← Nggak Diundi

Chapter Thirty Three

Aturan Nomor Lima

POV: Panji

Di luar sudah jam sepuluh kurang dan trotoarnya basah karena hujan yang turun waktu kami di dalam dan berhenti sebelum kami keluar.

Nindy berdiri di bawah papan nama gedung dengan tas di dua tangan.

Aku berdiri satu setengah meter dari dia.

Aku tidak lebih dekat. Aku sudah belajar sesuatu dalam empat puluh menit terakhir dan yang aku pelajari adalah bahwa mendekat itu juga bisa jadi cara memaksa.

“Ngomong,” katanya.

Jadi aku bicara.


“Aku ke tangga darurat tadi karena aku mau nyari bedanya,” kataku.

“Beda apa?”

“Antara suka sama nurut.”

Nindy tidak bergerak.

“Aku pakai cara kerjaan aku,” kataku. “Kalau ada dua sampel dan kamu nggak yakin ada bedanya, kamu nggak boleh nebak. Kamu harus uji.”

“Terus?”

“Aku uji enam kali dan gagal enam kali.”

Aku memasukkan tangan ke kantong karena aku tidak tahu harus ditaruh di mana.

“Aku bandingin kamu sama Gilang. Sama. Aku bandingin kamu sama Talita. Sama. Kamu bener — kalau ada yang minta, aku ngasih, dan aku nggak bisa bedain siapa yang minta.”

“Panji—“

“Terus aku inget Pak Har,” kataku. “Bos aku. Dia pernah bilang kalau nggak nemu bedanya, berarti pertanyaannya salah.”

Nindy menunggu.

“Jadi aku ganti pertanyaannya,” kataku. “Aku nggak nanya lagi apa aku suka atau nurut. Aku nanya: apa yang ilang kalau orangnya berhenti minta.”

Aku mengangkat wajah.

“Kalau Gilang berhenti nelepon aku jam dua pagi, aku baik-baik aja,” kataku. “Kalau Talita berhenti, aku baik-baik aja. Kalau Bapak berhenti — Bapak udah berhenti dua puluh tahun, dan aku baik-baik aja.”

“Terus aku?”

Dan aku berkata:

“Kalau kamu berhenti nanya, aku nggak baik-baik aja.”


Nindy tidak bicara selama mungkin sepuluh detik.

Ada bus lewat. Ada air menetes dari kanopi gedung ke trotoar dalam ritme yang tidak teratur.

“Itu jawabannya?” katanya.

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kenapa yakin?”

“Karena aku takut,” kataku. “Aku belum pernah takut.”

Dan dia menutup matanya.

Dan kepalanya jatuh sedikit ke belakang, dan dia menghela napas panjang sekali, dan waktu dia membuka matanya lagi matanya penuh.

“Panji.”

“Ya.”

“Aku percaya kamu.”

“Oke.”

“Aku percaya kamu seratus persen.” Suaranya bergetar. “Aku nggak ada satu pun keraguan. Aku tahu kamu nggak bohong. Aku tahu kamu nggak akan pernah bohong.”

“Terus?”

Dan Nindy berkata:

“Itu bukan masalahnya.”


“Aku nggak pernah mikir kamu bohong, Panji.” Dia menurunkan tasnya ke aspal. “Sekali pun. Dalam empat minggu. Aku bahkan nggak pernah kepikiran.”

“Terus masalahnya apa?”

“Masalahnya kamu jawab.”

“Nindy, aku baru aja—“

“Kamu jawab pertanyaan aku.” Dia menunjuk ke arahku, lalu menurunkan tangannya. “Aku nanya bedanya apa hari Rabu. Kamu pergi. Kamu uji enam kali. Kamu balik bawa jawabannya.”

“Iya.”

“Panji, itu jawaban.”

Dan aku berdiri di trotoar dan aku menyadari bahwa dia benar untuk kedua kalinya dalam satu malam, dan bahwa aku tidak punya apa pun untuk membantahnya, karena aku memang mengerjakannya di tangga darurat seperti orang mengerjakan lembar panel.

“Aku tahu,” kataku.

“Kamu tahu?”

“Aku sadar di tangga. Pas aku selesai.” Aku mengangkat bahu. “Aku hapus catatannya.”

“Terus?”

“Terus aku tulis lagi.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku lupa,” kataku, “kamu harus bilang dua kali.”


Dan itu adalah kalimat yang membuat Nindy Pramesthi menangis di trotoar depan gedung tempat kami pertama kali bertemu.

Dia menangis dengan tangan menutup mulut, berdiri, tanpa suara, dan aku tidak bergerak mendekat sama sekali.

Aku ingin. Aku ingin sekali.

Aku tidak melakukannya karena aku sudah tahu bahwa setiap gerakanku malam itu akan dibaca sebagai jawaban, dan bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa dibaca sebagai jawaban adalah diam.

Jadi aku diam.

Dan itu ternyata juga salah.


“Kamu tahu kenapa aku nangis?” katanya, setelah reda.

“Enggak.”

“Karena aku sayang sama kamu.” Dia menghapus wajahnya dengan lengan. “Masih. Sekarang. Berdiri di sini.”

“Nindy—“

“Dan aku nggak bisa.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Aku nggak bisa, Panji.” Dia mengambil tasnya dari aspal. “Bukan nggak mau. Nggak bisa.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata:

“Karena aku udah dua puluh tujuh tahun jadi orang yang mulai duluan.”


Dia bicara lima menit setelah itu, dan aku tidak memotongnya sekali pun.

“Aku yang telepon Ibu tiap minggu. Bukan Ibu yang telepon aku.” Suaranya rata sekarang. Semua nadanya dicabut. “Aku yang nanya adikku kabarnya gimana. Aku yang lapor rolling door dua kali ke kantor pusat. Aku yang ngangkat galon. Aku yang bilang duluan ke Bagas empat tahun lalu dan aku juga yang mutusin duluan.”

“Iya.”

“Dan empat minggu ini aku juga yang mulai duluan. Semuanya.” Dia mengangkat tangannya, dan menghitung, dan berhenti di tengah. “Aku nggak mau ngitung lagi. Aku udah ngitung di taksi tadi dan aku benci diriku sendiri.”

“Nindy, aku bilang tadi. Aku nggak tahu aku boleh.”

“Aku tahu.” Dia mengangguk cepat. “Aku tahu, Panji. Dan itu bukan salah kamu. Kamu dua puluh delapan tahun dan nggak ada satu orang pun yang pernah ngajarin kamu bahwa kamu boleh minta sesuatu.”

“Terus?”

Dan Nindy berkata:

“Terus itu bukan sesuatu yang bisa aku ajarin.”


Aku tidak mengerti.

Aku bilang begitu.

“Aku nggak ngerti.”

“Aku tahu kamu nggak ngerti.” Dia tersenyum, dan senyumnya jelek, dan basah. “Itu bagian yang paling nggak adil.”

“Jelasin.”

“Kalau aku bilang ‘Panji, mulai duluan dong’, apa yang bakal kamu lakuin?”

“Aku bakal mulai duluan.”

NAH.

Dan dia mengatakannya keras sekali, dan suaranya pecah di tengah, dan dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

Dan aku berdiri di trotoar dan akhirnya mengerti.

Kalau dia menyuruh, aku akan menurut.

Dan kalau aku menurut, itu bukan bukti apa-apa.

Setiap jalan keluar yang bisa dia tunjukkan kepadaku akan langsung membatalkan dirinya sendiri, karena aku adalah orang yang menuruti jalan keluar.

“Oh,” kataku.

“Iya.”

“Oh.”

“Panji, jangan bilang ‘oh’ sekarang. Aku nggak kuat.”


“Jadi gimana?” kataku.

“Nggak gimana-gimana.”

“Nindy.”

“Aku nggak akan minta apa-apa lagi.” Dia mengangkat tasnya ke bahu. “Itu aja.”

Aku merasakan sesuatu turun di perut.

“Apa?”

“Aku nggak akan minta apa-apa lagi dari kamu,” katanya. “Nggak nanya, nggak nyuruh, nggak ngasih kode. Nggak ada.”

“Kamu mutusin?”

“Enggak.”

“Terus apa?”

Dan Nindy berkata:

“Aku diem.”

Dan aku berdiri di trotoar basah dengan bus lewat di belakangku dan aku menyadari bahwa yang baru saja dia lakukan adalah hal paling kejam yang bisa dilakukan seseorang kepadaku, dan bahwa dia melakukannya karena sayang, dan bahwa dia benar untuk melakukannya.


“Nindy.”

“Apa.”

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

“Seminggu?”

“Panji.” Dia menoleh. “Kalau aku kasih tanggal, itu jadi tugas.”

Dan aku menutup mulut.

“Yang aku bilang di Cisarua,” katanya.

“Iya?”

“Lupain.”

Aku berhenti bernapas.

“Yang di dapur juga,” katanya. “Yang aku bilang ke punggung kamu.”

“Kamu bilang kamu nggak pernah bilang itu.”

“Aku bohong.” Dia mengangkat bahu. “Sekarang aku nggak bohong. Aku bilang. Dan sekarang aku tarik.”

“Kenapa?”

Dan Nindy berkata:

“Karena dua-duanya aku yang ngomong duluan. Dan aku capek.”


Suaraku tidak naik.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah memikirkannya berhari-hari sesudahnya dan aku tidak yakin itu hal yang baik.

Suaraku tidak naik sedikit pun.

Aku tidak berteriak. Aku tidak bilang jangan. Aku tidak memegang tangannya. Aku tidak melakukan satu pun hal yang dilakukan orang di film waktu seseorang berdiri di trotoar dan menarik kembali kata yang paling dia butuhkan.

Aku berdiri di situ dengan tangan di kantong dan berkata:

“Oke.”

Dan aku melihat wajahnya waktu aku mengatakannya.

Aku melihat sesuatu di wajahnya runtuh, dan aku baru mengerti apa itu tiga hari kemudian.

Dia sedang berharap aku melawan.

Dia sedang berdiri di trotoar dan menarik kembali semuanya dan berharap — dengan seluruh dirinya — bahwa untuk sekali saja, satu kali dalam empat minggu, aku akan menolak menurut.

Dan aku bilang oke.


“Ya udah,” katanya.

“Nindy.”

“Aku pulang.”

“Aku anter.”

Dan dia berhenti.

Dia berdiri di trotoar dengan punggung setengah membelakangi dan berkata, sangat pelan:

“Nggak usah.”

“Ini jam sepuluh.”

“Panji.”

“Aku selalu anter kamu.”

“Iya,” katanya. “Karena kita ada acara.”

Dan itu.

Itu yang paling menyakitkan dari seluruh malam itu, dan dia mengatakannya tanpa niat menyakiti, dan aku tahu dia tidak berniat karena aku sudah empat minggu mendengar suaranya dan suaranya tidak berubah sedikit pun.

Dia cuma menyebutkan fakta.

Aturan nomor lima.

Setelah malam penutupan, program berakhir.

Bu Ratih membacanya empat minggu lalu dengan nada orang membaca jadwal kereta, dan aku duduk di ruangan itu dan pura-pura tidak mendengar, dan aku menghitung hari sejak malam itu tanpa memberi tahu siapa pun.

“Oke,” kataku lagi.

Nindy mengangguk.

Dia berjalan ke pinggir jalan dan mengangkat tangan dan sebuah taksi berhenti dalam sembilan detik.

Dia membuka pintu.

Dan sebelum masuk, dia berbalik.

“Panji.”

“Ya?”

Dan Nindy Pramesthi berdiri dengan satu tangan di pintu taksi dan berkata:

“Rabu itu bukan tanggal.”

“Apa?”

“Yang Bu Ratih bilang. Rabu depan jam delapan.” Matanya penuh lagi. “Itu bukan tanggal, Panji. Itu contoh.”

“Aku nggak—“

“Aku nggak lagi nyuruh kamu dateng hari Rabu.”

Dan dia masuk ke taksi dan menutup pintunya, dan taksinya jalan, dan aku berdiri di trotoar depan gedung itu selama mungkin dua puluh menit.


Gilang menemukan aku jam setengah sebelas.

Dia turun sendirian. Yang lain sudah pulang. Dia berdiri di sebelahku di trotoar dan tidak bertanya apa-apa selama mungkin satu menit.

Lalu dia berkata:

“Dia pulang sendiri?”

“Iya.”

“Kamu nggak anter?”

“Dia nggak mau.”

Gilang menghela napas.

“Panj.”

“Hm.”

“Kamu bilang apa waktu dia bilang itu semua?”

Aku memikirkannya.

“Aku bilang oke,” kataku.

Dan Gilang menutup matanya, dan berdiri di trotoar dengan wajah orang yang sedang menahan sesuatu, dan berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Astaga, Panji.”

“Kenapa?”

Dan sahabatku — yang mendaftarkan aku pakai fotokopi KTP, yang menulis di luar kotak formulir bahwa aku tidak punya siapa-siapa —

berkata:

“Nggak apa-apa. Ayo pulang.”