← Nggak Diundi

Chapter Twenty One

Kaus

POV: Panji

Dia tidak pulang.

Aku ingin mencatat bahwa tidak ada percakapan tentang ini. Tidak ada momen di mana salah satu dari kami mengusulkan sesuatu.

Yang terjadi adalah jam sebelas lewat, setelah martabak dan setelah lampu teras tetangga mati lagi, Nindy berkata:

“Aku ngantuk banget.”

“Aku pesenin ojek?”

“Empat puluh menit ke rumah aku.”

“Iya.”

“Aku bakal ketiduran di jalan.”

“Iya.”

Hening.

“Panji.”

“Ya.”

“Kaus.”

Cuma itu. Satu kata.

Dan aku berdiri, dan membuka lemari, dan memberikan kaus yang sama seperti malam hujan itu, dan dia mengambilnya dan pergi ke belakang tanpa satu pun dari kami mengatakan apa-apa lagi.


Aku tidur di sofa. Dia di kasur.

Itu tidak dibicarakan juga. Aku cuma mengambil bantal dan pindah, dan dia melihat aku melakukannya dan tidak berkata apa-apa, dan lampu dimatikan jam setengah dua belas.

Jam dua belas kurang lima, dari kasur, dalam gelap:

“Mas.”

“Hm.”

“Sofanya masih dua dudukan?”

“Iya.”

“Kamu masih nekuk?”

“Iya.”

Hening delapan detik.

“Ya udah,” katanya.

Dan tidur.

Kali ini napasnya benar-benar berubah dalam empat menit. Lebih lambat. Lebih dalam. Aku mendengarkannya sampai aku yakin, lalu aku ikut tidur.


Aku bangun jam lima dua puluh karena ada bunyi di dapur.

Bukan dapur — petak kecil di sudut belakang dengan kompor satu tungku, wastafel, dan rak plastik. Aku menyebutnya dapur karena tidak ada nama lain.

Aku duduk di sofa dan melihat ke sana.

Nindy berdiri membelakangi aku dengan kausku, rambut yang tidak diikat karena jepitnya entah di mana, dan kaki telanjang di lantai semen.

Dia sedang membuka semua laciku.

“Kamu ngapain?”

Dia tidak kaget sama sekali. Dia bahkan tidak menoleh.

“Nyari kopi.”

“Aku nggak punya kopi.”

“Aku tahu. Aku udah nyari lima menit.” Dia menutup laci terakhir. “Kamu punya apa?”

“Teh.”

“Teh apa?”

“Teh.”

“Mas.”

“Teh celup.”

Dia berbalik dan menyandarkan pinggang ke wastafel dan melipat tangan, dan kausku terlalu besar sehingga bahunya melorot ke satu sisi, dan aku memutuskan untuk melihat ke arah lain.

“Buatin,” katanya.

“Kamu berdiri di sebelah tekonya.”

“Iya.”

“Tekonya di depan kamu.”

“Iya.”

“Nindy—“

Buatin.

Aku bangun dari sofa dan membuat teh.


Dan sementara aku membuat teh, dia tidak pindah.

Dia tetap bersandar di wastafel, sepuluh senti dari sikuku, sehingga aku harus meraih melewatinya untuk mengambil gelas.

“Permisi.”

“Nggak.”

“Aku mau ambil gelas.”

“Ambil aja.”

“Kamu di depan raknya.”

“Iya.”

Aku meraih melewati bahunya.

Dan waktu aku melakukan itu, dia menyandarkan kepalanya ke lenganku.

Cuma itu. Sisi kepala ke lengan atas, sebentar, sekitar dua detik, sementara aku mengambil dua gelas dari rak.

Aku berhenti bergerak.

“Kenapa?” katanya.

“Kamu nyender.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Lengan kamu deket.”

Aku berdiri di dapur dengan dua gelas di tangan dan kepala orang di lenganku pada jam setengah enam pagi, dan aku menyadari bahwa aku tidak punya prosedur untuk situasi ini.

Jadi aku menuang air panas.


Kami minum teh di lantai, bersandar ke sofa, seperti malam hujan itu, kecuali sekarang matahari sudah naik dan ada bunyi tetangga menyapu.

Nindy duduk terlalu dekat.

Tidak ada alasan. Lantainya luas. Sofanya panjang. Dia duduk sehingga bahu kami menempel dari atas ke bawah, dan setelah lima menit dia menggeser lagi sehingga kepalanya ada di bahuku.

“Berat?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Kepala kamu tiga kilo.”

“KEPALA AKU NGGAK TIGA KILO.”

“Kepala manusia rata-rata empat sampai lima kilo.”

“KENAPA KAMU TAHU ITU.”

“Aku baca.”

“Kamu baca berat kepala manusia?”

“Aku baca banyak hal.”

Dia menyikutku, dan tehnya hampir tumpah, dan dia berteriak dan aku menahan gelasnya dan kami berdua diam selama tiga detik dengan tangan yang sama-sama memegang gelas yang sama.

Aku melepas duluan.

“Mas.”

“Hm.”

“Kaus kamu bau kamu.”

“Itu kaus aku.”

“Iya, aku tahu itu kaus kamu.” Dia menarik kerahnya sendiri ke hidungnya. “Aku bilang baunya kamu.”

“Bau apa?”

“Nggak tahu. Bau manis. Bau pabrik.”

“Itu nempel di semua baju aku.”

“Aku tahu.” Dia menurunkan kerahnya. “Aku cium waktu di mobil.”

Aku menoleh.

“Mobil mana?”

Dan Nindy — yang sedang minum teh — berhenti dengan gelas di bibir.

“…Mobil Gilang,” katanya.

“Waktu pulang dari pantai?”

“Iya.”

“Kamu tidur.”

“Iya.”

“Kamu bilang kamu cium.”

Hening.

“Iya,” katanya.

“Berarti kamu bangun.”

Nindy menurunkan gelasnya dengan sangat pelan.

“Panji.”

“Iya?”

“Kamu tuh kenapa sih inget semuanya.”

“Aku nggak inget semuanya. Aku cuma—“

“KAMU INGET SEMUANYA.” Dia menutup wajahnya. “Astaga. Astaga, ya ampun.”

“Berapa lama kamu bangun?”

“Nggak usah dibahas.”

“Nindy.”

“Dua puluh menit,” katanya ke dalam telapak tangannya.

Aku duduk di situ.

Aku memikirkan dua puluh menit itu. Aku memikirkan mengecilkan suara ke Gilang. Aku memikirkan menahan kepalanya waktu jalan rusak. Aku memikirkan ponsel yang bergetar dua kali di saku dan tidak aku ambil.

“Kamu tahu aku ngecilin suara?”

“IYA.”

“Kamu tahu aku nggak ngambil HP?”

IYA, PANJI.

Dan aku tertawa.

Aku tidak sering tertawa. Gilang bilang aku tertawa mungkin empat kali setahun dan bunyinya seperti orang batuk.

Aku tertawa di lantai kontrakanku jam enam pagi sampai aku harus menaruh gelasku, dan Nindy memukul lenganku dengan kedua tangan sambil berteriak “BERHENTI” dan “AKU BENCI KAMU” dan “KENAPA KAMU KETAWA”, dan tetangga sebelah mengetuk dinding.


Setelah reda, dia bersandar lagi. Lebih dekat dari sebelumnya.

“Panji.”

“Hm.”

“Aku bisa sendiri, ya.”

“Kata siapa kamu nggak bisa sendiri?”

“Nggak ada yang bilang,” katanya, otomatis, seperti orang menyahut kode.

Lalu dia berhenti.

“Kita udah pernah ngomong ini,” katanya.

“Dua kali.”

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung.”

Dia diam beberapa saat.

“Aku bisa sendiri,” ulangnya, lebih pelan. “Aku bikin teh sendiri tiap hari selama dua puluh tujuh tahun.”

“Iya.”

“Tapi aku nggak mau.”

“Oke.”

“Kamu nggak nanya kenapa?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena aku juga nggak mau kamu bikin sendiri,” kataku.

Nindy tidak bergerak.

Kami duduk di lantai dengan dua gelas teh yang sudah dingin dan bunyi sapu di luar, dan matahari sudah masuk lewat celah pintu dan jatuh di lantai semen dalam satu garis.

Dan setelah mungkin satu menit, dia berdiri.

“Aku mandi.”

“Oke.”

Dia jalan dua langkah ke arah belakang.

Lalu dia berbalik, dan berjalan kembali, dan berdiri di belakangku — aku masih duduk di lantai, bersandar ke sofa — dan menaruh dahinya di antara tulang belikatku.

Dua tangannya di bahuku.

Aku tidak berbalik.

“Mas,” katanya.

Suaranya teredam di punggungku.

“Ya.”

Hening tiga detik.

“Sayang, ya.”

Aku berhenti bernapas.

Dan sebelum aku bisa memutar badan, sebelum aku bisa mengeluarkan satu bunyi pun, dia sudah melepas dan berjalan cepat ke kamar mandi dan menutup pintunya, dan aku mendengar bunyi air menyala dalam dua detik.

Aku duduk di lantai selama mungkin lima menit.


Dia keluar dengan baju kerjanya, rambut basah, wajah yang sudah dipasang.

“Aku telat,” katanya. “Aku ke apotek langsung.”

“Nindy.”

“Aku ambil kausnya ya. Aku cuci dulu.”

“Nindy.”

“Apa?”

Aku berdiri.

“Yang tadi.”

“Yang mana?”

“Yang kamu bilang.”

Dia mengangkat tasnya ke bahu.

“Aku nggak bilang apa-apa,” katanya.

Dan wajahnya lurus. Betul-betul lurus. Tidak ada satu pun retakan.

“Kamu bilang—“

“Panji.” Dia tersenyum, dan senyumnya dipasang, dan aku bisa melihat setiap jahitannya. “Aku ngantuk banget tadi. Aku setengah tidur.”

“Kamu udah mandi waktu bilangnya.”

“Aku belum mandi.”

“Kamu bilang duluan terus mandi.”

Aku nggak bilang apa-apa.

Dan dia berjalan ke pintu.

Di ambang pintu dia berhenti, dan tidak berbalik, dan berkata dengan suara yang jauh lebih kecil:

“Lima hari lagi.”

“Aku tahu.”

“Kamu ngitung juga?”

“Aku ngitung sejak Bu Ratih baca aturannya.”

Nindy berdiri di ambang pintu dengan tangan di kusen.

“Sialan,” katanya.

Dan pergi.