Chapter One
Fotokopi KTP
POV: Panji
Batch nomor tujuh salah.
Aku tahu itu di gigitan kedua. Wafer cokelat, lapisan tiga, produksi hari Selasa. Di lidah semuanya normal sampai detik ketiga, lalu ada sesuatu yang datang terlambat di belakang — pahit tipis, bukan pahit cokelat, pahit yang lain. Pahit yang seperti logam.
Aku menaruh sisanya di piring kertas, minum air, tunggu tiga puluh detik seperti yang diajarkan, lalu gigit lagi.
Masih ada.
“Panji.” Mbak Yuni dari seberang meja panel sudah menulis di lembarnya sendiri. “Kenapa?”
“Nomor tujuh. After-taste-nya ada logam.”
“Aku nggak dapet.”
“Detik ketiga ke atas. Habis manisnya turun.”
Dia mengunyah lagi. Wajahnya tidak berubah selama sepuluh detik, lalu berubah.
“Ih,” katanya. “Iya.”
Kami menulis di lembar masing-masing dan menyerahkannya ke Pak Har, dan Pak Har akan menelepon bagian produksi, dan bagian produksi akan mengecek lapisan pertama, dan besok atau lusa akan ketahuan bahwa ada wadah yang dicuci pakai sesuatu yang tidak seharusnya. Itu selalu begitu. Bukan tebakan. Ada hal yang meleset, dan tugasku menyebutkan di mana.
Aku sudah empat tahun kerja begini. Delapan jam sehari mencicipi, mencium, memegang, mencatat. Orang selalu ketawa waktu aku bilang ini pekerjaanku. Enak dong, makan terus. Tidak. Enak itu kalau kamu boleh berhenti waktu sudah cukup. Aku tidak boleh berhenti sampai aku bisa bilang kenapa.
Jam lima kurang sepuluh, ponselku bergetar di loker.
Gilang: Nanti malem kosong kan
Gilang: Makan yuk. Aku yang bayar
Aku baca dua kali. Bukan karena isinya rumit. Karena Gilang tidak pernah bayar.
Aku: Kamu yang bayar?
Gilang: Iya
Gilang: Jangan pake kaos yang ada tulisan pabriknya
Dia jemput jam tujuh, dan aku tahu ada yang salah sejak dia belok kiri di perempatan.
Warung yang biasa kami datangi ada di kanan. Belok kiri itu ke arah jalan besar, ke arah gedung-gedung yang lampunya masih menyala jam tujuh malam. Gilang menyetir dengan dua tangan di kemudi, yang juga salah, karena Gilang menyetir dengan satu tangan dan satu lagi memegang kopi dan mulutnya bicara terus.
Malam ini dia diam.
“Lang.”
“Hm.”
“Kita ke mana.”
“Makan.”
“Warung Mbak Tin di belakang.”
“Kita nggak ke Mbak Tin.”
“Ke mana.”
Dia menyalakan sein. “Ada tempat baru.”
“Tempat baru apa.”
“Baru.”
Aku memutuskan untuk diam sampai mobil berhenti, karena dari pengalaman, Gilang yang dicecar akan berbohong lebih rapi, sedangkan Gilang yang didiamkan akan pecah sendiri dalam sebelas menit.
Sebelas menit itu terjadi di lampu merah kedua.
“Jadi gini,” katanya.
“Ya.”
“Kamu inget nggak, dua bulan lalu, kamu minjemin aku KTP buat daftarin nomor?”
Aku menoleh pelan. “Inget.”
“Aku fotokopi.”
“Kenapa difotokopi.”
“Buat jaga-jaga.”
“Jaga-jaga apa.”
Lampu hijau. Gilang menekan gas terlalu cepat.
“Panji,” katanya, dan nada suaranya berubah jadi nada yang biasa dia pakai buat menutup penjualan. “Dengerin aku dulu sampai selesai. Jangan potong.”
“Aku nggak pernah motong kamu.”
“Iya, itu yang bikin serem.”
Dia menarik napas.
“Ada acara. Namanya Program Pendekatan Terarah.”
“Nama apa itu.”
“Kamu bilang nggak motong.”
Aku diam.
“Acaranya sebulan. Enam orang. Tiga cowok, tiga cewek. Dipasangin dari awal, terus jalan bareng sebulan. Ada kencan grup empat kali, sisanya bebas.” Dia bicara cepat sekali, seperti membaca. “Bukan yang aneh-aneh. Bukan yang bayar mahal terus dijodohin sama bot. Ini beneran. Panitianya galak.”
“Terus KTP-ku.”
“Aku daftarin kamu.”
Aku menghitung sampai empat.
“Kamu daftarin aku ke acara kencan.”
“Iya.”
“Tanpa nanya.”
“Kalau aku nanya kamu bakal bilang apa?”
“Nggak.”
“Nah.”
“Itu bukan pembelaan, Lang. Itu pengakuan.”
Dia mengetuk-ngetuk kemudi. “Panji. Empat tahun. Empat tahun kamu pulang kerja, mampir minimarket, masak sendiri, tidur. Sabtu kamu bersihin kulkas. Kulkas kamu itu paling bersih se-Jakarta Selatan dan nggak ada satu orang pun yang pernah lihat.”
“Kulkasku memang bersih.”
“Itu bukan prestasi!”
“Buat kulkas itu prestasi.”
Dia mengerang dan membanting sein lagi.
Kami masuk ke basement sebuah gedung yang tidak besar dan tidak kecil. Lantai duanya ada plang kaca dengan tulisan yang dicetak sangat rapi.
“Terus,” kataku, “kuesionernya gimana.”
Gilang mematikan mesin.
“Kuesioner apa?”
“Kamu bilang panitianya galak. Acara yang panitianya galak pasti pakai kuesioner.”
Hening dua detik.
“Empat puluh pertanyaan,” katanya.
“Siapa yang isi.”
“Aku.”
Aku menoleh penuh badan. “Kamu isi empat puluh pertanyaan atas namaku.”
“Tiga puluh sembilan,” katanya cepat, seolah itu memperbaiki keadaan. “Yang nomor tiga puluh satu aku nggak tahu jawabannya, jadi aku tulis apa yang biasa kamu bilang.”
“Aku biasa bilang apa.”
Gilang membuka pintu dan keluar tanpa menjawab.
Ruangannya lebih kecil dari yang aku bayangkan, dan lebih terang. Bukan restoran. Semacam ruang rapat yang dipaksa jadi ruang makan — meja panjang, taplak beneran, enam kursi, dan lampu gantung yang jelas-jelas dibeli bulan lalu.
Ada tiga orang yang sudah duduk waktu kami masuk.
Yang pertama laki-laki, mungkin tiga puluhan awal, kemeja linen yang disetrika dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang yang menyetrika sendiri. Dia berdiri waktu kami masuk. Berdiri. Aku tidak tahu orang masih melakukan itu.
Yang kedua perempuan, rambut diikat, tas diletakkan di kursi sebelahnya dengan rapi, sedang membaca sesuatu di ponsel dan langsung mematikannya waktu pintu terbuka. Dia tersenyum ke arah kami — senyum yang lengkap, bukan senyum sopan.
Aku sempat berpikir wajahnya tidak asing, dan kemudian aku berhenti berpikir begitu, karena aku sering merasa wajah orang tidak asing dan itu hampir selalu salah.
Yang ketiga perempuan juga, dan dia yang paling dulu bicara.
“Oh, dua-duanya sekaligus.” Suaranya jernih dan terlatih, jenis suara yang biasa keluar dari pengeras suara. “Yang mana yang namanya Gilang?”
“Saya,” kata Gilang.
“Hm.” Dia memandangi Gilang dari atas ke bawah dengan cara yang sangat terbuka. “Oke.”
“Oke apa?”
“Nggak apa-apa. Oke aja.”
“Itu bukan ‘oke aja’.”
“Ya itu oke aja.”
Aku menarik kursi paling ujung dan duduk, dan waktu aku duduk aku baru sadar bahwa masih ada satu kursi kosong, dan bahwa ruangan ini akan menjadi tempat aku menghabiskan malam ini tanpa satu pun rencana yang aku buat sendiri.
Anehnya aku tidak panik.
Aku pikir aku akan panik. Selama di mobil aku menunggu paniknya datang. Tapi yang datang cuma perasaan yang sama seperti waktu masuk ruang panel pagi-pagi: ada enam hal di depanku, aku belum tahu satu pun, dan tugasku cuma memperhatikan.
Pintu terbuka lagi.
Perempuan yang masuk terakhir tidak minta maaf karena terlambat, dan itu hal pertama yang aku catat tentang dia. Dia masuk, melihat sekeliling sekali — cepat, menyeluruh, seperti orang yang menghitung — lalu menarik kursi di seberangku dan duduk.
Rambutnya sedikit basah di ujung. Di luar tidak hujan. Berarti dia baru selesai kerja dan sempat cuci muka di suatu tempat sebelum masuk.
“Macet?” tanya yang bersuara jernih.
“Nggak,” katanya. “Shift-nya lewat sepuluh menit.”
“Kerja di mana?”
“Apotek.”
“Ih, apoteker.” Yang bersuara jernih mencondongkan badan. “Berarti kamu tahu semua rahasia orang, dong.”
“Nggak semua.” Dia meletakkan tasnya di lantai, bukan di kursi. “Cuma yang beli obat di aku.”
“Itu banyak.”
“Iya.”
Dan selesai. Dia tidak menambahkan apa-apa. Tidak ada tawa penutup, tidak ada “hehe” untuk melunakkan. Yang bersuara jernih menunggu sebentar, tidak dapat apa-apa, lalu berpaling ke Gilang lagi dan mulai menanyainya soal pekerjaan.
Aku memperhatikan perempuan yang baru datang itu selama mungkin tiga detik lebih lama dari yang sopan.
Bukan karena dia cantik, walaupun dia memang — ada yang tegas di wajahnya, alis yang tidak diapa-apakan, dan mulut yang kelihatannya lebih sering menahan kalimat daripada mengeluarkannya.
Aku memperhatikan karena waktu dia bilang “Iya” tadi, ada yang meleset.
Bukan di kata-katanya. Di nadanya. Dia menjawab dua pertanyaan berturut-turut dengan sempurna, ringan, tidak ada yang aneh — lalu di kata terakhir, tepat di ujungnya, nadanya turun setengah nada lebih rendah dari yang seharusnya.
Datangnya terlambat. Seperti pahit logam di detik ketiga.
Aku tidak tahu artinya apa. Aku cuma tahu ada di sana.
Dia mendongak dan menangkapku sedang melihat.
Aku tidak buru-buru mengalihkan pandangan, karena aku tidak sedang melakukan sesuatu yang salah, dan karena buru-buru mengalihkan pandangan itu justru yang membuat orang merasa dilihat dengan cara yang tidak enak.
Alisnya naik sedikit. Satu.
“Apa?” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Orang bilang ‘nggak apa-apa’ itu biasanya ada apa-apa.”
“Iya,” kataku. “Tapi aku belum tahu apa.”
Dia diam.
Aku pikir aku salah bicara, dan aku sedang menyusun kalimat berikutnya, waktu pintu di ujung ruangan dibuka oleh seorang perempuan setengah baya dengan blazer merah bata dan map yang tebalnya tidak masuk akal untuk enam orang.
“Selamat malam,” katanya, dan suaranya mengisi ruangan sampai ke sudut. “Saya Ratih. Terima kasih sudah hadir tepat waktu—“ dia melirik jam dinding, “—atau setidaknya hadir.”
Gilang tertawa. Sendirian.
Bu Ratih meletakkan map itu di ujung meja dengan bunyi yang berat.
“Sebelum kita mulai,” katanya, “saya ingin memastikan semua peserta memahami bahwa hasil pemasangan malam ini final.”
Aku merasa Gilang menegang di sebelahku.
“Final,” ulang Bu Ratih, sambil membuka map. “Tidak ada rotasi. Tidak ada tukar. Tidak ada — dan ini penting — negosiasi.”
Dia mengangkat lembar paling atas.
Perempuan di seberangku menatap lembar itu, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Bukan gugup.
Curiga.
- 1 Fotokopi KTP reading
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15