Chapter Nine
Kata Siapa
POV: Panji
Nindy tidak membalas pesanku selama dua hari.
Bukan tidak membalas sama sekali. Dia membalas — “iya”, “oke”, “besok aja” — dengan jeda yang panjang dan panjang kalimat yang pendek, dan aku tidak bisa memutuskan apakah itu berarti sesuatu atau apakah dia cuma lelah.
Aku hampir bertanya ke Gilang.
Aku betul-betul hampir. Aku sudah mengetik pesannya. Lalu aku membaca ulang pesan yang aku ketik — “kalau orang balesnya pendek-pendek itu artinya apa” — dan aku menghapusnya, karena aku sadar aku sedang mencari orang yang bisa memberitahuku jawaban tanpa aku harus bertanya ke orangnya.
Itu curang.
Jadi hari Rabu aku mengetik ke orangnya.
Aku: Kamu marah?
Balasan datang dalam sebelas detik.
Nindy: Enggak
Nindy: Kenapa
Aku: Balesan kamu pendek-pendek dua hari
Nindy: Itu doang?
Aku: Iya
Tiga titik. Lama sekali.
Nindy: Mas
Nindy: Orang biasanya nggak nanya langsung gitu
Aku: Terus orang biasanya ngapain
Nindy: Nebak-nebak sendiri terus jadi bete terus nyalahin
Aku: Itu kedengerannya capek
Nindy: IYA KAN
Nindy: Capek banget
Lalu, dua menit kemudian:
Nindy: Aku shift malem sampai jumat. Selesai jam 10
Nindy: Kalau kamu nggak ngantuk
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku juga tidak.
Aku: Jam 10
Jumat malam hujan turun sebentar sekitar jam delapan dan berhenti, dan yang tertinggal adalah jalanan yang licin dan udara yang bau tanah dan lampu-lampu yang pantulannya panjang di aspal.
Nindy keluar jam sepuluh lewat dua belas, dan aku tahu ada yang salah dari cara dia menutup pintu.
Terlalu pelan. Nindy menutup pintu dengan tegas. Malam itu dia menutupnya seperti orang yang tidak punya tenaga untuk menyelesaikan gerakan.
“Hai,” katanya.
“Berapa jam?”
“Hah?”
“Kamu berdiri berapa jam.”
Dia mengerjap.
“Empat belas,” katanya.
“Empat belas?”
“Wulan izin. Ibunya masuk rumah sakit.” Dia menarik rolling door dan berhasil sampai setengah lalu berhenti, dan berdiri di situ memegang besinya. “Jadi aku double.”
Aku menariknya sampai bawah.
Dia tidak protes.
Itu hal pertama yang membuatku tahu betapa lelahnya dia — bukan angka empat belas, tapi bahwa dia tidak bilang bisa sendiri.
Kami jalan pelan ke arah halte.
Sangat pelan. Nindy jalan seperti orang yang setiap langkahnya dipikirkan dulu, dan dua kali dia berhenti untuk menggeser tas ke bahu yang lain.
“Sini,” kataku.
“Apa?”
“Tasnya.”
“Nggak usah.”
“Nindy.”
“Aku bisa.”
“Aku tahu kamu bisa.” Aku mengulurkan tangan. “Aku nggak nanya kamu bisa apa enggak.”
Dia berdiri di trotoar dengan tas di bahu kanan dan menatapku.
“Terus kamu nanya apa?”
“Aku nggak nanya. Aku minta.”
Nindy tidak bergerak selama mungkin lima detik.
Lalu dia melepas tasnya dan memberikannya, dan sambil memberikannya dia berkata, dengan nada yang paling galak yang bisa dia keluarkan dalam kondisi setengah pingsan:
“Kata siapa aku nggak bisa sendiri?”
“Nggak ada yang bilang.”
“Kamu barusan.”
“Aku nggak bilang gitu.”
“Kamu ngambil tas aku.”
“Iya.”
“Berarti kamu mikir aku nggak bisa.”
“Aku mikir kamu berdiri empat belas jam,” kataku. “Itu beda.”
Dia diam.
Lalu, sangat pelan, dengan nada yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kalimat sebelumnya:
“Berat, nggak?”
“Berat.”
“Iya kan.” Suaranya hampir seperti orang mengadu. “Berat banget, Mas. Aku dari jam delapan pagi. Aku belum duduk lebih dari lima menit. Kaki aku bengkak. Aku benci sepatu ini.”
Aku menoleh.
Ini bukan Nindy yang di dapur kemarin. Bukan Nindy yang di apotek. Bukan Nindy yang menyuruhku ke rak sebelah.
Ini seseorang yang baru saja diberi izin.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Bilang ke siapa?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Haltenya kosong dan bangkunya basah, jadi kami berdiri.
Nindy bersandar ke tiang. Matanya setengah tertutup. Dia bicara dengan kalimat-kalimat yang tidak nyambung satu sama lain — soal ibu Wulan, soal stok yang salah lagi, soal bahwa dia belum makan sejak jam empat dan tidak lapar dan tahu itu tidak bagus.
“Kamu belum makan?”
“Nggak sempet.”
“Sekarang mau?”
“Nggak lapar.”
“Bukan itu pertanyaannya.”
Dia membuka mata.
“Kamu ngeselin banget, ya.”
“Kamu udah bilang itu.”
“Aku bilang lagi.”
Bus lewat. Bukan yang kami tunggu.
Aku mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket dan memberikannya.
Nindy melihat ke tanganku.
“Ini apa?”
“Roti.”
“Kamu bawa roti?”
“Aku beli tadi. Jam sembilan.”
“Kenapa?”
“Karena kamu double shift dan kamu nggak pernah bilang laper sebelum kamu udah nggak laper.”
Dia tidak mengambilnya.
Dia berdiri di halte dengan punggung ke tiang dan menatap roti itu di telapak tanganku, dan wajahnya melakukan sesuatu yang aku tidak bisa baca — bukan senang, bukan sedih, sesuatu yang lebih mirip orang yang kena air dingin.
“Nindy.”
“Bentar.”
“Oke.”
Dia mengambilnya. Dia membuka bungkusnya dengan gerakan yang terlalu lambat. Dia makan setengah tanpa bicara.
Lalu dia berkata, ke arah jalan:
“Bagas nggak pernah tahu aku belum makan.”
Aku diam.
“Empat tahun.” Dia menggigit lagi. “Empat tahun, dan setiap kali aku bilang ‘nggak lapar’ dia bilang ‘oh yaudah’.”
“Oh yaudah.”
“Iya.”
“Itu jawaban yang benar,” kataku, “kalau orangnya nggak lapar.”
Nindy menoleh.
“Kamu belain dia?”
“Enggak. Aku bilang jawabannya benar.” Aku memasukkan tangan ke kantong. “Yang salah bukan jawabannya. Yang salah dia percaya.”
Dia berhenti mengunyah.
“Apa?”
“Kamu bilang ‘nggak lapar’ pakai suara yang sama kayak kamu bilang ‘aku bisa sendiri’ tadi.” Aku mengangkat bahu. “Itu bukan bohong. Cuma nggak lengkap.”
Nindy menatapku dengan roti setengah di tangan.
Dan lalu dia melakukan sesuatu.
Dia memindahkan roti ke tangan kiri. Dia menurunkan tangan kanannya. Dan dia menempelkan punggung tangannya ke punggung tanganku yang masih di kantong jaket — dari luar, lewat kain, sebentar.
“Dingin,” katanya.
“Hah?”
“Tangan aku dingin.”
Aku melihat tangannya. Lalu tanganku.
“Tangan kamu emang selalu dingin.”
“Iya,” katanya. “Makanya.”
Dan dia mengambil tanganku keluar dari kantong dan memegangnya.
Begitu saja. Tanpa transisi. Dengan alasan yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan apa pun, karena kalau tangannya dingin dan tanganku hangat maka yang masuk akal adalah dia memasukkan tangannya sendiri ke kantongnya sendiri.
Aku memikirkan itu selama mungkin satu detik.
Lalu aku berhenti memikirkannya.
Tangannya kecil dan betul-betul dingin, dan jari-jarinya kaku di awal, dan setelah beberapa detik dia menyesuaikan sehingga jari-jarinya masuk di antara jari-jariku, satu per satu, seperti orang yang sedang memasang sesuatu dan takut salah.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak menarik. Aku tidak mengeratkan. Aku berdiri di halte kosong dengan tas orang lain di bahu dan tangan orang lain di tanganku dan aku tidak melakukan apa pun, karena aku tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, dan karena tidak ada satu bagian pun dari diriku yang ingin ini berhenti.
Nindy makan sisa rotinya dengan satu tangan.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Kamu bilang tangan kamu dingin.”
Hening.
“Itu bohong,” katanya.
“Aku tahu.”
Dia menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
“Tangan kamu dingin dari Selasa kemarin, dan kamu nggak megang tangan aku hari Selasa.”
Nindy membuka mulut.
Lalu dia menutupnya, dan menunduk, dan aku bisa melihat telinganya dari samping dan telinganya merah sampai ke pangkal untuk yang kedua kalinya dalam sepuluh hari.
“Terus kenapa kamu diem aja?” katanya, ke arah aspal.
“Karena kamu bakal narik kalau aku ngomong.”
“…”
“Aku bener?”
“Diem, Mas.“
Bus datang.
Kami naik. Nindy duduk di dekat jendela dan aku di sebelahnya dengan tasnya di pangkuan, dan dia tidak melepaskan tanganku sepanjang jalan, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebut hal itu lagi.
Empat belas menit kemudian, waktu kami hampir sampai, dia berkata dengan mata tertutup:
“Kata siapa aku nggak bisa sendiri.”
Aku menoleh.
Dia sedang tersenyum. Kecil sekali. Ke arah jendela.
“Nggak ada yang bilang,” kataku.
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa reading
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15