Tunjangan transportasi.

Dan angka yang, kalau kuhitung selisihnya dengan gajiku sekarang dan kukalikan dua puluh empat bulan, adalah angka yang membuatku harus membaca ulang lembar itu tiga kali.

“Saya nggak minta jawaban sekarang,” kata Pak Bagas. “Ambil seminggu.”

“Baik, Pak.”

“Angel.”

“Iya, Pak.”

Dia menyandarkan punggung.

“Saya baca laporan kamu yang tiga puluh empat halaman itu,” katanya. “Bukan yang ringkasan. Yang aslinya.”

Aku mengangkat kepala.

“Halaman dua puluh dua ada catatan kaki,” katanya. “Huruf sembilan, miring. Empat puluh satu karyawan dinas luar.”

“Iya, Pak.”

“Nggak ada yang baca sampai situ.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kamu tetap tulis.”

Dia mengetuk mejanya dua kali dengan buku jari.

“Orang yang nulis catatan kaki buat pembaca yang nggak ada,” katanya, “itu orang yang saya mau di Surabaya.”


Aku keluar dari ruangan itu pukul 10.31.

Aku kembali ke meja. Aku membuka laporan yang sedang kukerjakan. Aku mengetik selama dua jam empat puluh menit tanpa berhenti, dan aku menyelesaikan bagian yang seharusnya butuh dua hari.

Pukul 13.20 aku makan siang sendirian di kantin lantai satu.

Pukul 13.35 aku membuka kalkulator di ponsel.

Selisih gaji per bulan. Dikali dua puluh empat.

Ditambah tunjangan penempatan, yang dibayar di muka.

Aku menatap angka di layar.

Angka itu adalah tiga puluh satu persen dari harga ruko di Jalan Raya Pemuda Nomor 47.

Tiga puluh satu.

Uang mukanya tiga puluh.


Aku duduk di kantin lantai satu selama dua puluh menit dengan ponsel menghadap ke atas di meja dan makanan yang sudah dingin.

Kalau aku menerimanya:

Ada uang. Ada cukup uang, dengan lebih. Ruko itu bisa dibeli. Bengkel itu tidak perlu pindah dua puluh kilometer. Fahri tidak perlu naik dua angkot. Sembilan pelanggan di papan tulis tidak perlu diberi tahu bahwa alamatnya berubah.

Dan aku akan berada tujuh ratus lima puluh kilometer dari sana selama dua puluh empat bulan.

Aku membuka aplikasi kalender.

JADWAL. Yang tersisa cuma dua kolom sejak bulan Maret. Tanggal dan tempat.

Aku menggulirnya.

Bengkel. Bengkel. Rumah Ibu. Bengkel. Bengkel. Bengkel. Rumah Ibu.

Dua sampai tiga kali seminggu.

Aku menutup ponsel.


Aku memberi jawaban pada hari Kamis, 23 Mei, pukul 09.40.

Dua hari. Bukan seminggu.

“Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya tidak bisa mengambilnya.”

Pak Bagas memandangku beberapa saat.

“Alasan?”

Dan aku sudah menyiapkan empat.

Aku menyiapkannya semalaman, di kos, dengan cara yang sama seperti aku menyiapkan segalanya: berurutan, dengan alasan pendukung, dengan urutan yang dimulai dari yang paling profesional.

“Saya belum siap memimpin tim, Pak.”

Pak Bagas mengangkat alis.

“Kamu tahu itu bohong.”

“Iya, Pak.”

“Ya sudah.” Dia mengangkat bahu. “Saya nggak akan maksa.”

“Terima kasih, Pak.”

“Angel.”

“Iya, Pak.”

“Kalau tahun depan kosong lagi, saya tawarin lagi.”

“Baik, Pak.”

“Dan kalau tahun depan kamu jawab dua hari lagi,” katanya, membuka mapnya kembali, “saya akan tanya lagi alasannya.”


Aku tidak memberitahu siapa pun.

Bukan Nadia. Bukan Prita. Bukan ibuku di Bandung, yang sampai hari itu masih belum tahu apa-apa tentang apa pun.

Dan bukan Arsa.

Aku ingin menuliskan alasannya dengan jujur, karena kalau tidak, seluruh bagian berikutnya dari cerita ini tidak akan masuk akal.

Alasannya bukan karena aku ingin melindunginya.

Alasannya karena kalau aku memberitahunya, dia akan bertanya kenapa aku menolak, dan aku akan menjawab, dan jawabanku akan menjadi sesuatu yang dia bawa.

Dan aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu apa yang dia lakukan dengan hal-hal yang dia bawa.

Dia menyimpannya. Dia tidak memakainya. Takut rusak.

Jadi aku tidak memberitahunya.

Dan aku mencatat alasan itu di kepalaku sebagai melindungi, dan aku percaya pada diriku sendiri, karena aku selalu percaya pada diriku sendiri kalau yang keluar dari mulutku terdengar rapi.


Hari Sabtu berikutnya, bengkel itu penuh.

Bukan penuh pelanggan. Penuh barang.

Ada besi hollow di lantai. Ada papan triplek disandarkan ke dinding. Ada dua kaleng cat semprot, gulungan kabel LED, dan satu banner tergulung yang belum dibuka.

“Ini apa?”

“Pameran,” kata Arsa, dari balik tumpukan.

“Pameran apa?”

Fahri muncul, memegang gergaji.

“Mbak! Kita ikut pameran!”

“Fahri, gergajinya.”

“Ini nggak nyala, Mbak.”

“Fahri.”


Yang dijelaskan Arsa dalam sebelas menit sambil terus bekerja:

Ada pameran kendaraan listrik dan komponen, tahunan, tingkat provinsi, tanggal 20–23 Juni. Empat hari.

Biaya stan: mahal, tapi tidak sebesar yang kubayangkan, karena ada kuota untuk usaha kecil yang harus didaftar tiga bulan sebelumnya.

Arsa mendaftar bulan Maret.

“Maret,” kataku.

“Iya.”

“Sebelum surat Pak Hendra.”

“Iya.”

“Jadi ini bukan reaksi.”

“Bukan.” Dia mengukur besi hollow dengan meteran. “Ini sudah lama saya pikirin. Tiga tahun.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena baru sekarang ada yang layak dipamerin.”

Dia menoleh ke tengah bengkel.

C70 itu berdiri di atas karpet. Biru yang sudah jadi abu-abu. Jok bertambal lakban hitam.

Aku menoleh padanya.

“Motor saya?”

“Kalau kamu izinin.”


Aku memakai wearpack itu pukul 14.20 hari Sabtu.

Bukan karena romantis. Karena cat semprot.

Aku sedang memegang triplek yang sedang disemprot Fahri, dan Fahri memegang kaleng dengan cara yang membuatku menyesal seumur hidup, dan dalam waktu dua detik ada garis abu-abu metalik sepanjang dua puluh sentimeter di lengan blus kerjaku.

“MBAK—”

“Fahri.”

“SUMPAH MBAK SAYA NGGAK—”

“Fahri, jangan lari sambil bawa kaleng.”

Arsa muncul dari belakang dengan wearpack di tangan sebelum aku sempat berdiri.

“Pakai ini.”

“Ini punya Mas.”

“Iya.”

“Ini ukurannya—”

“Angelica, blus kamu udah kena. Kalau kena dua kali sekalian rusak.”

Aku mengambilnya.


Wearpack itu kebesaran dengan cara yang tidak bisa diperbaiki.

Lengannya harus digulung tiga kali dan masih menutupi setengah telapak tanganku. Bahunya jatuh ke tempat yang bukan bahu. Bagian pinggangnya, kalau kutarik talinya sekencang mungkin, masih menyisakan ruang untuk satu orang lagi.

Aku berdiri di tengah bengkel.

Fahri menatapku.

Arsa menatapku.

“Jangan,” kataku.

“Saya nggak ngomong apa-apa,” kata Arsa.

“Mas berpikir sesuatu.”

“Nggak.”

“Fahri, jangan foto.”

“Saya nggak—” Fahri menurunkan ponselnya. “Ya, Mbak.”


Kami bekerja sampai jam sembilan malam.

Aku memegang, mengukur, menahan, dan pada satu titik memotong besi hollow dengan gergaji besi selama enam menit sampai tanganku berhenti dan Fahri mengambil alih dengan berkata “Mbak, ini udah setengah, saya lanjutin ya” dengan nada seseorang yang berusaha sangat keras untuk tidak menyinggung.

Wearpack itu terkena cat di tiga tempat.

Terkena oli di satu tempat.

Dan pada pukul delapan lewat, ketika aku menggulung lengannya untuk yang kelima kalinya, aku menyadari bahwa aku sudah memakainya selama enam jam dan sudah berhenti menyadari bahwa aku memakainya.

“Angelica.”

“Hm.”

“Sudah jam sembilan.”

“Sebentar.”

“Kamu besok kerja.”

“Besok Minggu.”

“Oh.” Arsa berhenti. “Iya.”

Dia meletakkan obengnya.

“Kamu nggak pulang?”

Aku menoleh.

Dan aku berdiri di sana, di tengah bengkel yang penuh besi hollow dan triplek, memakai wearpack seseorang yang kebesaran tiga ukuran, dengan cat abu-abu metalik di lengan kanan dan oli di lutut kiri, pada hari Sabtu malam pukul sembilan.

Tujuh ratus lima puluh kilometer.

Dua puluh empat bulan.

Tiga puluh satu persen.

“Nanti,” kataku.


Aku pulang pukul 22.40.

Aku pulang dengan memakai wearpack itu, karena blusku ada catnya, dan karena aku tidak membawa baju ganti, dan karena Arsa berkata “bawa aja, saya ada dua” dengan cara yang persis sama dengan cara dia berkata itu tentang jaket pada bulan Oktober.

Aku menggantungnya di belakang pintu kamar kos.

Di sebelah jaket kanvas.

Dua benda, di belakang pintu, di tempat yang menurut logika yang kususun sendiri pada pukul sebelas malam adalah tempat sementara.

Aku duduk di kasur.

Aku membuka ponsel, dan aku membuka surel, dan aku membaca ulang balasan yang kukirim hari Kamis pukul 09.52 kepada Bagian SDM.

Dengan hormat, saya menyampaikan bahwa saya tidak dapat menerima penugasan tersebut. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.

Dua kalimat.

Aku, yang menulis tujuh halaman untuk sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu percakapan, menolak dua puluh empat bulan hidupku dalam dua kalimat.

Aku menutup ponsel.

Dan aku memandang dua benda yang tergantung di belakang pintu itu selama waktu yang tidak kuhitung, dan aku memikirkan sesuatu yang sangat kecil dan sangat mengganggu:

Bahwa aku sudah tidak mengembalikan jaket itu selama tujuh bulan.

Dan bahwa tidak ada satu kali pun, dalam tujuh bulan itu, dia menanyakannya.


Jumlah kata: ±1.890