← Nggak Diundi

Chapter Twenty Seven

Lift

POV: Panji

Aku bangun jam lima dan selimutku tidak ada.

Aku ingat menariknya ke ranjang sebelah jam tiga karena Nindy menggigil dalam tidurnya, dan aku ingat berpikir bahwa aku akan mengambil selimut cadangan dari lemari, dan aku ingat tidak melakukannya karena membuka lemari itu berisik.

Aku turun ke bawah untuk mencari kopi.

Dan di lobi, di kursi rotan dekat jendela, Bram sudah duduk.

Sendirian, jam lima pagi, dengan jaket dan secangkir sesuatu.

“Panji.”

“Pagi.”

“Kamu juga nggak bisa tidur?”

“Aku tidur. Cuma bangun.”

“Beruntung.” Dia menunjuk termos di meja. “Kopi. Punya pemiliknya. Katanya boleh.”

Aku menuang dan duduk.

Kabutnya masih ada di luar, lebih tipis dari semalam, dan halaman sudah setengah kelihatan.


Kami tidak bicara selama mungkin lima menit.

Aku sudah belajar bahwa Bram adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak keberatan dengan itu.

Lalu dia berkata:

“Boleh nanya sesuatu yang nggak sopan?”

“Boleh.”

“Kamu tahu Vira suka kamu?”

Aku menaruh gelasku.

“Hah?”

“Oh.” Bram mengangguk pelan. “Nggak tahu.”

“Bram—“

“Maaf. Aku kira kamu tahu.” Dia menyandarkan punggung. “Ternyata beneran nggak.”

“Kenapa kamu ngomong gitu?”

“Karena aku udah dua minggu mikirin ini dan aku capek mikir sendiri.”

Aku duduk di kursi rotan di lobi penginapan jam lima pagi dan aku tidak tahu harus bilang apa.

“Kamu salah,” kataku akhirnya.

“Mungkin.”

“Vira baik ke semua orang.”

“Iya.”

“Dia ketawa sama Gilang, dia ngobrol sama Talita—“

“Panji.” Bram menoleh. “Aku tanya satu hal. Waktu kelas masak, kamu ngasih tisu ke dia. Inget?”

“Iya.”

“Berapa lama kamu mikir sebelum ngasih?”

“Nggak mikir.”

“Nah.” Dia mengangguk. “Aku juga lihat uapnya. Aku mikir dua detik — mikir apakah pantas aku ngasih tisu ke orang yang baru aku kenal tiga minggu, mikir apakah nanti dia risih.” Dia mengangkat bahu. “Dua detik. Dan dalam dua detik itu kamu udah ngasih.”

“Itu bukan—“

“Dan setelah itu dia nggak lihat aku lagi sepanjang malem.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak marah,” katanya. “Aku pengen jelas soal itu. Aku sama sekali nggak marah.”

“Kamu kelihatan nggak marah.”

“Karena aku emang enggak.” Dia meminum kopinya. “Aku tiga puluh tiga, Panji. Aku udah pernah tiga kali di posisi orang yang lebih disukai. Ini pertama kali aku di posisi sebaliknya.”

“Gimana rasanya?”

Bram tertawa.

“Jelek,” katanya. “Tapi lebih jelek kalau aku pura-pura nggak tahu.”


“Bram.”

“Hm.”

“Kamu suka Vira?”

Dia memutar gelasnya di tangan.

“Aku suka orangnya,” katanya.

“Itu jawaban yang dipakai orang buat nggak jawab.”

Bram menoleh cepat.

“Kamu tahu dari mana?”

“Nindy pernah bilang gitu ke Talita.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak ada di situ. Aku diceritain.”

“Hm.” Dia mengangguk. “Ya. Itu emang jawaban buat nggak jawab.”

Dia menaruh gelasnya.

“Aku suka Vira,” katanya. “Aku suka dia dari minggu kedua. Dia orang paling gampang diajak ngobrol yang pernah aku ketemu, dan dia dengerin dengan cara yang bikin aku ngomong lebih banyak dari yang aku niatin.”

“Terus?”

“Terus dua minggu lalu aku sadar bahwa dia dengerin semua orang dengan cara yang sama.” Dia mengangkat bahu. “Dan dia nggak pernah cerita apa-apa tentang dirinya. Sekali pun. Dalam empat minggu.”

“Kamu tanya?”

“Aku tanya. Dia jawab. Jawabannya lengkap.” Bram menoleh. “Dan setelah dia jawab, aku sadar aku tetep nggak tahu apa-apa.”

Aku memikirkan lorong dengan kursi plastik.

Aku memikirkan tas yang dibuka dan ditutup tanpa mengeluarkan apa pun.

“Dia buka tas terus nggak ngambil apa-apa,” kataku.

“Apa?”

“Waktu evaluasi. Di lorong.” Aku menaruh gelasku. “Aku nanya dia kenapa. Dia bilang nggak apa-apa.”

Bram menatapku beberapa detik.

“Kamu merhatiin itu,” katanya.

“Iya.”

“Dan kamu nggak tahu dia suka kamu.”

“Enggak.”

Dan Bram tertawa — tawa yang panjang, capek, tidak ada pahitnya sama sekali.

“Astaga,” katanya. “Kamu bener-bener nggak tahu.”


Jam enam kurang dia berdiri.

“Panji.”

“Ya?”

“Aku bakal ngomong sama Vira hari ini.”

“Ngomong apa?”

“Aku bakal bilang aku tahu.” Dia memakai jaketnya. “Bukan buat nyerang. Buat ngasih dia jalan keluar.”

“Jalan keluar dari apa?”

“Dari harus baik terus ke aku selama tiga hari lagi.” Dia mengancingkan jaketnya. “Itu capek banget, dan dia udah ngelakuin itu empat minggu.”

Aku memikirkan itu.

“Bram.”

“Hm.”

“Kamu nggak marah sama aku?”

Dia berhenti di tangga.

“Panji, kamu nggak ngelakuin apa-apa,” katanya. “Itu yang bikin ini nggak enak. Kalau kamu ngerayu dia aku bisa benci kamu. Kamu ngasih tisu.”

Dan dia naik.


Kami pulang jam dua belas.

Perjalanan turun lebih cepat dari perjalanan naik. Talita tidur sepanjang jalan dengan mulut terbuka dan Gilang memfotonya dan Talita bangun tepat waktu untuk melihatnya dan terjadi kekacauan selama enam menit.

Nindy tidak banyak bicara.

Dia duduk di sebelahku dan memegang tanganku sejak keluar gerbang penginapan, dan tidak melepasnya sampai kami di tol, dan setiap kali aku menoleh dia sedang melihat ke luar jendela.

“Nin.”

“Hm.”

“Kamu diem.”

“Aku ngantuk.”

“Kamu tidur nyenyak semalem.”

Dia menoleh.

“Kamu tahu?”

“Napas kamu.”

Dan dia menutup mata dan bersandar ke bahuku dan berkata, sangat pelan, sehingga cuma aku yang dengar:

“Selimutnya.”

“Iya.”

“Kamu nggak pakai selimut semalem.”

“Aku nggak dingin.”

“Bohong.”

“Iya,” kataku.

Dan dia mengerat pegangan tangannya dan tidak bicara lagi sampai Bekasi.


Kami sampai di gedung tempat Bu Ratih menyewa ruangan sekitar jam tiga, karena barang-barang harus diturunkan di situ dan mobilnya dipulangkan.

Gedungnya punya lift kecil untuk empat orang.

Talita dan Gilang naik duluan dengan koper. Bram dan Vira ambil tangga karena Bram bilang dia butuh jalan.

Aku dan Nindy menunggu lift turun lagi.

Pintunya membuka. Kami masuk. Pintunya menutup.

Lantai dasar ke lantai dua.

Empat detik.

Dan di detik pertama Nindy sudah menarik kerahku.


Aku tidak siap.

Aku sudah agak siap untuk yang di trotoar, dan aku sudah setengah siap untuk yang di teras, dan aku sama sekali tidak siap untuk yang ini karena tidak ada satu pun tanda sebelumnya.

Punggungku kena dinding lift.

Tangannya di kerahku dan tangan satunya di dinding di sebelah kepalaku, dan dia tidak pelan sama sekali, dan aku mendengar diriku sendiri mengeluarkan bunyi yang aku tidak tahu bisa aku keluarkan.

Empat detik.

Lift berhenti.

Dan dia mundur, meratakan kerahku dengan dua tangan seperti biasa, dan berdiri menghadap pintu dengan wajah yang sepenuhnya biasa.

Pintunya membuka.

Talita berdiri di depan lift dengan koper.

“Kalian lama banget—“

Dan dia berhenti.

Aku tidak tahu apa yang dia lihat. Mungkin kerahku. Mungkin wajahku. Mungkin cara aku berdiri.

“…Astaga,” kata Talita.

“Apa?” kata Nindy, keluar dari lift dengan sangat tenang.

“NINDY.”

“Apa?”

“EMPAT DETIK.”

“Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“NINDY, ITU LIFTNYA CUMA NAIK SATU LANTAI.”

“Talita, koper kamu ketinggalan di bawah.”

“JANGAN GANTI TOPIK—“

“Beneran ketinggalan.”

Talita menoleh ke belakang. Kopernya memang ketinggalan di bawah.

Dia mengumpat dan masuk ke lift dan pintunya menutup dan kami mendengar dia berteriak sesuatu dari dalam yang tidak jelas.

Nindy berjalan ke arah tangga.

“Nindy.”

“Hm.”

“Itu tadi apa?”

Dia berhenti di anak tangga pertama dan berbalik.

Dan dia tersenyum — kecil, miring, tidak dipasang sama sekali.

“Itu tadi,” katanya, “cadangan.”

“Cadangan apa?”

Dan Nindy Pramesthi berdiri di tangga gedung tempat kami pertama kali bertemu empat minggu lalu, dan berkata:

“Kalau Sabtu ternyata nggak ada apa-apa,” katanya, “aku mau punya yang itu.”

Dan dia naik.

Dan aku berdiri di depan lift selama mungkin sepuluh detik sebelum aku bisa jalan.