Chapter Thirty Eight
Jam Setengah Enam
POV: Nindy
Aku bangun jam setengah enam dan tidak bergerak selama dua puluh menit.
Kontrakanku menghadap timur, jadi jam setengah enam itu ada satu garis cahaya yang masuk lewat celah gorden dan jatuh miring di dinding, dan garis itu bergerak turun sekitar satu senti tiap dua menit.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.
Aku menghitungnya karena kalau aku tidak menghitung sesuatu, aku harus memikirkan bahwa ada orang di kasurku, dan aku belum siap memikirkan itu, dan aku ingin menundanya selama mungkin.
Dia tidur membelakangi jendela.
Panji tidur dengan sangat diam.
Itu hal pertama yang aku catat. Bagas dulu bergerak sepanjang malam — menendang, berbalik, mengambil selimut. Aku terbiasa tidur dengan orang yang berisik.
Panji tidak bergerak sama sekali. Napasnya lambat dan dalam dan teratur, dan dadanya naik turun dengan interval yang bisa aku hitung, dan sekali dalam dua puluh menit itu dia menggerakkan jari.
Cuma jari.
Dan aku berbaring di sisi kasurku sendiri dan menonton laki-laki ini bernapas dan aku menyadari sesuatu yang membuat aku harus menutup mata sebentar.
Aku tidak punya jalan mundur.
Bukan karena semalam. Semalam bukan apa-apa — maksudku, semalam adalah segalanya, tapi bukan itu yang menghilangkan jalan mundurnya.
Yang menghilangkan jalan mundurnya adalah bahwa aku berbaring di sini jam setengah enam pagi dan aku tahu bunyi napasnya.
Aku sudah hafal.
Dalam satu malam.
Dan aku tahu bahwa mulai sekarang, setiap malam aku tidur sendirian, aku akan tahu bunyi apa yang tidak ada di ruangan.
Tangannya di luar selimut.
Aku memperhatikan tangannya lama sekali, karena itu satu-satunya bagian dari dia yang bisa aku lihat tanpa harus menggeser badan.
Kuku dipotong sangat pendek. Aturan lab. Dia pernah bilang.
Ada bekas luka kecil di pangkal ibu jari yang aku belum pernah tanyakan.
Dan tangan itu — tangan yang menahan sikuku di trotoar, yang menutupi tanganku di besi rolling door, yang menahan kepalaku waktu jalan rusak, yang menetap di tengkukku di bangku taman —
tangan itu ada di kasurku.
Aku mengulurkan satu jari dan menyentuh punggung tangannya.
Sekali. Sangat pelan.
Dan dia langsung membalikkan tangannya dan menggenggam.
“Kamu bangun?”
“Iya,” katanya, dengan mata masih tertutup.
“Dari kapan?”
“Lima.”
“Setengah jam?”
“Iya.”
“Kenapa nggak ngomong?”
Dan Panji membuka matanya dan berkata:
“Kamu lagi ngeliatin. Aku nggak mau ganggu.”
Aku menarik selimut sampai ke hidung.
“Kamu tahu aku ngeliatin?”
“Iya.”
“Gimana?”
“Napas kamu.”
“Aku bakal bunuh kamu.”
Dan dia tertawa.
Aku perlu berhenti di sini dan mencatat sesuatu, karena ini penting: Panji tertawa mungkin empat kali sejak aku mengenalnya. Empat kali dalam lima minggu.
Dan bunyinya memang seperti orang batuk, seperti kata Gilang, dan itu bunyi paling bagus yang pernah aku dengar jam setengah enam pagi.
Jam enam kurang dia bangun untuk membuat teh, karena aku juga tidak punya kopi, dan karena ternyata kami berdua sama-sama tidak punya kopi di rumah masing-masing.
“Kenapa kamu nggak punya kopi?”
“Aku nggak minum kopi.”
“Sama sekali?”
“Nggak enak.”
“Panji, kerjaan kamu nyicip.”
“Iya.”
“Kamu bisa bedain pahit logam sama pahit gosong.”
“Iya.”
“Dan kamu nggak suka kopi.”
“Kopi itu pahit gosong,” katanya, dari dapur. “Semua orang suka pahit gosong dan aku nggak ngerti.”
Dan aku tertawa ke dalam bantal sampai aku harus menutup mulut.
Dia membawa dua gelas dan duduk di tepi kasur, dan aku duduk bersandar ke dinding dengan selimut sampai pinggang dan memakai kaus yang aku ambil dari lemariku sendiri, dan kausnya kekecilan untuk konteks apa pun.
Panji melihat sekali dan langsung mengalihkan pandangan ke gelasnya.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu ngalihin pandangan.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku nggak tahu apakah aku boleh liat.”
Aku menaruh gelasku.
“Panji.”
“Ya?”
“Kita semalem—“
“Iya.”
“Dan kamu nggak tahu apakah kamu boleh liat aku pakai kaus?”
Dia memikirkannya dengan sungguh-sungguh, dengan wajah yang sama seperti waktu dia membandingkan dua genggam pasir.
“Itu dua hal beda,” katanya akhirnya.
“Gimana bisa beda?”
“Yang semalem itu kamu ngasih.” Dia memutar gelasnya. “Yang sekarang aku ngambil.”
Dan aku duduk di kasurku sendiri dengan teh di tangan dan aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Mas.”
“Hm.”
“Liat.”
“…Oke.”
Dan dia menoleh, dan dia melihat, dan telinganya memerah sampai ke pangkal untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
Aku hampir menangis. Sungguh. Aku hampir menangis karena telinga.
Jam enam lewat dia mencoba melucu.
Aku ingin mencatat konteksnya dengan lengkap karena ini kejadian bersejarah.
Aku bilang tehnya kurang manis.
Dan Panji — Panji Ardiansyah, dua puluh delapan tahun, orang yang menjelaskan titik embun sambil ada perempuan di pangkuannya — berkata:
“Ya soalnya gulanya kurang.”
Hening.
“…Terus?” kataku.
“Itu aja.”
“Itu lucu?”
“Kayaknya enggak.”
“Kamu lagi ngelucu?”
“Iya.”
“Panji.”
“Aku tahu.”
Dan dia menutup wajahnya dengan satu tangan, dan aku melihat ujung telinganya merah lagi, dan aku menaruh gelasku di lantai dan merangkak ke arahnya dan menarik tangannya dari wajahnya.
“Mas.”
“Apa.”
“Kamu nggak harus lucu di depan aku.”
Dan Panji berhenti.
Aku melihatnya mendengar kalimatnya sendiri kembali kepadanya.
“Itu kalimat aku,” katanya.
“Iya.”
“Kamu balikin.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena kamu bangun pagi ini dan mikir kamu harus jadi orang yang lebih menyenangkan.”
Dia tidak menjawab.
“Iya, kan?”
“…Iya.”
“Panji.” Aku memegang wajahnya dengan dua tangan. “Aku nggak sayang sama versi kamu yang lucu. Versi kamu yang lucu itu jelek banget.”
“Iya, aku tahu.”
“Jelek banget, Mas.”
“IYA, AKU TAHU.”
Setelah itu dia diam agak lama.
Aku pikir aku menyakitinya. Aku hampir minta maaf.
Lalu dia berkata:
“Nindy.”
“Hm?”
“Kamu punya tahi lalat di bawah rahang kanan.”
Aku mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kecil. Di bawah rahang, sebelah kanan.” Dia mengangkat tangannya dan menyentuh tempatnya dengan satu jari. “Cuma keliatan kalau kamu noleh ke kiri.”
Aku menyentuh tempatnya sendiri.
“Aku nggak tahu aku punya.”
“Aku tahu kamu nggak tahu.”
“Kamu tahu dari kapan?”
Dan Panji berkata:
“Dari malam wafer.”
Aku berhenti bernapas.
“Malam wafer itu—“
“Yang kedua kita ketemu berdua. Di bangku taman.” Dia menurunkan tangannya. “Waktu aku nyium parfum kamu terus kamu marah.”
“Itu lima minggu lalu.”
“Iya.”
“Kamu tahu lima minggu dan kamu nggak bilang?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan dia berkata:
“Karena kalau aku bilang, kamu bakal tahu aku merhatiin.”
Aku menutup wajah dengan dua tangan.
“Nindy?”
“Bentar.”
“Kamu—“
“BENTAR.”
Dan aku duduk di kasurku sendiri dengan wajah tertutup dan aku menangis untuk yang kesekian kalinya di depan orang ini, dan aku sudah menyerah menghitungnya.
Lima minggu.
Dia melihat sesuatu di badanku yang aku sendiri tidak tahu ada, dan dia menyimpannya selama lima minggu, dan dia menyimpannya bukan karena malu tapi karena dia pikir aku belum siap tahu bahwa dia memperhatikan.
“Nin.”
“Apa.”
“Aku salah ngomong?”
Aku menurunkan tanganku.
“Enggak,” kataku. “Kamu bener ngomong.”
Jam setengah tujuh dia harus berangkat karena masuk jam delapan dan Bekasi empat puluh menit.
Dia memakai kemejanya yang sudah tidak rapi lagi. Aku duduk di kasur dan menontonnya.
“Kamu bakal telat.”
“Nggak.”
“Kamu bakal telat, Mas.”
“Aku nggak pernah telat empat tahun.”
“Hari ini kamu bakal telat.”
“Iya,” katanya. “Kayaknya.”
Dan dia bilangnya sambil mengancingkan kemeja dengan wajah orang yang tidak peduli sama sekali, dan aku menarik selimut ke wajah supaya dia tidak melihat aku tersenyum.
Dia mengambil ponselnya dari meja.
Dia mengecek kunci pintu.
Dia berdiri di tengah kontrakanku dan melihat sekeliling sekali — cepat, menyeluruh, seperti orang yang menghafal ruangan.
Lalu dia jalan ke pintu.
Aku sedang membelakanginya.
Aku ingin sangat jelas soal ini, karena ini bagian yang paling sering aku ceritakan ulang di kepala.
Aku sedang membelakanginya. Aku sedang melipat selimut di kasur, dengan punggung ke pintu, dan aku sedang berpikir tentang apakah aku harus mengantarnya ke bawah atau tidak.
Dan dari arah pintu, tanpa persiapan apa pun, dengan nada yang persis sama seperti nada dia menyebutkan nomor batch, Panji berkata:
“Nin.”
“Hm?”
“Aku sayang sama kamu.”
Aku tidak berbalik.
Aku ingin dicatat bahwa aku tidak berbalik, karena aku tidak bisa. Tanganku masih memegang ujung selimut dan aku tidak bisa menggerakkan satu pun bagian dari badanku.
Lima minggu.
Aku bilang duluan tiga kali. Setengah tidur di punggungnya. Sadar penuh di pangkuannya. Sebagai pertanyaan di trotoar.
Dan dia bilang tanpa diminta, dari arah pintu, ke punggungku, sambil memegang gagang pintu.
Tanpa persiapan. Tanpa momen. Tanpa satu pun hal yang orang siapkan.
“Panji.”
“Ya.”
“Kamu bilang kamu nggak punya katanya.”
“Iya.”
“Kamu bilang itu tiga minggu lalu.”
“Iya.”
“Terus sekarang?”
Dan dari arah pintu, dia berkata:
“Bapak bilang katanya buat orang yang belum sempet nunjukin.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Jadi aku pikir aku nggak butuh,” katanya. “Aku pikir aku tunjukin aja terus.”
“Terus?”
“Terus semalem kamu bilang kamu benci bisa sendiri.” Suaranya rata. Selalu rata. “Dan aku sadar nunjukin itu nggak cukup kalau orangnya nggak denger.”
Aku berbalik.
Dia berdiri di pintu dengan tangan di gagang dan kemeja yang tidak rapi dan rambut yang sudah kering, dan wajahnya sama sekali tidak berubah, dan itu yang membuat aku tahu dia tidak sedang melakukan adegan.
“Kamu ngomong itu sambil mau berangkat kerja,” kataku.
“Iya.”
“Sambil megang gagang pintu.”
“Iya.”
“Panji, itu momen paling nggak romantis dalam sejarah manusia.”
“Aku tahu.”
“Kenapa nggak nunggu?”
Dan dia berkata:
“Karena kalau aku nunggu momen yang bener, itu jadi acara.”
Dan dia membuka pintu.
“Dan aku udah selesai sama acara,” katanya.
Dia turun tiga anak tangga.
Lalu dia berhenti, dan naik lagi, dan berdiri di ambang pintu.
“Nin.”
“Apa lagi.”
“Hari Minggu kamu libur?”
“Iya.”
“Ikut aku ke Bogor?”
Aku menoleh cepat.
“Bogor?”
“Iya.”
“Ke Bapak kamu?”
“Iya.”
Dan aku berdiri di tengah kontrakan dengan selimut setengah terlipat di tangan.
“Panji, kita baru—“
“Aku tahu.”
“Ini cepet banget.”
“Iya.”
“Kenapa Minggu?”
Dan Panji Ardiansyah berdiri di ambang pintu kontrakanku jam setengah tujuh pagi dan berkata:
“Karena Bapak bilang jangan lebaran.”
Dan dia turun.
Dan aku berdiri di situ memegang selimut selama mungkin lima menit sebelum aku sadar aku belum bernapas dengan benar.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam reading
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15