← Nggak Diundi

Chapter Twenty Six

Sepuluh Menit Lagi

POV: Nindy

Makan malam jam tujuh, di ruang makan yang lampunya kuning dan mejanya panjang untuk dua belas orang padahal kami cuma tujuh.

Bu Ratih duduk di ujung dan makan dengan sangat rapi dan tidak bicara sampai piringnya kosong.

Lalu dia menaruh sendoknya.

“Saya akan bicara lima menit,” katanya. “Setelah itu saya kembali ke kamar dan kalian tidak akan melihat saya sampai besok pagi.”

“Bu, kok gitu—“

“Mbak Talita.”

“Iya, Bu.”

Bu Ratih melipat serbetnya.

“Empat minggu lalu saya membacakan lima aturan,” katanya. “Saya ingin menekankan yang kelima.”

Aku menaruh gelasku.

“Setelah malam penutupan, program selesai. Saya tidak akan menelepon. Saya tidak akan menanyakan kabar. Saya tidak mengadakan reuni.” Dia menatap satu per satu. “Banyak orang menganggap itu kejam. Sebenarnya itu satu-satunya bagian yang benar-benar saya rancang.”

“Kenapa, Bu?” tanya Bram.

“Karena selama empat minggu ini kalian punya alasan.” Bu Ratih menyandarkan punggung. “Ada agenda. Ada formulir. Ada saya. Kalian bertemu karena disuruh.”

Aku merasakan sesuatu di tengkuk.

“Hari Sabtu, alasannya saya cabut,” katanya. “Dan yang tersisa hanya orang yang mau repot.”

Tidak ada yang bicara.

“Sebagian dari kalian akan mengira ini kesedihan. Bukan.” Dia berdiri. “Ini pengukuran. Selamat malam.”

Dan dia pergi.

Dan Talita berkata, ke arah pintu yang sudah tertutup:

“Bu, itu paling nggak gimana gitu.”


Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi di dadaku selama pidato itu.

Yang aku tahu adalah bahwa Bu Ratih baru saja mengucapkan, dalam bahasa administratif, persis hal yang aku pikirkan sendiri jam satu pagi hari Senin.

Dan mendengarnya dari mulut orang lain, di meja makan, di depan enam orang, membuat semuanya jadi jauh lebih besar.

Yang tersisa hanya orang yang mau repot.

Sembilan kilometer. Dua jam pulang-pergi. Shift malam. Ibu yang sakit di kampung. Adik yang harus dicari kerja.

Aku duduk di meja makan dan aku menghitung, dan aku sadar bahwa aku sedang menghitung, dan aku benci bahwa aku sedang menghitung.


Jam sembilan orang-orang berpencar.

Gilang dan Talita ke lobi karena ada TV dan Talita menyatakan bahwa dia harus menonton sesuatu yang bodoh untuk membersihkan otak. Bram dan Vira ke teras depan.

Aku dan Panji naik ke kamar.

Kamar 203. Dua ranjang single dengan jarak satu meter, satu meja, satu lemari, satu jendela besar yang menghadap ke kabut.

Dan sangat, sangat dingin.

“Astaga.”

“Dingin?”

“Mas, ini bukan dingin. Ini kejahatan.”

Panji membuka ranselnya dan mengeluarkan jaket kedua dan memberikannya tanpa berkata apa-apa.

Aku memakainya.

Kebesaran. Lengannya sampai ke buku jari. Baunya seperti kaus itu — deterjen dan manis pabrik.

“Kamu bawa dua,” kataku.

“Iya.”

“Kamu bilang karena aku nggak pernah bawa.”

“Iya.”

“Kamu bilang itu hari Rabu jam sebelas malem sambil setengah tidur.”

“Iya.”

“Kamu inget?”

“Aku inget semua yang aku bilang,” katanya. “Yang aku nggak inget itu wajah orang.”


Aku duduk di ranjang yang dekat jendela.

Dia duduk di ranjang satunya, satu meter, dan mulai membongkar ranselnya dengan cara yang sangat Panji: mengeluarkan semuanya, menyusun di kasur, memasukkan lagi dengan urutan berbeda.

Aku menontonnya selama mungkin dua menit.

“Mas.”

“Hm.”

“Dingin.”

“Kamu udah pakai jaket.”

“Masih dingin.”

“Selimutnya di lemari.”

Aku tidak bergerak.

Dia mengambil selimut dari lemari dan memberikannya.

Aku tidak mengambilnya.

Dia berdiri di situ memegang selimut selama tiga detik, lalu meletakkannya di pangkuanku, dan duduk lagi.

“Mas.”

“Hm.”

“Ranjang kamu jauh.”

“Satu meter.”

“Iya. Jauh.”

Panji menoleh.

Dan aku melihat wajahnya melakukan hal yang aku sudah hafal — proses tiga detik di mana dia menerima informasi, mencari kategorinya, dan tidak menemukan.

“Kamu mau aku geser ranjangnya?”

Dan aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Nindy?”

“Bentar.”

“Kamu kenapa?”

“BENTAR.”


Aku akan menceritakan bagian berikutnya dengan jujur karena tidak ada gunanya tidak.

Aku berdiri dari ranjangku. Aku jalan satu meter. Dan aku duduk di pangkuannya.

Menyamping, kaki di kasur, satu tangan di bahunya.

Panji tidak bergerak sama sekali.

“Nindy.”

“Apa.”

“Kamu—“

“Aku dingin.”

“Oke.”

Dan itu saja.

Oke.

Tangannya naik dan menetap di pinggangku, dan tangan yang satu lagi menarik selimut dari ranjang dan menaruhnya di bahuku, dan setelah itu dia tidak melakukan apa-apa lagi.

Dia tidak menciumku. Dia tidak menarik. Dia tidak menggeser tangannya sesenti pun dari tempatnya mendarat.

Dia duduk di ranjang penginapan di Cisarua dengan seorang perempuan di pangkuannya dan berkata, setelah mungkin dua puluh detik:

“Kamu masih dingin?”

“Enggak.”

“Bagus.”

Dan dia melanjutkan menjelaskan sesuatu tentang kabut.

Sungguh. Dia melanjutkan. Dia sedang bercerita tadi tentang kenapa kabut di Puncak turunnya jam enam dan bukan jam lima, dan dia melanjutkan kalimatnya dari tempat dia berhenti.

Dan aku duduk di pangkuannya dengan selimut di bahu dan mendengarkan penjelasan tentang titik embun.

Dan aku menikmatinya.

Bukan penjelasannya. Aku menikmati bahwa dia tidak tahu.


Aku perlu menjelaskan kenapa itu enak, karena kalau tidak, kelihatannya aku ini orang yang senang mempermainkan orang.

Aku bukan.

Aku menikmatinya karena selama dua puluh tujuh tahun setiap kali aku melakukan sesuatu yang mendekat, orangnya langsung tahu apa artinya. Dan begitu mereka tahu artinya, benda itu jadi transaksi. Jadi ada yang harus dibalas. Jadi ada langkah berikutnya yang sudah ditunggu.

Panji tidak punya langkah berikutnya.

Buat dia, ada orang yang dingin dan sekarang orang itu tidak dingin lagi.

Selesai.

Dan itu — duduk di pangkuan seseorang yang tidak sedang menunggu apa-apa — adalah hal paling aman yang pernah aku rasakan dalam hidupku.

Dan justru karena aman, aku bisa memikirkan hal yang tidak berani aku pikirkan sejak hari Senin.


Aku menghitung.

Sambil dia menjelaskan titik embun, aku menghitung di kepala.

Sabtu penutupan. Setelah Sabtu: dua jam pulang-pergi. Shift malam sampai jam sepuluh. Weekend yang cuma satu hari karena hari satunya buat cuci baju dan belanja. Ibu yang harus ditelepon tiap dua hari sekarang. Kontrol bulanan yang berarti aku harus pulang kampung minimal sekali sebulan.

Kapan?

Kapan kami bertemu?

Aku menghitung dan aku dapat angkanya: dua kali sebulan. Kalau beruntung. Dua kali sebulan, tiga jam sekali ketemu, itu enam jam sebulan.

Kami sudah ketemu delapan belas kali dalam empat minggu.

Dan aku menyadari, di pangkuan orang yang sedang menjelaskan kenapa udara dingin memegang lebih sedikit uap air, bahwa yang aku punya sekarang ini bukan permulaan.

Ini puncaknya.

Ini bagian terbanyaknya.

Dan mulai Sabtu, semuanya turun.


“Mas.”

“Hm?”

“Berhenti dulu.”

Dia berhenti.

Aku memutar badan supaya bisa melihat wajahnya.

Sepuluh senti. Lampu kamar kuning dan redup dan kabut menempel di jendela di belakangnya.

“Panji.”

“Ya.”

“Aku sayang sama kamu.”

Dan aku melihatnya.

Aku melihat seluruh wajahnya berhenti.

Bukan kaget. Berhenti — cara mesin berhenti, semua bagian sekaligus, dan matanya tidak lepas dari mataku dan dia tidak berkedip selama mungkin tiga detik penuh.

“Aku nggak lagi setengah tidur,” kataku. “Aku nggak lagi keceplosan. Aku duduk di sini dan aku ngomong sama kamu.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu nggak harus bilang apa-apa.”

Dan dia berkata:

“Aku nggak punya katanya.”

“Aku tahu.”

“Nindy—“

“Aku tahu, Panji. Kamu udah bilang.” Aku menaruh tanganku di sisi wajahnya. “Aku bukan lagi nagih.”

“Terus kenapa kamu bilang?”

Dan aku menjawab dengan sangat jujur, karena aku pikir kejujuran itu hadiah, dan karena aku belum tahu bahwa kejujuran juga bisa jadi jebakan:

“Karena aku pikir kalau aku bilang duluan, kamu jadi punya.”


Dia diam lama sekali.

Dan lalu dia berkata sesuatu, dan yang dia katakan adalah benar, dan itu yang menghancurkan.

“Nindy,” katanya. “Aku nggak tahu kata itu artinya apa.”

“Apa?”

“‘Sayang.’” Suaranya biasa saja. Tidak ada apa-apa di dalamnya. “Aku nggak tahu itu rasanya apa. Aku nggak punya pembanding.”

“Kamu—“

“Ibu aku meninggal waktu aku sembilan,” katanya. “Bapak aku ada tapi kami nggak ngomong. Aku punya satu temen. Aku nggak pernah pacaran.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Jadi kalau aku bilang ‘aku juga’, aku ngambil kata kamu terus aku pakai,” katanya. “Dan aku nggak tahu itu bener apa enggak.”

“Panji, itu—“

“Aku tahu ada sesuatu,” katanya. “Aku tahu itu ada. Aku ngerasain dari hari Sabtu di trotoar, waktu kamu narik kerah aku, dan sebenernya udah dari sebelum itu.”

Dia mengangkat tangannya — pelan, seperti orang yang tidak yakin diizinkan — dan menaruhnya di sisi wajahku.

“Tapi aku nggak mau ngasih kamu kata yang aku nggak yakin,” katanya. “Kamu udah dikasih kata bohong selama empat tahun.”

Dan aku menangis.

Bukan menangis sedih. Aku tidak tahu namanya. Aku menangis di pangkuan orang itu dengan tangannya di wajahku, dan dia tidak menghapusnya dan tidak berkata “jangan nangis” dan tidak melakukan apa-apa selain diam.

“Sabtu,” katanya.

“Iya.”

“Aku bakal punya jawabannya.”

“Panji.”

“Ya.”

“Kalau nggak punya gimana?”

Dan dia menjawab:

“Aku tetep dateng.”


Aku tidur di ranjangku sendiri malam itu, dan dia di ranjangnya, satu meter.

Dan kami sama-sama tidak tidur, dan kami tahu itu, dan tidak satu pun dari kami bicara sampai jam setengah dua.

Jam setengah dua aku berkata ke gelap:

“Mas.”

“Hm.”

“Sepuluh menit lagi aku pindah.”

“Oke.”

“Kamu nggak nanya kenapa?”

“Enggak.”

“Kamu nggak nolak?”

Hening tiga detik.

“Enggak,” katanya.

Dan aku berbaring di gelap dan menghitung sepuluh menit dan tidak pindah, karena aku ketiduran di menit keenam, dan itu adalah tidur paling nyenyak yang aku dapat dalam tiga minggu.

Dan waktu aku bangun subuh, selimutku sudah ditarik naik sampai bahu.

Dan dia di ranjangnya, membelakangi, tanpa selimut.