← Nggak Diundi

Chapter Two

Algoritma Bu Ratih

POV: Panji

“Program ini,” kata Bu Ratih, “bukan perjodohan.”

Dia berhenti, seolah menunggu ada yang membantah. Tidak ada.

“Perjodohan itu urusan orang tua. Ini urusan data.”

Dia mengeluarkan sesuatu dari map — bukan kertas, tapi map yang lebih kecil di dalam map yang besar — dan meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti orang meletakkan barang bukti.

“Empat puluh pertanyaan,” katanya. “Sudah kalian isi semua waktu pendaftaran.”

Gilang berdeham.

“Jawaban kalian saya masukkan ke sistem. Sistemnya memberi skor untuk tiga puluh enam variabel—“

“Tiga puluh enam?” Perempuan bersuara jernih itu mendongak. “Serius?”

“Tiga puluh enam,” ulang Bu Ratih dengan puas. “Termasuk toleransi keributan, kebutuhan waktu sendiri, arah percakapan dominan, dan pola pengambilan keputusan di bawah tekanan.”

“Bu,” kata laki-laki berkemeja linen itu, sopan sekali, “boleh tanya? Sistemnya pakai apa?”

“Rahasia perusahaan.”

“Excel, ya.”

Ada jeda satu detik penuh.

“Sistem,” kata Bu Ratih, “adalah sistem.”

Perempuan bersuara jernih itu menutup mulutnya dengan tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.

Aku melirik ke seberang meja. Perempuan apoteker itu tidak tertawa. Dia menyandarkan punggung ke kursi, tangannya bersedekap, dan matanya tidak lepas dari map kecil itu.

“Sebelum saya bacakan,” lanjut Bu Ratih, “aturannya.”

Dia mengangkat satu jari.

“Satu. Enam peserta, tiga pasangan. Pasangan ditentukan malam ini.”

Dua jari.

“Dua. Pasangan tidak dirotasi. Program lain melakukan rotasi. Saya tidak. Rotasi mengajarkan orang untuk menunggu yang berikutnya, dan orang yang selalu menunggu yang berikutnya tidak pernah selesai dengan yang sekarang.”

Aku mengangkat wajah waktu dia bilang itu.

Itu kalimat yang jauh lebih tajam dari yang aku duga akan keluar dari blazer merah bata.

“Tiga. Empat kali kencan grup. Satu minggu satu kali, semua hadir. Ketidakhadiran tanpa alasan medis berarti keluar dari program.”

“Kalau alasan kerja?” tanya si apoteker.

“Bukan alasan medis.”

“Saya kerja shift.”

“Kalau begitu tukar shift-nya,” kata Bu Ratih tanpa berkedip. “Semua orang di ruangan ini punya pekerjaan. Kalian semua tidak punya waktu. Itu justru kenapa kalian di sini.”

Si apoteker membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aku melihat rahangnya bergerak sedikit.

“Empat. Di luar kencan grup, kalian bebas. Mau ketemu tiap hari, silakan. Mau tidak ketemu sama sekali, itu juga informasi.” Empat jari. “Saya tidak mengawasi. Saya tidak minta laporan. Saya bukan ibu kalian.”

“Lima.”

Dia menurunkan tangannya.

“Setelah empat minggu, program selesai. Selesai berarti selesai. Saya tidak mengurus apa pun setelah malam penutupan. Tidak ada evaluasi, tidak ada tindak lanjut, tidak ada saya menelepon menanyakan kabar.”

Dia mengucapkannya dengan nada yang sama seperti empat aturan sebelumnya. Datar, administratif, seperti membaca jadwal kereta.

Aku ingat kalimat itu belakangan. Aku ingat persis nadanya. Tapi malam itu aku cuma mengangguk seperti yang lain, karena malam itu empat minggu terasa seperti waktu yang sangat panjang.

“Ada pertanyaan?”

“Ada,” kata Gilang. “Kalau nggak cocok gimana?”

“Empat minggu,” kata Bu Ratih.

“Iya tapi kalau—“

“Empat minggu, Mas Gilang.”

“Bu, saya cuma—“

Empat. Minggu.

Gilang mengatupkan mulut.

Perempuan bersuara jernih itu menepuk meja pelan. “Aku suka Ibu ini.”


Bu Ratih membuka map kecilnya.

Aku memperhatikan ruangan waktu dia melakukan itu, dan ini yang aku lihat.

Laki-laki berkemeja linen duduk lebih tegak. Perempuan dengan tas yang diletakkan rapi menaruh kedua tangannya di pangkuan. Gilang menahan napas sampai dadanya kelihatan besar sebelah. Perempuan bersuara jernih itu menyeringai lebar dan sengaja melihat ke arah Gilang.

Dan perempuan di seberangku menutup mata.

Cuma sebentar. Mungkin satu setengah detik. Seperti orang yang sudah tahu hasilnya tidak akan menyenangkan dan sedang bersiap untuk tidak menunjukkan apa-apa di wajahnya.

“Pasangan pertama,” kata Bu Ratih. “Bram Setiawan dan Vira Handayani.”

Laki-laki berkemeja linen itu tersenyum dan menoleh ke perempuan bertas rapi di sebelahnya. Perempuan itu — Vira — membalas senyumnya dengan sopan, dan sesuatu di bahunya turun. Bukan lega. Turun seperti orang yang menaruh barang.

Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan bahunya. Tapi aku memperhatikan.

“Pasangan kedua. Gilang Pratama dan Talita.”

“HAH,” kata perempuan bersuara jernih itu.

“Kenapa ‘hah’,” kata Gilang.

“Nggak. Bagus. Bagus banget.” Dia menoleh ke Bu Ratih. “Bu, sistemnya yakin?”

“Sistem tidak yakin. Sistem menghitung.”

“Berarti masih ada kemungkinan salah.”

“Tiga koma dua persen.”

“Nah! Bu, ini yang tiga koma dua persen—“

“Talita.”

“Ya, Bu.”

“Duduk yang benar.”

Talita duduk yang benar, dan Gilang kelihatan sangat senang dengan cara yang tidak dia sembunyikan sama sekali, dan aku sudah tahu malam itu bahwa dua orang ini akan saling menghina selama empat minggu ke depan tanpa jeda.

“Dan pasangan ketiga.”

Bu Ratih tidak perlu membacanya. Tinggal dua orang di ruangan.

Tapi dia tetap membacanya, dan aku pikir dia melakukan itu dengan sengaja, karena orang seperti Bu Ratih tidak melewatkan bagian yang punya bobot.

“Panji Ardiansyah. Dan Nindy Pramesthi.”

Nindy.

Aku mengulangnya di kepala satu kali, cara aku mengulang nama batch dan nomor lot supaya tidak salah tulis di lembar panel.

Dia membuka matanya.

Dan yang aku lihat pertama di wajahnya bukan senang, bukan kecewa. Yang aku lihat adalah dia menoleh ke Bu Ratih — bukan ke aku — dan bertanya.

“Bu.”

“Ya.”

“Skornya berapa?”

Bu Ratih mengerjap. “Maksudnya?”

“Skor kecocokan kami. Bu bilang tiga puluh enam variabel. Berarti ada angkanya.”

“Ada.”

“Berapa?”

“Saya tidak membacakan angka.”

“Kenapa?”

“Karena orang yang tahu angkanya berhenti berusaha kalau angkanya bagus, dan berhenti berusaha kalau angkanya jelek.”

Nindy menatapnya beberapa saat.

“Berarti tinggi,” katanya akhirnya.

“Saya tidak bilang begitu.”

“Ibu juga nggak bilang enggak.”

Bu Ratih menutup mapnya dengan bunyi kecil yang tegas. “Silakan pindah tempat duduk. Pasangan berdampingan. Makan malam dimulai sepuluh menit lagi.”


Nindy berdiri, mengambil tasnya dari lantai, mengitari meja, dan menarik kursi di sebelahku.

Duduknya jauh. Bukan jauh yang kasar. Jauh yang diukur.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku tidak mulai dari mana-mana, dan selama mungkin lima belas detik kami cuma duduk sementara Talita dan Gilang bertengkar soal siapa yang lebih dulu masuk ruangan tadi.

Lalu Nindy bicara, pelan, tanpa menoleh.

“Kamu daftar sendiri?”

“Nggak.”

Dia menoleh.

“Temenku yang daftarin,” kataku. “Pakai fotokopi KTP. Aku baru tahu satu jam lalu di mobil.”

“Yang itu?” Dia menunjuk Gilang dengan dagu.

“Iya.”

“Dia juga yang isi kuesionernya?”

“Iya.”

“Semuanya?”

“Tiga puluh sembilan dari empat puluh.”

Nindy menatapku lama sekali.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak aku duga. Dia menyandarkan siku ke meja, menutup wajahnya dengan satu tangan, dan bahunya mulai berguncang.

“Kamu ketawa?”

“Nggak.”

“Bahunya gerak.”

“Aku tahu bahuku gerak.”

“Berarti ketawa.”

“Diem, Mas.”

Dia menarik napas, mengangkat wajahnya, dan matanya basah sedikit di sudut karena menahan.

“Jadi,” katanya, dan suaranya masih goyang, “sistem tiga puluh enam variabel Bu Ratih mencocokkan aku sama tiga puluh sembilan jawaban temen kamu.”

“Kayaknya begitu.”

“Dan yang satu lagi?”

“Katanya dia nulis apa yang biasa aku bilang.”

“Kamu biasa bilang apa?”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu nggak tahu kamu biasa bilang apa?”

“Enggak,” kataku. “Orang biasanya nggak dengerin dirinya sendiri.”

Nindy berhenti tertawa.

Bukan berhenti yang canggung. Berhenti yang seperti seseorang menaruh gelas dan memutuskan untuk melihat sesuatu lebih lama.

“Panji, ya?” katanya.

“Iya.”

“Nindy.”

“Aku tahu.”

“Ya iya, barusan dibacain.”

“Bukan,” kataku. “Aku tahu karena aku ngulang di kepala tadi. Aku suka lupa nama.”

Dia mengerjap.

Dan aku melihat sesuatu yang aneh terjadi di wajahnya — dia mengalihkan pandangan ke meja, cepat, dan telinganya memerah di ujung.

Aku tidak mengerti kenapa. Aku cuma bilang bahwa aku suka lupa nama.

Di ujung meja, Bu Ratih menepuk tangan dua kali dan pelayan mulai masuk membawa piring.

Nindy meluruskan taplak di depannya yang sudah lurus.

“Empat minggu,” katanya, pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku.

“Empat minggu,” kataku.

Dia menggeser kursinya. Dua sentimeter. Ke arahku.

Aku pikir dia cuma membetulkan posisi.