Chapter Twenty Five
Kabut
POV: Panji
Penginapannya kecil, dua lantai, dengan lobi yang lebih mirip ruang tamu dan seorang resepsionis yang jelas-jelas juga pemiliknya.
Bu Ratih sudah di sana waktu kami sampai jam lima sore.
“Tiga kamar,” katanya, sambil membagikan kunci. “Twin bed. Per pasangan.”
Hening tiga detik.
“Bu,” kata Talita.
“Ya.”
“BU.”
“Ya, Mbak Talita.”
“Bu, ini—“ Talita menunjuk kunci di tangannya. “Bu, ini saya sama dia.”
“Ya.”
“SEKAMAR.”
“Dua ranjang.”
“BU, DUA RANJANG ITU TETEP SATU KAMAR.”
Bu Ratih melipat daftarnya.
“Mbak Talita,” katanya. “Berapa umur Anda?”
“Dua puluh enam.”
“Mas Gilang?”
“Dua puluh sembilan,” kata Gilang.
“Saya lima puluh empat.” Dia memasukkan daftar itu ke tasnya. “Kalau ada di antara kalian yang tidak bisa tidur di ruangan yang sama dengan orang dewasa lain tanpa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saya sarankan kalian pulang sekarang, dan saya akan mengembalikan biaya pendaftaran.”
Tidak ada yang bergerak.
“Bagus,” kata Bu Ratih. “Makan malam jam tujuh.”
Dan dia pergi ke kamarnya sendiri di lantai bawah.
“Aku takut sama dia,” kata Bram, pelan.
“Semua orang takut sama dia,” kata Vira.
Kabutnya turun jam enam.
Aku belum pernah melihat kabut seperti itu. Bukan berlapis di kejauhan — dia masuk. Dia lewat di antara kursi-kursi di teras belakang, dan dalam dua menit kolam kecil di halaman jadi tidak kelihatan, dan lampu-lampu jadi bulatan kuning tanpa sumber.
Aku berdiri di teras belakang sendirian karena Nindy sedang mandi dan aku tidak punya kegiatan lain.
Dan Talita datang membawa dua gelas teh.
“Ini punya kamu.”
“Makasih.”
“Aku ambil dari dapur. Kayaknya nggak boleh.”
“Oh.”
“Jangan bilang ‘oh’.”
Dia duduk di kursi rotan di sebelahku dan menaruh kakinya di kursi seberang.
Dia sudah pakai riasan lagi. Aku memperhatikan itu dan tidak berkomentar, karena aku sudah belajar bahwa itu bukan hal yang dikomentari.
Kami minum teh dalam kabut selama mungkin empat menit tanpa bicara.
Lalu Talita berkata:
“Kamu tahu aku suka kamu, kan?”
Aku hampir menumpahkan tehku.
“Jangan panik.”
“Aku nggak panik.”
“Kamu hampir numpahin teh.”
“Itu bukan panik. Itu kaget.”
“Bedanya apa?”
“Panik itu setelahnya,” kataku.
Talita tertawa. Pendek, sekali, ke dalam gelasnya.
“Iya,” katanya. “Itu maksudku.”
Aku duduk di situ dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.
“Ta—“
“Bentar. Aku mau ngomong dulu, dan kalau kamu potong aku bakal ganti topik dan aku nggak akan berani lagi.”
Aku menutup mulut.
“Aku suka kamu,” katanya. “Sekitar dua minggu. Mulainya di mobil dari Cikarang.”
Kabutnya bergerak lewat teras.
“Dan aku udah mikirin ini tiap malam selama dua minggu, dan aku udah nyampe kesimpulan, dan kesimpulannya aku nggak akan ngapa-ngapain.” Dia meminum tehnya. “Jadi kamu nggak usah takut. Ini bukan pengakuan yang minta jawaban.”
“Terus ini apa?”
“Ini laporan.”
Aku menoleh.
“Laporan?”
“Iya.” Dia mengangkat bahu. “Aku MC, Panji. Aku nggak bisa nyimpen sesuatu di dalem lebih dari dua minggu. Aku harus ngomong. Kalau nggak, aku jadi orang yang nyindir-nyindir dan itu jelek banget.”
“Oh.”
“Nah. Itu ‘oh’ yang bener.”
Aku memikirkan apa yang harus aku katakan.
Aku memikirkannya cukup lama sehingga Talita sempat menghabiskan setengah tehnya.
“Ta.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak akan ngapa-ngapain?”
Dan dia menoleh ke aku dengan ekspresi yang aku ingat sampai sekarang — bukan sedih. Geli.
“Karena aku udah mikir dua minggu dan aku sadar aku salah ngasih nama,” katanya.
“Salah ngasih nama?”
“Iya.” Dia menaruh gelasnya. “Aku pikir aku suka kamu. Ternyata aku pengen sesuatu yang kebetulan ada di kamu.”
“Bedanya?”
“Bedanya kalau aku suka kamu, aku bakal pengen kamu. Tapi yang aku pengen bukan kamu.”
“Terus apa?”
Talita menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan memandang ke kabut.
“Aku pengen dua puluh menit itu,” katanya.
Aku diam.
“Dua puluh menit di mobil. Nggak ada radio. Nggak ada yang nanya. Nggak ada yang harus aku hibur.” Suaranya rata. “Itu dua puluh menit pertama dalam entah berapa tahun di mana aku nggak kerja.”
“Kamu nggak lagi kerja.”
“Panji.” Dia menoleh. “Aku selalu kerja. Kalau ada orang di ruangan, aku kerja.”
“Sekarang?”
“Sekarang enggak.”
Dan dia bilangnya sambil tersenyum, dan senyumnya kecil, dan tidak diarahkan ke mana-mana.
“Ta.”
“Hm.”
“Kamu nggak harus lucu di depan aku.”
Talita berhenti bergerak.
Kabut lewat.
“Kamu ngomong gitu juga ke Nindy?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Dua minggu lalu. Di warung tenda.”
“Terus dia gimana?”
“Nangis.”
Talita mengangguk pelan.
“Iya,” katanya. “Wajar.”
Dan dia tidak menangis. Dia duduk di situ dengan teh yang sudah dingin dan kabut yang masuk ke teras, dan setelah beberapa saat dia berkata:
“Kamu tahu kenapa itu jahat banget?”
“Enggak.”
“Karena kamu ngomong gitu ke dua orang,” katanya. “Dan dua-duanya percaya.”
“Aku nggak bohong.”
“Aku tahu kamu nggak bohong. Itu yang bikin jahat.” Dia mengangkat gelasnya. “Kamu ngomong hal yang paling pengen aku denger seumur hidup dan kamu ngomongnya kayak orang laporan cuaca.”
“Aku nggak bisa ngomong dengan cara lain.”
“AKU TAHU, PANJI.” Dia tertawa. “Itu masalahnya. Kamu nggak punya versi lain. Yang kamu kasih ke aku sama persis kayak yang kamu kasih ke dia.”
Dia menaruh gelasnya di lantai teras.
“Bedanya cuma,” katanya, “dia dapet lebih banyak.”
Kami duduk di situ mungkin dua menit.
Lalu Talita menepuk lututnya dan berdiri.
“Oke. Selesai.”
“Selesai?”
“Selesai. Aku udah bilang, kamu udah denger, aku udah nggak nyimpen.” Dia mengambil gelasnya. “Sekarang aku bisa bete sama Gilang dengan hati yang bersih.”
“Ta.”
“Apa?”
Aku berdiri juga.
“Makasih.”
Talita menoleh cepat.
“Makasih?”
“Iya.”
“Kamu bilang makasih ke orang yang baru nembak kamu dan ditolak sendiri?”
“Kamu nggak ditolak.”
“Panji, aku yang nolak diriku sendiri, itu lebih parah.”
“Kamu nggak—“
“Ya udah, ya udah.” Dia mengibaskan tangan. “Kenapa makasih?”
Aku memikirkan cara mengatakannya.
“Karena kamu ngomong,” kataku. “Kamu ngomong walaupun kamu udah tahu jawabannya.”
Talita berhenti di ambang pintu.
Dan berbalik.
“Panji.”
“Ya?”
“Kamu tahu kenapa aku ngomong?”
“Enggak.”
“Karena aku pernah nggak ngomong,” katanya. “Dua tahun lalu. Dan aku mikirin itu tiap kali aku nggak bisa tidur.”
Aku menatapnya.
“Jadi ini nasihat, ya,” katanya, dan mengangkat gelasnya seperti orang bersulang. “Nasihat gratis dari orang yang barusan malu-maluin diri sendiri di teras berkabut.”
“Nasihat apa?”
Dan Talita berkata:
“Sabtu, ya.”
Aku berhenti.
“Kamu tahu?”
“Panji, semua orang di penginapan ini tahu.” Dia membuka pintu kaca. “Kamu ngomong ke Nindy hari Selasa, Nindy cerita ke Vira hari Rabu, Vira cerita ke aku hari Rabu malem.”
“Nindy cerita?”
“Dia nggak cerita isinya. Dia cuma bilang ‘Sabtu ada yang mau diomongin.’” Talita menahan pintu. “Dan dia bilangnya sambil megang HP-nya kayak orang megang hasil lab.”
Aku tidak menjawab.
“Panji.”
“Ya?”
“Jangan nunggu sampai Sabtu.”
“Kenapa?”
Dan Talita berkata, dari ambang pintu, dengan kabut masuk ke lobi di belakangnya:
“Karena Sabtu itu malem penutupan. Dan malem penutupan itu semua orang bakal berpelukan dan foto-foto dan bilang ‘kita harus ketemu lagi ya’ dan nggak ada satu pun dari itu yang beneran.”
“Terus?”
“Terus kalau kamu ngomong di malem itu,” katanya, “dia nggak akan bisa bedain omongan kamu sama semua omongan yang lain.”
Dan dia masuk.
Aku berdiri di teras berkabut sendirian selama mungkin sepuluh menit setelah itu.
Nasihat Talita jelas dan masuk akal dan aku tahu dia benar.
Dan aku tidak melakukannya.
Aku ingin mencatat itu di sini dengan jujur, karena nanti akan ada orang yang mengira aku tidak diberi tahu.
Aku diberi tahu.
Gilang memberi tahu aku di teras rumahku: omongin sebelum acaranya selesai, bukan sesudah.
Talita memberi tahu aku di teras berkabut: jangan nunggu sampai Sabtu.
Dan aku menunggu sampai Sabtu.
Bukan karena aku tidak percaya mereka.
Karena aku belum menemukan katanya, dan aku tidak mau berdiri di depan Nindy dengan tangan kosong, dan aku pikir — aku betul-betul pikir, dengan seluruh kejujuran yang aku punya —
bahwa datang tanpa membawa apa-apa itu lebih buruk daripada datang terlambat.
Aku salah.
Aku baru tahu seberapa salah pada hari Sabtu jam sepuluh malam.
- 1 Fotokopi KTP
- 2 Algoritma Bu Ratih
- 3 Pertanyaan yang Nggak Ada Jawabannya
- 4 Batch Gagal
- 5 Setengah Detik
- 6 Diam Dulu
- 7 Tiga Jam
- 8 Garamnya Kurang
- 9 Kata Siapa
- 10 Ruang Tunggu
- 11 Yang Nggak Aku Pilih
- 12 Pura-pura
- 13 Nggak Harus Lucu
- 14 Hujan
- 15 Tutup Botol
- 16 Gilang Ngeliat
- 17 Panggung
- 18 Pelumas
- 19 Tiga Perempuan
- 20 Tanpa Riasan
- 21 Kaus
- 22 Rendi
- 23 Tengkuk
- 24 Empat Meter
- 25 Kabut reading
- 26 Sepuluh Menit Lagi
- 27 Lift
- 28 Bapak
- 29 Antrean
- 30 Jawaban
- 31 Uji Panel
- 32 Penutupan
- 33 Aturan Nomor Lima
- 34 Delapan Belas Desember
- 35 Halaman Dua
- 36 Delapan dari Lima Puluh Enam
- 37 Tangan Kosong
- 38 Jam Setengah Enam
- 39 Nangka
- 40 Angkatan 15