Chapter Thirty Five
Halaman Dua
POV: Panji
Hari Senin aku masuk kerja.
Hari Selasa aku masuk kerja.
Aku menulis itu karena itu semua yang terjadi. Aku bangun jam lima, aku berangkat jam enam, aku mencicipi antara empat puluh dan enam puluh sampel, aku menandai yang meleset, aku pulang, aku masak, aku tidur.
Hari Senin aku menolak dua batch. Hari Selasa satu.
Rabu pagi Pak Har memanggil aku ke ruangannya.
“Panjul.”
“Panji, Pak.”
“Iya, Panjul.” Dia menyodorkan lembar. “Ini kamu yang isi?”
Aku melihatnya.
Lembar panel hari Selasa. Kolom deskripsi.
Di baris ketiga aku menulis: “Ada nada yang datang di belakang. Nggak pahit. Nggak asem. Datang telat.”
“Ini deskripsi apa?” kata Pak Har.
“Deskripsi rasanya, Pak.”
“Panjul, ini bukan deskripsi. Ini puisi.”
“Maaf, Pak.”
“Kamu biasanya nulis ‘after-taste logam, intensitas dua’.” Dia menepuk lembarnya. “Ini apa? ‘Datang telat’?”
Aku berdiri di ruangannya dan aku tidak punya jawaban.
“Kamu lagi ada apa-apa?”
“Nggak ada apa-apa, Pak.”
Pak Har menatapku selama tiga detik.
“Ya udah,” katanya. “Tulis ulang.”
Aku menulis ulang.
After-taste logam, intensitas dua.
Dan aku menyerahkannya, dan Pak Har bilang bagus, dan aku kembali ke ruang panel dan duduk di kursiku dan aku tidak bisa mencicipi apa pun selama dua puluh menit karena aku terus memikirkan kalimat yang aku hapus.
Gilang datang Rabu malam.
Dia tidak mengirim pesan. Dia mengetuk pintu jam delapan lewat, dan waktu aku membukanya dia berdiri di teras dengan dua bungkus nasi goreng dan wajah yang aku belum pernah lihat.
“Lang.”
“Boleh masuk?”
“Kamu nggak pernah nanya boleh masuk.”
“Malem ini aku nanya.”
Dia duduk di lantai. Dia membuka bungkusnya. Dia tidak makan.
Aku duduk di seberangnya dan membuka punyaku dan juga tidak makan.
Kami duduk begitu selama mungkin dua menit.
“Panj.”
“Hm.”
“Aku mau minta maaf.”
“Soal apa?”
“Soal semuanya.”
“Lang, kamu nggak—“
“Diem dulu.” Dia mengangkat tangan. “Aku udah nyiapin ini tiga hari dan kalau kamu potong aku bakal ngaco.”
Aku menutup mulut.
Gilang menarik napas.
“Aku daftarin kamu bukan buat bantuin kamu,” katanya.
Aku menoleh.
“Aku daftarin kamu karena aku kasihan.”
Hening.
“Dan itu beda, Panji. Aku baru sadar bedanya hari Sabtu, waktu Bu Ratih baca tulisan aku di formulir.” Suaranya rata. “Aku tulis ‘dia nggak punya siapa-siapa’. Di formulir. Ke orang asing.”
“Lang—“
“Aku nulis itu setahun lalu di kepala aku, Panj. Bukan di formulir. Di kepala aku.” Dia menaruh sendoknya. “Tiap kali aku ke sini dan lihat kulkas kamu bersih, aku mikir ‘kasihan Panji’. Tiap Lebaran waktu kamu bilang kamu di Bogor sehari terus balik, aku mikir ‘kasihan Panji’.”
“Aku emang di Bogor sehari terus balik.”
“IYA. Aku tahu.” Dia mengusap wajahnya. “Tapi kamu nggak pernah bilang kamu sedih. Sekali pun. Sembilan tahun.”
“Karena aku nggak sedih.”
“Aku tahu itu sekarang,” katanya. “Aku baru tahu Sabtu kemarin.”
Dia mengambil ponselnya dan membuka sesuatu dan menaruhnya di lantai di antara kami.
Foto. Fotokopi formulir.
Halaman dua.
Kosong.
“Bu Ratih nanya kenapa halaman dua aku kosong,” katanya. “Aku jawab ‘itu simbolik’.”
“Aku inget.”
“Kamu tahu pertanyaannya apa?”
“Enggak.”
Gilang menggeser ponselnya.
Di bagian atas halaman kosong itu ada satu baris tercetak:
“Ceritakan satu hal tentang diri Anda yang belum pernah Anda katakan kepada siapa pun.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku nggak bisa isi,” kata Gilang.
“Kenapa?”
“Karena aku sales, Panji. Aku ngomong seharian. Aku ngomong ke orang yang nggak mau denger aku ngomong.” Dia mengambil ponselnya kembali. “Dan aku duduk di depan pertanyaan itu empat puluh menit dan aku nggak nemu satu pun.”
“Nggak nemu?”
“Bukan nggak nemu.” Dia menggeleng. “Nggak ada. Panj, aku udah ngomongin semua hal tentang diri aku ke semua orang. Semuanya. Aku nggak punya satu pun yang aku simpen.”
Aku memikirkan itu.
“Itu bagus, kan?”
“Enggak,” kata Gilang. “Itu artinya nggak ada satu pun yang cukup penting buat aku simpen.”
Kami tidak bicara beberapa saat.
Nasi gorengnya dingin.
“Panj.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku pengen kamu jawab jujur.”
“Aku selalu jawab jujur.”
“Iya, aku tahu.” Dia tertawa sekali. “Sialan, itu masalahnya.”
Dia menoleh.
“Kamu marah nggak sama aku?”
“Enggak.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Panji, aku daftarin kamu ke acara yang bikin kamu ketemu orang terus sekarang kamu—“ Dia berhenti. “Kamu kayak gini.”
“Kayak gimana?”
“KAYAK GINI.” Dia menunjuk ke arahku, ke arah ruangan, ke arah nasi goreng yang tidak disentuh. “Kamu duduk di lantai dan kamu nggak makan dan kamu nggak ngomong sejak aku masuk kecuali jawab pertanyaan aku.”
“Aku emang selalu gitu.”
“NGGAK, PANJI.”
Dan suaranya naik, dan langsung setelah itu dia mengecilkannya.
“Nggak,” ulangnya. “Kamu nggak selalu gitu. Dulu kamu emang diem, tapi kamu diem karena kamu nggak butuh ngomong. Sekarang kamu diem karena—“
Dia berhenti.
“Karena apa?”
Dan Gilang berkata:
“Karena kamu lagi nunggu.”
Aku duduk di lantai kontrakanku dan aku merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Aku nggak nunggu.”
“Panji.”
“Aku nggak nunggu, Lang. Dia bilang dia nggak akan minta apa-apa.”
“Iya.”
“Jadi nggak ada yang aku tunggu.”
“Panji.” Gilang menoleh penuh badan. “Kamu ngecek HP kamu enam kali sejak aku masuk.”
Aku diam.
“Aku ngitung,” katanya. “Aku sales. Aku ngitung.”
“Lang.”
“Apa.”
“Dia bilang dia nggak akan nyuruh aku.”
“Iya.”
“Jadi kalau aku dateng, aku nggak tahu apakah aku dateng karena aku mau atau karena—“
“BERHENTI.”
Aku berhenti.
Gilang menutup matanya dan menekan pangkal hidungnya dengan dua jari, dan waktu dia membuka matanya lagi dia berkata, sangat pelan:
“Panji. Dengerin aku baik-baik, karena ini satu-satunya kali dalam hidup aku di mana aku bakal bener soal ini.”
Aku mendengarkan.
“Aku sembilan tahun ngasih kamu nasihat,” katanya. “Semuanya jelek. Semuanya. Tunggu tiga jam, jangan terlalu baik, jangan cerita soal kerjaan. Semuanya jelek dan kamu ngabaikan semuanya dan kamu bener.”
“Lang—“
“Diem.” Dia mengangkat tangan. “Sekarang aku bakal ngasih satu nasihat terakhir dan yang ini bukan nasihat. Yang ini pengakuan.”
Dia menarik napas.
“Aku pernah suka sama seseorang,” katanya. “Dua tahun lalu. Namanya nggak penting.”
Aku tidak bergerak.
“Dan aku nggak ngomong,” katanya. “Bukan karena takut ditolak. Aku sales, Panji, aku ditolak lima belas kali sehari.”
“Terus kenapa?”
Dan Gilang berkata:
“Karena aku nggak yakin perasaan aku itu asli.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku mikir,” katanya. “Aku mikir mungkin aku cuma kesepian. Aku mikir mungkin aku cuma suka diperhatiin. Aku mikir mungkin ini cuma karena dia satu-satunya yang ngajak aku ngobrol waktu itu.”
“Terus?”
“Terus aku nunggu sampai aku yakin.”
Dia mengambil sendoknya, memutarnya di tangan, menaruhnya lagi.
“Dan dua tahun kemudian aku masih belum yakin,” katanya. “Dan dia udah nikah.”
Hening.
“Panji, kamu tahu apa yang aku pelajarin?”
“Enggak.”
“Nggak ada yang yakin.” Dia menoleh. “Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang yakin. Semua orang yang kelihatan yakin itu cuma orang yang berhenti nunggu lebih cepat dari aku.”
“Tapi aku beda,” kataku.
“Kenapa beda?”
“Karena kalau aku dateng, itu bisa jadi cuma nurut.”
“IYA. BISA JADI.”
“Terus gimana aku tahu?”
Dan Gilang berkata:
“Kamu nggak tahu.”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak akan pernah tahu, Panji. Nggak sekarang, nggak besok, nggak bulan depan.” Dia mengangkat bahu. “Kamu cuma bisa milih, dan terus milih lagi besoknya, dan terus milih lagi lusanya, sampai udah kebanyakan kali kamu milih sehingga nggak ada orang waras yang bisa bilang itu nurut.”
Aku duduk di lantai.
“Itu jawabannya?”
“Itu jawabannya.”
“Itu jawaban yang jelek.”
“IYA. AKU TAHU.” Gilang tertawa dan matanya basah. “Itu jawaban paling jelek di dunia dan aku butuh dua tahun buat nemu.”
Dia pulang jam sebelas.
Di teras, dia memakai sepatunya tanpa membuka talinya, seperti selalu.
“Lang.”
“Hm.”
“Halaman dua kamu.”
Dia berhenti.
“Kenapa?”
“Sekarang udah nggak kosong,” kataku.
Gilang berdiri di teras dengan satu sepatu setengah masuk.
“Apa?”
“Yang barusan kamu ceritain,” kataku. “Yang dua tahun lalu. Kamu belum pernah cerita ke siapa pun.”
“…Belum.”
“Berarti sekarang halaman dua kamu ada isinya.”
Dan sahabatku berdiri di teras kontrakanku jam sebelas malam dan menutup wajahnya dengan satu tangan dan tidak bergerak selama mungkin sepuluh detik.
“Sialan,” katanya, teredam.
“Lang—“
“Sialan, Panji.” Dia menurunkan tangannya. Wajahnya berantakan. “Kamu ngomongin hal paling bagus yang pernah aku denger sambil berdiri di teras pakai kaos oblong.”
“Aku nggak punya baju lain.”
“AKU TAHU KAMU NGGAK PUNYA BAJU LAIN.”
Dia menuruni tangga.
Dan di anak tangga terakhir dia berhenti, dan tidak berbalik, dan berkata:
“Panj.”
“Ya.”
“Besok Rabu.”
Aku berhenti.
“Ini Rabu.”
“Iya,” kata Gilang. “Ini Rabu.”
Dan dia melihat jam di ponselnya.
“Jam sebelas lewat,” katanya. “Jadi Rabunya udah lewat.”
Dan dia berjalan ke gang.
Dan setengah jalan dia berteriak, tanpa berbalik, cukup keras untuk membangunkan tetangga:
“RABU DEPAN MASIH ADA, PANJI.”
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua reading
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15