Chapter Twenty Four
Empat Meter
POV: Panji
Bu Ratih: Pertemuan grup terakhir. Kamis 15.00 berangkat, Jumat 12.00 pulang. Menginap di Cisarua. Transportasi disediakan.
Bu Ratih: Penutupan program: Sabtu, 19.00, tempat yang sama seperti pertemuan pertama.
Bu Ratih: Setelah Sabtu, program berakhir. Terima kasih.
Talita: bu
Talita: “terima kasih” nya kok gitu banget
Bu Ratih: Bagaimana seharusnya?
Talita: ya lebih... gimana gitu
Bu Ratih: Saya tidak mengerti.
Gilang: bu maksudnya jangan kayak email
Bu Ratih: Ini memang seperti email.
Talita: BU
Aku membaca itu di ruang panel jam sepuluh pagi hari Rabu, dan aku membaca tiga baris pertamanya empat kali.
Setelah Sabtu, program berakhir.
Aku menaruh ponselku dan mencicipi enam sampel dan menandai satu yang kadar garamnya turun delapan persen, dan Pak Har bilang bagus, dan aku pulang.
Rabu malam Nindy datang ke Bekasi lagi.
Bukan diundang. Dia mengirim pesan jam enam yang isinya cuma:
Nindy: Aku ke sana
Aku: Oke
Dan datang jam delapan dengan tas ransel kecil, yang aku perhatikan dan tidak aku komentari.
“Besok berangkat jam tiga,” katanya, sambil melepas sepatu.
“Iya.”
“Aku shift pagi. Selesai jam dua.”
“Kamu nggak sempet pulang.”
“Makanya.”
Dia mengangkat ranselnya sedikit.
“Aku bawa baju,” katanya. “Besok aku berangkat dari sini.”
“Oke.”
“‘Oke’ doang?”
“Iya. Oke.”
Nindy berdiri di tengah kontrakan dengan sepatu di tangan dan menatapku selama tiga detik.
“Kamu tuh,” katanya.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
Malam itu ringan.
Aku ingin mencatat itu karena aku tidak menyadari pada waktu itu bahwa itu malam terakhir yang ringan.
Kami memasak — dia memasak, aku disuruh berdiri di dekat kompor dan mencicipi setiap tiga puluh detik, dan waktu aku bilang garamnya kurang dia bilang “iya, tahu” dengan nada kesal dan menambahkan garam.
Kami makan di lantai.
Dia bercerita soal Wulan yang akhirnya bicara dengan kurir itu dan hasilnya bencana. Aku bercerita soal Pak Har yang tiga tahun mengira namaku Panjul.
“Tiga tahun?”
“Tiga tahun.”
“Kamu nggak ngoreksi?”
“Aku ngoreksi. Dua kali.”
“Terus?”
“Terus dia bilang ‘iya, Panjul’.”
Nindy tertawa sampai harus menaruh piringnya.
Jam sepuluh dia sudah bersandar ke sofa dengan kaki dilipat, dan setengah jam kemudian dia sudah bersandar ke aku, dan jam sebelas dia sudah setengah tidur dengan kepala di bahuku dan tangan memegang lengan bajuku.
“Mas.”
“Hm.”
“Besok Puncak.”
“Iya.”
“Dingin.”
“Bawa jaket.”
“Aku nggak bawa.”
“Aku bawa dua.”
Dia diam beberapa detik.
“Kamu bawa dua jaket?”
“Iya.”
“Kenapa dua?”
Dan aku berkata, tanpa berpikir, karena jam sebelas malam dan aku sudah setengah tidur juga:
“Karena kamu nggak pernah bawa.”
Tangannya mengerat di lengan bajuku.
Jam setengah dua belas aku berdiri.
Aku mengambil bantal dari kasur dan membawanya ke sofa, seperti yang aku lakukan dua kali sebelumnya, dan aku sudah setengah berbaring waktu Nindy bicara dari kasur.
“Panji.”
“Hm.”
“Sofanya dua dudukan.”
“Iya.”
“Kamu nekuk.”
“Iya.”
Hening.
“Kasurnya muat dua.”
Aku membuka mata di kegelapan.
Aku tidak menjawab selama mungkin delapan detik, dan delapan detik itu adalah delapan detik terpanjang yang pernah aku alami.
“Nindy.”
“Apa.”
“Kamu ngantuk.”
“Aku nggak ngantuk.”
“Kamu ngomong sambil merem tadi.”
“Aku merem karena lampunya nyala.”
“Lampunya udah mati.”
“Panji.“
Aku duduk di sofa.
Di kegelapan, empat meter dari kasur, dengan bantal di pangkuan.
“Aku nggak mau kamu nyesel besok pagi,” kataku.
Dan itu jawaban yang jujur, dan itu jawaban yang salah, dan aku tahu itu salah dalam kurang dari dua detik karena Nindy langsung diam.
Diamnya beda.
“Nyesel,” katanya.
“Aku maksudnya—“
“Kamu pikir aku bakal nyesel.”
“Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
Aku mencari kalimatnya.
“Kamu tiga hari terakhir ini—“ Aku berhenti. “Ibu kamu sakit. Kamu tidur tiga jam semalem. Besok programnya tinggal tiga hari.”
“Terus?”
“Terus orang yang lagi kayak gitu kadang mau sesuatu bukan karena mau.”
Hening panjang sekali.
“Panji,” kata Nindy. Suaranya rata. “Kamu barusan bilang aku nggak tahu apa yang aku mau.”
“Bukan.”
“Itu yang kamu bilang.”
“Aku bilang aku nggak yakin.”
“Iya. Kamu nggak yakin aku tahu.”
Dan aku duduk di sofa dan aku menyadari bahwa dia benar, dan bahwa aku baru saja melakukan persis hal yang paling dia benci, dan bahwa aku melakukannya sambil mengira aku sedang berhati-hati.
“Nindy.”
“Nggak usah.”
“Aku minta maaf.”
“Jangan minta maaf.”
“Aku salah.”
“Aku tahu kamu salah.” Kasurnya berdecit. Dia berbalik menghadap dinding. “Itu yang bikin aku kesel. Kamu salah, dan alasan kamu salah itu bagus.”
Kami tidak tidur.
Aku tahu karena empat meter itu bukan jarak yang cukup untuk menyembunyikan napas.
Dua puluh menit. Tiga puluh.
Jam dua belas lewat empat puluh, dia berkata ke dinding:
“Aku mau nanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Kalau programnya nggak ada—“
“Nindy.”
“Biarin aku selesai.”
“Diam dulu,” kataku. “Nanya belakangan.”
Kasurnya diam.
“Kamu balikin kalimat aku.”
“Iya.”
“Kamu balikin kalimat aku ke aku.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku duduk di sofa dengan lutut ditekuk.
“Karena kamu mau nanya sesuatu yang nggak ada jawabannya,” kataku. “Dan kamu bakal marah sama jawaban apa pun yang aku kasih, karena semua jawabannya salah.”
Hening.
“Dan Sabtu aku bakal punya jawabannya?”
“Aku nggak tahu.”
“Panji—“
“Aku nggak tahu, Nindy. Aku nggak mau bohong.” Aku menutup mata di kegelapan. “Aku lagi nyari sesuatu yang aku nggak tahu bentuknya. Aku belum pernah nyari yang kayak gini.”
Kasurnya berdecit lagi.
Aku mendengar dia duduk.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu tahu nggak yang paling aku takutin?”
“Enggak.”
“Bukan kamu nggak suka aku.” Suaranya jernih di gelap. “Aku tahu kamu suka. Aku nggak bego.”
“Terus?”
“Yang aku takutin itu kamu nggak pernah tahu bedanya.”
Aku membuka mata.
“Bedanya apa?”
“Bedanya antara suka sama aku,” katanya, “dan nurut.”
Dan aku tidak menjawab.
Aku tidak menjawab karena aku betul-betul tidak tahu, dan karena aku baru saja diberi pertanyaan yang bentuknya persis seperti bentuk ruangan kosong di kepalaku, dan karena aku sadar untuk pertama kalinya bahwa dua hal yang aku kira sama itu mungkin memang tidak sama.
Diamku terlalu lama.
Aku tahu diamku terlalu lama.
“Ya udah,” kata Nindy.
“Nindy—“
“Tidur, Mas.”
“Aku lagi mikir.”
“Aku tahu,” katanya. “Itu masalahnya.”
Aku bangun jam lima dan dia sudah bangun, duduk di tepi kasur, sudah mandi, sudah berpakaian kerja.
Selimutnya dilipat.
“Aku berangkat,” katanya.
“Jam lima?”
“Aku mau mampir dulu.”
“Ke mana?”
“Ke mana aja.”
Dia berdiri dan mengambil ranselnya.
Di pintu dia berhenti, dan berbalik, dan berkata:
“Panji.”
“Ya?”
“Aku nggak marah.”
“Kamu marah.”
“Iya,” katanya. “Aku marah. Tapi bukan sama kamu.”
“Sama siapa?”
Dan Nindy Pramesthi berdiri di ambang pintu kontrakanku jam lima pagi, dengan ransel di satu bahu dan wajah yang belum dipasang, dan berkata:
“Sama tiga hari.”
Dan pergi.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter reading
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15