Chapter Thirty Four
Delapan Belas Desember
POV: Nindy
Hari Selasa jam delapan malam, waktu aku menarik rolling door yang sekarang turun dalam satu gerakan, ada seseorang berdiri di trotoar.
Aku sudah tahu siapa sebelum aku berbalik, karena aku sudah tiga hari mendengar bunyi langkah di belakangku dan berharap itu orang lain.
“Vira?”
“Hai.” Dia berdiri di bawah lampu jalan dengan blus yang tidak kusut dan rambut yang ditata. “Maaf ya, aku nggak ngabarin.”
“Kamu di sini dari kapan?”
“Setengah delapan.”
“Setengah jam?”
“Aku nggak mau ganggu kamu kerja.”
Aku mengunci gemboknya dengan tangan yang mendadak tidak berfungsi dengan benar.
“Ada apa?”
Dan Vira Handayani, tiga puluh tahun, manajer klinik, perempuan yang paling selesai di antara kami semua, berkata:
“Aku mau cerita sesuatu. Boleh?”
Kami ke taman kecil dua blok dari apotek, karena itu satu-satunya tempat yang aku tahu, karena aku sudah dua kali duduk di bangku itu dengan orang lain.
Aku duduk di ujung kiri.
Vira di ujung kanan.
“Nindy.”
“Ya.”
“Kamu sama Panji kenapa?”
Dan aku — yang sudah tiga hari tidak bicara dengan siapa pun tentang ini, yang bilang ke Wulan bahwa aku “lagi capek aja”, yang tidak mengangkat telepon Talita dua kali —
aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Vira tidak mendekat.
Dia duduk di ujung bangku dan membiarkan aku selama mungkin dua menit, dan waktu aku selesai dia menyodorkan tisu dari tasnya tanpa berkata apa-apa.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Vir, kamu—“ Aku menghapus wajahku. “Kenapa kamu ke sini?”
Dan dia berkata:
“Karena aku satu-satunya yang punya datanya.”
Aku tidak mengerti kalimat itu.
Aku bilang begitu.
“Nanti kamu ngerti.” Dia menaruh tasnya di lantai, bukan di bangku, dan aku memperhatikan itu seperti aku selalu memperhatikan itu. “Aku cerita dulu, ya. Panjang. Kamu nggak usah komentar.”
“Oke.”
“Dan kalau aku selesai, kamu boleh marah sama aku.”
“Kenapa aku marah?”
Vira menoleh.
“Karena aku ikut program ini buat Panji,” katanya.
Aku duduk di bangku itu dan mendengarkan selama dua puluh menit.
Aku tidak akan mengulang semuanya. Aku akan menulis bagian yang menempel.
Delapan belas Desember. Antrean nomor dua belas. Sabtu sore. Resep untuk ibunya yang baru didiagnosis pagi itu. Dua kali menangis di toilet kantor dan tidak ada satu orang pun yang bertanya.
Lantai yang miring.
Tangan di siku.
Tiga langkah ke kursi tunggu. Tas yang diambil dari lantai dan ditaruh di pangkuan. Botol air dari kulkas, tutupnya sudah dibuka.
Dan satu kalimat:
“Duduk dulu. Nomornya nggak akan ilang.”
Lalu dia berdiri dua meter jauhnya, menghadap ke arah lain, sampai nomornya dipanggil.
Lalu dia menunjuk papan nomor dengan dagu, mengangguk sekali, dan pergi.
“Delapan bulan aku cari,” kata Vira.
Aku tidak bisa bicara.
“Aku ke apotek itu tiap Sabtu sore selama dua bulan. Aku beli barang yang nggak aku butuhin biar punya alasan berdiri di situ.” Dia mengatakannya dengan nada biasa. “Terus sepupuku cerita soal program Bu Ratih. Dan aku telepon Gilang — yang cuma dua kali aku ketemu — dan aku bilang, ‘Lang, aku mau ikut, tapi kamu bawa satu cowok yang normal ya.’”
“Vira—“
“Bentar.”
Dia menarik napas.
“Malam pertama, Gilang masuk bawa seseorang di belakangnya. Aku ngangkat kepala.” Dia menoleh ke aku. “Dan aku nggak kenal.”
“Apa?”
“Aku nggak mengenali dia, Nindy.” Dan di situ suaranya bergerak, sedikit, untuk pertama kalinya. “Delapan bulan aku cari dan aku nggak tahu wajahnya. Aku inget suaranya. Aku inget tangannya di siku aku. Aku nggak inget wajahnya.”
“Terus kamu tahu kapan?”
“Malam ketiga. Waktu dia ngomong sesuatu dengan nada yang sama.” Dia mengangkat bahu. “Dan namanya udah dibacain sama nama kamu.”
Aku duduk di bangku itu dan aku merasakan sesuatu yang aku tidak punya nama untuknya.
Bukan cemburu. Aku sudah mencari cemburu di dalam diriku selama Vira bicara dan tidak menemukannya.
Yang aku rasakan adalah malu.
Malu karena empat minggu aku duduk di meja yang sama dengan perempuan ini dan aku menyimpulkan lima poin tentang dia dengan sangat percaya diri dan semuanya salah.
“Vir.”
“Hm.”
“Aku nanya kamu soal Bram di kafe.”
“Iya.”
“Aku nanya kamu suka dia apa enggak.”
“Iya.”
“Dan kamu jawab dengan sopan.”
Vira tersenyum sedikit.
“Aku selalu jawab dengan sopan,” katanya. “Itu masalahku.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang ke dia?”
“Aku nanya sekali,” katanya. “Di lorong, waktu evaluasi. Aku nyiapin cara nanyanya dua minggu.”
“Terus?”
“Terus aku nanya bulan Desember tahun lalu dia udah kerja di situ apa belum. Dia bilang udah. Terus aku nanya apakah dia pernah ketemu orang terus nggak sadar.” Vira mengangkat bahu. “Dan dia bilang dia nggak inget wajah orang. Sama sekali.”
“Iya. Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Dia pernah bilang.” Aku menghapus mataku. “Dia bilang dia inget suara. Bau juga. Wajah enggak.”
Dan Vira berhenti.
Dia berhenti dengan cara yang membuat aku menoleh.
“Dia bilang gitu ke kamu?”
“Iya. Malam pertama, waktu dia bilang dia inget nama aku karena dia ngulang di kepala.”
Vira menatapku beberapa detik.
“Nindy.”
“Apa?”
Dan dia berkata:
“Itu bagian yang aku dateng ke sini buat kasih tahu kamu.”
“Aku ngitung,” kata Vira.
“Ngitung apa?”
“Empat minggu ini aku ngitung.” Dia menghadap ke depan, ke arah lampu taman yang kedip. “Tiap kali dia ngelakuin sesuatu buat aku, aku catat. Dan tiap kali dia ngelakuin hal yang sama buat orang lain, aku catat juga.”
Aku merasakan dingin.
“Vir—“
“Aku tahu itu jelek. Aku tahu.” Dia mengangkat tangan. “Aku nggak bangga. Tapi aku ngelakuin, dan sekarang aku punya datanya, dan kamu perlu denger.”
“Denger apa?”
Dan Vira Handayani berkata:
“Semuanya rata.”
“Tisu di kelas masak — dia kasih ke aku. Air di pantai — dia ambilin buat aku dan buat Bram. Payung di parkiran — dia kasih ke aku terus dia lari.”
Dia menghitung dengan jari, sama seperti Panji menghitung dengan jari di warung tenda, dan aku hampir tidak bisa melihatnya.
“Waktu Talita hampir kepeleset di tangga penginapan, dia pegang siku Talita. Sama persis kayak dia pegang siku aku di apotek. Sama persis kayak dia pegang siku kamu di trotoar.”
“Iya. Aku tahu. Dia bilang ‘ke siapa aja’.”
“Iya.” Vira menoleh. “Dia emang gitu ke siapa aja.”
Aku menunduk.
“Jadi kamu ke sini buat—“
“Nindy, aku belum selesai.”
“Semuanya rata,” ulangnya. “Kecuali empat hal.”
Aku mengangkat wajah.
“Satu.” Vira mengangkat satu jari. “Di kelas masak, dia ngasih aku tisu. Terus dia balik ke meja kamu dan dia nyuruh kamu nyium dua bawang.”
“…Apa?”
“Dia jelasin ke kamu kenapa bawang muda beda sama bawang tua. Dia nggak jelasin itu ke siapa pun. Bahkan waktu Bu Ratih nanya kenapa masakan kalian ada manisnya, dia jawab pendek.”
“Vira, itu cuma—“
“Dua.” Dua jari. “Dia foto rel rolling door.”
Aku diam.
“Nindy, dia motret besi. Buat riset. Dia mikirin itu dua puluh menit.” Suaranya masih rata. “Aku hampir pingsan di depan dia delapan bulan lalu dan dia ngasih aku air. Kamu meringis dan dia motret besi.”
“Vir—“
“Tiga.” Tiga jari. “Waktu di Cisarua, Bram cerita ke aku hari Jumat pagi. Dia turun ke lobi jam lima. Panji udah di situ, cari kopi.” Vira menoleh. “Bram bilang Panji nggak bawa selimut. Bram nanya kenapa. Panji bilang selimutnya ada di ranjang sebelah.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Bram nanya kenapa nggak ambil yang di lemari. Panji bilang bukanya berisik.”
“Dan empat,” kata Vira.
Dia menurunkan tangannya.
“Ini yang paling penting, dan aku butuh empat minggu buat lihat, dan aku baru sadar hari Sabtu waktu kamu ketawa di depan jendela.”
“Vir—“
“Nindy, dia nggak inget wajah orang.”
“Iya. Kamu udah bilang.”
“Dia inget suara.”
Dan aku mengangkat wajah.
“Empat minggu, Nindy.” Vira menatapku. “Empat minggu dia dengerin suara kamu turun setengah nada di ujung kalimat dan dia berhenti tiap kali.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Aku ada di ruangan itu delapan belas kali,” katanya. “Aku ngomong ke dia mungkin dua ratus kali. Dan nggak sekali pun dia berhenti di tengah kalimat karena suara aku.”
“Vira—“
“Dia nggak pernah nanya aku kenapa.” Suaranya masih tidak bergetar. “Dan aku ngasih dia bahan, Nindy. Aku ngasih dia bahan berkali-kali. Aku buka tas terus nggak ambil apa-apa di lorong, dan dia nyadar, dan dia nanya sekali, dan aku bilang nggak apa-apa.”
“Terus?”
“Terus dia percaya.”
Vira menoleh ke aku.
“Dia percaya aku, Nindy. Dia nggak pernah percaya kamu.”
Aku menangis di bangku taman itu selama mungkin lima menit.
Vira tidak.
Aku ingat itu paling jelas dari seluruh malam itu — dia duduk di ujung bangku dengan punggung lurus dan blus yang tidak kusut dan dia tidak menangis sama sekali, dan waktu aku selesai dia menyodorkan tisu kedua.
“Vir.”
“Hm.”
“Kenapa kamu ngasih tahu aku ini?”
Dan dia berkata:
“Karena kamu lagi ngelakuin hal yang sama kayak aku.”
“Apa?”
“Kamu diem.” Dia mengambil tasnya dari lantai. “Kamu punya sesuatu dan kamu nggak bilang, dan kamu nunggu orangnya nemu sendiri, dan kamu ngasih dia ujian yang dia nggak tahu dia lagi ikutin.”
Aku tidak menjawab.
“Aku ngelakuin itu empat minggu,” katanya. “Dan Sabtu kemarin ujian aku selesai, dan dia nggak lulus, dan dia bahkan nggak tahu dia ikut.”
Dia berdiri.
“Nindy, aku nggak bilang kamu salah.” Dia menyampirkan tasnya. “Aku ngerti kenapa kamu diem. Aku ngerti banget. Kalau kamu bilang, dia bakal nurut, dan itu nggak ngebuktiin apa-apa.”
“Iya.”
“Tapi ada bedanya antara kamu sama aku,” katanya.
“Apa?”
Dan Vira berkata:
“Kamu masih punya waktu.”
Dia jalan tiga langkah dan berhenti.
“Vir.”
“Ya?”
“Kamu mau aku bilang ke dia?”
Vira berbalik.
Dan untuk pertama kali malam itu, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya.
“Jangan,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau dia tahu, dia bakal ngerasa harus ngapa-ngapain.” Dia tersenyum, dan senyumnya lengkap, sampai ke mata. “Dan dia bakal ngelakuin. Dia bakal nyari aku dan minta maaf soal sesuatu yang bukan salah dia sama sekali, dan dia bakal serius banget, dan aku bakal harus bilang ‘nggak apa-apa kok’.”
“Vira.”
“Aku udah cukup bilang ‘nggak apa-apa kok’ seumur hidupku, Nindy.”
Dan dia jalan ke arah jalan besar.
“VIR.”
Dia berhenti.
Aku berdiri dari bangku.
“Delapan belas Desember,” kataku.
“Iya?”
“Ibu kamu gimana sekarang?”
Vira berdiri di bawah lampu jalan dengan punggung membelakangi aku selama mungkin empat detik.
Lalu dia berbalik.
Dan wajahnya basah.
“Nindy,” katanya, dan suaranya akhirnya pecah, “kamu orang pertama yang nanya.”
Dan aku berlari tiga langkah dan memeluknya di trotoar, dan perempuan itu menangis di bahuku selama mungkin dua menit dengan tangan yang mengepal di punggung bajuku.
Dan waktu dia selesai, dia menarik diri dan menghapus wajahnya dan berkata, dengan suara serak:
“Sialan. Riasanku.”
“Kamu tetep cantik.”
“Aku tahu,” katanya. “Itu juga masalahku.”
Dan kami berdua tertawa di trotoar jam sembilan lewat, dua perempuan dengan wajah berantakan, dan tidak ada satu pun laki-laki yang tahu apa-apa tentang malam itu.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember reading
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15