Chapter Thirty Nine

Bab 39 — Dua Kunci

POV: Angelica


Aku sampai di bengkel hari Sabtu, 31 Agustus, pukul 15.52.

Fahri tidak ada.

Itu hal pertama yang kusadari, dan itu bukan pertanda yang menenangkan, karena Fahri tidak pernah tidak ada pada hari Sabtu.

“Fahri mana?”

“Pulang.”

“Jam empat?”

“Jam dua.” Arsa mengelap tangan. “Saya suruh.”

“Kenapa?”

“Karena kalau dia di sini, dia bakal berdiri di tangga.”


“Tangga apa?”

Arsa menggantung lapnya di paku.

“Naik,” katanya.

“Mas Arsa—”

“Angelica, naik.”


Aku sudah naik ke lantai atas ruko itu tiga kali sejak pindahan.

Yang kuingat: ruangan kosong empat kali lima meter dengan lantai semen yang belum dilapis apa pun, satu jendela yang menghadap ke jalan, dan noda air di langit-langit sudut kanan yang membuat Arsa membeli semen sebelum pindahan.

Yang ada di sana hari itu bukan itu.


Lantainya dilapis vinil. Warna kayu terang, dipasang rapi, dengan sambungan yang jelas dikerjakan oleh orang yang tidak terburu-buru.

Noda di langit-langit hilang. Dicat ulang. Seluruh langit-langitnya, bukan cuma sudutnya, karena kalau cuma sudutnya akan kelihatan.

Jendela yang menghadap jalan sudah punya tirai. Warna abu-abu. Jenis yang menahan panas.

Dan di dekat jendela itu, di sisi kanan ruangan, ada meja.

Meja kayu. Panjang seratus empat puluh sentimeter, mungkin. Permukaannya diamplas dan dipernis, dan di sisi kirinya ada laci — dua, disusun vertikal — dan aku tahu dari sambungannya bahwa meja itu tidak dibeli.

Di atas meja itu: satu lampu belajar. Satu tempat pulpen. Dan sebuah kursi kerja, kursi betulan, yang punya sandaran dan roda dan pengatur ketinggian.

Bukan kursi lipat.


Aku berdiri di ambang tangga selama waktu yang tidak kuhitung.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Ini apa?”

Dia berdiri di belakangku, di anak tangga kedua dari atas, dengan tangan di saku.

“Meja,” katanya.

“Mas Arsa.”

“Kursi lipat itu tingginya empat puluh dua sentimeter,” katanya. “Meja kerja saya delapan puluh delapan. Nggak cocok. Kamu setahun ngetik di pangkuan.”

Aku berjalan ke meja itu.

Aku menyentuh permukaannya.

“Ini Mas yang buat?”

“Kayunya dari bekas rak yang lama. Yang di ruko sebelumnya.” Dia menunjuk dengan dagu. “Itu rak komponen. Sudah empat tahun. Sayang kalau dibuang.”

Aku memandang kayu itu.

Di permukaannya, di dekat sudut kanan, ada tiga lubang bekas sekrup yang tidak ditutup.

“Ini nggak Mas dempul.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena itu bekas dudukan rak,” katanya. “Kalau saya dempul, nanti nggak kelihatan bahwa ini dulu rak.”


Aku menarik kursi itu dan duduk.

Tingginya pas. Tentu saja tingginya pas.

Aku membuka laci pertama.

Kosong.

Aku membuka laci kedua.

Di dalamnya ada satu benda: sebuah kotak plastik kecil berisi sekring cadangan. Empat butir. Dengan tulisan tangan di penutupnya, huruf kecil dan tegak: C70 — 30A.

“Mas Arsa.”

“Itu buat di motor.” Dia berjalan mendekat. “Satu di jok, tiga di sini. Kalau putus lagi.”

Aku menutup laci itu.

Dan aku duduk di kursi itu, di depan meja yang dulu adalah rak komponen, memandang jendela dengan tirai abu-abu yang menahan panas.

Dari sini, kau bisa melihat pohon jambu di halaman.

Dan plang yang bertuliskan PRAMUDYA ELECTRIC, dari belakang, dengan huruf terbalik.


“Berapa lama?”

“Tiga minggu.”

“Tiga minggu?”

“Malam-malam.”

Aku menoleh.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Setiap malam?”

Dia mengangkat bahu.

“Nggak setiap. Ada tiga malam saya nggak.”

“Kenapa tiga?”

“Karena hujan dan atapnya belum selesai.”


Aku berdiri.

Dan aku berdiri di ruangan itu, di lantai vinil warna kayu terang, dan aku merasakan sesuatu naik dan aku tidak menahannya.

“Kenapa?” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Angelica.”

“Nggak apa-apa, Mas Arsa.”

“Kamu nangis.”

“Ini—”

“Jangan bilang angin. Kita di dalam.”

Aku tertawa dan itu keluar sebagai sesuatu yang lain.

Dia berjalan mendekat dan berhenti satu langkah dariku.

“Angelica.”

“Ya.”

“Ini bukan buat kamu tinggal di sini.”

Aku mengangkat kepala.

“Saya tahu.”

“Ini juga bukan—” Dia berhenti. Menggosok belakang lehernya. “Ini bukan yang orang pikir.”

“Saya tahu, Mas Arsa.”

“Ini cuma meja.”

“Iya.”

“Karena kamu setahun ngetik di pangkuan,” katanya, “dan bulan Juli punggung kamu sakit tiga hari dan kamu nggak bilang, dan saya tahu dari Nadia.”

“Nadia?”

“Dia chat saya.” Arsa mengangkat bahu. “Sejak November dia chat saya kalau ada apa-apa sama kamu.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan selama sekitar empat detik.

“Nadia,” kataku, ke dalam telapak tanganku.

“Dia bilang jangan bilang kamu.”

“Mas baru saja bilang saya.”

“Iya,” kata Arsa. “Saya udah nggak nyimpen apa-apa lagi.”


Dia mengeluarkannya dari saku wearpack.

Dua kunci, di satu gantungan besi sederhana, jenis yang dijual di toko kunci seharga dua ribu rupiah.

Dia meletakkannya di atas meja itu.

“Yang pipih itu rolling door,” katanya. “Yang bulat pintu samping.”

Aku memandang dua kunci itu di atas kayu yang dulu adalah rak komponen.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Ini kunci bengkel Mas.”

“Iya.”

“Seluruhnya.”

“Iya.”

“Termasuk kalau Mas tidak ada.”

“Itu gunanya,” katanya.


Aku tidak mengambilnya.

Aku berdiri di depan meja itu dan memandang dua potong logam di atasnya, dan aku memikirkan satu hal yang membuatku tidak bisa mengulurkan tangan.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Bulan Juli Mas bilang Mas menjaga satu pintu selama sebelas bulan.”

“Iya.”

“Supaya saya di sini bukan karena tidak bisa pergi.”

“Iya.”

Aku menoleh padanya.

“Ini pintu juga,” kataku.

Arsa memandang kunci itu.

“Iya,” katanya.

“Cuma arahnya kebalik.”

“Iya.”

Dan dia mengangkat kepala, dan dia memandangku, dan dia berkata — dengan sangat pelan, dengan suara orang yang sudah memikirkan kalimatnya selama tiga minggu sambil memasang vinil pada malam hari:

“Selama setahun kamu selalu nunggu rolling door dibuka.”

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Kamu dateng jam tujuh pagi terus berdiri di trotoar seberang sambil bawa dua kopi,” katanya. “Kamu jongkok di gang jam sebelas malam terus ngintip. Kamu duduk di warung Bu Yanti nunggu saya nyeberang.”

Dia menunjuk kunci itu dengan dagunya.

“Sekarang enggak,” katanya.


Aku mengambilnya.

Dua potong logam, di satu gantungan besi seharga dua ribu rupiah, dan beratnya tidak seberapa dan aku memegangnya dengan dua tangan seperti orang menerima berkas dari klien.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Saya punya sesuatu juga.”

Dia mengangkat alis.

“Bukan sekarang,” kataku. “Hari Senin.”

“Senin?”

“Senin sore. Di sini.”

“Kenapa Senin?”

Aku memasukkan dua kunci itu ke dalam tas — ke kantong dalam, yang ada resletingnya, tempat aku menyimpan kartu identitas.

“Karena saya butuh dua hari,” kataku.

“Buat apa?”

Aku memandang meja kayu itu, yang dulu adalah rak komponen, dengan tiga lubang bekas sekrup yang tidak didempul.

“Buat menulis satu kalimat,” kataku.


Jumlah kata: ±1.810